
Papa Keynan dan Mama Chintya bahagia melihat anaknya kini sudah menikah dengan laki-laki pilihannya. Papa Yudhistira juga begitu bahagia karena dulu gadis yang akan dijodohkan dengan anaknya ternyata mereka sudah saling kenal bahkan sudah berkomitmen untuk menikah. Mama Sabrina berharap akan segera mendapatkan cucu sebentar lagi. Terpancar aura bahagia dari kedua mempelai. Yudha tak henti-hentinya menatap wajah cantik istrinya. Akhirnya kini mereka bahagia bisa menikah sesuai dengan kriteria idaman masing-masing.
Mereka mengundang 2000 tamu undangan. Acara resepsinya selesai sampai malam hari dan baru selesai tepat pukul 20:00 wib. Karin sudah capek berjam-jam menyalami tamu undangan kakinya sangat pegal-pegal karena pakai high hills.
Sebenarnya Rey sudah menyiapkan kamar hotel untuk pasangan pengantin baru tersebut. Namun, Karin ingin pulang dan beristirahat di rumah saja. Karin ingin tidur di kamarnya, Yudha tidak masalah dengan hal itu. Yudha sangat menuruti perkataan Karin. Karena dirinya bersyukur Karin mau diajak nikah saat sudah lulus SMA. Tadinya Karin ingin menikah setelah lulus kuliah, namun Yudha akan menunggunya terlalu lama dan karena kecelakaan kemarin Karin akhirnya mau untuk menikah dengan Yudha setelah lulus SMA.
Setelah acara resepsinya selesai Yudha dan Karin pulang duluan ke rumah. Saat sudah masuk ke dalam rumah, Yudha menggendong Karin ke dalam kamar.
"Kak, jangan seperti ini. Aku bukan anak kecil," ucap Karin agar Yudha melepaskan dari gendongannya.
Namun sepertinya sia-sia, Yudha tetap menggendong istrinya sampai menuju kamar. Yudha menatap kamar istrinya, kamarnya benar-benar rapi dan bersih bahkan wangi.
Tadi orang tua Yudha sudah menyuruh seseorang mengirimkan pakaiannya. Yudha melihat ada kopernya lalu bergegas langsung membukanya dan mencari pakaian untuk tidur. Sekarang Karin sedang membersihkan riasan yang menempel di wajahnya.
"Sayang, aku mandi dulu ya." Yudha memperhatikan Karin yang sedang duduk di meja riasnya.
"Iya sayang, mandinya cepetan ya! Gantian, tubuhku juga sudah lengket karena kita seharian ada di ballroom."
"Iya sayangku..." Yudha lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Karin tidak menyangka dirinya sekarang sudah menikah dan statusnya kini menjadi seorang istri. Mulai malam ini Karin tidak lagi tidur sendirian karena akan ada laki-laki yang dicintainya tidur bersamanya dan tak lain adalah suaminya sendiri. Saat Karin wajahnya sudah bersih dari makeup. Karin memikirkan tentang sesuatu malam ini.
"Bagaimana kalau Kak Yudha memintaku malam ini? Aku harus menolaknya atau menurutinya?" Batin Karin yang sedang bingung.
Yudha membuka pintu kamar mandi. Seketika Karin lalu membuyarkan lamunannya. Dengan segera Karin bangkit dari tempat duduknya dan akan segera mandi. Saat Karin akan melepaskan gaunnya tiba-tiba resletingnya macet.
"Duh, kenapa harus macet segala sih." Karin menggerutu dalam hati.
Yudha yang melihat Karin sedang kesusahan membuka resleting gaunnya, Yudha lalu berjalan mendekati istrinya.
"Sini sayang biar aku bantu membuka resleting gaunnya."
Seketika Karin mematung mendengar perkataan Yudha.
"Bantu membukanya?? Apa Kak Yudha akan melakukannya sekarang?" Batin Karin dalam hati.
Saat Yudha mau membantu membuka resleting gaunnya Karin berbalik badan.
"Tidak usah Kak, aku malu kalau Kak Yudha yang membantuku membuka gaunnya. Aku akan meminta bantuan sama Mama saja."
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan seperti ini. Kita sudah sah menjadi suami istri. Untuk apa kamu malu terhadapku?"
Perkataan dari mulut Yudha membuat jantung Karin semakin berdebar-debar. Karin tidak menghiraukan perkataan suaminya dan lalu berjalan mendekati pintu kamarnya dengan cepat Yudha berjalan mendahului Karin lalu mengunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya ke segala arah. Tak lupa Yudha sudah mengaktifkan mode kedap suara di kamar Karin. Karin melongo dengan tingkah laku suaminya. Sekarang dirinya sudah tidak bisa keluar dari kamarnya sendiri.
"Kak Yudha apa-apaan sih membuang kunci kamarku sembarangan," ucap Karin kesal saat ini tidak bisa keluar dari kamarnya sendiri.
"Karin berhenti memanggilku dengan sebutan Kakak! Aku ini sekarang suamimu bukan Kakakmu!" ucap Yudha membentak Karin.
Karin terkejut saat Yudha membentaknya, seumur hidup belum pernah ada yang membentaknya. Meskipun orang tuanya sedang memarahi Karin tapi mereka tidak pernah membentaknya.
"Ba-Baik," ucap Karin terbata-bata sambil menundukkan wajahnya.
Bulir bening sudah membasahi pipinya. Yudha sadar akan perkataannya dan tadi sempat membentak Karin. Yudha merutuki dirinya sendiri. Perlahan Yudha mendekati istrinya dan memeluknya.
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku hanya tidak ingin kamu memanggilku Kakak karena sekarang aku sudah menjadi suamimu."
"Iya mas."
Yudha bahagia Karin memanggilnya dengan sebutan mas. Perlahan Yudha melepaskan pelukannya dan wajah Karin yang masih menunduk dengan perlahan Yudha lalu meraih dagu Karin agar menatap wajahnya. Yudha terkejut ternyata Karin menangis saat tadi ia tak sengaja membentaknya. Yudha lalu menghapus air mata Karin.
"Sayang, maafkan aku. Beneran aku tidak ada maksud untuk membentakmu tadi."
"Sayang aku mau mandi dulu," ucap Karin sambil melangkahkan kakinya berjalan menuju ruang ganti, Karin masih berusaha menurunkan resletingnya yang masih macet.
Yudha lalu menyusul dan membantu Karin. Ternyata resletingnya macet karena ada benang yang tersangkut. Yudha segera mencari gunting dilaci sesuai yang Karin perintahkan. Saat resletingnya berhasil diturunkan Yudha menelan salivanya saat melihat punggung Karin yang putih mulus. Karin yang menyadarinya langsung meninggalkan Yudha dan berjalan menuju kamar mandi. Gaun yang Karin pakai lumayan simple, tadi mereka berganti pakaian 3 kali dari akad nikah sampai dengan resepsi. Karin saat ini sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Kak Yudha tadi kenapa sih melihatku seperti itu." lirihnya.
Karin lalu masuk ke dalam bathtub. Didalam kamar mandi Karin tidak menyadarinya bahwa dirinya sudah 30 menit berendam di bathtub.
"Sayang, kenapa kamu lama sekali?" ucap Yudha sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya sayang sebentar lagi selesai."
Karin yang menyadarinya langsung menyudahi mandinya. Segera dirinya membilas tubuhnya.
"Segar sekali rasanya setelah mandi," ucap Karin saat memakai bathrobe.
Karin merutuki dirinya sendiri. Dia lupa membawa pakaian gantinya.
__ADS_1
"Astaga kenapa aku lupa bawa baju tidurku sekalian, kalau aku ke ruang ganti otomatis Kak Yudha akan mengikutiku," ucapnya lirih sambil menepuk jidatnya.
Perlahan Karin membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya saat ini Yudha sudah berada didepannya. Yudha yang mencium aroma vanilla dari tubuh istrinya pun lalu mendekatinya.
"Eh? Mas.. Aku belum ganti baju tidurku. Aku ke ruang ganti dulu ya."
Saat Karin akan menuju ke ruang gantinya tangan kiri Yudha meraih pinggang Karin dan menariknya sehingga mereka saat ini berpelukan. Jadi otomatis Karin sekarang tubuhnya sangat dekat dengan Yudha dan wajahnya sudah bertatapan dengan Yudha. Yudha membenarkan anak rambut Karin dengan tangan kanannya.
"Tidak usah ganti baju sayang, biar bisa langsung saja."
"Maksudnya mas?" Karin belum mengerti perkataan Yudha.
"Kamu lupa sayang malam ini adalah malam pertama kita. Biasanya pengantin baru melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri."
Karin membolakan matanya saat mendengar ucapan Yudha. Sekarang Karin mengerti arah perkataan suaminya itu kemana.
"Eh sayang.. Haruskah malam ini? Kita kan capek seharian habis resepsi."
Yudha tampak kecewa dengan perkataan Karin. Yudha lalu melepaskan pelukannya.
"Ya sudah kalau kamu belum siap sayang. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap," ucap Yudha dengan wajahnya yang sudah ditekuk dan berjalan menuju ke ranjangnya.
Seketika Karin teringat dengan pesan Mamanya harus selalu patuh dan menurut perkataan suami. Karena surga istri ada pada suaminya. Karin yang melihat Yudha tampak kecewa pun memberanikan dirinya untuk menyusul Yudha ke ranjangnya. Karin lalu menggenggam tangan suaminya. Dengan penuh keyakinan Karin akan siap menjalankan tugasnya sebagai istri malam ini.
"Mas, aku sudah siap," ucap Karin yang masih menggenggam tangan Yudha. Karin tidak ingin suaminya kecewa malam ini.
"Benarkah sayang?" ucap Yudha yang lalu melihat wajah cantik istrinya dan kedua tangannya sudah berada dipipi Karin.
Karin mengangguk pelan lalu tersenyum. Yudha menatap mata Karin dan melihatnya tidak ada kebohongan di sana. Yudha lalu tersenyum, saat ini Karin benar-benar siap untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri. Dengan cepat Yudha lalu membaca doa dan memulainya dengan mengecup kening Karin kemudian mencium bibir istrinya untuk pertama kalinya. First kiss mereka akhirnya terlaksana.
"Sayang aku mencintaimu," ucap Yudha sesudah mencium bibir Karin.
"Aku juga mencintaimu suamiku," ucap Karin dengan senyuman, pipinya sekarang sudah merah merona.
First kiss-nya kini telah diambil oleh suaminya sendiri, ada perasaan bahagia Karin telah memberikan first kiss-nya kepada suami yang dicintainya. Setelah itu Yudha lalu mematikan lampu kamarnya dan hanya tersisa lampu tidur yang menyala. Yudha perlahan menarik tali bathrobe yang Karin gunakan.
"Mas, aku malu," ucap Karin lirih tapi masih terdengar di telinga Yudha.
"Tidak usah malu sayang, aku kan suamimu."
__ADS_1
Lalu akhirnya malam ini mereka melaksanakan kewajibannya sebagai mana dilakukan oleh pengantin baru. Mereka kini telah melakukan hubungan suami istri. Yudha bahagia akhirnya bisa memiliki Karin seutuhnya. Yudha melepaskan status perjakanya dengan istrinya begitu juga dengan Karin. Karin menyerahkan mahkota yang telah dijaganya selama 18 tahun ini untuk suaminya. Mereka bahagia akhirnya malam ini telah menjadi suami istri yang sebenarnya. Yudha berharap sebentar lagi akan segera hadir sang buah hati yang sudah dinantikannya.