Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Bucin Akut..


__ADS_3

Setelah beberapa menit kemudian mereka keluar dari kamar mandi. Key hanya geleng-geleng kepala karena melihat Kakaknya itu terlalu berlebihan menurutnya. Sebab Keifano menggendong Anisa saat masuk dan keluar dari kamar mandi.


"Kakak ini terlalu bucin, jarak ke kamar mandi hanya berapa meter saja."


"Kamu tahu sendiri kan istriku kemarin pendarahan dan aku takut istri beserta kedua anakku kenapa-kenapa lagi. Apa kamu mau tanggungjawab jika Anisa kenapa-kenapa?"


"Cih lebay! Kak Anisa sudah tidak apa-apa dan hanya butuh minum obatnya dan waktu untuk banyak untuk istirahat agar cepat pulih. Dasar Kakak saja yang bucin akut."


Sedangkan Anisa hanya malu setelah mendengar perkataan adik iparnya.


"Kamu jangan asal ngatain orang bucin akut. Jika kamu sudah merasakan jatuh cinta mungkin lebih bucin dari Kakak," ucap Keifano terbahak-bahak.


"Aku tidak akan seperti itu Kakak."


"Lihat saja nanti."


"Pada ngomongin apa sih? Kayaknya seru banget nih," ucap Keyla dengan suara manjanya.


Key mendengus kesal saat melihat adiknya datang. Adik yang dulu Key minta itu setelah lahir justru suka menjahilinya dan bikin kesal.


"Itu Key ngatain aku bucin akut Keyla."


"Haha, Kak Key nanti terkena karma loh dan bisa lebih bucin dari Kak Keifano."


"Bagus kamu membela Kakak adikku. Besok Kakak akan tambahkan uang jajan untukmu."


Mata Keyla berbinar-binar sebab Kakaknya tidak pelit dalam memberikan uang dan pantas saja Cassandra dulu memanfaatkannya. Keyla memeluk sang Kakak. Anisa bahagia melihat adik iparnya itu dekat dengan suaminya. Anisa tidak seperti Keifano yang sifatnya cemburuan. Bahkan sama Key kadang masih saja cemburu. Keyla bahagia akan dapat uang dari Kakaknya.


"Yey, makasih ya Kakak. Kak Keifano memang Kakakku yang paling baik dan gak pelit seperti Kak Key itu bwek," ucap Keyla sambil menjulurkan lidahnya kepada Key dan Keyla lalu melepaskan pelukannya.


"Tunggu Kakak sudah bekerja. Nanti jangan harap kamu dapat uang jajan dari Kakak," ucap Key tersenyum kecut.


"Uang Kak Keifano lebih banyak daripada Kak Key. Secara Kak Keifano seorang Dokter."


"Meskipun Kakak bukan Dokter tapi Kakak akan buktikan jadi pebisnis yang sukses."


"Mimpi kali. Mendapatkan hati Kak Andin saja gak sukses kok mau jadi pebisnis sukses. Cih! Rezeki suami itu datangnya dari seorang anak dan suksesnya suami itu karena adanya istri yang hebat yang selalu mendukung dan mendoakannya."


"Adikku kok semakin pintar bicaranya. Belajar dari mana kamu Keyla?" ucap Keifano sambil mengusap kepala adik bungsunya.


"Hehe, kata guru agama di sekolah begitu Kakak. Buktinya memang seperti itu kan? Kak Keifano semakin banyak uang setelah menikah dengan Kak Anisa dan apalagi semenjak ada dua dedek bayi yang ada dalam perut Kak Anisa."


"Memang benar adikku. Ini uangnya sekarang saja takut besok Kakak kelupaan," ucap Keifano sambil membuka dompetnya.


Keyla kegirangan mendapatkan uang lima lembar berwarna merah tersebut. Sedangkan Keifano bahagia melihat adiknya senang.

__ADS_1


"Asyik lumayan buat jajan. Hanya Kak Keifano Kakak yang paling baik di antara semua Kakak-kakakku. Keyla sayang Kakak," ucapnya yang kembali memeluk Keifano.


"Cih modus, dasar saja kamu memang mata duitan!"


Sedangkan Anisa hanya tersenyum tipis.


"Oh iya sampai lupa. Kak Anisa harus makan. Mama sudah masakin Kak Anisa bubur," ucap Keyla sambil mengambil tas kecil khusus bekal makanan di meja.


"Loh untuk Kakak mana Keyla?" saat melihat Keyla hanya membuka tasnya dan berisi satu kotak makan saja dan menyerahkannya kepada Keifano.


Keifano sedang menyuapi istrinya saat ini.


"Sabar... Orang sabar disayang pacar. Eh, sayangnya Kakak gak punya pacar."


"Kamu dasar adik menyebalkan! Dulu aku meminta sama Papa dan Mama perasaan adik yang penurut. Kenapa saat lahir menyebalkan seperti ini?"


"Sudah jangan pada debat," ucap Anisa.


"Nanti kamu juga bisa terkena karma Keyla karena sering meledekku!'


Alih-alih Keyla tidak menjawab perkataan Key.


"Hmm, nanti Mama, Papa dan Kak Keisha akan datang membawa sarapan untuk Kak Keifano dan Kak Key."


"Jadi kamu belum sarapan Keyla?" tanya Keifano.


Keyla hanya tersenyum tipis sebab yang dibicarakan Key benar adanya.


"Ah iya lupa, Keyla kan jarang kalau sarapan pakai nasi dan selalu makan roti," ucap Keifano.


"Kecuali nasi goreng dan itu makanan kesukaanku," ucap Keyla.


"Iya wajar saja kamu suka nasi goreng. Karena Mama pernah cerita jika saat hamil kamu Mama ingin nasi goreng buatan Papa. Dan kenyataannya nasi goreng buatan Papa sangat enak kan?" ucap Key.


"Sayang, aku jadi ingin nasi goreng buatan Papa Yudha."


"Tapi sayang kamu kan lagi makan bubur buatan Mama dan ini saja belum habis," ucap Keifano.


"Aku jadi ingin makan nasi goreng buatan Papa Yudha."


Anisa merengek meminta nasi goreng seperti anak kecil. Keifano menghela napas panjang dan akan menuruti keinginan istrinya yang ngidam.


"Baiklah aku akan telepon Papa ya sayang. Nanti biar mereka datang sekalian membawakan nasi goreng untukmu," ucap Keifano.


Anisa mengangguk dan matanya berbinar-binar saat ini. Dia ingin segera menyantap nasi goreng buatan mertuanya yang katanya sangat enak itu.

__ADS_1


Di rumahnya Yudha, Karin maupun Keisha sudah selesai sarapan. Tadi sebelum sarapan Karin menyiapkan dua kotak makan untuk kedua anaknya. Saat mereka mau pergi ke rumah sakit tiba-tiba dering ponsel terdengar, Yudha terkejut saat anaknya bilang bahwa menantunya ingin nasi goreng buatannya.


"Tapi nak kita sudah mau berangkat ke rumah sakit. Kalau nasi gorengnya besok saja gimana?"


"Yah, Anisa jadi gak bisa ngerasain nasi goreng buatan Papa dong," ucap Anisa tampak kecewa.


Karin menatap tajam suaminya.


"Eh, Papa buatkan sekarang ya nak. Papa mau ke dapur dulu."


Setelah Keifano menjawab iya dan akhirnya mereka mengakhiri telepon.


Karin bahagia suaminya mau nurut. Yudha terpaksa menuruti keinginan menantunya yang sedang ngidam. Yudha takut jika tidak masak nasi goreng sekarang dan berakibat pada dirinya sendiri. Biasanya Karin akan tidur sama Keyla jika kesal sama Yudha. Sekarang Keisha sedang menunggu mereka di ruang keluarga. Karin lalu menyusul suaminya yang tengah memasak di dapur.


"Hmm mudah-mudahan saja menantuku itu tidak minta dimasakin macam-macam setelah ini," ucap Yudha lirih tapi masih terdengar di telinga Karin.


"Sayang semangat masaknya," ucap Karin memeluk suaminya dari belakang.


"Hmm," jawabnya singkat.


Karin lalu melepaskan pelukannya.


"Jangan cemberut gitu dong sayangku."


"Gimana gak cemberut jika kita sudah mau berangkat dan lalu Anisa minta dibuatkan nasi goreng. Kenapa tidak dari tadi aja gitu."


"Tadi kan Anisa makan bubur yang aku buat. Wanita ngidam memang sewaktu-waktu ingin makan sesuatu sayang. Kamu masih ingat tidak aku bahkan sudah hamil 4 kali loh."


"Seandainya saja si kembar masih hidup. Anakku akan jadi 7." Batin Yudha.


"Sayang senyum dong, kok jadi melamun sih? Kalau gak senyum nanti malam gak aku kasih hadiah loh!" ancam Karin.


Mendengar kata hadiah nanti malam pikiran Yudha jadi kemana-mana. Yudha bisa tersenyum ceria saat ini.


"Haha, akhirnya kamu bisa senyum juga sayang. Tadi kamu hanya aku pancing saja agar bisa tersenyum. Karena aku suka senyuman manis mu."


"Tidak bisa! Pokoknya kamu harus berikan aku hadiah nanti malam," ucap Yudha sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Genit banget sih, ingat sudah mau punya cucu dan bahkan dua sekaligus!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan sayang."


"Hmm iya, iya."


Akhirnya Karin pasrah dan termakan omongannya sendiri. Karin jadi seperti punya hutang sama suaminya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan saja usahaku nanti malam berhasil." Batin Yudha.


Yudha memasak sambil merencanakan sesuatu untuk nanti malam.


__ADS_2