Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 88 - Kehilangan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah setelah sarapan bersama Yudha akan berangkat ke rumah sakit. Tak lupa Yudha selalu berpamitan dengan ketiga anaknya.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Jangan lupa jangan bukain pintu kalau ada tamu asing."


"Iya Mas."


"Sayangnya Papa. Kalian sehat-sehat ya didalam perut Mama Karin. Empat bulanan lagi kita akan bertemu anak-anak," ucapnya sambil mengelus perut Karin sebentar dan mengecupnya tiga kali seraya berpamitan kepada ketiga anaknya.


"Kamu hati-hati di jalan ya Mas." Kini Karin mengecup punggung tangan suaminya.


"Iya sayang. Kamu juga hati-hati di rumah," ucapnya sambil mendarat kecupannya di kening Karin.


Karin mengangguk dan tersenyum. Setelah suaminya pergi sang Bibi juga izin mau ke supermarket beli sayuran dan beras sudah mau habis. Kini tinggal Karin di rumah sendirian. Setelah pindah ke rumah baru Karin memotong rambut panjangnya karena merasa gerah. Yudha tidak masalah dengan penampilan istrinya.


Karin sekarang berada di ruang keluarga. Karin sedang asyik mengajak ketiga anaknya berbicara. Kata suaminya bayi yang masih didalam kandungan kalau diajak berbicara terus akan baik untuk tumbuh kembangnya.



"Anak-anak Mama kalian sedang apa? Kok menendang terus didalam? Apa kalian bertiga sedang bermain bola ya didalam perut Mama?" ucapnya terkekeh sambil memegang perutnya dengan penuh kasih sayang.


Karin bahagia ketiga anaknya merespon dengan tendangan kecilnya. Karin bersyukur bisa mengandung tiga anak sekaligus. Karin tidak menyangka di umurnya baru saja 19 tahun kini akan segera punya anak.


"Dulu Mama takut sekali untuk hamil nak karena Mama baru masuk kuliah. Tapi sekarang justru Mama menyesal karena pernah menunda kehamilan. Ternyata menjadi ibu hamil sangat menyenangkan apalagi setelah merasakan tendangan dari anak-anak Mama," ucapnya sambil mengelus-elus perutnya.


Karin mengambil cuti selama setahun untuk fokus pada kehamilannya.


"Mama berharap kalian akan selalu tumbuh sehat sampai lahir nanti. Mama dan Papa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kalian nak."


Terdengar suara bel berbunyi beberapa kali. Karin tidak mau membuka pintunya. Tapi sudah lima belas menit lamanya. Karin pun penasaran dengan tamu yang tidak kunjung pergi tersebut. Perlahan Karin berjalan menuju ke ruang tamu. Karin lalu membuka pintunya. Karin terkejut dengan siapa tamu yang datang. Yang tak lain adalah Valeria Fani Xylscarret.


"Mau apalagi kamu ke rumahku?"


"Sabar, biarkan aku masuk dulu agar kita bicaranya lebih enak."


Fani langsung nyelonong masuk dan duduk di sofa. Sedangkan Karin tidak mau duduk, Karin lebih memilih berdiri agar sang tamu segera pergi.


"Apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu selalu mengganggu hidupku?"

__ADS_1


"Di sini sebenarnya kamu yang telah merebut Yudha dariku. Aku yang mengenalnya duluan, tapi kamu sekarang yang jadi istrinya. Kenapa kamu harus hamil segala sih?"


Karin terkejut dengan pertanyaan Fani.


"Wajar saja jika aku hamil karena aku kan sudah menikah dan punya suami. Yang tidak wajar itu jika kamu hamil di luar nikah dan tanpa seorang suami," ucapnya dengan memalingkan wajahnya. Tidak ada cara lain untuk mengusir pelakor yang satu ini.


Fani tidak terima lalu mendorong tubuh Karin sampai perut Karin terbentur ujung sofa. Darah segar lalu mengalir dikakinya.


"Hahaha... Ucapkan selamat tinggal kepada ketiga anakmu itu."


Kini Fani telah pergi meninggalkan ruang tamu dan melakukan mobilnya dengan kencang. Karin meringis merasakan kesakitan di bagian perutnya.


"Auwww...... Perutku sangat sakit sekali," ucapnya sambil memegang perutnya.


Karin matanya terbelalak saat melihat darah segar mengalir dikakinya.


"Astagfirullah... Anak-anakku kalian harus kuat ya. Mama akan menelepon Papa kalian," ucapnya sambil memegang perutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya untuk menelepon Yudha.


Telepon telah tersambung dengan cepat Yudha mengangkat teleponnya.


"Sayang kamu kenapa?"


Panggilannya tiba-tiba terputus. Yudha semakin cemas dengan keadaan istrinya. Baru mau sampai ke rumah sakit Yudha langsung balik lagi ke rumahnya. Kini Yudha khawatir dengan anak dan istrinya.


"Kok perasaanku tidak enak ya? Semoga saja istriku tidak apa-apa." Kini Yudha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke rumah.


Di rumah Karin masih terus menangis. Karin sekarang takut akan kehilangan anak-anaknya. Dari tadi perutnya sudah terasa sangat sakit.


"Arghhh..... Sakit sekali," teriaknya.


Yudha sudah sampai di rumahnya dengan cepat Yudha berlari masuk ke dalam rumahnya. Yudha membolakan matanya saat melihat istrinya terkulai lemas dan sudah ada banyak darah yang mengalir dikakinya.


"Mas... Tolong selamatkan anak-anak kita," ucapnya lalu kini Karin sudah tak sadarkan diri.


"Sayang..........." Kini Yudha sudah berlinang air mata saat melihat kondisi istrinya.


Dengan segera Yudha membopong tubuh istrinya dan langsung memasukkan Karin ke mobilnya.

__ADS_1


"Nak bertahanlah," ucapnya sambil mengecup perut Karin dan mengelusnya pelan.


Yudha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit. Yudha kini takut dengan kondisi istrinya dan juga takut akan kehilangan ketiga anaknya.


Sekarang Yudha sudah sampai di rumah sakit. Karin sudah masuk ke ruang ICU. Sudah hampir setengah jam dokter belum keluar dari ruangan. Yudha kini pikirannya semakin cemas. Yudha sudah menghubungi kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Karin. Namun mereka belum ada yang datang karena sedang dalam perjalanan. Mereka terjebak macet. Dokter lalu keluar dari dalam ruangan.


"Maaf, ketiga bayinya tidak bisa diselamatkan. Istri Tuan sekarang sedang kritis saat ini," ucap sang dokter berbicara dengan hati-hati dengan anak pemilik rumah sakit.


"Kamu kalau kerja yang pecus! Aku tidak mau tahu, anakku harus selamat."


"Maaf, Tuan Muda sekali lagi saya minta maaf... Kita tidak bisa merubah takdir. Tuan harus segera menandatangani surat untuk mengeluarkan bayinya."


"Apa? Istriku benar-benar keguguran?" kini Yudha menangis tersedu-sedu.


"Iya Tuan dan kemungkinan hanya 20% istri Tuan Muda akan bisa hamil lagi," ucapnya sambil menunduk.


"Apa kamu bilang? Apa kamu ingin aku pecat dengan bicara sembarangan?" Kini Yudha sudah mencengkram kuat dokter tersebut.


"Ampun Tuan. Saya hanya berbicara dengan jujur dan apa adanya."


"Yudha, Dokter Toni ada apa ini?" Papa Yudhistira berjalan ke ruang ICU.


"Maaf Tuan besar, ketiga cucu Anda tidak bisa diselamatkan dan Tuan Muda marah-marah dari tadi."


"Apa?" Mama Sabrina terkejut dan langsung pingsan.


"Mama....." Papa Yudhistira kini menggendong istrinya ke ruang rawat dan mempercayakan suster dan dokter Dian untuk menangani istrinya.


Papa Yudhistira lalu berjalan kembali ke ruang ICU. Yudha kini penampilannya sudah acak-acakan rambutnya yang tadinya rapi dan klimis kini menjadi kusut.


"Nak, kamu yang sabar ya." Papa Yudhistira menepuk pundak anaknya.


"Papa, Karin sedang kritis sekarang. Aku takut terjadi apa-apa dengan istriku. Aku takut akan kehilangannya seperti aku sudah kehilangan ketiga anakku." Air matanya kini masih mengalir dengan deras membasahi pipinya.


"Nak, mudah-mudahan Karin tidak apa-apa." Papa Yudhistira juga sangat terpukul mendengar bahwa cucunya tidak selamat.


Yudha sudah menandatangani surat untuk mengeluarkan anaknya dari rahim istrinya. Yudha kini sangat terpukul atas kejadian ini. Mereka kemarin bahagia saat ketiga anaknya bisa menendang-nendang didalam perut Karin dan baru kemarin mereka bahagia saat mengetahui jenis kelamin ketiga anaknya kini ketiga anak mereka sudah tiada menghadap ke sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2