
Alya berjalan perlahan menuju ke taman belakang dengan membawa nampan yang berisi 2 minuman dan sepiring brownies. Setelah sampai di gazebo taman Alya meletakkan ke meja yang berada di gazebo tersebut.
"Silahkan diminum dulu Dion, kamu pasti haus tadi katanya macet kan dijalan?"
"Ehm iya Kak." Dion lalu meminum minuman yang telah Alya buatkan.
"Rasanya segar sekali Kak."
"Iya karena di cuaca yang panas begini enaknya minum yang dingin-dingin," ucap Alya.
Dion begitu canggung akan mulai percakapan lagi dengan Alya mengenai perjodohannya. Dalam hati Dion begitu bahagia saat tahu Mamanya tadi memeluk Alya dan bilang calon menantu. Mereka duduk berjarak 1 meter. Karena Dion hanya diam saja jadi Alya yang akan memulai percakapan duluan.
"Dion, ternyata kamu laki-laki yang dijodohkan denganku. Aku baru tahu tadi saat Mama kamu tiba-tiba memelukku dan bilang kepadaku kalau aku calon menantunya."
"Iya Kak. Dion juga kaget kalau Kak Alya juga ternyata yang dijodohkan dengan Dion. Tapi aku bahagia Kak orang tua kita juga jodohin kita. Berarti kita memang ditakdirkan untuk bersama."
"Iya Dion kita memang ditakdirkan untuk bersama. Bahkan setelah sholat istikharah di mimpiku aku sedang berjuang untuk melahirkan anakmu." batin Alya.
"Oh iya Kak Alya punya berapa bersaudara?"
"Kakak hanya anak tunggal. Kalau kamu?"
"Hmm aku pikir tadi Kak Alya punya adik." batin Dion yang tadi mengira bahwa akan dijodohkan dengan adiknya Alya.
"Dulu Mama Marisa pernah hamil adik Dion tapi waktu itu Mama keguguran."
"Innalilahi wainailaihi rojiun. Eh maaf, Kakak jadi mengingatkanmu dengan adik kamu."
"Tidak apa-apa Kak."
Tak lama kemudian Mama Sofie dan Mama Marisa datang mereka sudah selesai arisan. Kedua suami mereka sedang di perjalanan kemari.
"Dion, Papa kamu sedang di perjalanan menuju kesini."
"Iya Ma."
"Kita ke dalam yuk. Kita kumpul di ruang keluarga," ucap Mama Sofie.
Jantung Alya berdegup dengan kencang saat akan bertemu dengan ayahnya Dion. Mereka langsung berjalan menuju ke ruang keluarga untuk membicarakan hal lebih lanjut mengenai perjodohan ini.
Tak lama kemudian Papa Zidan suami Mama Sofie datang.
"Assalamualaikum.'
"Wa'alaikum Salam."
__ADS_1
"Saya tinggal sebentar ya jeng itu sepertinya suami saya datang," ucap Mama Sofie.
"Iya jeng silahkan."
Mama Sofie segera menuju ke ruang tamu. Suaminya akan mencopot sepatunya. Mama Sofie bersalaman dengan suaminya tak lupa untuk membawakan tasnya.
"Pa, calon besan kita sudah datang bersama anaknya. Tinggal menunggu suaminya jeng Sofie datang. Sekarang sudah di perjalanan ke sini."
"Oh iya Ma? Bagus dong.
Mama Sofie berjalan ke dapur untuk membuat teh hangat untuk suaminya. Sedangkan Papa Zidan sudah di kamarnya untuk membersihkan dirinya. Mama Sofie berjalan ke kamarnya. Di dalam kamarnya suaminya sudah selesai mandi dan berpakaian.
"Ini Pa tehnya."
Papa Zidan langsung meminumnya. Papa Zidan dan Mama Sofie segera ke ruang keluarga. Ternyata Papa Edwin suami Mama Marisa sudah datang dan sudah berada di ruang keluarga.
"Baiklah kita ke pokok intinya saja. Kalian sudah kenal dan dekat berapa lama?" tanya Papa Zidan.
"Alya kenal Dion waktu ospek Pa. Kebetulan Alya yang menjadi pendamping ospek di kelompoknya. Kita dekat baru sebulanan."
"Ehm baguslah. Jadi gimana Pak Edwin rencana untuk kedepannya?" tanya Papa Zidan.
"Karena mereka sudah kenal lama bagaimana kalau segera kita nikahkan mereka saja?" usul Papa Edwin.
"Saya setuju. Niat baik harus segera dilaksanakan," ucap Papa Zidan.
"Saya sangat setuju Pak Edwin. Bagaimana dengan jeng Marisa?"
"Saya juga setuju jeng karena saya sudah ingin segera menjadi Oma. Apalagi Alya begitu cantik nanti pastinya cucu-cucu kita sangat lucu."
"Hehe iya juga ya jeng ditambah Dion yang wajahnya imut pasti menggemaskan kalau mereka punya anak," ucap Mama Sofie terkekeh.
"Deg........................" Perkataan Mama Marisa yang ingin segera menjadi Oma mengingatkannya dengan mimpi Alya waktu itu saat Alya sedang merasakan kesakitan karena sedang berusaha mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya Dion.
Dion hanya diam saja. Baru rencana mau menikah tapi mereka udah bahas cucu saja. Hanya itu yang ada di pikiran Dion saat ini.
"Apakah nanti setelah menikah dengan Dion aku akan menjadi seorang ibu secepat itu?" batin Alya yang masih takut karena tiba-tiba teringat dengan mimpinya.
"Gimana dengan kalian berdua nak?" tanya Papa Zidan.
Pertanyaan Papanya langsung membuyarkan lamunan Alya.
"Iya saya setuju," ucap Dion dengan mantap.
"Papa, misalkan setelah Alya sidang skripsi gimana? Alya sekarang sedang sibuk mengerjakan naskah dan revisi skripsi Alya."
"Baiklah nak."
__ADS_1
"Jadi nak Alya ingin mahar apa untuk pernikahannya?" tanya Papa Edwin.
"Saya hanya ingin seperangkat alat sholat dan Surat Ar Rahman yang nanti dibacakan oleh Dion sebagai maharnya."
"Tidak ada tambahan yang lainnya nak?" tanya Mama Marisa.
"Saya rasa itu saja sudah cukup," ucap Alya sambil tersenyum.
Mama Marisa tersenyum ternyata calon menantunya tidak materialistis seperti wanita muda zaman sekarang. Dion juga kaget dengan mahar yang Alya ajukan seperti mahar yang Risa pernah ajukan saat menikah dengan Rey. Namun waktu itu Rey menambahkan dengan kepingan emas logam mulia 112 gram sebagai tambahan maharnya yang diberikan untuk Risa. Rey memberikan mahar berupa kepingan emas logam mulia karena beralasan bahwa cintanya juga murni semurni kepingan emas itu. Dion juga akan menambahkan emas logam mulia nanti sebagai tambahan maharnya. Meski tak sebanyak yang Rey berikan ke Risa karena Dion baru saja bekerja sebulanan.
"Nanti saya akan tambahkan kepingan emas logam mulia sebagai maharnya karena saya menyukai Kak Alya murni dari lubuk hati saya yang paling dalam semurni kepingan emas itu," ucap Dion.
"Dion so sweet banget sih gak nyangka Dion akan berbicara seperti itu di depan orang tuaku dan juga orang tuanya." batin Alya.
"Baiklah saya setuju nak. Jadi nanti akan diselenggarakan pernikahan Alya dan Dion setelah Alya nanti sudah lulus sidang skripsi," ucap Papa Zidan.
"Iya, nanti kita bicarakan lagi untuk penentuan tanggal pernikahan anak-anak kita," ucap Papa Edwin.
"Iya Pak Edwin. Nanti kita bicarakan lagi ya."
"Kalau begitu kita pamit pulang dulu ya. Hari sudah mulai petang," ucap Papa Edwin.
Seketika terdengar suara Adzan Maghrib
"Bagaimana kalau kita Sholat Maghrib berjamaah dulu?" ucap Papa Zidan.
"Baiklah."
"Nak, kamu yang menjadi imam sholatnya ya? Itung-itung kamu sedang belajar menjadi calon imam anak saya."
"Baik Pa," ucap Dion tersenyum.
Calon mertuanya ternyata sangat baik. Dion berpikir bahwa Papa Zidan nantinya galak seperti yang ia bayangkan namun ternyata sebaliknya Papa Zidan orangnya baik dan sangat sabar.
Hari ini pertama kalinya Dion menjadi imam sholat dan pas di rumah calon mertuanya pula. Ada perasaan bahagia saat tadi diminta menjadi imam sholat, karena secara tidak langsung calon mertuanya sudah menyukai Dion sebagai calon menantunya. Alya terkejut ternyata suara Dion sangatlah bagus dan merdu saat menjadi imam sholat di rumahnya. Rasanya adem mendengar suara Dion. Alya bersyukur dan sekaligus bahagia mendapatkan calon suami yang di idam-idamkan sekaligus berakhlak baik meskipun usianya jauh lebih muda darinya. Alya tidak mempermasalahkan hal itu. Mungkin sudah takdirnya Alya mendapatkan jodoh yang usianya jauh lebih muda darinya. Setelah sholat berjamaah mereka pamit pulang.
"Sebentar jeng ini saya bawakan browniesnya dari toko kue milik keluarga saya."
"Wah ternyata selama ini toko kue langganan saya milik jeng?"
"Iya lebih tepatnya milik Alya karena 70% modalnya uang Alya sendiri. Kami hanya menambahkan sedikit modal saja dan Alya yang selama ini mengurusi toko kuenya."
"Wah ternyata calon menantuku ini hebat. Tak hanya cantik dan sholihah namun juga mandiri. Nak kamu beruntung bisa mendapatkan Alya."
"Iya Ma." Dion tersenyum.
"Tidak hanya itu saja Ma. Bahkan calon menantumu yang cantik ini mahasiswi terpopuler di kampus yang banyak penggemarnya." batin Dion.
__ADS_1
Dion mengingat betapa banyaknya mahasiswa di kampus yang menjadi penggemar Alya. Tapi hanya Dion yang beruntung bisa mendapatkan Alya.