
Orang tua Dokter Yudha tidak tahu bahwa gadis yang Yudha sukai adalah Karin. Begitu juga sebaliknya Yudha tidak tahu bahwa wanita yang pilihan Papanya itu adalah Karin.
"Oh iya nak tadi nama panjang kamu siapa?" Yudhistira hanya ingin memastikan kalau dia tidak salah dengar saat di mall.
"Karina Alexander."
"Berarti kamu sepupunya Risa Alexander yang sebelumnya tinggal di Korea?" tanya Papa Yudhistira.
"Yang suaminya Risa bernama Reynaldi Wijaya kan nak? ucap Mama Sabrina dengan cepat.
"Iya benar. Apa kalian sudah mengenal keluarga kami?"
"Tentu saja. Kami datang ke acara pesta ulang tahun sekaligus pertunangannya Rey dan Risa waktu itu. Kami juga hadir di pernikahan mereka. Mungkin saat itu kita tidak bertemu karena banyaknya tamu undangan," ucap Mama Sabrina.
"Kami mengenal Keluarga Wijaya sejak Aldi Wijaya masih balita. Keluarga kami sudah saling mengenal sejak lama. Jadi kami sudah seperti saudara," ucap Papa Yudhistira.
"Berarti waktu itu kamu beli susu hamil dan buah-buahan di supermarket untuk nak Risa yang sedang mengandung?"
"Iya Pak," ucapnya sambil mengangguk.
"Oh iya nak Risa sekarang sudah hamil berapa bulan?" tanya Mama Sabrina.
"Jalan 3 bulan Bu."
"Wah Keluarga Wijaya bentar lagi sudah mau punya cucu saja Pa. Kita kapan ya? Sedangkan anak kita saja masih belum mau dibujuk untuk menikah."
"Iya Ma. Papa juga bingung dengannya. Sampai saat ini dia belum juga memperkenalkan gadis pilihannya kepada kita."
Mereka berdua masih mengharapkan Karin yang akan menjadi menantunya.
"Oh iya kamu save nomor hp saya ya nak?"
Karin lalu mengambil dompetnya dan menyimpan nomor Yudhistira ke hpnya.
"Sudah saya save dan WhatsApp ke Bapak."
"Saya permisi pulang dulu ya Pak, Bu," ucapnya sambil mengecup punggung tangan Sabrina dan Yudhistira.
"Hati-hati ya nak," ucapnya bersamaan.
"Iya Pak, Bu."
"Kapan-kapan kalau saya undang makan bersama lagi mau ya nak? Kamu belum saya kenalkan dengan anak saya," ucapnya sambil menatap penuh harap.
"Iya Bu."
Mama Sabrina lalu mengantarkan Karin sampai depan teras. aku
"Hati-hati ya nak. Jangan kapok ya main kesini."
__ADS_1
"Iya Bu. Saya senang di sambut baik sama keluarga Ibu," ucapnya dengan tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Setelah Karin diantar sopirnya Mama Sabrina masuk ke dalam rumah dan mencari suaminya.
"Papa, kita harus gimana ini? Karin ternyata sudah punya calon suami Pa. Mama padahal pengen banget jadiin dia sebagai menantu kita Pa."
"Papa juga sebenarnya maunya gitu Ma. Tapi bagaimana lagi? Karin sudah memiliki calon suami. Kita bisa apa?"
"Iya Pa. Lain kali Karin harus kita pertemukan dengan Yudha. Siapa tahu Yudha suka dengan Karin."
"Sudahlah Ma Papa pusing. Itu kita pikirkan nanti saja ya Ma. Papa mau istirahat ke kamar dulu ya Ma."
"Iya Pa." Yudhistira lalu pergi ke kamarnya.
"Aku harus cari cara supaya pas Yudha ada di rumah dan Karin pas bisa datang kesini."
Sopir Yudhistira lalu mengantar Karin sampai ke kediaman Keluarga Alexander dan membantu membawakan barang belanjaannya.
"Terima kasih ya Pak."
"Sama-sama Nona. Saya permisi pamit pulang." ucapnya lalu pergi.
Karin mengangguk dan langsung masuk ke ruang tamu.
"Assalamualaikum..."
"Iya Ma. Tadi Karin bertemu dengan Bapak-bapak yang pernah Karin ceritakan di supermarket itu di mall dan Karin di undang makan bersama istrinya.
Tapi Karin tidak menceritakan nama orang tersebut. Jadi Mama Angel tidak tahu bahwa yang tadi Karin temui adalah orang tua Dokter Yudha.
"Ya sudah kamu istirahat di kamar ya nak."
Karin mengangguk pelan dan lalu berjalan menuju ke kamarnya dan membawa barang belanjaannya.
...*****...
DI TEMPAT LAIN
Yudha sudah sampai di rumah Dokter Rio sahabatnya. Yudha menekan tombol bel di rumahnya. Lalu asisten rumah tangganya yang membukakan pintu.
"Silahkan masuk Tuan," ucapnya dengan tubuh sedikit membungkuk menghormati setiap tamunya yang datang.
"Kok sepi? Pada kemana?" tanyanya.
"Tuan dan nyonya sedang lagi menjalankan bisnisnya di luar negeri untuk beberapa minggu ini. Kalau tuan muda ada di kamarnya."
"Baiklah, aku akan ke kamarnya."
Yudha menaiki beberapa anak tangga hingga sampai di kamar Rio. Yudha belum tahu Rio mengundangnya untuk datang ke rumah. Saat tau Rio sedang di kamarnya ia jadi tahu kalau Rio sedang sedih dan butuh teman curhat.
__ADS_1
"Ceklek.........."
Yudha membuka pintu kamarnya. Rio terlihat sedang berdiri dan menatap ke arah jendela.
"Bro, ada apa? Kamu kelihatannya sedang galau."
Yudha mendekati Rio, belum sampai mendekat ke arahnya Rio sudah berbalik dan berjalan menuju sofanya.
"Lova sekarang sedang di duain," ucapnya pelan.
"Maksudnya Dean punya pacar?" tanyanya.
"Tidak. Dia menikah lagi dengan Sera partner bisnis Papanya."
"Apa?? Kok bisa?" Yudha benci dengan orang yang berpoligami. Yudha berpikiran seperti itu karena cinta itu tidak bisa dibagi begitu saja.
"Sonny, Papa Sera mengancam untuk berhenti menjadi investor di perusahaan Papa Dean. Kalau Dean tidak mau menikahinya."
"Aku tidak habis pikir dengan sepupumu itu. Bertindak gegabah. Apa dia tidak memikirkan perasaan istrinya? Apalagi istrinya sedang hamil anaknya bukan?"
"Ya. Aku sedih melihat Lova di duakan. Aku ada niat untuk merebutnya kembali dari Dean kalau Lova sudah tidak sanggup lagi untuk menjalankan rumah tangga dengan suaminya."
"Apa Lova berniat untuk bercerai dengan Dean?" tanyanya dengan serius.
"Iya Lova akan menggugat cerai Dean kalau Sera benar-benar terbukti hamil karena Lova akan benar-benar merasa terhianati kalau sampai itu terjadi. Lova akan menggugat cerai suaminya saat nanti anaknya sudah lahir."
"Apa kamu berniat akan menikahinya?"
"Iya aku ingin membahagiakannya. Aku tidak ingin melihatnya bersedih."
"Apa kamu yakin dia akan menerimamu kembali?"
"Aku akan berusaha meyakinkannya untuk menerimaku kembali."
"Tapi aku tidak yakin bro kalau Lova akan menerimamu kembali. Secara dia punya anak dari Dean. Secara otomatis akan teringat terus dengan Dean."
"Terus aku harus gimana bro?"
"Kamu harus tetap melanjutkan hidupmu. Aku yakin kamu akan bahagia walau tidak dengan Lova."
"Iya benar katamu bro, aku akan berusaha membuka hatiku untuk orang lain. Tapi aku akan tetap masih peduli padanya sebagai sepupu."
"Baguslah kalau kamu sekarang sudah menyadari kalau dia sepupumu. Bagaimanapun juga cintanya kepada suaminya lebih besar dari cintanya padamu yang hanya menganggapmu masa lalunya."
"Terima kasih bro! Kamu memang sahabatku yang terbaik. Memberikan solusi yang tepat dan pikiranku menjadi terbuka. Aku beruntung punya sahabat sepertimu. Yuk kita makan di luar aku akan traktir kamu di restoran."
"Hmm sama-sama. Syukurlah kamu sudah mau membuka hatimu untuk orang lain. Yaudah ayo aku juga sudah lapar bro."
Lalu mereka berdua keluar rumah. Kali ini menggunakan mobil Rio menuju ke restoran terdekat.
__ADS_1