Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 53 - Pulau Bali Jadi Saksi Cinta Kita Berdua


__ADS_3

Hari ini Alya dan Dion berangkat ke Bali. Mereka akan seminggu berbulan madu di Bali. Mereka sekarang sudah berada di resort.


"Bi, kita ke pantai yuk." Alya mengajak Dion untuk ke pantai.


"Iya Mi, tadinya Abi yang mau ngajak Umi melihat sunset. Eh Umi udah mengajak duluan hehe," ucap Dion.


"Indah kayaknya Bi pantainya. Umi sudah tidak sabar ingin berfoto di pantai."


"Ya sudah Abi mandi dulu, habis ini kita ke pantai."


Alya menjawabnya dengan deheman. Saat Dion sedang mandi Alya menyiapkan pakaiannya, Alya memilih pakaian yang warnanya senada dengan dress-nya. Mereka sekarang sudah mandi dan sudah rapi.


"Ayo Mi kita langsung menuju ke pantai," ucap Dion sambil menggandeng tangan Alya.


"Hmm iya Bi." Alya dengan senyuman manisnya.


Setelah berjalan beberapa menit kemudian dari resort akhirnya mereka sudah sampai di pantai.


"Subhanallah indahnya..." Alya melihat pantai yang begitu indah.


"Iya pantainya cantik ya Mi. Seperti Umi juga cantik," ucap Dion yang seketika membuat wajah Alya merah merona.


Mereka lalu berjalan-jalan di sepanjang pantai. Alya dan Dion tak lupa mengabadikan moment dengan foto bersama. Alya punya ide jahil untuk berlari dari Dion.


"Bi, tangkap aku kalau bisa," ucap Alya meledek Dion dan lalu berlari dengan kencang menjauhinya.


"Umi, lihat saja aku akan menangkapmu," ucap Dion yang juga berlari mengejar Alya.


Dion berlari dengan cepat mengejar Alya dan pada akhirnya Alya tertangkap oleh Dion. Alya sudah dipeluk Dion dari belakang.


"Hayo, Umi mau kemana lagi."


"Hehe iya aku nyerah Bi. Abi larinya jago juga ternyata," ucap Alya terkekeh.


"Umi Alya Assyifa aku mencintaimu," ucap Dion di telinga Alya.


Seketika Alya kaget dan langsung melepaskan pelukan Dion dan berbalik badan menatap wajah suaminya. Dion terkejut seketika Alya melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu suamiku," ucap Alya dengan senyuman lalu memeluk Dion, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Aroma maskulin Dion yang membuat Alya menyukainya.


"Benarkah Umi sudah mencintaiku?" ucap Dion meraih dagu Alya dan menatap wajah cantik istrinya.


Alya tersenyum dan mengangguk pelan. Dion melihat mata Alya tidak ada kebohongan di sana.


"Terima kasih Umi. Abi bahagia akhirnya Umi juga mencintaiku. Pulau Bali jadi saksi cinta kita berdua," ucap Dion memeluk Alya kembali dan mengeratkan pelukannya.


"Iya Bi. Sejak Abi mengobati luka di tangan Umi waktu itu di kampus, Umi jantungnya berdetak tak beraturan saat berdekatan dengan Abi."


"Aku sejak pertama kali melihat Umi secara tidak sadar aku sudah menyukai Umi."


"Berarti Abi menyukaiku sudah sejak lama?"


"Iya Mi, Abi sudah sejak waktu MOS itu Abi menyukai Umi."


Dion bahagia akhirnya sekarang Alya juga sudah mencintainya. Cintanya sudah tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Mereka lalu duduk di tepi pantai sambil menikmati sunset. Saat adzan magrib terdengar Alya dan Dion meninggalkan pantai dan menuju ke resort kembali menunaikan ibadah sholat maghrib berjamaah. Sambil menunggu adzan isya mereka sudah biasa mengaji bersama.


Alya dan Dion sudah selesai sholat isya. Mereka akan makan malam bersama di restoran dekat pantai. Alya dan Dion lalu berjalan menuju restoran tersebut. Restorannya tak jauh dari resort, jadi masih bisa di tempuh hanya dengan berjalan kaki saja.


Dion sudah memesan makanan spesial yang ada di restoran tersebut. Menu paling recommend Dion pesan semuanya.


"Iya Mi, kita akan cicipi makanannya satu-satu. Mumpung kita lagi di Bali Mi."


"Hmm iya Bi."


Mereka akhirnya makan bersama. Alya merasakan kedinginan karena restorannya berada tak jauh dari pantai. Melihat hal itu Dion melepaskan jaketnya untuk istri tercintanya agar Alya tidak kedinginan lagi.


"Terima kasih Bi," ucap Alya sambil tersenyum.


"Umi, jangan berterima kasih seperti itu. Abi akan membuat Umi nyaman ketika berada di sampingku."


"Aku akan membuatmu selalu bahagia Umi. Wanita baik sepertimu pantas untuk di bahagiakan." Batin Dion.


Alya bahagia mendengarnya perkataan suaminya. Alya bersyukur mempunyai suami seperti Dion yang selalu perhatian kepadanya. Seketika sudut bibirnya Alya ada saus dari steak-nya. Dion yang melihat itu pun langsung membersihkan dengan tisu. Alya mematung melihat perlakuan Dion begitu manis kepadanya.


"Umi makannya tadi belepotan hehehe," ucap Dion.

__ADS_1


"Maksud Abi Umi kaya anak kecil gitu?" ucap Alya cemberut.


"Umi gemesin deh kalau lagi cemberut kaya gini," ucap Dion saking gemasnya mencubit pipi Alya.


"Kok dicubit sih Bi?" Alya protes pipinya dicubit.


"Habis Umi gemesin sih hehehe," ucap Dion terkekeh.


Mereka sekarang sudah selesai makan dan Dion sudah membayar semuanya. Sekarang Alya dan Dion sedang berjalan akan kembali ke resort. Karena terlalu lama berjalan akhirnya Dion menggendong Alya ala bridal style.


"Bi, lepasin Umi. Malu dilihatin banyak orang Bi," ucap Alya menepuk-nepuk dada bidang suaminya agar melepaskan gendongannya. Namun percuma saja Dion tetap berjalan mau melepaskan Alya dari gendongannya.


"Kita sudah sah Umi. Sudahlah biarkan saja orang melihat kita. Mereka juga pasti paham kalau kita ini pasangan suami istri."


Alya diam saja, karena percuma mau berkata apa karena Dion juga tetap tidak melepaskan gendongannya. Dengan cepat Dion berjalan menuju resort. Setelah sampai di depan pintu Dion baru menurunkan Alya dari gendongannya. Dion membuka pintu resort dan mencari pakaian tidurnya. Mereka sudah sama-sama memakai baju tidur. Alya duduk di sofa sambil memainkan hpnya. Melihat foto-foto tadi sore saat di pantai bersama Dion. Alya tersenyum melihat hpnya ada foto dirinya bersama dengan suaminya. Dion yang berada disamping Alya pun ikut tersenyum saat Alya bahagia dengan hasil foto yang Dion potret tadi sore.


"Umi, bahagia tidak menikah dengan Abi?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Dion.


Alya terkejut tiba-tiba Dion bertanya seperti itu.


"Abi, Umi bahagia menikah denganmu. Umi bersyukur punya suami seperti Abi. Abi suami idaman banget dan sesuai dengan kriteria pria idaman Umi."


"Benarkah?" ucap Dion meyakinkan perkataan Alya.


"Iya benar Bi. Kapan sih Umi berbohong selama ini? Selama jadi istrinya Abi, Umi juga tidak pernah berbohong kan?"


"Hmm iya juga sih Mi. Abi juga bersyukur punya istri seperti Umi. Makasih ya Umi sudah mau menerimaku jadi pendamping hidupmu," ucap Dion memeluk Alya.


"Iya Bi, aku mencintaimu." Alya membalas pelukannya.


"Aku juga mencintaimu Umi."


Dion terdiam sejenak dirinya sedang memikirkan sesuatu. Tapi akhirnya Dion akan mengutarakannya.


"Mi, bolehkah kita melakukan kewajiban yang sempat tertunda waktu itu?" ucap Dion sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Alya.


"Hmm iya Bi," ucap Alya sambil tersenyum.

__ADS_1


Dion bahagia Alya juga sudah siap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Dion memang akan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami saat Alya sudah mencintainya dan sekaranglah waktunya karena Alya sudah mencintai Dion. Dengan cepat Dion langsung menggendong Alya ke ranjangnya. Dion bahagia akhirnya bisa memiliki Alya seutuhnya. Akhirnya malam ini mereka memadu kasih di bawah terangnya cahaya rembulan. Pulau Bali menjadi saksi cinta suci mereka berdua.


__ADS_2