Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 58 - Sekarang Aku Sudah Mencintaimu


__ADS_3

Hari cepat berlalu, kini dirinya sudah menjadi istri sah dari seorang dokter muda yang tampan dan juga semalam telah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Suara adzan subuh terdengar sayup-sayup di telinga Karin. Sekarang Karin sudah bangun dari tidurnya. Karin kini merasakan ada tangan kekar yang memeluk tubuhnya jadi Karin susah untuk bergerak karena Yudha terlalu erat memeluknya.


"Mas, bangun... Sudah adzan subuh," ucap Karin sambil menepuk-nepuk pipi Yudha pelan.


Yudha masih ingin berlama-lama di kamar dengan istrinya.


"5 menit lagi ya sayang." Yudha berbicara seperti itu dengan matanya yang masih terpejam.


"Mas, waktu subuhnya sudah hampir habis loh. Aku sama kamu juga belum mandi," ucap Karin sedikit berteriak.


Mendengar istrinya berbicara seperti itu perlahan Yudha mulai mengerjapkan matanya dan melihat wajah istrinya. Yudha mendaratkan kecupannya dipipi istrinya. Karin terkejut tiba-tiba Yudha mengecup pipinya.


"Mas duluan saja yang mandinya."


Yudha mengangguk dan kemudian saat akan bangkit dari ranjangnya Yudha berbicara dengan istrinya.


"Iya aku mandi duluan, nanti aku siapkan airnya buat kamu sayang," ucap Yudha sambil berjalan menuju kearah kamar mandi.


"Hmm iya sayang." Jawab Karin singkat.


Saat Yudha sudah masuk kedalam kamar mandi. Perlahan Karin duduk di ranjangnya, kemudian saat akan bangun dari ranjangnya Karin merasakan sakit diarea sensitifnya.


"Auwww, kenapa masih sakit sekali. Badanku juga rasanya pegal-pegal semua." Lirih Karin.


Kemudian Karin teringat kejadian semalam bersama Yudha. Mereka telah melaksanakan kewajibannya sebagai mana mestinya dilakukan oleh para pengantin baru.


"Arghhh ini semua gara-gara Kak Yudha." Batin Karin.


Yudha sekarang sudah selesai mandi dan hanya menggunakan handuknya sebatas pinggang. Yudha sekarang terlihat bagian perutnya sixpack membuat Karin terkesima.


"Badannya ternyata bagus sekali. Kak Yudha pasti rajin olahraga." Batin Karin.


"Sayang, kenapa bengong?" Tanya Yudha.

__ADS_1


"Itu kenapa mas gak pakai baju?" sambil menunjuk kearah tubuhnya.


Yudha melihat badannya yang ditunjuk Karin dan lalu tersenyum.


"Kamu kan semalam sudah melihatnya sayang? Buat apa untuk ditutup-tutupi, kamu juga akan melihatku seperti ini setiap saat. Karena aku sudah terbiasa habis mandi seperti ini."


Karin melongo mendengar perkataan suaminya. Meskipun semalam dirinya sudah melihatnya namun rasanya aneh saja saat ini karena mungkin belum terbiasa.


"Semalam kan hanya terlihat samar-samar saja mas," ucap Karin sambil memalingkan wajahnya.


Yudha tersenyum saat istrinya bicara seperti itu. Karin kini tengah bicara keceplosan karena saat ini lampu kamarnya sudah dinyalakan jadi terang benderang berbeda dengan semalam hanya ada lampu tidur yang menyala.


"Sekarang kan lampunya sudah aku nyalakan sayang. Apa mau diulang sayang kegiatan kita seperti yang semalam?" ucap Yudha menggoda istrinya.


"Ah... Tidak mas, aku tidak mau. Aku mau mandi saja, badanku sudah lengket." Karin lalu bangkit dari ranjangnya dan berjalan pelan-pelan menuju ke kamar mandi.


Karin berusaha menghindari dari suaminya. Bisa bahaya bila saat ini dekat-dekat dengan Yudha. Sedangkan Yudha hanya terkekeh geli karena dirinya hanya iseng saja menggoda Karin. Yudha juga tidak tega untuk melakukannya lagi saat ini mengingat istrinya sepertinya masih kelelahan.


Karin dengan cepat mandi karena waktu subuh hampir habis. Sekarang Karin sudah selesai mandi, dirinya kini mencari hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.


Dengan bantuan Yudha kini rambutnya cepat kering. Mereka kini sudah berwudhu dan akan sholat subuh berjamaah bersama. Karin kini bahagia sekarang ada Yudha yang menjadi imam setiap sholatnya. Setelah selesai sholat subuh berjamaah dan berdoa bersama lalu Yudha membalikkan tubuhnya. Dengan cepat Karin meraih tangan Yudha dan mengecup punggung tangannya.


Yudha memegang kepala Karin dan mengelusnya. Sekarang dirinya tidak menyangka sudah menjadi kepala rumah tangga. Ada rasa bahagia dihatinya, kini dirinya sudah memiliki seorang istri. Gadis cantik yang dulu ingin dirinya persunting sebagai istrinya pun kini sudah menjadi kenyataan.


"Mas, kenapa melamun?" Tanya Karin saat melihat suaminya sedang memikirkan sesuatu..


"Aku hanya tidak menyangka saja sayang, kamu mau menjadi istriku. Padahal kan umur kita beda 7 tahun dan dulu masih ada Dion yang dijodohkan denganmu. Aku dulu minder jika harus bersaing dengan Dion sebab Dion lebih muda apalagi Dion seorang Hafidz Qur'an seperti Rey. Nyaliku semakin menciut saat itu." Yudha menceritakan semuanya kepada Karin.


"Mas jangan bicara seperti itu, kita tidak pernah tahu siapa yang menjadi jodoh kita dan kebetulan Allah yang mempertemukan kita kembali. Saat aku sekolah di Indonesia dan akan dijodohkan dengan Dion tapi saat itu aku ragu dengannya dan aku bersyukur bisa bertemu dengan mas."


"Dulu kita hanya berteman saja kan mas dan saat itu aku nyaman berada di dekatmu. Perlahan aku membuka hati untukmu saat kamu mengatakan suka denganku sudah sejak lama. Aku juga tidak menyangka kalau mas yang akan menjadi jodohku," ucap Karin kembali dengan senyuman.


"Mas juga tidak menyangka bisa menjadi suamimu sayang hehehe," ucap Yudha terkekeh.

__ADS_1


"Aku dulu lebih memilihmu dari pada Dion karena aku lebih nyaman dekat denganmu dan aku tidak tahu kenapa jantungku berdegup dengan kencang saat berada di dekatmu. Lagian kamu juga lebih ganteng mas dari pada Dion dan sekarang aku juga sudah mencintaimu mas," ucap Karin tersipu malu mengungkapkan semua isi hatinya.


Yudha bahagia saat Karin mengungkapkan semua isi hatinya saat ini. Apalagi saat Karin bilang dirinya lebih ganteng dari pada Dion.


"Terima kasih sayang. Hanya kamu satu-satunya perempuan yang mampu memporak-porandakan hatiku. Jantungku rasanya mau copot saat berdekatan denganmu. Aku juga mencintaimu Karina Alexander istri cantikku," ucap Yudha sambil memeluk Karin.


Karin membalas pelukannya. Dirinya bahagia bisa menikah dengan orang seperti Yudha pria baik. Meskipun usianya jauh diatasnya namun tidak masalah bagi Karin. Yudha lebih kelihatan ganteng dan gagah. Apalagi tubuhnya yang bagus sebab Yudha rajin olahraga.


"Sayang aku masih ngantuk, aku mau tidur lagi ya mas. Lagian aku masih lelah dan badanku pegal-pegal semua." Karin lalu melepaskan pelukannya dan memijit bahunya.


Yudha merasa bersalah, karena dirinya yang menyebabkan istrinya menjadi kelelahan.


"Sini sayang mas pijitin. Maaf ya, aku sudah membuatmu kelelahan semalam."


"Tidak apa-apa mas."


Yudha lalu memijat istrinya. Karin lalu merasa kantuknya kembali menyerang.


"Mas sudah cukup, badanku sudah enakan. Terima kasih ya mas," ucap Karin sambil mengecup pipi Yudha dengan cepat.


"Sayang, kok cuma pipiku saja sih yang kamu cium? Di sini belum sayang." Yudha sambil meletakkan tangannya di bibirnya.


"Hah??" ucap Karin membolakan matanya saat Yudha berkata seperti itu.


Dengan cepat Karin mencium bibir suaminya. Ini pertama kali dirinya lakukan atas perintah suaminya. Yudha tersenyum saat Karin menurut padanya. Tidak salah dirinya memilih seorang istri. Ternyata istrinya sangat penurut.


"Sudah ya mas, aku ngantuk mau tidur." Karin lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan menaikkan selimutnya sampai batas perutnya.


"Iya sayang selamat tidur."


Yudha kemudian merebahkan tubuhnya kembali ke ranjangnya. Dirinya lalu memiringkan tubuhnya menghadap kearah istrinya. Yudha tersenyum saat melihat istrinya kini sudah tertidur. Yudha tangan kirinya lalu membuka sedikit selimutnya dan mengusap perut Karin pelan agar tidak menggangu istrinya yang sedang terlelap dalam mimpi.


"Sayang, mudah-mudahan kamu segera hadir didalam rahim Mamamu ya nak. Papa ingin kamu segera hadir di sini. Papa di sini menunggumu nak," ucap Yudha sambil mengelus perut Karin pelan dan lalu mengecupnya dua kali kemudian Yudha memeluk Karin.

__ADS_1


Karin yang sudah tertidur pun terusik saat Yudha mengelus perutnya. Yudha mengira Karin saat ini sudah tidur. Saat ini Karin sebenarnya sudah terbangun tapi Karin enggan membuka matanya karena ingin mendengar semua perkataan suaminya. Ternyata suaminya begitu ingin segera mempunyai anak darinya. Melihat Yudha yang sepertinya sudah ingin segera menjadi seorang Papa pun akhirnya Karin jadi ragu ingin menunda kehamilannya.


__ADS_2