
Mama Chintya kini merasakan hatinya sedang gundah gulana. Mama Chintya kini kepikiran dengan anaknya. Insting seorang ibu tidak pernah salah.
"Pa, Mama kok perasaannya gak enak ya?"
"Gak enak gimana Mama?" tanyanya penasaran.
"Tidak tahu Pa. Mama juga gak ngerti, apa jangan-jangan Karin kenapa-kenapa ya Pa?"
"Hus..... Mama ini jangan sembarang kalau bicara. Kalau misalkan Karin kenapa-kenapa pasti Yudha akan menghubungi kita."
"Iya juga ya Pa." Tapi Mama Chintya merasakan kalau terjadi sesuatu dengan anaknya. Segera dirinya menepis pikiran yang tidak-tidak.
"Sudah Ma. Sebaiknya kita tidur, ini sudah malam."
"Iya Pa."
"Nak, semoga kamu baik-baik saja." Batin Mama Chintya.
Lalu mereka setelah membaca doa langsung terlelap dalam mimpinya masing-masing.
...*****...
DI RUMAH SAKIT
Rey kini menghubungi orang tuanya dan orang tua Risa, agar segera datang ke rumah sakit. Rey juga bicara kepada orang tuanya dan orang tua Risa agar merahasiakan ini dari orang tua Karin dan keluarga Yudha. Rey juga bilang nanti Karin akan menjelaskan alasannya mengapa mereka tidak boleh tahu duluan. Sudah sejam lamanya tapi dokter tak kunjung keluar dari ruang ICU.
Mami Ana dan Papi Aldi kini sudah sampai di rumah sakit. Kemudian 5 menit Mama Angel dan Papa Kevin juga sampai di rumah sakit.
"Nak, apa yang terjadi?" Tanya Papi Aldi.
"Karin mengalami pendarahan Papi," ucapnya lirih sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Apa???" Mami Ana dan Papi Aldi terkejut sedangkan Mama Angel dan Papa Kevin juga tak kalah terkejutnya mendengar berita ini.
__ADS_1
"Lalu bagaimana kondisinya?" Tanya Papa Kevin.
"Belum tahu Pa. Sudah sejam lamanya Karin ditangani, tapi dokter maupun suster belum juga keluar dari tadi."
"Yudha mana sih, ini kok belum datang juga. Istrinya sedang pendarahan kok ngilang, tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali." Mami Ana geram.
"Karin tidak mau Yudha tahu tentang hal ini Mami. Karena Yudha yang menyebabkan Karin seperti ini."
Risa lalu menceritakan kejadian yang dialami sepupunya sampai mengalami pendarahan. Semua orang terkejut saat mengetahui bahwa Yudha yang menyebabkan Karin sehingga mengalami pendarahan. Yudha yang mendorong Karin dengan keras ke ranjang saat tadi di hotel. Risa juga menceritakan kalau Yudha dan Karin sedang ada masalah dalam rumah tangganya. Yudha sedang marah dan salah paham dengan Karin. Maka dari itu Karin memutuskan untuk tinggal di hotelnya Rey malam ini.
"Astaga, Yudha benar-benar keterlaluan. Benar apa kata Karin, kalau tidak usah menghubungi keluarganya terlebih dahulu karena Nenek sedang sakit." Mama Angel kecewa sama Yudha.
Mereka semua lalu berdoa agar Karin dan bayinya selamat. 15 menit kemudian Dokter keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Risa yang dari tadi sudah khawatir dengan kondisi sepupu satu-satunya.
"Alhamdulillah bayinya dapat diselamatkan. Kalau saja terlambat 10 menit datang ke rumah sakit bisa-bisa tidak tertolong."
"Alhamdulillah..........." Mereka semua bersyukur karena bayinya Karin bisa selamat.
"Keadaan pasien baik-baik saja, tinggal menunggunya sadar. Karena tadi saya bius saat melakukan penanganan."
Setelah itu Karin dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP. Papi Aldi dan Mami Ana pulang duluan dan besok akan kembali lagi menjenguk Karin. Sekarang di ruang VVIP tersebut ada Risa, Rey, Reno, Mama Angel dan Papa Kevin yang menunggu Karin sadar. Mereka duduk di sofa. Di kamar rawat inap Karin ada dua sofa panjang jadi hanya cukup untuk 5 orang yang duduk di sana.
...*****...
DI KAMAR YUDHA
Yudha sedang mengusap wajah istrinya dilayar kaca hpnya. Yudha sangat merindukan istrinya saat ini.
"Sayang, besok pagi aku akan menjemputmu pulang." Yudha berniat besok pagi setelah sarapan akan segera menjemput Karin.
Yudha matanya sudah mengantuk, Yudha lalu berdoa dan akhirnya mulai menuju ke alam mimpinya. Kini Yudha sudah tertidur pulas di ranjang berukuran king size tersebut. Hari ini pertama kali Karin tidak tidur bersamanya. Yudha tidak tahu bahwa saat ini Karin sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya dan juga bayinya di rumah sakit.
__ADS_1
Didalam mimpinya Yudha mendengar suara orang minta tolong.
"Papa tolong......." Setelah mendengar suara tersebut Yudha terbangun dari mimpinya dan tak lama kemudian suara adzan subuh terdengar.
"Astagfirullah, mimpi apa aku ini. Kenapa seseorang memanggilku Papa dan meminta tolong kepadaku."
Yudha pun bingung saat ini dan setelah mendengar adzan subuh Yudha berpikir kalau Allah membangunkannya untuk segera menunaikan ibadah sholat subuh. Dengan segera Yudha menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu. Biasanya ada Karin yang menjadi makmum disetiap sholatnya. Kini Yudha hanya sendirian sholat subuh. Hidupnya terasa hampa jika tidak ada Karin disampingnya.
Yudha lalu teringat akan sesuatu. Karin sebelum pergi meninggalkan rumahnya sempat bilang ingin melihat Yudha membuka kado didepannya. Namun saat itu Yudha mengabaikan Karin. Kini Yudha penasaran dengan kado yang telah Karin siapkan untuknya. Perlahan Yudha melangkahkan kakinya menuju ke meja rias istrinya. Yudha lalu duduk di kursi rias Karin dan membuka kotak hadiah yang telah Karin siapkan untuknya.
"Isinya surat?" Yudha belum tahu kalau dibawahnya terdapat dua testpack dengan hasil positif yang menunjukkan dua garis.
Yudha perlahan-lahan membuka surat tersebut. Surat yang Karin tulis kira-kira isinya seperti ini :
'Suamiku, saat kamu membaca surat ini, akan ada perubahan besar dalam hidupmu. Surprise.... Sebentar lagi keinginan kamu untuk menjadi seorang Papa akan segera terwujud. Kini aku sedang hamil anakmu. Sekarang buah hati kita sedang tumbuh di rahimku. Aku baru tadi cek kehamilanku dengan testpack dan hasilnya keduanya sama-sama dua garis merah. Aku mencintaimu suamiku...'
Yudha lalu melihat isi kotak tersebut dan benar apa yang dikatakan Karin, masih terlihat jelas dua garis merah dikedua testpack tersebut. Yudha meneteskan air mata bahagianya karena sebentar lagi akan menjadi seorang Papa. Dirinya kini menyesal kemarin tidak mau mendengarkan penjelasan istrinya terlebih dahulu dan sekarang istrinya lebih memilih pergi dari hidupnya dan tinggal di hotel milik keluarga Rey.
"Sayang... Kamu saat ini sedang hamil anakku." Lirihnya sambil memegang kedua testpack tersebut dengan gemetar dan kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Kebenaran kini telah terungkap. Yudha menyesal kemarin telah marah-marah sama Karin. Karena kini kenyataan istrinya sedang berbadan dua. Yudha takut Karin akan kebanyak pikiran saat ini karena Yudha masih ingat dengan kata-katanya yang kemarin ia lontarkan kepada istrinya. Yudha merutuki dirinya sendiri karena ucapannya akan membuat Karin kebanyakan pikiran. Ibu hamil tidak boleh banyak pikiran karena bisa saja mengganggu kesehatannya dan juga kesehatan bayinya. Kalau ibu hamil terlalu stres kemungkinan hal terburuk yang akan terjadi adalah keguguran.
Seketika Yudha teringat akan sesuatu hal. Semalam Yudha menyusul ke hotel untuk mengunjungi istrinya dan Yudha menuduh Karin melakukan hal yang tidak-tidak sama Vino setelah melihat foto Vino menggenggam dan mengecup tangan Karin dengan mesra. Sifat cemburunya memang terlalu berlebihan. Wajar saja jika Yudha takut kehilangan istrinya karena istrinya masih muda dan begitu cantik. Apalagi Karin tidak terlihat kalau sudah punya suami saat sudah dandan karena wajahnya masih terlihat imut.
Yudha teringat kejadian di hotel semalam yang akan memaksa Karin untuk melakukan hubungan suami istri. Namun semalam Karin menolaknya dan Yudha baru teringat ada darah diseprei tersebut. Yudha mengira Karin sedang datang bulan dan wajar saja menolak ajakannya semalam. Namun kini pikirannya terbuka setelah mengetahui bahwa istrinya sedang hamil dan noda darah itu adalah bukan darah dari istrinya yang sedang datang bulan namun karena Karin sedang pendarahan. Kini istrinya sedang mengalami pendarahan karena ulahnya. Mimpinya tadi yang menguatkan bahwa anaknya meminta tolong kepadanya. Yudha kembali teringat kejadian semalam saat mendorong tubuh Karin ke ranjang dengan keras dan mengakibatkan pendarahan.
"Apa yang telah aku lakukan semalam hiks.. hiks...." Yudha kini sudah menangis merutuki dirinya sendiri.
"Aku bodoh! Bodoh sekali sehingga tidak menyadari bahwa istriku sedang hamil," ucapnya kembali.
Yudha teringat saat makan siang bersama dengan sahabatnya Dokter Rio. Waktu itu Yudha mual dan seketika ingin makan steak. Padahal makanan yang dirinya pesan adalah makanan favoritnya tapi seketika mual begitu saja hilang ketika ingin makan steak. Yudha baru menyadari bahwa dirinya kini sedang mengalami Sindrom Couvade atau kehamilan simpatik yang hanya dialami oleh seorang suami saat istrinya sedang hamil. Perubahan tubuh istrinya yang semakin menggendut pun baru Yudha sadari saat ini. Yudha pikirkan berkecamuk saat ini.
"Istriku sekarang sedang pendarahan dan itu semua karena diriku..... Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Karin dan juga anakku."
__ADS_1
"Bagaimana kalau dia tidak selamat. Karin pasti akan sangat benci sama aku. Nak maafkan Papa." Kini Yudha semakin bersalah atas apa yang terjadi tadi malam.
Kini Yudha cemas dengan istri dan anaknya. Yudha berharap tidak terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya.