Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Pendarahan


__ADS_3

Anisa didorong oleh sopirnya, karena terkejut dan tidak bisa menyeimbangkan badannya maka Anisa terjatuh di semak-semak. Sopirnya tadi yang telah menyelamatkan Anisa, Pak Agus tertabrak mobil dan terpental tak jauh dari kejadian. Anisa terkejut saat sopirnya terbaring lemas di atas aspal dengan berlumuran darah. Anisa berhutang budi terhadap sopirnya yang telah menyelamatkan nyawanya. Anisa tidak tahu siapa orang yang telah mencelakai dirinya. Anisa jadi teringat saat suaminya semalam menyuruhnya untuk tidak datang ke acara akad nikah sekaligus resepsi pernikahan temannya.


"Maafkan aku sayang yang tidak menuruti perkataan kamu semalam. Kekhawatiran kamu benar adanya karena ada orang yang berusaha mencelakai aku." Batin Anisa.


Para warga sekitar langsung datang. Anisa dibantu berdiri dan saat akan berdiri merasakan kesakitan pada bagian perutnya.


"Auwww, perutku sakit sekali," lirihnya.


Anisa terus memegang perutnya. Anisa berusaha untuk berdiri namun seketika Anisa terkejut saat melihat darah yang keluar dari kakinya.


"Astagfirullah kamu pendarahan," ucap seseorang yang menolong.


"Tolong selamatkan dua anakku," ucap Anisa lirih dan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Anisa sangat takut jika kedua anaknya kenapa-kenapa. Ada dua orang yang menolong Anisa.


"Kita sudah menghubungi pihak rumah sakit dan sebentar lagi ambulance akan datang."


Anisa meringis dan lalu meraih tasnya. Anisa mencari hpnya untuk menghubungi Karin karena jika jam-jam saat ini kedua orangtuanya tengah sibuk dan hanya mertuanya yang tidak terlalu sibuk di butiknya. Kadang mertuanya juga ke kantor untuk sekedar mengecek laporan kalau tidak untuk meeting penting dengan kliennya. Sisanya Karin serahkan kepada asisten kepercayaannya.


Sambungan telepon sudah terhubung. Anisa lalu akan membicarakan kejadian yang menimpa dirinya dengan menelepon mertuanya.


"Assalamualaikum nak."


"Wa'alaikum Salam Mama, Anisa mengalami kecelakaan."


"Apa? Kamu sekarang berada di mana sayang? Mama ke situ ya?"


"Anisa tidak apa-apa Mama. Cuma sedikit sakit perut."


Anisa tidak mau mertuanya khawatir terhadap kondisinya. Anisa menahan rasa sakit pada bagian perutnya.


"Nak, kalian bertahanlah untuk Bunda." Batin Anisa.


"Nyonya, anak Anda mengalami pendarahan," ucap seseorang di balik telepon.


"Apa? Pendarahan?" Karin sangat terkejut saat mengetahui menantunya pendarahan.


Anisa pingsan, orang yang menolongnya lalu mengambil alih teleponnya.


"Anisa... Anisa, kamu kenapa nak?" tanya Karin panik.


"Nyonya, anak Anda pingsan saat ini. Kami akan membawanya ke rumah sakit terdekat. Ini kami sedang menunggu ambulance datang."

__ADS_1


"Bagaimana kondisi menantu saya Bu? Kenapa dia bisa kecelakaan?"


"Tadi saat akan menyebrang jalan menantu ibu ada yang mau mencelakainya dan sopir ibu yang menyelamatkannya."


"Astagfirullah Anisa..."


"Nanti setelah kami sampai di rumah sakit kami akan share lokasinya."


"Makasih Bu."


Tak lama kemudian mobil ambulance sudah datang. Orang yang menolong Anisa mematikan sambungan teleponnya. Mereka lalu membawa Anisa dan Pak Agus ke rumah sakit.


Di rumahnya Karin langsung menelepon suaminya setelah mendapatkan alamat rumah sakit tempat Anisa dan sopirnya dilarikan ke rumah sakit. Karin tahu bahwa anaknya sedang sibuk karena ada jadwal operasi hari ini jadi dia memutuskan untuk menelepon suaminya. Sambungan telepon tersambung.


"Sayang, tumben jam segini telepon. Kamu kangen ya sama aku?" goda Yudha.


"Mas, jangan bercanda! Anisa mengalami pendarahan karena kecelakaan dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit."


"Apa? Anisa kecelakaan?"


"Iya Mas. Kamu ada waktu luang tidak?"


"Sedang kosong sayang. Aku akan ke sana. Di mana rumah sakitnya?"


"Iya sayang, sampai bertemu di sana."


Sambungan telepon lalu terputus. Karin sudah menceritakan semuanya kepada anak-anaknya. Karin diantar Key ke rumah sakit. Key sempat terkejut saat Kakak iparnya itu mengalami kecelakaan. Keisha belum pulang karena masih ada mata kuliahnya.


Keyla tadi melihat Mamanya dan Kakaknya akan pergi dan sekalian Keyla pamit berangkat belajar kelompok. Keyla berdoa agar Kakak iparnya itu bisa selamat. Keyla tidak bisa ikut karena ada kegiatan belajar kelompok di rumah temannya tapi nanti setelah belajar kelompoknya selesai akan langsung ke rumah sakit.


Mobil Key sudah sampai di halaman rumah sakit. Karin dan Key bergegas keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah sakit. Mereka menuju ke ruang IGD.


"Bagaimana kondisi menantu dan sopir saya?"


Orang yang menolongnya lalu menceritakan semuanya kejadiannya. Key terkejut saat tahu ada orang yang mencelakai Kakak iparnya. Karin lemas kini sopirnya kritis sedangkan menantunya masih dalam penanganan. Karin terduduk lemas di kursi.


"Nyonya, ini tas dan dompet milik menantu Anda."


Karin menyuruh Key untuk menerimanya.


"Makasih Bu. Ini ada sedikit uang untuk Ibu," ucap Karin yang lalu meraih amplop dari tasnya dan memberikan kepada orang yang menolong menantunya.


"Saya menolong mereka ikhlas."

__ADS_1


"Iya, kami ikhlas," ucap suaminya.


"Saya berhutang budi sama kalian. Tolong terimalah uang ini," ucap Karin.


"Tapi Nyonya....."


"Anggap saja ini ucapan terima kasih dari saya karena Anda sudah menolong keluarga kami."


"Baiklah, tapi nanti sebagian akan saya sumbangkan ke panti asuhan."


"Alhamdulillah, ternyata masih ada orang yang mulia seperti Anda."


"Kami hanya orang biasa. Kalau begitu kami permisi dulu dan semoga kedua cucu Ibu tidak apa-apa. Makasih banyak Bu."


"Sama-sama. Hati-hati di jalan Bu, Pak."


Mereka mengangguk pelan dan pergi begitu saja.


Key melihat Mamanya sangat sedih. Karin tadi juga sudah menghubungi Alya. Sekarang Alya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Pintu ruang IGD lalu terbuka lebar. Sopirnya sudah dirawat di ruangan lain dan keadaannya masih kritis.


"Bagaimana keadaan menantu saya Dok?"


"Pasien pingsan dan kandungannya lemah. Kami membutuhkan golongan darah yang sama dengan pasien. Stok kantong darah di rumah sakit sedang habis. Apakah dari keluarga ada yang golongan darahnya sama?"


Alya yang sudah datang langsung menemui Dokter tersebut.


"Saya ibunya Dok. Ambil darah saya dan selamatkan anak dan kedua cucu saya."


"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong pasien. Sus, antar ibu ini ke ruangan dan ambil satu kantong darahnya."


"Baik Dok."


Alya lalu masuk ke ruangan dan mendonorkan darahnya untuk Anisa. Alya berharap kedua cucunya masih bisa terselamatkan.


Yudha terjebak macet jadi masih dalam perjalanan. Sedangkan Alya tadi belum menghubungi suami dan Andika. Mereka hari ini ada meeting penting dengan kliennya. Jadi nanti saat jam pulang kantor Alya akan memberitahu bahwa Anisa mengalami kecelakaan.


...*****...


Cassandra kesal kenapa sopirnya yang menyelamatkan Anisa. Namun saat melihat Anisa pendarahan, Cassandra tertawa bahagia dan yakin jika Anisa akan keguguran. Cassandra tadi setelah menabrak sopirnya Anisa lalu menunggu di tempat yang sepi yang tak jauh dari tempat kejadian tersebut. Cassandra tertawa dan merasa menang. Meskipun bukan Anisa yang tertabrak mobil namun Cassandra sudah cukup puas melihat Anisa kesakitan karena pendarahan dan terlebih Anisa sudah tidak sadarkan diri. Cassandra melajukan mobilnya dengan cepat dan akan segera mengembalikan mobil sewaannya.


"Keifano kamu akan segera menjadi milikku. Cepat atau lambat aku akan menggantikan posisi Anisa dan akulah yang akan menjadi istrimu."


"Anisa pasti akan divonis tidak bisa hamil lagi. Sebentar lagi pasti dia ditendang dari Keluarga Sanjaya. Aku harus merayakan kemenanganku malam ini," ucapnya kembali.

__ADS_1


Cassandra malam ini akan ke club untuk merayakan keberhasilannya dalam menyingkirkan Anisa.


__ADS_2