Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 82 - Menantu Rasa Pembantu


__ADS_3

Mama Sabrina kini mengkode menantunya agar duduk disampingnya. Karin masih tetap terdiam dan masih berdiri memandang Fani.


"Sayang, sini duduk sama Mama nak." Sambil menepuk sofa yang kosong di sebelahnya.


"Eh, iya Mama." Karin sebenarnya tidak mau duduk. Tapi karena menghargai mertuanya jadi Karin harus terpaksa duduk.


"Nak Fani, kenalkan ini menantu kesayangan Tante. Namanya Karin."


Fani hanya tersenyum tipis saat Mama Sabrina memperkenalkan Karin sebagai menantunya. Ada rasa iri saat Karin berhasil mengambil hati Mama Sabrina.


"Ayo nak, kalian harus saling mengenal biar lebih akrab."


"Karin," ucapnya sambil tersenyum tipis karena harus menjaga image di depan Mama Sabrina.


"Fani," ucapnya sambil mencengkram erat tangan Karin.


"Apa maksudnya dia mencengkram tanganku dengan erat? Sebenarnya ini wanita siapanya Kak Yudha? Aku nanti harus tanya sama Kak Yudha sendiri kalau sudah sampai rumah." Batin Karin.


Karin lalu melepas jabatan tangannya dengan Fani.


"Saya harap kalian bakal akur ya. Sayang, ini temannya Yudha waktu SMA dulu dan saat kuliah di Perancis mereka juga satu kampus namun beda fakultas dan jurusan."


Karin hanya manggut-manggut saja.


"Oh, begitu ya Mama."


.


"Iya sayang... Oh iya, nak Fani Tante sedang bahagia. Menantu Tante ini hebat loh nak, bisa kasih cucu Tante sekaligus tiga," ucapnya sambil memegang perut Karin dan mengelusnya pelan.


Fani hanya tersenyum kecut mendengar Mama Sabrina berbicara seperti itu. Seharusnya dialah yang menjadi Karin dan diperhatikan saat ini jika menikah dengan Yudha.


"Oh, selamat ya karena Tante akan segera punya cucu kembar."

__ADS_1


"Sepertinya wanita ini tidak suka denganku. Aku harus berhati-hati dengan dia." Batin Karin.


"Iya nak, terima kasih."


"Tante sebentar lagi aku yang akan menjadi menantumu. Aku akan menggeser posisi Karin sebentar lagi. Wanita ini tidak cocok dengan Yudha. Pendidikannya bahkan hanya lulusan SMA." Batin Fani teras senang.


"Tante aku haus," ucapnya sambil memegang lehernya.


"Ehm.. Sebentar ya nak. Bibi lagi ke supermarket beli sayuran."


"Ehm.. Ya sudah kalau begitu Fani pulang saja ya Tante. Nanti Fani bisa beli minuman di jalan saja."


"Eh nak, jangan. Tidak sehat beli minuman di jalan. Kamu tadi juga sudah memberi banyak oleh-oleh dengan Tante. Sekarang kok mau beli minumnya di luar."


"Karin, Mama minta tolong ya nak. Buatkan minum untuk Fani," ucapnya kembali.


"Apa-apaan ini? Sebelum Fani datang aku mau masak untuk Kak Yudha saja dilarang sama Mama karena alasannya aku sedang hamil dan tidak boleh terlalu kecapekan dan harus banyak-banyak istirahat di kamar. Kenapa setelah Fani datang aku disuruh untuk membuatkan minuman untuknya? Mengapa sikap Mama berubah 180° kepadaku. Apa salahku Mama Sabrina. Bahkan sekarang aku sedang mengandung ketiga cucumu." Batin Karin merasa kecewa dengan sikap mertuanya.


"Baik Mama." Karin lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah dapur.


Karin lalu berjalan ke dapur membuatkan minuman untuk Fani.


"Aku bikin minuman apa ya? Hmm... Aku kerjain saja si Fani itu." Kini Karin seketika terbesit ide brilian.


Karin lalu akan membuat dua cangkir teh panas. Untuk mertuanya sengaja dibuat manis. Sedangkan untuk Fani dibuat asin dan manis. Karena Karin akan mencampurkan garam pada minuman Fani.


"Tadi dia bilang haus kan. Hahaha.. Sengaja aku buatin teh panas rasa asin dan manis. Nak, kalian jangan tiru kelakuan Mamamu ini ya nak," ucapnya lirih sambil mengelus perutnya pelan.


"Tapi sekali-kali ngerjain pelakor gak apa-apa deh," ucapnya terkekeh.


Saat membuatkan minuman ada pesan WhatsApp dari suaminya. Yang menanyakan Karin sudah minum vitaminnya atau belum. Karin jujur Karin belum meminum vitaminnya dan bilang sedang ada tamu dan Mama yang menyuruhnya untuk membuatkan minuman untuk tamunya.


"Aku ini menantunya tapi rasanya seperti pembantunya saja setelah si Fani itu datang," ucap Karin kesal sambil mengaduk tehnya.

__ADS_1


Karin lalu mengirim pesan WhatsApp lagi kepada suaminya. Karin akan menelepon suaminya dan Yudha tidak boleh bersuara agar Yudha juga bisa mendengarkan percakapan mereka. Kini Karin telah selesai membuat teh hangat dengan dua rasa yang berbeda. Senyum manis terukir di wajah cantiknya. Karin mengambil nampan dan meletakkan kedua cangkir teh panas tersebut.


Kini Yudha telah membalas pesan WhatsApp Karin. Yudha tadi bilang 'ok sayang'. Kini Karin lalu akan menjalankan aksinya. Karin sudah menelepon suaminya melalui telepon biasa agar suaranya lebih jelas. Karena kalau lewat WhatsApp akan terputus-putus karena jaringan yang tidak stabil. Perlahan Karin berjalan dengan hati-hati ke ruang tamu.


"Silakan diminum tehnya." Saat meletakkan dua cangkir di atas meja.


"Kenapa kamu membuat teh panas? Saya kan haus dan seharusnya kamu membuatkan aku itu es jus, es buah atau minuman dingin lainnya," ucap Fani dengan nada yang sedikit tinggi.


"Kurang ajar ini pelakor. Memperlakukan aku layaknya pembantu." Batin Karin.


"Maaf ya, suami saya saja tidak pernah protes dengan teh hangat buatan saya. Kenapa Anda protes dengan teh buatan saya. Bahkan Anda belum mencicipi teh buatan saya kan?" ucap Karin dengan kesal sambil menatap wajah Fani.


"Karin, kamu bicaranya yang sopan sama Fani ya! Dia ini tamu di rumah kita. Buatkan dia minuman dingin, jus atau es buah. Sekarang cepat pergi ke dapur!"


"Sukurin, akhirnya terkena semprot Tante Sabrina juga kan kamu Karin. Emang enak di suruh layaknya seperti seorang pembantu." Batin Fani tersenyum bahagia karena tadi Karin dibentak oleh mertuanya sendiri.


Karin matanya terbelalak saat Mama Sabrina berbicara seperti itu. Ini pertama kalinya Mama Sabrina membentaknya. Selama ini Mama Sabrina selalu berbicara lembut, kecuali pada saat Karin ketahuan meminum pil penunda kehamilannya waktu beberapa bulan yang lalu. Yudha yang mendengarkan percakapan mereka lewat telepon pun geram.


Yudha yang mendengar Mamanya membentak Karin dari telepon pun langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas akan pulang ke rumah. Tugasnya Yudha alihkan ke Dokter Chandra. Kini Yudha mengemudikan mobilnya dengan cepat agar sampai rumah. Yudha tidak terima jika istrinya dibentak oleh Mamanya. Yudha akan melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa tamu yang datang, sehingga Mamanya menyuruh Karin untuk membuat minuman untuk tamunya sampai dua kali.


"Sayang, bersabarlah. Tinggal beberapa hari lagi kita akan tinggal di rumah baru kita bersama dengan anak-anak kita. Ternyata Mama selama ini memperlakukanmu tidak baik saat aku tidak berada di rumah. Kenapa kamu tidak cerita sih sayang kalau selama ini Mama tidak suka kepadamu." Lirihnya.


Yudha lalu berfokus kembali mengemudi mobilnya. Sambungan teleponnya masih menyala. Karin masih tetap terdiam dan tidak pergi dari ruang tamu.


"Aku harus berakting agar tidak membuat minuman lagi untuk si pelakor ini. Nak, kalian jangan tiru kelakuan Mama ya." Batin Karin.


Karin lalu mengambil cangkir yang berisi air teh panas tersebut. Tangan kirinya pura-pura memegang kepalanya. Sedangkan tangan kanannya masih memegang cangkir berisi teh panas tersebut.


"Aduh, kepalaku terasa sakit." Sambil memegang kepalanya dengan tangan kirinya.


Perlahan Karin akan berdiri dan lalu menumpahkan teh panas tersebut ke paha Fani beserta dengan cangkirnya.


"Ah... Panas... Tante, lihat apa yang menantu Tante lakukan kepadaku." Teriak Fani sambil mengibaskan dress pendeknya yang terkena tumpahan teh panas. Kini cangkirnya sudah pecah tepat di bawah kakinya.

__ADS_1


"Kita lihat saja siapa yang nantinya akan Mama Sabrina perhatikan setelah ini. Aku atau kamu yang Mama Sabrina lebih perhatikan." Batin Karin.


__ADS_2