Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Beberapa Tahun Kemudian


__ADS_3

Andika dan Anisa sekarang sudah berumur 26 tahun. Sedangkan adiknya meninggal saat masih berumur 1 tahun karena sakit paru-paru. Andika dan Anisa sudah lulus S2 beberapa tahun yang lalu. Andika bekerja di kantor Abi Dion sedangkan Anisa menjadi seorang Dosen di kampus Key. Si kembar, Keifano dan Keisha berumur 24 tahun. Sedangkan Key baru berumur 21 tahun dan Keyla 16 tahun.


Keifano dan Keisha juga sudah selesai kuliahnya. Mereka saat ini sudah kembali lagi ke Indonesia. Mereka berdua telah selesai menempuh pendidikan S2. Keifano menempuh pendidikan S2 di Korea dan Keisha memilih S2 di London. Key baru saja masuk semester 6 dan si bungsu Keyla baru kelas X SMA. Dulu Yudha sebenarnya melanjutkan S2 di Korea bersama dengan Karin yang saat itu juga kuliah di Korea. Jadi Yudha bekerja sambil kuliah saat itu. Kini anak-anaknya sudah pulang dari luar negeri. Yudha dan Karin sekarang sudah selesai sholat subuh. Sekarang karena anak-anaknya sudah besar maka panggilan sayang yang biasanya Karin dan Yudha ucapkan berubah menjadi Papa dan Mama.


"Mama... Alhamdulillah anak-anak kita sudah pulang semuanya."


"Iya Papa... Aku bahagia anak-anak kita sudah pulang membawa gelar Magister," ucapnya dengan senyuman.


"Tidak aku sangka pernikahan kita sudah berjalan 27 tahun Mama."


"Iya Pa, anak-anak sudah tumbuh besar ya. Si bungsu Keyla juga sudah SMA."


"Iya, anak kita si bungsu sudah terlihat begitu cantik. Paras bulenya mirip kamu dan Mama Chintya."


"Iya Pa, Keyla begitu cantik. Aku bahagia anak-anak kita semua nurut sama kita."


"Itulah, karena kita membawanya ke pondok pesantren saat masih SMP untuk anak-anak kita."


"Iya, kamu benar Papa..."


Pagi hari setelah sholat subuh Karin mengajak putrinya untuk memasak di dapur. Meskipun ada Bibi namun suami dan anak-anaknya lebih suka dengan masakannya. Dari kedua putrinya yang paling rajin membantu Karin adalah Keyla sang putri bungsunya.


"Mama, Keyla bantu apa nih hari ini?" Tanyanya sambil mendekati Karin.


"Kamu goreng ayamnya saja ya sayang. Itu sudah Mama bumbuin tadi. Biar Mama yang bikin sayurnya."


"Ok Mama..."


Keyla lalu mulai menggoreng ayamnya. Setelah Keyla dan Karin masak bersama Yudha dan si kembar datang ke ruang makan.


"Ayo kita makan bersama," ucap Karin dengan senyuman.


"Keisha, kamu harus mencontoh adik kamu. Coba lihat dia pandai masak seperti Mama Karin. Kamu itu sudah dewasa dan seharusnya kamu juga harus pintar memasak."


"Papa....."


"Sudah Papa bahasnya nanti saja. Sekarang kita sarapan bersama dulu nanti keburu dingin ayam goreng dan sayurnya," ucap Karin sambil menggambil ayam goreng dan sayuran untuk suaminya.


"Iya Mama..." Yudha sambil tersenyum menerima piringnya.


"Papa bisa bicara lembut kalau sama Mama," ucap Keisha cemberut.


"Sabar Keisha... Kalau kamu nurut sama Papa pasti Papa akan bicara dengan lembut juga sama kamu."


"Kak Kei nyebelin! Kak Keifano lebih belain Papa daripada kembarannya sendiri!"


Keisha lalu menghentikan makannya, padahal Keisha baru makan 5 sendok saja. Keisha langsung menuju ke kamarnya.


"Anak itu kok ngambekan sih kerjaannya. Sifatnya masih ke kanak-kanakan," ucap Yudha yang tidak sadar telah menyindir Karin.


"Kamu menyidir aku?"


"Tidak Mama... Aku hanya bilang Keisha yang ke kanak-kanakan. Coba lihat, dia sudah berumur 24 tahun tapi masih saja ngambek. Sepertinya kita harus segera menikahkan si kembar."

__ADS_1


"Papa, aku belum ingin menikah." Keifano membuka suara.


"Keifano, kamu sudah berumur 24 tahun nak."


"Iya sudah pantas umur kamu untuk menikah sayang," ucap Karin.


"Tapi Keifano ingin menjadi Dokter yang hebat seperti Papa."


"Nak menikahlah. Papa dan Mama sudah tua dan ingin melihat kalian menikah..."


"Keifano belum kepikiran untuk menikah Papa... Keifano permisi dulu ke kamar." Keifano meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya.


"Pusing aku kalau sudah begini, mana disuruh menikah sama Papa lagi..."


Di ruang makan jadi tinggal Key dan Keyla. Kedua Kakaknya sudah pergi ke kamarnya masing-masing.


"Papa dan Mama tenang saja ya, Key akan mencoba membujuk Kakak."


"Iya nak. Makasih."


Mereka semua sudah selesai sarapan pagi. Yudha kini dan Karin sedang duduk di kursi bangku taman belakang.


"Papa, bagaimana kalau kita segera melamar Anisa untuk Keifano? Menurut kamu gimana?"


Karin dan Alya dulu ingin berbesanan waktu anak-anak mereka masih kecil.


"Iya Ma. Papa juga kepikiran seperti itu. Anisa anak yang baik."


"Kalau begitu tunggu apalagi? Kita bertemu Alya dan Dion dulu untuk membicarakan ini semua."


"Mas! Kita sudah tua dan kamu jangan seperti ini."


"Makin tua, semakin mesra kan tidak apa-apa Mama," ucapnya terkekeh.


"Aku akan menghubungi Alya. Nanti malam kita temuin mereka ya Pa?"


"Iya Mama... Semuanya aku percayakan padamu."


Karin tersenyum manis dan lalu menghubungi Alya lewat panggilan telepon dan Alya juga sudah setuju untuk menemui Karin dan Yudha nanti malam bersama Dion.


...*****...


Di rumah Dion mereka sudah selesai sarapan dan sekarang sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Nak, apa kalian sudah memiliki pasangan?"


"Belum Abi," ucapnya bersamaan.


Alya dan Dion saling memandang dan tersenyum. Sepertinya menjodohkan Anisa dengan Keifano adalah pilihan yang tepat.


"Andika, kamu cari istri nak. Umi dan Abimu ingin melihat kamu menikah."


"Iya, Abi juga ingin Andika dan Anisa menikah."

__ADS_1


"Kok Anisa juga sih Bi?"


"Kamu juga sudah besar nak. Usia kamu 26 tahun. Sudah pantas untuk menikah."


"Tapi Bi. Anisa ingin menjadi Dosen yang hebat. Anisa belum ingin menikah."


"Nak, kami semakin tua. Kalian menikahlah nak. Kita ingin punya cucu dari kalian."


"Iya, kalian mau menunggu sampai kapan, usia kalian sudah 26 tahun dan sudah pantas jika kalian menikah."


"Nanti Andika pikirkan lagi Abi, Umi..."


Sedangkan Anisa hanya terdiam.


"Anisa, kamu tahu Keifano kan nak?"


"Iya Umi. Keifano yang anaknya Tante Karin dan Om Yudha kan?"


"Iya nak. Sekarang Keifano sudah kembali ke Indonesia. Kei akan menjadi Dokter di rumah sakit milik keluarganya."


"Lalu apa hubungannya dengan Anisa Umi?"


"Menikahlah dengan Keifano. Abi dan Umimu ingin kamu menikah dengannya."


"Apa? Menikah sama Keifano?"


"Iya nak, kalian telah kami jodohkan saat kalian masih kecil."


"Tapi Abi..."


"Apa kamu menolak perjodohan ini nak?" Tanya Dion.


"Jika kamu menolaknya maka hubungan persahabatan Umi dan Abi dengan Karin dan Yudha akan semakin renggang nak." Timpal Alya.


"Anisa tidak akan menolak perjodohan ini jika Keifano tidak menolaknya."


"Makasih ya sayangnya Umi," ucap Alya dan langsung memeluk Anisa.


"Anisa yakin kalau pilihan Umi dan Abi adalah yang terbaik untuk Anisa," ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan tersenyum.


"Makasih nak, kamu telah menerima perjodohan ini."


"Iya Abi," jawabnya singkat.


"Sekarang giliran kamu, Andika. Kamu cari pasangan sendiri atau Abi dan Umi yang pilihkan jodoh untuk kamu?"


"Aku akan mencari sendiri Abi."


"Bagus nak, jangan lama-lama kamu mencari jodohnya."


"Siap Abi. Tenang saja, Andika pasti nanti akan bawa kemari jika Andika sudah menemukan wanita yang tepat untuk menjadi istriku," ucapnya dengan senyuman.


"Umi menanti hari itu akan tiba, Nak."

__ADS_1


Alya dan Dion lega Andika nanti akan mencari jodohnya sendiri. Sedangkan Anisa mau dijodohkan dengan Keifano. Nanti malam Alya dan Dion akan bilang bahwa Anisa mau dijodohkan dan tinggal Keifanonya saja yang mau atau tidak untuk dijodohkan.


__ADS_2