
Karin dan Yudha sudah sampai di restoran. Seperti biasa Yudha selalu memesan ruangan VIP agar tidak dapat menghirup asap rokok. Yudha dan Karin duduk saling berdampingan. Saat Karin dan Yudha makanan dan minumannya sedang dibuatkan Mama Chintya video call.
"Hah Mama telepon? Pakai video call lagi. Aduh gimana ini angkat gak ya? Lagi sama Kak Yudha lagi. Hmm angkat saja lah dari pada Mama curiga." batin Karin.
Karin lalu mengangkat video call dengan Mamanya.
📹 Karin : "Hallo, Assalamualaikum Ma."
📹 Chintya : "Wa'alaikum Salam sayang. Kamu belum pulang sekolah?"
Mama Chintya melihat anaknya masih pakai seragam sekolah dan di sebuah restoran.
📹 Karin : "Iya Ma. Karin mampir dulu ke restoran karena laper Ma hehehe."
📹 Chintya : "Oh kamu sama siapa sayang?"
📹 Karin : "Sama Kak Yudha Ma."
📹 Chintya : "Mama boleh bicara dengan Yudha?"
📹 Karin : "Iya Ma."
Karin lalu memberikan hpnya ke Yudha. Dokter Yudha menerima hp Karin tangannya gemetar karena akan bicara dengan calon mertuanya.
📹 Yudha : "Hallo, Assalamualaikum Tante."
📹 Chintya : "Wa'alaikum Salam. Panggilnya Mama saja biar lebih akrab, kan kamu akan menjadi menantu Tante nantinya."
📹 Yudha : "Eh... Iya Ma."
Keynan langsung merebut hp istrinya.
📹 Keynan : "Nak, apakah kamu serius dengan Karin anak saya?"
📹 Yudha : "Iya saya serius ingin menjadikan Karin sebagai pendamping hidup saya."
📹 Keynan : "Kalau kamu memang serius dengan anak saya. Nanti pas liburan semester kamu bisa kesini bersama kedua orang tuamu. Papa pengen mengetes kamu dan Papa akan melihat seberapa seriusnya kamu dengan anak saya."
"Sepertinya Papanya Karin agak galak. Aku harus bisa meyakinkannya bahwa aku memang benar-benar serius dengan anaknya." batin Yudha.
📹 Yudha : "Iya Pa. Nanti saya akan bicarakan dengan kedua orang tua saya."
"Ini anak sepertinya serius dengan putriku." batin Keynan.
__ADS_1
📹 Yudha : "Pa, bolehkah Yudha memperkenalkan Karin kepada orang tua saya? Saya didesak terus oleh Papa Mama saya untuk memperkenalkan gadis pilihan saya."
📹 Keynan : "Boleh saja, biar Karin lebih akrab dengan kedua orang tua kamu."
📹 Yudha : "Baik Pa. Minggu ini Yudha akan memperkenalkan Karin kepada orang tua saya."
📹 Keynan : "Kamu jaga anak saya baik-baik ya? Jangan berbuat macam-macam terhadap anak saya."
📹 Yudha : "Iya Pa. Saya mana berani berbuat macam-macam. Selama saya dekat dengan Karin saya hanya berani menggandeng tangannya saja. Saya juga belum pernah berpacaran Pa. Jantung saya berdegup dengan kencang saat melihat pertama kali Karin di acara pertunangan Rey dan Risa. Saya belum pernah dekat dengan perempuan manapun. Papa bisa tanyakan kepada kedua orang tua saya nanti kalau ketemu atau dengan Dokter Rio sahabat saya dari kecil. Mereka tahu semua tentang saya."
"Lulus tes pertama sebagai calon menantu." batin Keynan.
📹 Keynan : "Saya tidak percaya sama kamu. Saya mau bertanya kepada anak saya sendiri. Karena dia selalu jujur dengan Papanya. Tolong kasihkan hpnya ke Karin."
"Deg......" Jantung Yudha berdegup dengan kencang saat calon mertuanya berbicara tidak percaya dengannya.
Padahal memang benar Yudha tidak pernah macam-macam dengan Karin.
📹 Keynan : "Nak apa benar Yudha tidak pernah macam-macam dengan kamu?"
📹 Karin : "Iya benar Pa. Selama ini Kak Yudha cuma berani menggandeng tangan Karin saja tidak lebih."
📹 Keynan : "Kamu tidak sedang membohongi Papa kan nak? Karena ada Dokter Yudha disampingmu."
📹 Keynan : "Yaudah. Kalau gitu kamu makan ya nak, itu tadi Papa lihat pelayannya sudah membawakan makanannya ke meja kalian."
📹 Karin : "Iya Pa. Karin mau makan dulu ya? Papa dan Mama sudah makan belum?"
📹 Keynan : "Iya, sudah nak. Jaga dirimu baik-baik selama di Indonesia. Kalau begitu sudah dulu ya nak Wassalamu'alaikum."
📹 Karin : "Iya Pa. Wa'alaikum Salam."
Panggilan video call pun sudah berakhir.
"Sayang besok hari Sabtu malam Minggu kamu aku kenalkan kepada kedua orang tuaku ya?"
"Apa tidak terlalu kecepetan Kak? Eh maksudnya sayang. Maaf Kak Karin belum terbiasa manggilnya sayang."
"Iya nanti kamu akan terbiasa memanggil Kakak dengan sebutan sayang." sambil tersenyum.
"Kak Yudha kok senyumannya manis sekali sih? Eh... Apa aku sekarang sudah benar-benar sudah jatuh cinta padanya?" batin Karin.
"Kamu mau kan sayang aku kenalkan kepada kedua orang tuaku?" tanya Yudha kembali.
__ADS_1
"Iya sa... sayang," ucapnya terbata-bata.
Yudha tersenyum dan semakin gemas dengan Karin.
"Terima kasih ya sayang." lalu menggenggam tangan kiri Karin dengan tangan kanannya.
Karin hanya tersenyum dengan perilaku Yudha kepadanya.
"Eh maaf sayang reflek. Yuk kita makan keburu makanannya jadi dingin." lalu melepaskan genggamannya.
"Kak Yudha memang beda dengan Dion, Kak Yudha lebih sopan. Tadi menggenggam tanganku saja minta maaf, padahal kan sudah biasa kalau jalan selalu menggandeng tanganku." batin Karin.
Karin bersyukur bisa mengenal Yudha. Selain pemikirannya dewasa, Yudha orangnya juga sopan. Memang calon suami idaman.
...*****...
DI RUMAH KEYNAN DI KOREA
"Ma, Yudha telah lulus tes pertama sebagai calon menantu kita. Dia orangnya sopan dan belum pernah dekat dengan perempuan."
"Iya Pa. Sepertinya Dokter Yudha orangnya baik ya Pa? dan Mama rasa orangnya sabar."
"Iya Ma. Papa rasa juga begitu. Karin terlihat bahagia dengan dokter muda tersebut. Ya meskipun usia mereka terpaut cukup jauh 7 tahun."
"Bukankah umur tidak menjadi masalah Pa untuk menjalankan suatu hubungan?"
"Iya Ma. Yang penting kenyamanan antara satu sama lain. Itu yang terpenting Ma."
"Mama bersyukur Pa. Meskipun Karin tidak jadi dengan Dion sang Hafidz Qur'an itu yang sifatnya kaku dan dingin. Namun Karin mendapat penggantinya seperti Yudha yang orangnya baik dan pengertian."
Mama Chintya teringat saat Karin cerita bahwa pertama kali bertemu dengan Dion. Malamnya Dion cerita dengan Rey untuk menolak perjodohannya dengan Karin.
"Mudah-mudahan anak kita selalu bahagia ya Ma bersama dokter muda tersebut."
"Aamiin... Mudah-mudahan Pa."
"Ma apa kita tidak pindah saja ke Indonesia nanti kalau Karin sudah menikah? Papa tidak ingin jauh-jauh dari Karin. Apalagi Karin adalah anak kita satu-satunya," ucap Keynan yang sebenarnya rindu dengan kota kelahiran di Jakarta dan bertemu dengan Kakaknya Kevin.
"Pa, Mama setuju dengan usul Papa. Mama juga tidak ingin jauh-jauh dengan Karin. Apalagi nanti kalau Karin sudah menikah dan punya anak. Mama juga pengennya selalu dekat dengan anak dan cucu Mama. Tapi disisi lain Korea adala kota kelahiranku dan juga ibumu. Kita harus berbicara dengan ibumu dulu kalau ingin pindah ke Indonesia."
"Iya nanti Papa akan bicara sama ibuku. Mudah-mudahan ibuku setuju dengan usulanku dan aku akan meminta bantuan kepada ayah jika misalnya ibuku tidak setuju. Kan ibu tidak bisa melawan perintah apa kemauan ayahku."
Mama Chintya mengangguk paham. Mama Chintya memang tidak ingin jauh-jauh dengan anaknya. Bagaimanapun juga hati seorang ibu tidak tenang jika harus berjauhan dengan anak satu-satunya. Terlebih jika Karin nanti kalau sudah menikah dan hamil. Mama Chintya ingin sekali menemani anaknya yang hamil jika sedang ngidam pengen makan ini itu. Karena dia pernah merasakan bagaimana rasanya orang ngidam. Mama Chintya tidak ingin kesempatan itu terlewatkan begitu saja. Apalagi untuk cucu pertamanya.
__ADS_1