
Tak terasa sudah setahun lamanya mereka kehilangan ketiga anaknya. Mama Sabrina kini ke rumah anaknya saat Yudha pergi. Karin membukakan pintu untuk mertuanya.
"Mama..... Silakan masuk." Sambil mengecup punggung tangan mertuanya.
Maka Sabrina langsung duduk di sofa. Karin bingung biasanya Mama Sabrina ke rumah selalu bersama dengan Papa Yudhistira. Namun hari ini sendirian dan pagi-pagi sekali.
"Nak, hari ini kamu kuliah?"tanyanya.
Karin sudah mulai kuliah lagi sejak beberapa bulan yang lalu dan hari ini ada mata kuliah terakhir sebelum UAS.
"Iya, ada Mama."
"Mama, ke rumah kamu hanya ingin menawarkan sesuatu."
"Sesuatu apa Mama?"
"Nyonya, silakan diminum tehnya," ucap Bibi dengan sopan.
"Makasih Bi."
"Sama-sama Nyonya." Bibi langsung pergi ke dapur kembali.
"Begini nak, apa kamu sudah ada tanda-tanda kehamilan?"
"Mama kenapa bahas itu lagi ya? Bukankah tidak mau mencampuri urusan rumah tangga aku dan Kak Yudha lagi." Batin Karin.
"Ehm... Eh? Soal itu belum Mama."
"Kamu tidak lagi menundanya kan nak?"
"Tidak, Mama. Karin sudah tidak mengkonsumsi pil penunda kehamilan lagi."
"Nah, Mama mau menawarkan sesuatu sama kamu nak. Tapi, Mama mau minta maaf sebelumnya."
"Sebenarnya Mama ingin bicara apa sama Karin?"
"Begini nak, bolehkah Yudha menikah lagi?"
"Deg................" Karin langsung sakit hatinya saat Mama Sabrina meminta Yudha untuk menikah lagi.
"Kenapa Mama bicara seperti itu?"
__ADS_1
"Nak, aku rasa kamu sudah tidak bisa hamil lagi. Buktinya sudah satu tahun lamanya kamu tidak kunjung mengandung juga."
"Dulu Mama menyalahkan Kak Yudha yang mandul. Terus sekarang mau bilang aku mandul juga? Ini semua karena Fani yang sudah membuatku keguguran dan sulit untuk memiliki keturunan lagi." Batin Karin.
"Mama, beri aku waktu. Karin pasti bisa memberikan Mama cucu lagi."
"Baiklah, Mama berikan kamu waktu satu bulan. Kalau kamu tidak kunjung hamil juga izinkan Yudha untuk menikah lagi."
"Memang Kak Yudha mau menikah dengan siapa Mama?" tanyanya penasaran.
"Dengan wanita pilihanku. Dia teman Yudha dulu waktu SMP. Sekarang dia sudah menjadi seorang pengacara yang hebat. Gadis itu sangat cantik dan baik. Cocok untuk menjadi calon menantuku."
"Apa Mama memandangku terlalu rendah selama ini? Tapi aku kan belum lulus kuliah. Aku harus buktikan kalau aku juga bisa menjadi orang yang hebat, agar Mama tidak merendahkan aku lagi." Batin Karin.
"Mama, jika Karin dalam waktu satu bulan ini tidak hamil juga bagaimana?"
"Izinkan Yudha untuk mempunyai istri lagi. Mama ingin punya cucu yang nantinya akan mengurus rumah sakit. Kalau tidak cucu dari anakku, siapa lagi yang mau mengurusi rumah sakit."
"Mama, tapi aku tidak ingin dimadu." Karin memberanikan diri untuk berbicara seperti itu dan kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Mama Sabrina lalu menyeruput teh buatan Bibi.
"Dan ingat satu hal lagi. Jangan sampai Yudha tahu tentang masalah ini," ucapnya kembali.
Mama Sabrina kini langsung pergi meninggalkan rumah. Setelah sang mertua sudah pergi Karin masih meneteskan air mata. Bibi juga sedih tadi sekilas mendengar pembicaraan Mama Sabrina dan Karin. Bibi merasa prihatin dengan majikannya yang dipaksa harus memberikan cucu secepatnya.
"Non, yang sabar ya. Bibi berdoa agar Non Karin segera dikaruniai anak."
"Iya Bibi. Makasih ya." Kini Karin mengusap air matanya dan berjalan menuju kamarnya. Karin harus bersiap-siap untuk ke kampusnya.
"Kasihan Non Karin," ucapnya sambil membereskan cangkir teh yang ada di atas meja.
Hari ini karena hanya ada satu mata kuliah saja. Setelah perkuliahannya selesai Karin berniat untuk menemui Papa Keynan. Karin akan menceritakan semuanya kepada Papa Keynan. Hanya Papa Keynan yang bisa memberikan solusi untuk masalahnya ini. Sebenarnya Karin juga ingin bercerita dengan Yudha maupun Papa Yudhistira. Namun Karin urungkan niatnya karena tidak mau keluarga mereka jadi ada konflik lagi kalau tahu tentang hal ini. Karin takutnya Yudha akan marah besar dengan Mamanya.
Karin melajukan mobilnya ke arah kantor Papanya. Setelah sampai di lobby semua karyawan pada menunduk dan hormat karena tahu Karin adalah anak dari CEO di perusahaannya. Dulu waktu Papa Keynan masih tinggal di Korea. Yang mengurusi perusahaannya adalah Kakaknya Kevino Putra Alexander, ayah dari sepupunya Risa Alexander. Kevin kewalahan mengurusi dua perusahaan sekaligus dan akhirnya Keynan berniat untuk berpindah ke Indonesia. Karena anaknya juga waktu itu akan menikah dengan Yudha.
Karin melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Papanya. Karin mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum masuk ruangan Papanya. Untung saja Papanya sudah selesai meeting. Jadi sekarang tinggal mengecek berkas-berkas yang harus ditandatangani.
"Papa............" Saat pintu ruangannya sudah terbuka lebar.
"Anak Papa yang cantik. Akhirnya berkunjung lagi ke kantor Papa." Sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Karin langsung memeluk Papa Keynan. Air matanya sudah tidak tahan lagi untuk keluar. Kini Karin menangis tersedu-sedu saat memeluk Papanya. Tahu anaknya sedang dalam masalah Papa Keynan lalu mengelus punggung Karin. Menenangkan anak semata wayangnya.
"Kamu ada masalah apa nak? Apa Yudha menyakiti hatimu lagi?" tanyanya penasaran.
"Tidak Papa, Kak Yudha selalu membahagiakan Karin. Ini bukan karena Kak Yudha. Ini karena Mama Sabrina yang memberiku dua pilihan yang sulit."
"Maksud kamu apa nak? Coba ceritakan dengan rinci apa permasalahannya."
"Mama Sabrina meminta aku untuk memberikan izin agar Kak Yudha untuk menikah lagi, agar Mama Sabrina bisa mempunyai cucu."
"Apa??" Papa Keynan tangan kanannya kini sudah mengepal. Wajahnya sudah berubah memerah.
"Nak, terus apa yang kamu katakan lagi sama dia?"
"Aku minta waktu untuk bisa memberikannya cucu."
"Hmm... Lalu apa yang dia katakan?"
"Mama Sabrina memberikan aku waktu sampai bulan depan. Kalau aku tidak kunjung hamil juga Mama Sabrina meminta aku untuk mengizinkan Yudha menikah lagi."
"Aku menolaknya Papa. Aku tidak rela suamiku menikah lagi. Aku tidak mau dimadu."
"Keterlaluan Sabrina itu. Nak, apa Yudha tahu tentang hal ini?"
"Tidak Papa, Mama Sabrina tadi melarang aku agar tidak memberitahu Kak Yudha." Kini Papa Keynan geram terhadap besannya. Papa Keynan akan memberikan perhitungan dengan besannya kalau sampai anaknya berpisah.
"Papa, kata Mama Sabrina jika aku tidak hamil juga sampai bulan depan aku bisa memilih untuk mengizinkan Yudha untuk menikah lagi dengan wanita pilihan Mamanya atau kalau tidak Mama Sabrina memintaku untuk meninggalkan Kak Yudha jika aku tidak mau dimadu. Aku bingung sekarang Papa. Karin harus bagaimana?" ucapnya sambil menangis.
"Papa setuju dengan kamu yang tidak mau dimadu nak. Lebih baik kalian berpisah saja. Papa akan pindahkan kuliah kamu. Bagaimana? Kamu ingin kuliah dimana nak?"
"Mungkin yang Papa katakan benar. Sepertinya aku memang tidak berjodoh dengan Kak Yudha. Karin ingin kuliah di Korea saja Papa."
"Baik, Papa akan kabulkan permintaan kamu nak. Tapi Papa berharap kamu bisa hamil jadi kamu tidak usah perlu untuk pindah kuliah dan berpisah dari suamimu."
"Karin maunya juga begitu Papa. Karin tidak ingin berpisah dengan Kak Yudha. Karin sudah terlanjur mencintainya Papa."
"Iya nak. Papa juga tahu kamu begitu tulus mencintainya. Sudah anak Papa yang cantik ini jangan menangis lagi ya. Hapus air matamu, Papa hanya ingin kamu bahagia nak."
"Iya Papa." Karin lalu menghapus air matanya yang sudah tumpah dari tadi.
Papa Keynan berharap yang terbaik untuk anaknya. Jika mereka ditakdirkan bersama mungkin selamanya akan bersama.
__ADS_1