
Anisa sedang ingin memakan rujak buah saat ini. Rasa asam, pedas dan manis yang menjadi satu itu dari tadi mengganggu pikirannya. Anisa mengusap perutnya yang sudah terasa jika diraba. Lidahnya ingin segera dimanjakan dengan sensasi pedas, asam dan manis tersebut. Rasa asam jawa yang membuat lidahnya menari-nari dan segera ingin menyantap rujak buah disore hari ini. Tapi ingin seketika Anisa terdiam. Saat ini Anisa sedang ngidam rujak dan mertuanya yang harus membuatkannya. Anisa jadi tidak enak hati, sebagai menantu sungkan untuk menyuruh mertuanya meskipun saat ini sedang mengandung dua cucunya. Karin melihat menantunya sedang melamun.
"Sepertinya ada yang sedang Anisa pikirkan." Batin Karin.
"Sayang, lagi mikirin apa sih nak, kok melamun?" tanya Karin sambil duduk disamping Anisa.
"Eh Mama. Anisa sedang ingin makan sesuatu Ma," ucapnya sambil melihat ke atas, Anisa saat ini membayangkan rasa rujak buah yang dia inginkan.
"Kamu ingin makan apa sayang? Bilang saja sama Mama. Keifano masih di rumah sakit dan belum pulang. Jika menunggu suamimu maka kasihan kedua cucu Mama yang menunggunya kelamaan," ucap Karin sambil mengusap perut Anisa.
Karin bahagia kedua cucunya tumbuh dengan sehat. Terlebih kandungan Anisa kuat.
"Katakan saja sayang, jangan sungkan sama Mama nak," ucapnya kembali.
"Anisa ingin rujak buah Mama."
"Wah kamu mengingatkanku saat dulu masih muda nak. Kamu ingin buah apa saja sayang?" tanya Karin berbicara dengan nada lembut.
Anisa tersenyum tipis dan sungkan untuk bicara.
"Sayang, kenapa diam saja? Katakan saja nak buah apa yang kamu inginkan."
"Anisa ingin rujak buah mangga muda saja Mama."
"Kebetulan sekali Bibi kemarin aku suruh beli mangga muda di pasar. Takut sewaktu-waktu kamu ngidam nak. Dan beneran kamu menginginkannya sekarang. Tunggu sebentar ya nak Mama buatkan yang spesial untukmu."
"Oh iya mau cabainya berapa sayang?"
"3 saja Mama."
"Baiklah, akan segera Mama buatkan untukmu," ucap Karin.
"Mama, makasih. Maaf Anisa jadi merepotkan Mama."
"Tidak nerepotkan kok nak. Justru Mama bahagia bisa membuatkan kamu rujak buah saat kamu sedang ngidam. Oh iya Mama ke dapur dulu ya sayang dan kamu jangan kemana-mana, tunggu di sini saja sampai Mama selesai bikin rujaknya."
Anisa mengangguk pelan. Anisa bersyukur punya mertua yang baik hati seperti Karin. Meskipun Karin kadang galak tapi dibalik itu punya kasih sayang yang begitu besar terhadap keluarganya. Hanya saja Karin akan bersifat tegas jika anak-anaknya ada yang melawan perintahnya. Maka dari itu semua anaknya nurut kecuali Keyla. Anak bungsunya itu tidak mau kuliah dan ingin bekerja saja. Karin sampai pusing membujuk si bungsu agar nanti setelah lulus SMA mau untuk kuliah. Setidaknya pendidikannya sampai S1. Tapi Karin belum berhasil untuk bisa membuat anak bungsunya itu nurut karena Keyla masih tetap ingin bekerja saja setelah lulus SMA nanti.
Untuk rumah sakit nanti akan Yudha berikan kepada Keifano. Sedangkan usaha Karin beberapa butiknya untuk Keisha. Karena Karin anak satu-satunya pewaris dari keluarganya maka perusahaannya akan diberikan untuk Key nanti dan untuk si bungsu akan diberikan usaha restorannya. Karena Keyla gemar memasak makanan, maka dari itu Karin dan Yudha akan memberikan usaha restorannya untuk si bungsu kelak kalau sudah menikah. Keyla suka sekali memasak dan ingin kursus masak saja agar menjadi koki yang hebat. Itulah alasan Keyla tidak mau kuliah. Namun Yudha mengancam jika tidak mau kuliah akan dinikahkan dengan anak temannya. Itu sebenarnya hanya untuk menggertak Keyla saja agar mau kuliah seperti Kakak-kakaknya.
__ADS_1
Karin membawa satu piring berisi mangga muda dan satu mangkok kecil berisi sambal rujaknya. Lidah Anisa sudah ingin merasakan sensasi asam, pedas, manis rujak secara bersamaan. Karin meletakkan piring dan mangkok kecil tersebut ke meja.
"Sayang, ayo dimakan. Rujaknya sudah jadi."
"Mama temani Anisa makan rujaknya ya?"
"Eh, sayang buat kamu saja nak. Takutnya kamu kurang," ucap Karin.
Karin teringat saat dulu ngidam dan bahkan sampai nambah jika ingin memakan sesuatu.
"Cucu Mama ingin kita makan rujaknya bareng," ucap Anisa dengan nada memohon.
"Baiklah nak," jawab Karin pasrah.
Akhirnya Karin menuruti keinginan menantunya yang sedang ngidam. Mereka makan rujaknya bersama-sama.
"Mama, enak sekali rujak buatan Mama. Rasa semuanya pas di lidah."
"Kalau kamu mau, besok Mama buatkan lagi untukmu nak. Kamu bilang saja kalau ingin makan sesuatu ya nak. Apapun itu pasti akan Mama buatkan."
Anisa mengangguk pelan. Anisa bersyukur punya mertua seperti Karin.
Anisa seketika haus dan ingin minum. Anisa beranjak dari tempat duduknya.
"Loh nak mau kemana? Rujaknya belum habis sayang."
"Anisa mau ke dapur ambil minum Mama."
"Biar Mama saja yang ambilkan untukmu nak."
"Tidak Mama. Anisa mau ambil sendiri dan sekalian ambilkan untuk Mama. Tadi Mama sudah buatkan Anisa rujak yang enak, jadi sekarang Anisa yang buatkan minum untuk Mama."
"Baiklah nak."
Anisa lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman dingin. Karin memasukkan garpu yang berisi mangga muda tersebut ke mulutnya. Karin menikmati rujak buah tersebut. Yudha masuk rumah dan terbengong melihat istrinya makan rujak mangga muda. Matanya langsung berbinar-binar.
"Apa Karin hamil lagi? Kemarin saja bilang tidak mau punya anak lagi. Lantas ini apa namanya kalau bukan ngidam?" Batin Yudha tersenyum tipis.
Keifano menyusul Papanya dan masuk ke rumah. Keifano melongo melihat Mamanya makan rujak buah.
__ADS_1
"Apa Mama sedang ngidam?" Batin Keifano.
"Papa, apa Mama hamil?" bisik Keifano.
"Tidak tahu nak. Kita tanya langsung saja yuk. Papa juga penasaran," bisik Yudha kepada anaknya.
Yudha lalu berjalan mendekati Karin dan diikuti oleh Keifano. Yudha tiba-tiba memeluk istrinya, Karin terkejut saat suaminya tiba-tiba sudah datang.
"Mas, bukannya kamu harusnya satu jam lagi pulangnya ya?"
"Sayang, apa kamu tidak suka suamimu pulang lebih awal," jawab Yudha melepaskan pelukannya dan lalu duduk disampingnya.
"Bukan seperti itu maksudku."
Keifano mendaratkan bokongnya pada sofa.
"Tadi gak macet Mama, lagian pasien di rumah sakit tidak terlalu banyak. Jadi kita bisa pulang cepat."
"Oh jadi seperti itu?"
Keifano hanya mengangguk pelan.
"Sayang, apa kamu isi lagi?" tanya Yudha sambil memegang perut istrinya.
Karin melihat wajah suaminya bahagia. Karin lalu tahu jika saat ini suaminya telah salah paham karena dia makan rujak. Suaminya itu mengira kalau saat ini dirinya sedang hamil.
"Jadi hanya karena rujak saja kamu mengira aku hamil?" ucap Karin terkekeh.
Yudha mengangguk pelan, Karin lalu menghela napas panjang.
"Loh, bukannya rujak mangga muda biasanya untuk wanita yang tengah hamil muda Mama," ucap Keifano bingung karena Mamanya tadi berbicara seperti itu.
"Iya, kamu benar sekali nak. Istri kamu yang ngidam rujak mangga muda dan Mama tadi yang buat rujaknya. Anisa tadi bilang ingin memakan rujaknya sama Mama."
Keifano lalu paham, sedangkan Yudha tampak kecewa karena mengira Karin hamil.
"Terus istriku mana Mama?"
"Sedang buat minuman di dapur. Tadi Mama melarangnya tapi dia ingin tetap membuat minuman untuk Mama karena Mama sudah membuatkan rujak buah yang enak untuknya."
__ADS_1
Keifano mengangguk pertanda bahwa mengerti.