Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 93 - Kepergian Karin


__ADS_3

Sudah sebulan lamanya Karin belum ada tanda-tanda kehadiran sang buah hati. Kini Karin merasa cemas jika Mama Sabrina tiba-tiba datang ke rumah karena tadi pagi Karin sempat tes kehamilan dan hasilnya negatif. Karin berpikir bahwa jika harus berpisah dengan Yudha mungkin memang sudah jalan takdirnya untuk berpisah. Kini Karin sedang menunggu suaminya pulang. Sambil menunggu Yudha, Karin membuatkan teh hangat untuk suaminya. Tak lupa tadi Karin juga membuat brownies untuk suami tercintanya.


Karin kini sedang duduk manis di ruang tamu menunggu Yudha pulang. Karin melihat ke arah jam seharusnya suaminya sudah pulang ke rumah. Karin tidak tahu bahwa suaminya kini masih di rumah sakit memikirkan perkataan sang Mama Sabrina. Mamanya tadi ke rumah sakit menemui anaknya tadi siang.


FLASHBACK ON


Mama Sabrina datang tiba-tiba masuk ke ruangan anaknya saat jam makan siang.


"Nak, kita makan bareng yuk. Ada yang ingin Mama bicarakan juga sama kamu."


Yudha mengangguk dan akhirnya makan siang bersama sang Mama. Setelah makan siang bersama Mama Sabrina ingin membicarakan apa maksud dan tujuannya untuk mengajak anaknya makan siang bareng.


"Nak, bisakah kamu meninggalkan Karin?"


"Mama yang benar saja. Aku sangat mencintai istriku. Kenapa Mama ingin memisahkan aku dengan Karin? Aku tidak akan meninggalkan Karin Mama. Kecuali kalau Karin sendiri yang ingin berpisah dariku."


"Nak, istrimu sudah tidak bisa memberikan Mama cucu. Buktinya sudah setahun lamanya Karin juga belum hamil lagi. Nak, Mama mau kamu menikah lagi."


Yudha tersedak saat Mamanya bicara seperti itu.


"Apa maksudnya ini Mama? Kenapa Mama memintaku untuk menikah lagi?"


"Karena istrimu sepertinya Karin tidak bisa lagi hamil lagi. Karin sudah tidak bisa memberikan Mama cucu nak."


"Maaf Mama, tolong jaga bicara Mama dan jangan menuduh Karin seperti itu. Dulu Yudha yang Mama tuduh tidak bisa memberikan Mama cucu. Tapi kenyataannya Karin juga bisa hamil bahkan kembar tiga kan Mama. Seharusnya Mama bisa bersabar, kita baru saja kehilangan si kembar."


"Nak, Maafkan Mama."


Mama Sabrina langsung pergi begitu saja meninggalkan anaknya yang masih duduk di restoran.


FLASHBACK OFF


Yudha tidak habis pikir Mamanya memintanya untuk menikah lagi dan meninggalkan Karin. Selamanya Yudha tidak mau menceraikan Karin. Kecuali kalau Karin sendiri yang ingin berpisah darinya.


Kini Yudha melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Setelah beberapa menit kemudian Yudha sampai di rumahnya. Karin ketiduran menunggu suaminya pulang. Yudha terkejut saat Karin sudah berada di ruang tamu dengan posisi meringkuk tidur di sofa.


Yudha berjalan mendekati istrinya dan mendaratkan kecupannya di kening. Karin yang merasa terusik tidurnya pun akhirnya terbangun.


"Eh Mas Yudha sudah pulang."


"Sayang, kamu kenapa ketiduran di sofa, harusnya kalau kamu ngantuk kamu bisa tidur di kamar."


"Aku dari tadi nungguin Mas pulang dan sampai ketiduran."


"Aku tidak bisa meninggalkan istriku seperti yang Mama inginkan. Apalagi aku sudah sangat mencintainya. Lagian jika aku berpisah darinya aku tidak akan menikah lagi. Aku tidak bisa membuka hatiku untuk wanita lain." Batin Yudha.

__ADS_1


"Astaga Mas, tehnya sudah dingin. Aku buatin lagi ya Mas."


"Tidak usah bikin lagi sayang. Aku minum yang ini saja. Teh hangat atau dingin sama saja kalau yang bikinin kamu aku tetap suka."


"Hahaha. Mas gombal deh. Oh iya, aku tadi bikin brownies Mas."


"Sebaiknya aku tidak cerita soal Mama tadi yang tiba-tiba menyuruhku untuk menikah lagi. Aku tidak mau Karin kepikiran." Batin Yudha.


Yudha tidak tahu kalau Mamanya bahkan sudah menemui Karin sebulan yang lalu.


"Ayo sayang, aku ingin makan brownies coklat buatan kamu."


Karin hanya mengangguk menampilkan senyuman manisnya.


"Mungkin ini terakhir kalinya aku akan membuatkan brownies coklat untuk kamu Mas. Sebenarnya aku tidak ingin berpisah darimu. Tapi aku juga tidak mau dimadu. Akhirnya aku lebih memilih pilihan kedua yaitu berpisah darimu. Maafkan aku Mas, aku tidak bisa bercerita tentang hal ini karena Mama Sabrina melarang aku untuk bercerita." Batin Karin.


Setelah makan brownies Yudha lalu mandi. Malam telah tiba. Mereka sudah sholat isya berjamaah.


"Mungkin ini terakhir kalinya kita bisa sholat berjamaah malam ini Mas. Aku takut Mama kamu akan datang besok pagi menagih janjinya." Batin Karin.


"Mas, aku ingin masak untuk makan malam kita."


"Tapi sayang kan ada Bibi."


"Hmm..... Iya deh, apa yang kamu mau aku turutin sayang."


Karin tersenyum lalu pergi ke dapur.


"Istriku kenapa ya? Sepertinya agak sedikit aneh hari ini." gumamnya.


Yudha lalu berjalan menuju dapur. Menyusul Karin yang sedang masak di dapur.


"Sayang, kamu masak apa?" Sambil melingkarkan tangannya ke perut Karin. Yudha memeluknya dari belakang.


"Nasi goreng. Mas, jangan mengganggu aku yang sedang memasak."


"Biarkan begini saja sejenak sayang."


"Aku tidak tahu perasaan aku ingin selalu dekat dengan kamu sayang. Aku merasa kamu akan pergi meninggalkan aku." Batin Yudha.


Karin lalu pasrah masak sambil dipeluk suaminya. Karin memanfaatkan waktu untuk bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya. Entah besok atau kapan Mama Sabrina pasti akan datang menagih janjinya. Mereka kini makan bersama. Kali ini mereka makan sepiring berdua. Tak lupa Karin menyuapi Yudha. Lalu mereka saling suap-menyuap.


"Aku sebenarnya ingin selalu seperti ini Mas. Tapi aku tidak bisa karena ada Mama kamu yang telah memilih wanita lain yang akan mendampingi kamu. Wanita itu sebentar lagi yang akan menggantikan aku sebagai istrimu dan juga yang akan memberikan Mama cucu. Maafkan aku yang tidak bisa memberikanmu anak lagi." Batin Karin.


Setelah itu mereka pergi ke kamarnya. Karin langsung memeluk suaminya. Memeluknya dengan erat. Seperti takut akan kehilangan suaminya. Yudha pun membalas pelukannya.

__ADS_1


"Aku pasti akan merindukan pelukan hangat ini Mas. Aku akan melakukan tugasku sebagai istrimu untuk yang terakhir kalinya malam ini." Batin Karin.


Mereka malam ini lalu memadu kasih. Karin sengaja bilang kepada asisten rumah tangganya agar tidak memasak dan Karin yang akan memasak sendiri sarapan untuk suaminya. Pagi hari setelah Yudha pergi ke rumah sakit Mama Sabrina tiba-tiba datang bersama wanita cantik yang ada disampingnya. Karin tahu pasti wanita itu yang akan Mama Sabrina nikahkan dengan suaminya. Karin tetap sopan santun dengan mengecup punggung tangan Mama Sabrina karena bagaimanapun juga Karin masih sah menjadi istri dari anaknya.


"Karin, bagaimana apakah kamu sudah isi lagi?"


Karin hanya menggelengkan kepalanya.


"Mama bawa sesuatu untuk kamu." Sambil membuka tasnya meletakkan map berwarna hijau.


"Apa ini Mama?" tanyanya penasaran.


"Surat gugatan cerai. Kamu tinggal tanda tangan saja kalau ingin berpisah dari anakku. Kalau kamu masih tidak ingin dimadu" ucapnya dengan sinis.


"Dugaanku selama ini yang menganggap Mama Sabrina menganggap aku sebagai anak menantunya itu salah besar. Mama Sabrina selama ini hanya baik karena aku kemarin hamil ketiga cucunya. Setelah aku tidak bisa memberikannya cucu lagi aku ditendang begitu saja." Batin Karin.


"Karin keputusan apa yang kamu ambil?"


"Aku akan tetap mendatangi surat ini sekarang juga," ucap Karin dengan lantang lalu menandatangani suratnya.


Wanita yang tadi bersama Mama Sabrina pin tersenyum karena sebentar lagi Yudha akan segera menjadi suaminya. Karena Mama Sabrina berjanji akan menikahkan anaknya dengan dia.


"Baguslah, kamu sudah mengambil pilihan yang tepat nak."


"Aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga," ucapnya lalu mengambil koper di kamarnya.


Karin pergi ke kamarnya dan memasukkan beberapa baju yang menurutnya penting. Sisanya ditinggalkan karena tidak muat jika dimasukkan ke dalam koper semuanya. Karin menatap semua isi kamarnya dan meneteskan air mata.


"Kamar ini, mungkin sebentar lagi akan menjadi kamar Kak Yudha beserta wanita itu."


Karin segera menghapus air matanya dan keluar dari kamarnya. Mama Sabrina sudah pergi bersama wanita tadi. Bibi tergopoh-gopoh menahan Karin untuk pergi.


"Non, jangan pergi. Tuan pasti akan marah jika Non Karin pergi."


"Sebenarnya aku juga tidak ingin pergi Bi. Tapi mungkin ini sudah jalan takdirku seperti ini. Mungkin aku tidak berjodoh dengan Kak Yudha."


"Non Karin mau pergi kemana?"


"Keluar negeri Bi. Aku akan sementara tinggal di luar negeri untuk menyelesaikan kuliahku di sana."


"Bibi pasti akan merindukan Non Karin. Hati-hati ya Non."


"Iya Bi. Terima kasih."


Karin lalu menaiki taksi dan menuju ke rumah orang tuanya Rey. Karena Karin akan naik jet pribadi milik Keluarga Wijaya. Semua keluarganya sudah berkumpul di sana.

__ADS_1


__ADS_2