
Keifano pulang ke rumah dan saat masuk ke kamarnya tidak ada Anisa. Keifano melihat Anisa sudah menyiapkan pakaian gantinya, sudut bibirnya naik ke tas membentuk seperti bulan sabit. Keifano berpikir bahwa Anisa sedang dapur dan menyiapkan teh hangat untuknya karena biasanya saat pulang Anisa menyambutnya dengan penuh gembira dan senyuman manis diiringi semanis teh hangat yang ada dihadapannya. Namun hari ini terlihat berbeda dari biasanya tidak ada Anisa di kamarnya beserta teh hangat yang juga selalu menghangatkan tubuhnya.
Keifano tadi saat akan pulang ke rumah membeli sesuatu untuk Anisa. Keifano membelikan sebuah kalung berlian karena besok adalah ulang tahun Anisa. Jadi nanti saat tengah malam Keifano akan memberikan hadiah tersebut sebagai kado untuk hari spesial kelahiran istrinya. Keifano juga akan mencoba memperbaiki hubungannya dengan Anisa karena ia sadar tidak kuat jika harus berpura-pura terlihat mesra saja didepan keluarga namun ingin mesra yang sebenarnya seperti dahulu.
"Anisa pasti akan menyukai kado spesial dariku," lirihnya sambil tersenyum.
Dalam pikiran Keifano wanita selalu saja menyukai perhiasan apalagi sebuah kalung. Padahal Anisa wanita yang berbeda. Anisa hanya ingin sebuah kebahagiaan dalam hidupnya. Materi tidaklah penting baginya. Karena materi bisa dicari sedangkan kebahagiaan tidak bisa dicapai dengan mudah. Keifano sudah beberapa menit di kamarnya tapi istrinya tidak kunjung datang.
"Kenapa Anisa lama sekali di dapurnya?" ucap Keifano heran.
Keifano lalu keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga mencari istrinya. Terlihat di dapur hanya ada Key yang sedang meneguk air putih untuk meredakan dahaganya. Selain bagus untuk kesehatan Key lebih suka meminum air putih daripada minum yang lainnya.
"Loh kok di dapur cuma ada kamu saja. Anisa mana Key?"
"Kamu suaminya kenapa tanya kepadaku?" ucap Key sewot.
"Kakak tanya sama kamu karena kamu selingkuhannya," ucap Keifano geram.
"Selingkuhan? Yang Kakak tuduhkan itu salah. Kakak sendiri yang bermain api dibelakang Kak Anisa. Emangnya aku tidak tahu apa kalau Kakak tadi bertemu dengan Cassandra."
"Cepat katakan saja dimana Anisa?" bentak Keifano.
"Meskipun aku tahu dan aku tidak akan pernah mengatakannya karena Anisa juga tidak mau bertemu dengan Kakak."
"Kurang ajar!"
Bugh.... Bugh....!
Keifano meninju Key pada perutnya. Key hanya tertawa kelakuan Kakaknya yang menurutnya sangat konyol itu.
"Kakak bodoh! Sudah pergi baru mencarinya. Kemarin saat ada di rumah Kakak sia-siakan."
"Apa maksudmu hah?"
"Anisa terlanjur kecewa sama Kakak. Anisa tadi siang ke rumah sakit untuk memberikan bekal makan siang untuk Kakak. Anisa ingin makan siang bareng dengan Kakak. Namun kenyataannya Anisa melihat Kakak berpelukan dengan mesra dengan Cassandra di cafe depan rumah sakit. Anisa merasa sangat kecewa dan sakit hati sehingga masakannya untuk Kakak lalu Anisa berikan ke pengemis jalanan. Padahal seharusnya makanan spesial itu untuk Kakak karena Anisa masak makanan kesukaan Kakak."
Keifano tertegun mendengar perkataan Key. Karena Anisa dengan jadwal mengajar di kampusnya yang super sibuk ditambah membantu Umi Alya di toko kue itu bisa meluangkan waktu untuk memasak di rumah.
__ADS_1
"Jadi Anisa masak makanan spesial untukku?"
"Iya dia masak makanan kesukaan Kakak."
"Astaga, kenapa dia tidak memberitahu kepadaku?"
"Itulah sebabnya karena Kak Anisa ingin memberikan kejutan sama Kakak. Kak Anisa tidak hanya ingin memberikan makanan spesial saja tapi juga ingin memberitahu kabar bahagia," ucap Key sambil tersenyum dan seharusnya kata kabar bahagia bisa dapat membuka pikiran Kakaknya.
"Jangan bicara berbelit-belit. Cepat katakan apa yang sebenarnya."
"Kak Anisa saat ini sedang hamil Kak. Aku akan punya keponakan sebentar lagi," ucap Key tersenyum menampilkan wajahnya yang bahagia.
Key lega tidak menyembunyikan apapun dari Kakaknya. Bagaimanapun juga Key ingin Kakaknya menemani Anisa disaat sedang hamil muda seperti ini.
"Maaf Kak Anisa aku melanggar janjiku untuk menutupi kehamilan kamu. Ini demi keutuhan rumah tangga Kakak juga. Aku tidak ingin kesalahpahaman kalian semakin lama semakin runyam. Aku ingin kalian segera berbaikan juga." Batin Key dengan niat baik ingin menyatukan Kakaknya dengan Anisa.
"Hamil?" tanya Keifano ingin memastikan perkataannya tidak salah.
"Iya Kak Anisa sedang hamil muda saat ini. Tadi aku ke rumah sakit mengantarkannya."
"Itu pasti anakmu! Karena Anisa sudah mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Dasar adik tidak tahu diri. Berani-beraninya menyentuh istri Kakaknya sendiri."
Bugh.... Bugh....!
"Astaga, anak sendiri tidak diakui dan menuduh orang lain sebagai ayahnya? Jika Kakak tidak ingin bersama Kak Anisa, Kakak bisa menceraikannya dan aku yang akan menikahinya! Aku sanggup menjadi ayah yang baik untuk anakmu jika ayahnya sendiri tidak mau mengakuinya sebagai anak!" geram Key yang lalu memberikan serangan tinju balik kepada Keifano.
Bugh.... Bugh.... Bugh....!
Key berbicara seperti itu karena ingin membuka pikiran Kakaknya. Key juga sebenarnya tidak ingin merebut Anisa dari Keifano karena ada wanita yang Key suka selama ini yaitu teman kampusnya. Hanya saja jika benar-benar Kakaknya menceraikan Anisa dan Key pasti akan menikahinya karena Anisa wanita yang baik dan tidak pantas untuk disia-siakan. Key hanya tidak ingin keponakannya itu terlahir tanpa kasih sayang dari seorang ayah. Melihat ada pertengkaran dengan cepat Bibi naik ke lantai atas untuk memberitahu kepada Yudha maupun Karin. Bibi mengetuk pintu kamar dengan keras. Yudha lalu membukakan pintunya.
"Ada apa Bi?" tanya Yudha penasaran.
"Nyonya, Tuan gawat. Den Keifano sama Den Key sedang bertengkar di dapur. Mereka bertengkar dan saling adu tinju."
"Apa?" Karin dan Yudha terkejut bukan main. Karena anak-anaknya selalu akur dan belum pernah ada kejadian seperti ini.
Yudha dan Karin lalu turun dari lantai dua dan segera menuju ke dapur. Matanya membulat sempurna saat melihat anak-anaknya masih saling adu tinju.
__ADS_1
"Hentikan!" teriak Yudha.
"Untuk apa kalian seperti ini hah?" ucap Karin dengan nada yang tinggi.
Key dan Keifano lalu menyudahi aksi tinju meninjunya. Melihat kedua anaknya yang babak belur Karin hanya geleng-geleng kepala.
"Kenapa kalian bisa seperti ini?"
"Ini semua karena salah Kakak."
"Karena salah kamu," tunjuk Keifano kepada Key.
"Kakak yang memulai memancing keributan duluan dan tadi Kakak yang mulai meninjuku!"
"Diam! Sekarang Mama tanya satu-satu dan kalian harus menjawabnya."
"Keifano kenapa kamu meninju adikmu? Apa salah Key?"
"Key telah berselingkuh dengan Anisa dan sekarang Anisa sedang hamil Mama."
"Selingkuh? Anisa hamil? Apa itu benar Key?"
"Kak Anisa memang benar hamil. Tapi Key berani bersumpah kalau Key tidak berselingkuh dengan Kak Anisa."
"Lalu untuk apa kamu tadi ingin menikahinya?" geram Keifano.
"Keifano kamu bisa diam tidak! Ini Mama sedang mengintrogasi adikmu."
"Cepatlah nak cerita sama Papa dan Mama tentang apa yang sebenarnya terjadi," ucap Yudha.
Key lalu menceritakan awal kejadian saat ban Anisa kempes dan Anisa akhirnya bareng dengan Key ke kampus. Key mentraktir Anisa makan siang karena nilai Key dapat A saat UTS. Tak sengaja ada sisa makanannya yang menempel dan Key kemudian membersihkan sisa makanan tersebut. Ternyata diam-diam Keifano menyuruh orang untuk membuntutinya dan terjadilah salah paham hanya karena foto saja.
"Itulah awal mula kesalahpahaman antara Kak Anisa dan Kak Keifano terjadi."
"Tapi kenapa Anisa duduk didepan saat ada di mobilmu?"
"Mama yang menyuruhnya Keifano," ucap Karin.
__ADS_1
"Lanjutkan ceritanya nak," ucap Yudha.
Yudha masih ingin tahu kelanjutan ceritanya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka selama ini.