Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Papa Minta Cucu


__ADS_3

Semenjak saat itu mereka semakin terlihat lebih mesra dan hubungan mereka semakin membaik. Yudha, Karin, Dion dan Alya semakin bahagia melihat perkembangan hubungan mereka yang semakin harmonis. Anisa dan Keifano sekarang sudah sholat subuh berjamaah.


"Sayang, sini biar aku saja yang melipat sajadahnya," ucap Anisa.


"Baiklah," jawab Keifano.


Keifano lalu berjalan mendekati sofa dan duduk sambil menunggu Anisa yang sedang melipat sajadahnya. Anisa langsung menyusul suaminya untuk duduk di sofa. Mereka kini sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Keifano mendekap tubuh Anisa dan menyenderkan kepala Anisa ke dada bidangnya. Keifano menghirup aroma vanilla dari shampo yang Anisa kenakan. Keifano membelai rambut panjang istrinya. Anisa hanya terdiam dalam dekapan hangat suaminya. Anisa bahagia pernikahan impiannya bersama Keifano akhirnya terwujud. Anisa dan Keifano saat ini sedang menunggu kehadiran sang buah hatinya.


"Sayang, aku sudah ingin punya anak darimu." Keifano mengusap perut Anisa yang masih rata.


"Kita berdoa saja semoga Allah segera mengabulkan doa kita. Semoga saja Allah segera memberikan kita keturunan," ucap Anisa dengan senyuman manisnya.


Keifano mengangguk pelan dan tersenyum lalu mengecup pipi Anisa.


"Sayang, ternyata dibalik hijabmu, wajahmu sangat cantik sekali," ucap Keifano mengusap pipi Anisa.


"Kamu kok jadi bisa gombal seperti ini sih? Belajar dari mana?" tanya Anisa penasaran.


"Aku belajar dari Papa. Dari dulu Papa selalu bisa merayu Mama. Bahkan Papa Yudha sangat romantis sekali sama Mama. Papa selalu memberikan kejutan dan hadiah, bahkan Papa sampai menanam berbagai bunga mawar di taman belakang. Rumah tangga Mama dan Papa juga jadi semakin harmonis setelah menikah lebih dari 20 tahunan," ucap Keifano terkekeh.


"Oh jadi kamu belajar dari Papa Yudha? Tidak kreatif sekali," ucap Anisa terkekeh.


"Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu sayang."


Anisa mengangguk dan tersenyum. Keifano lalu mendaratkan kecupannya pada kening Anisa.


"Sayang, jika kamu hamil kita harus mengubah nama panggilan kita," ucap Keifano kembali.


"Jadi apa sayang?" tanya Anisa yang lalu menatap wajah suaminya.


"Menurut kamu yang bagus apa? Aku sih ngikut kamu saja."


"Kalau ayah dan bunda saja bagaimana?" tanya Anisa.


"Iya, aku setuju."


"Baiklah... Mudah-mudahan saja doa kita segera dikabulkan oleh Allah."


"Iya aamiin. Ternyata pacaran setelah menikah itu indah ya sayang? Jadi teringat Papa dan Mama dulu juga seperti itu."


"Abi dan Umi juga seperti itu kok sayang."


"Wah benarkah? Kok bisa sama ya?"


"Tidak tahu juga hehe," ucap Anisa terkekeh.


Saat Keifano mau mengecup Anisa terdengar suara ketukan pintu.


Tok..... Tok...... Tok.......


"Den, Non sarapannya sudah siap. Semua sudah ngumpul dan pada nungguin di ruang makan."

__ADS_1


Anisa dan Keifano lalu saling memandang.


"Iya Bi, kita segera turun," ucap Keifano.


Keifano dengan cepat mengecup bibir Anisa.


"Keifano, kita sudah ditunggu mereka dibawah."


"Hahaha aku hanya melanjutkan yang tadi belum jadi sayang," ucapnya terkekeh.


"Sudahlah ayo kita turun, mereka sudah menunggu kita. Aku jadi tidak enak."


"Sudah sayang jangan merasa tidak enak seperti itu. Mereka pasti memakluminya karena kita pengantin baru," ucap Keifano sambil mengedipkan sebelah matanya.


Anisa wajahnya merah merona karena malu.


"Kamu genit ih!" Anisa mencubit perut suaminya.


"Biarin, yang penting cuma sama istri sendiri." Keifano menarik hidung Anisa.


"Kalau sama yang lain awas saja!" Anisa menatap tajam ke arah suaminya.


"Wah, istriku sudah mulai galak ya saat ini." Keifano terkekeh dan lalu mencubit pipi Anisa.


"Ayo kita turun sekarang juga. Mereka sudah menunggu kita," ucap Anisa.


"Baiklah," ucap Keifano sambil menggandeng tangan istrinya.


"Wah, Kakak semakin hari semakin mesra saja," ucap Key tersenyum.


"Makanya kamu cepat nikah Key!" Perintah Keifano kepada adiknya.


"Aku mau menyelesaikan pendidikan S1 dulu Kakak dan itu masih lama. Like juga belum ada calonnya Kak."


"Sudah sekarang kita sarapan bersama," ucap Yudha yang dari tadi sudah keroncongan perutnya.


"Iya Pa," ucap mereka bersamaan.


Setelah selesai sarapan pagi Karin melihat ke arah menantunya. Sebagai ibu yang sudah berpengalaman melahirkan anak 3 kali, Karin tahu jika menantunya itu sebentar lagi akan hamil.


"Ehem, sebentar lagi sepertinya Mama akan punya cucu nih," ucap Karin yang melihat Anisa semakin mengembang pipinya. Perkataan Karin seketika membuat Anisa tersipu malu.


"Aamiin, doakan ya Mama," jawab Anisa.


"Iya nak. Mama selalu mendoakan kalian agar cepat punya anak. Mama sudah tidak sabar ingin punya cucu yang lucu-lucu dari kalian."


Seketika Yudha ingin usul punya cucu yang banyak dari anaknya.


"Buatkan Papa cucu yang banyak ya nak. Bila perlu anak pertama kalian kembar. Papa ingin sekali punya cucu kembar dan pasti akan sangat lucu-lucu," ucap Yudha dengan santainya.


"Apa? Kembar Papa?" tanya Keifano.

__ADS_1


"Hmm iya. Kalian kan anak kembar dan bisa jadi kalau kalian juga akan punya anak kembar juga," jawab Yudha.


"Oh iya Keifano kamu harus konsultasi sama Papa jika beneran ingin anak kembar."


"Tidak perlu Papa," tolak Keifano.


Keifano malu Papanya berbicara seperti itu didepan istri dan adik-adiknya.


"Hei nak. Apa kamu lupa jika Papa juga seorang Dokter kandungan? Bahkan banyak loh yang konsultasi sama Papa ingin anak kembar dan mereka semua bisa punya anak kembar setelah konsultasi sama Papa."


"Sepertinya tidak perlu Papa. Kita akan menerima saja apa yang Allah berikan," ucap Keifano.


"Huh, kamu emang keras kepala sekali seperti Mama kamu," ucap Yudha yang tengah keceplosan dan secara tidak sengaja menyindir Karin.


Karin mendengus kesal lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang makan.


"Papa Yudha......." Keisha dan Keyla langsung memanggil nama Papanya.


"Papa ini tidak bisa menjaga perasaan Mama. Tuh kan Mama jadi pergi," ucap Key yang lalu menyusul Mamanya.


"Hmm, Mama kamu sudah biasa seperti itu nak."


"Tapi Papa jangan berbicara seperti itu dong," ucap Keisha.


"Iya nanti Papa akan meminta maaf sama Mama kamu."


Key tadi menyusul Karin.


"Mama, Papa tidak bermaksud untuk menyindir Mama."


"Mama memang keras kepala nak, memang faktanya seperti itu. Mama ingin sendiri nak, keluarlah."


Key lalu keluar dari kamar orangtuanya. Key berpapasan dengan Papanya.


"Papa, Mama menangis di kamar."


"Iya Papa akan meminta maaf sama Mama kamu nak."


"Baguslah Papa. Key hanya tidak ingin Papa dan Mama bertengkar karena hal yang sepele."


"Hmm iya nak. Pikiran kamu bahkan lebih dewasa daripada Mamamu. Sifat kamu menurun dari Papa," ucap Yudha menepuk pundak anaknya.


Key tersenyum tipis dan lalu kembali ke kamarnya. Yudha berjalan menuju kamarnya. Saat masuk melihat Yudha lalu melihat Karin yang sudah berhenti menangis.


"Maafkan aku sayang."


Karin tidak menjawab pertanyaan suaminya.


"Sayang, maaf."


"Hmm, malam ini aku mau tidur sama Keyla saja," ucapnya yang lalu memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Yudha hanya bisa pasrah jika Karin sudah berbicara seperti itu. Jika berusaha untuk mencegahnya nanti yang ada makin ribet urusannya.


__ADS_2