Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 101 - Kontraksi.


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan pagi Karin dan Yudha langsung berangkat ke Bandung. Risa dan Rey juga ikut ke Bandung dengan membawa mobil yang berbeda. Rey dan Risa juga ingin melihat rumah yang akan Yudha kontrak di Bandung saat nanti setelah Karin lulus kuliahnya mereka akan tinggal sementara waktu di sana. Karena Karin hanya liburan semester dan jadi hanya sebentar ke Bandung. Mereka akan menginap disebuah resort yang ada di Bandung. Mereka akan makan siang di sebuah restoran. Seperti biasa mereka memesan ruangan khusus VIP yang bebas dari asap rokok jadi berada di lantai dua.


"Sayang....." Yudha melihat tangga yang terlalu tinggi.


"Ya, ada apa Mas?"


"Tangganya terlalu tinggi. Apakah kamu ingin tetap naik?"


Karin menghela napas panjang dan lalu bersandar di sebuah kaca.


"Iya Mas. Ayo kita segera naik ke atas. Kak Risa dan Kak Rey pasti sudah nunggu kita," ucapnya yang diakhiri dengan senyuman.



"Iya sayang, ya sudah ayo kita ke lantai atas."


Mereka lalu naik ke lantai dua. Dengan Karin digandeng tangannya saat naik ke lantai dua. Karin merasa engap padahal cuma naik beberapa anak tangga. Mungkin karena kehamilannya sudah berjalan 9 bulan jadi lebih cepat merasakan kelelahan. Mereka lalu makan bersama. Tak lupa Yudha selalu menyuapi Karin. Entah kenapa semenjak hamil Karin menjadi sangat manja. Yudha tidak masalah jika istrinya menjadi manja dan justru Yudha bahagia.


Setelah mereka makan bersama lalu mereka menikmati indahnya kota Bandung. Mereka sudah sampai resort. Udara yang segar dan keindahan alam kota Bandung sangat disukai Karin.


"Mas, aku bahagia sekali bisa ke Bandung. Terima kasih ya Mas sudah mengabulkan permintaan aku."


Yudha kini sudah memeluk Karin dari belakang. Yudha mengusap-usap perut buncit Karin yang sebentar lagi kedua anaknya akan segera lahir.


"Sayang, kamu tidak usah berterima kasih sama aku. Sudah menjadi kewajiban aku untuk selalu membahagiakan kamu," ucap Yudha sambil mengecup pipi kiri Karin.


Karin bahagia moment seperti ini yang Karin inginkan. Hidup bahagia bersama suaminya dan kedua calon anaknya.


"Mas, jangan seperti ini. Nanti malu kalau Kak Risa atau Kak Rey yang melihat kita." Karin hanya mengingatkan jika Kak Rey atau Kak Risa sewaktu-waktu tiba-tiba datang.


"Biarkan saja sayang. Mereka bahkan mungkin jauh lebih pengalaman daripada kita. Kan mereka sudah punya dua anak sayang dan kita baru mau punya anak."


Lalu Karin membiarkan suaminya memeluknya. Rasa nyaman bila suaminya sudah seperti ini. Yudha lalu melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Karin. Kini mereka saling berhadap-hadapan. Yudha lalu memegang kedua pipi istrinya.

__ADS_1


"Sayang tatap aku. Kamu tidak boleh lagi ya menyembunyikan apapun dari aku. Cukup kemarin terakhir kalinya kita salah paham. Aku tidak mau lagi jika harus berpisah darimu. Kamu mau janji sama aku, untuk masalah apa saja kamu harus cerita."


"Iya Mas, aku janji tidak akan menyembunyikan apapun dari kamu. Aku juga tidak mau jika harus berpisah darimu lagi Mas," ucap Karin yang sudah meneteskan air mata.


"Sayang, jangan menangis. Nanti anak-anak kita juga ikutan sedih kalau Mamanya menangis."


"Hmm iya Mas."


Yudha lalu menghapus air mata istrinya. Karin lalu memeluk suaminya dari samping. Karena tidak bisa berpelukan seperti biasanya soalnya ada kedua anaknya dalam perutnya. Yudha pun membalas pelukannya. Yudha bahagia kini istrinya tidak akan lagi menyembunyikan apapun darinya.


Kini Risa dan Rey beserta dua anaknya sudah kembali ke Jakarta. Tak terasa kini kandungan Karin sudah memasuki usia 9 bulan lebih 8 hari tinggal 2 hari lagi perkiraan anaknya akan lahir. Karin kini sering merasakan pinggangnya sakit. Setiap hari Yudha yang memijat pinggangnya. Tak hanya itu Karin juga sering mengalami kontraksi palsu. Mungkin karena sudah mau mendekati pasca melahirkan. Yudha tidak sabar menunggu dua hari lagi kedua anaknya akan segera lahir. Kini Karin sedang duduk di ranjang dengan kakinya yang selonjoran dan kedua tangan Karin berada di belakang menopang tubuhnya. Perutnya kini sudah sangat turun.


"Mas, aku ingin makan sesuatu dan sepertinya ini ngidam terakhir aku sebelum anak-anak kita lahir."


Yudha lalu berjalan mendekati Karin.


"Kamu mau makan apa sayang?"


"Aku ingin makan mie ayam didekat sekolahku SMA dulu. Kita ke Jakarta sekarang ya Mas dan mumpung ini masih pagi."


Kedua anaknya merespon dengan tendangannya.


"Auwww... Mas perutku terasa ngilu. Mereka menendangnya begitu kuat sekali."


"Anak-anak Papa sudah ya menendangnya. Coba lihat, kasihan Mama Karin merasakan kesakitan," ucap Yudha yang masih mengelus perut Karin dan lalu mengecupnya dua kali.


"Sayang, apa masih terasa sakit?" tanyanya penasaran.


"Sudah tidak Mas. Ayo kita bisa berangkat sekarang Mas ke Jakarta."


"Iya sayang, aku ambil kunci mobilnya terlebih dahulu."


Karin mengangguk pelan. Kini sering kali anaknya menendang-nendang begitu kuat. Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya Karin dan Yudha sudah sampai di Jakarta. Yudha langsung menuju ke sekolah SMA Karin dan untung saja penjualannya masih berjualan jadi Yudha lega keinginan istrinya kini akan terpenuhi. Setelah makan mie ayamnya. Karin ingin main ke tempat Risa untuk melihat kedua keponakannya yaitu Reno dan Revano.

__ADS_1


"Mas, kita ke rumah Kak Risa ya? Aku sangat rindu dengan kedua keponakan aku yang lucu-lucu."


"Iya sayang, baru saja aku mau bilang kalau aku juga ingin kesana."


"Wah berarti kita sehati satu pemikiran Mas."


"Hahaha, iya sayang."


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sudah sampai di rumah Risa.


"Hai sepupuku. Wah beberapa hari lagi akan menjadi seorang ibu." Risa kini sudah memeluk Karin.


"Iya Kak Risa. Tidak menyangka diusia aku yang baru 20 tahun aku akan menjadi seorang ibu."


"Aku dulu juga gitu kok Karin. Waktu hamil Reno juga aku baru berusia 20 tahun seperti kamu."


Mereka malam ini menginap di rumah Risa. Rey dan Risa bahagia dengan kedatangan Yudha dan Karin. Rumahnya jadi semakin ramai saja.


Pagi hari setelah sarapan pagi Karin dan Yudha sudah berada di kamar tamu. Kini Karin merasakan perutnya mulai mulas.


"Mas..... Perutku sakit, sepertinya aku mengalami kontraksi palsu."


"Apa hari ini saatnya istriku akan melahirkan?" Batin Yudha.


"Mas..... Perutku sakit sekali," ucapnya sambil meringis merasakan kesakitan.


Yudha langsung membuyarkan lamunannya. Pandangan Yudha lalu mengarah ke kaki Karin. Kini air ketubannya sudah pecah.


"Sayang... Kamu akan segera melahirkan. Air ketubannya sudah pecah."


"Mas... Auwww..... Perutku sangat sakit sekali Mas." Karin kini masih terus memegang perutnya. Kedua anaknya juga menendang-nendang perutnya begitu kuat.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang." Yudha panik saat ini.

__ADS_1


Yudha lalu menggendong Karin dan keluar dari kamar tamu. Yudha lalu meminta bantuan Rey dan Risa untuk membantunya membawa Karin ke rumah sakit.


__ADS_2