
Sekarang Yudha ingin bertanya dengan Dion, apakah Anisa mau dijodohkan dengan Keifano.
"Jadi bagaimana Dion? Apakah nak Anisa mau dijodohkan dengan putraku?" Tanya Yudha.
"Coba tanyakan langsung sama Anisa saja," ucapnya dengan senyuman manis karena Dion sudah tahu jawabannya.
Yudha dan Karin saling berpandangan. Yudha mengkode dengan anggukan dan kali ini Karin yang akan bertanya.
"Nak, maukah kamu dijodohkan dengan putraku, Keifano?"
"Insya'allah Anisa mau jika Keifano mau menerima perjodohan ini Tante. Eh... Mama Karin." Anisa langsung meralat ucapannya.
"Iya anakku mau jika Keifano mau Karin. Sekarang jadi tidaknya perjodohan ini semua ada ditangan Keifano," ucap Dion.
Karin tersenyum karena anaknya Keifano selalu menurut perkataannya.
"Nak, sekarang bagaimana? Apakah kamu mau untuk dijodohkan dengan Anisa, anaknya Tante Alya dan Om Dion?" Tanya Karin kepada putranya.
"Ehm..... Bolehkah aku bicara sama Anisa sebentar saja Mama?"
Anisa dahinya langsung berkerut setelah mendengar perkataan Keifano.
"Boleh saja nak." Jawabnya singkat.
"Anisa, bicaralah sama putraku sebentar ya nak," ucapnya kembali.
Anisa menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Ayo Anisa..." Keifano beranjak dari duduknya.
"Sebentar ya semuanya..." Jawab Anisa dengan sopan.
Keifano dan Anisa keluar sebentar dari restoran tersebut, sekarang mereka berada di luar disamping restoran tersebut.
"Ada apa Keifano? Kenapa kita tidak berbicara didalam saja?"
"Bisakah kita tidak melanjutkan perjodohan ini?"
"Memang kenapa Keifano?" Tanyanya penasaran.
"Karena aku sudah memiliki pacar."
Perkataan Keifano membuat Anisa bagaikan tertusuk jarum. Karena Anisa sejak dulu memendam perasaan dengan Keifano, calon suaminya.
"Aku sudah terlanjur setuju. Tapi jika kamu tidak setuju, ya sudah kamu nanti yang bilang kalau tidak mau menerima perjodohan ini," ucap Anisa sambil melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam restoran. Anisa merasa kecewa dengan Keifano yang sudah memiliki pacar.
__ADS_1
"Anisa tunggu......" Keifano menarik tangan Anisa dan langsung saja Anisa lepaskan tangan Keifano yang menggenggam tangannya.
"Kita bukan muhrim, jadi kamu jangan menyentuhku..."
"Dasar wanita munafik. Penampilannya saja tertutup. Apa aku tidak tahu seperti apa wanita seperti dirimu." Batin Keifano.
Keifano berasumsi bahwa wanita berhijab seperti Anisa itu seperti wanita lainnya. Menutupi semua tubuhnya dari keburukan sifatnya. Karena ada teman Keifano yang pacarnya berhijab tapi pada kenyataannya pacarnya itu hamil di luar nikah bersama pria lain. Jadi Keifano berpikiran bahwa semua wanita yang berhijab hanya menutupi keburukan pada dirinya.
"Kamu jangan sok suci..."
Perkataan Keifano membuat Anisa marah.
"Apa maksudmu hah?" bentak Anisa.
"Aku tahu wanita seperti dirimu itu wanita munafik. Penampilan boleh tertutup tapi aku tidak tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya."
"Terserah apa katamu Keifano. Aku sekarang mau pulang saja. Lagian sudah gagal kan rencana perjodohan kita?"
"Dan ingat, kalau persahabatan kedua orangtua kita sampai hancur, itu semua karena kamu," ucap Anisa kembali sambil melangkahkan kakinya masuk ke restoran.
"Tidak boleh gagal perjodohan ini karena pasti aku akan terkena omelan dari Mama yang tidak ada hentinya," lirihnya.
Keifano sangat takut sama Karin. Keifano takut durhaka jika melawan orangtuanya.
"Terpaksa aku harus menerima perjodohan ini," ucap Keifano kembali.
Di dalam Anisa mengambil tas yang tadi Anisa taruh di sofa.
"Umi dan Abi ayo kita pulang..."
"Loh kenapa nak, bahkan kita belum tahu jawaban Keifano? Dan mana Keifano?" Tanya Karin.
"Iya kalian tadi bicara apa?" Tanya Yudha penasaran.
"Ehm... Tadi kami membicarakan tentang..." Perkataan Anisa terpotong karena Keifano sudah datang dan menatapnya tajam.
"Biar Keifano saja yang menjelaskan semuanya," ucapnya kembali.
"Nak, apa yang terjadi?" Tanya Yudha.
"Iya nak, apa jawaban kamu?" Tanya Karin.
"Aku mau menerima perjodohan ini."
Dengan terpaksa Keifano berbicara seperti itu karena ingin persahabatan kedua keluarga tidak putus hubungan. Semua orang lega mendengarnya kecuali Anisa.
__ADS_1
"Apa ini dan apa maksudnya? Bukankah tadi Keifano bilang kalau sudah punya pacar dan tidak mau melanjutkan perjodohan ini." Batin Anisa yang sekarang dirundung kebingungan.
"Anisa kenapa kamu melamun nak?" Tanya Alya.
"Tidak apa-apa Umi," jawabnya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau mereka semua mau dijodohkan. Jadi kita langsung saja membahas tentang pernikahan mereka."
Anisa dan Keifano terkejut. "Apa pernikahan??" jawabnya kompak.
"Iya nak. Kalau kalian sudah setuju, kami akan segera menikahkan kalian." Perkataan Yudha membuat Anisa maupun Keifano tidak bisa berkata apa-apa untuk saat ini.
"Lebih cepat lebih baik Papa," ucap Karin.
"Bagaimana kalau bulan depan kita menikahkan mereka? Dion dan Alya apakah kalian setuju?" Tanya Yudha.
"Aku setuju saja." Jawab Dion singkat.
"Iya aku setuju. Bagaimana kamu setuju atau tidak nak?" Tanya Alya sambil menggenggam tangan Anisa.
"Keifano kan hanya punya pacar saja. Sedangkan aku calon istrinya. Aku yang lebih berhak atas Keifano. Aku akan membuat Keifano melupakan pacarnya. Ini semua demi kebaikan aku dan semuanya." Batin Anisa bertekad untuk membuat Keifano jatuh cinta kepadanya saat mereka sudah menikah nanti.
"Anisa setuju saja Umi."
"Apa ini tidak terlalu cepat untuk aku menikah Mama?" Keifano mencari alasan untuk menunda pernikahan yang menurutnya konyol ini.
"Nak, kamu sudah dewasa sayang. Mama ingin kamu segera menikah dengan wanita baik seperti Anisa."
"Mama tidak tahu saja. Mungkin dari covernya saja Anisa terlihat sholehah. Tapi kan kita tidak tahu dia wanita seperti apa." Batin Keifano menatap Anisa dengan raut muka sinisnya.
"Iya nak, kamu mau kan nak menikah bulan depan sama Anisa. Niat baik itu harus segera dilaksanakan loh," ucap Yudha.
"Kei, setuju saja jika semua orang sudah setuju." Jawabnya sambil menghela napas panjang.
"Sepertinya Keifano hanya berakting saja. Aku yakin kalau dirinya tidak menginginkan pernikahan ini. Apalagi Keifano sudah punya pacar." Batin Anisa.
"Aku harus bicara lagi nanti sama Anisa. Pernikahan ini tidak aku inginkan. Harus ada perjanjian pada pernikahan ini. Lagian aku juga sudah punya pacar. Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianatinya dengan menikahi Anisa." Batin Keifano.
Semua orang lega atas jawaban Keifano. Mereka lalu makan malam bersama. Anisa masih dirundung keraguan dengan perkataan Keifano yang tiba-tiba setuju bahkan mau untuk menikah dengannya bulan depan.
"Bagaimana jika nanti semua orang tahu kalau Keifano punya pacar saat aku sudah menikah dengannya? Pasti Umi dan Abi akan kecewa sama Keluarga Sanjaya. Apa aku bilang saja ya sama Umi dan Abi nanti sesudah pulang ke rumah." Batin Anisa sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Kok makannya hanya diaduk-aduk saja nak?"
"Eh, iya Umi. Ini lagi mau Anisa makan," ucapnya lalu memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Anisa. Tapi apa ya? Apa ini ada hubungannya dengan yang tadi mereka bicarakan." Batin Alya.
Alya jadi merasa ragu mau menikahkan Anisa dengan Keifano. Karena sepertinya ada yang janggal saat tadi Anisa masuk duluan dan baru disusul oleh Keifano. Bahkan Anisa tadi sempat mengajak pulang sesudah berbicara di depan restoran dengan Keifano.