
Setelah beli ice cream mereka lalu pulang dan berpisah masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Setelah mobil Yudha keluar dari parkiran mall. Yudha jadi ingin berbicara serius dengan Karin.
"Sayang....."
"Hmm iya."
"Aku ingin berbicara tentang masa depan. Bagaimana kalau kita membatalkan pertunangan kita?"
"Apa kamu bilang? Apa aku tidak salah dengar? Sudah sejauh ini hubungan kita dan kamu ingin berpisah dariku? Kak Yudha bahkan kita ada rencana mau menikah loh setelah kita bertunangan dan kedua orang tuamu sudah setuju mengenai hal ini. Aku kecewa sama kamu."
"Sayang bukan seperti itu maksud Kakak."
"Terus maksud Kakak apa? Kak Yudha punya cewek lain? Selain Karin gitu? Maka dari itu Kak Yudha tidak ingin bertunangan denganku kan? Baiklah kalau Kak Yudha hanya diam saja kita batal berangkat ke Korea. Cukup sampai disini dan jangan pernah menemuiku lagi," ucap Karin yang sudah mulai emosi.
"Deg................"
"Sayang dengarkan dulu penjelasan Kakak."
"Gak usah panggil aku dengan sebutan sayang lagi. Kamu sudah berniat untuk membatalkan pertunangan kita. Turunkan aku disini. Berhentikan mobilnya Pak Dokter yang terhormat!" ucapnya dengan nada yang tinggi sudah naik satu oktaf.
"Duh, kok Karin jadi galak sih? Eh tapi ini salahku juga sih tadi bilang seperti itu dan bikin Karin jadi salah paham." batin Yudha
Yudha langsung memberhentikan mobilnya dan lalu menatap ke arah Karin. Tapi Karin pandangannya hanya lurus ke depan.
__ADS_1
"Astagfirullah sayang kamu salah paham. Aku ingin kita menikah saja dan gak usah pakai acara pertunangan. Karena setelah melihat kemesraan Rey dan Risa tadi aku ingin segera menghalalkanmu secepatnya, agar kita bisa pacaran setelah menikah. Hanya itu saja sayang, bukan seperti yang kamu tuduhkan tadi. Aku juga tidak punya wanita lain selain kamu sayang. Hanya kamu yang bisa memporak-porandakan hatiku dan hanya denganmulah jantungku berdegup dengan kencang tak beraturan," ucap Yudha lega setelah mengeluarkan unek-uneknya.
Karin pun terkejut dan terdiam sejenak mendengar ucapan Yudha. Ternyata dugaannya salah dan bahkan mengira Yudha punya wanita idaman lain.
"Sayang maafkan aku sudah salah paham sama kamu," ucapnya sambil menoleh ke kanan dan lalu menatap ke arah Yudha.
Yudha sebenarnya ingin memeluk Karin saat ini tapi di urungkan niatnya.
"Sabar Yudha sabar... Nanti setelah sah kamu bebas peluk dia setiap saat." batin Yudha.
"Tidak apa-apa sayang karena aku tadi juga mengejutkanmu dengan tiba-tiba bicara seperti itu. Bagaimana kamu setuju atau tidak kalau kita langsung menikah saja?" ucapnya dengan senyuman.
"Aku tidak setuju. Kita fokus ke tahap awal, kita bertunangan dulu saja sayang. Lagian aku belum siap sayang kalau harus nikah muda. Aku ingin kuliah juga. Aku juga bahkan belum pintar memasak dan mengurus kegiatan rumah kalau aku menikah denganmu."
"Sayang aku itu cari istri bukan cari asisten rumah tangga. Jadi kamu gak usah khawatir dan kamu gak usah melakukan semua hal itu. Kamu cukup shopping sama Mama dan duduk manis sambil menunggu suamimu pulang kerja."
"Gak mau, aku tidak ingin menghambur-hamburkan uang yang suamiku dapatkan dari hasil kerja kerasnya. Sebaiknya uangnya ditabung untuk masa depan. Dan sebagai seorang istri nantinya aku ingin suamiku makan masakanku. Aku merasa menjadi istri yang tidak berguna saja kalau tidak bisa masak untuk suamiku."
"Sayang kamu jangan berbicara seperti itu. Ya sudah kamu boleh masak nanti tapi sesekali saja ya. Kan di rumah ada Bibi dan Mama yang masak."
Mama Sabrina memang kalau makan malam dia selalu yang masak untuk suami dan anaknya. Mama Sabrina juga ingin menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk keluarganya. Meskipun Papa Yudhistira melarang istrinya untuk masak tapi Mama Sabrina tetap ingin memasak dan akhirnya Papa Yudhistira mengizinkannya.
"Gimana sayang mau ya setelah kamu lulus SMA kita menikah? Aku gak akan ngelarang kamu kok untuk kuliah setelah kita menikah. Bahkan aku sangat mendukung kamu untuk kuliah karena anak-anaku nanti akan bahagia mempunyai seorang ibu yang cantik dan cerdas."
__ADS_1
"Anak-anak? Bahkan Kak Yudha menginginkan lebih dari satu anak dariku." batin Karin bergerdik ngeri membayangkan melahirkan lebih dari satu kali.
"Aku belum siap untuk menikah muda sayang dan kamu jangan paksa aku. Jangan bahas mengenai pernikahan. Kita fokus saja dengan rencana pertunangan kita."
Yudha lalu hanya diam saja tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Yudha kecewa Karin tidak mau di ajak menikah saat sudah lulus SMA nanti. Sekarang Yudha fokus mengemudi mobilnya untuk mengantarkan Karin pulang.
"Kak Yudha kenapa jadi diam saja. Apa Kak Yudha marah kepadaku?" batin Karin.
Saat sudah sampai di halaman rumah, Yudha seperti biasa membukakan pintu untuk Karin.
"Terima kasih Kak."
Yudha hanya mengangguk pelan dan lalu masuk ke mobilnya. Yudha dengan cepat melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Keluarga Alexander.
"Kak Yudha sepertinya kecewa karena aku menolaknya untuk menikah saat aku sudah lulus SMA. Tapi mau gimana lagi aku juga tidak ingin menikah muda apalagi menjadi ibu muda di umurku yang baru 18 tahun ini. Semoga saja Kak Yudha mau mengerti keputusanku." lirih Karin saat sudah melihat mobil Yudha keluar dari halaman rumah.
Karin lalu masuk rumah dan ingin segera istirahat karena capek. Padahal hanya jalan-jalan saja tapi dia merasa capek. Sedangkan Yudha saat ini melajukan mobilnya dengan kencang pikirannya tidak fokus saat ini karena Karin tadi yang menolaknya menikah dan tetap kekeh untuk bertunangan terlebih dahulu. Tanpa sadar sebuah truk melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan. Yudha kaget, karena tidak ingin bertabrakan dengan truk akhirnya Yudha membelokkan mobilnya ke kiri dan akhirnya mobilnya menabrak sebuah pohon.
"BRAKKK......................." Suara mobil Yudha dengan keras menabrak sebuah pohon. Yudha kepalanya mulai mengeluarkan darah.
"Karin aku mencintaimu..........." lirihnya. Beberapa menit kemudian Yudha sudah tidak sadarkan diri.
Di rumah Karin tidak bisa tidur dari tadi padahal Karin tadi mengantuk, seketika perasaannya cemas. Karin menuju ke dapur untuk minum air putih. Namun setelah minum sepertiga gelas hpnya berbunyi. Karin mengangkat teleponnya dan kaget mendengar Yudha mengalami kecelakaan. Karin tak sadar bahwa gelasnya yang dia genggam tadi seketika terjatuh pecah berhamburan di lantai dan ada pecahan gelas yang mengenai kakinya.
__ADS_1