Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 116 - Tujuh Bulanan


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan saat ini usia kandungan Karin sudah menginjak 7 bulan. Karin dan Yudha melakukan tasyakuran kehamilannya dengan acara kecil-kecilan di rumah baru Yudha. Mulai dari acara pengajian yang diselenggarakan kemarin sore dan tibalah saat ini ada acara mitoni adat jawa. Karena Kakeknya Karin juga masih ada keturunan jawa. Jadi tradisi Jawa tidak boleh dihilangkan meskipun Karin blasteran Korea dan Indonesia (Jawa). Kakeknya masih keturunan Jawa karena Ayah dari Kakeknya adalah orang Rusia sedangkan Ibunya orang Jawa. Kalau Neneknya blasteran Korea dan Indonesia. Yang asli orang Korea hanya Mama Chintya kalau Papa Keynan orang Indonesia. Acara tujuh bulanan ini bertujuan untuk kelancaran persalinan.


Karin sedang duduk di sofa kamarnya.


"Sayang, kamu cantik sekali hari ini." Duduk di samping istrinya.


"Kamu juga tampan sayang," ucapnya sambil tersenyum.


Yudha lalu wajahnya sekarang tepat berada di perut Karin dan berbicara dengan anaknya yang masih dalam kandungan istrinya. Karin mengelus rambut suaminya.


"Nak, tak terasa kita dua bulan lagi akan bertemu. Papa sudah tidak sabar ingin bertemu kamu nak," ucapnya sambil mengecup perut Karin dan lalu mengusap pelan.


Risa lalu masuk nyelonong saja ke kamar Yudha dan Karin.


"Kalian mesra-mesranya nanti saja. Acara sudah mau di mulai."


"Kak Risa kok gak ketuk pintu terlebih dahulu."


"Kalian ini.. Pintu dari tadi sudah terbuka dengan lebar jadi aku masuk saja ke kamar kalian."


Semburat merah muda terlihat dipipi Karin. Kini dirinya malu dengan sepupunya. Sedangkan Yudha hanya biasa saja ekspresinya.


"Sudahlah, kalian cepat turun. Sudah banyak tamu undangan yang datang menunggu kalian."


"Iya, kita akan segera turun Risa," ucap Yudha.

__ADS_1


Risa sudah pergi dari kamar sepupunya sambil geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian Yudha menuntun istrinya untuk turun ke bawah.


Saat ini kedua orang tua Karin maupun Yudha sudah memakai pakaian adat jawa. Karin sekarang memakai jarik dan berbagai bunga melati yang menempel di kepalanya dan tubuhnya. Mereka memulai 7 bulanan tradisi jawa dengan tradisi yang namanya tingkepan. Acara tingkepan dimulai dari sungkeman. Calon ayah dan calon ibu harus melakukan sungkeman kepada orang tua masing-masing untuk meminta doa restu agar proses kehamilan dan kelahiran sang calon ibu berjalan dengan lancar dan selamat.


Setelah itu tibalah acara selanjutnya yaitu proses siraman. Karin duduk di kursi plastik dan lalu diguyur dengan air yang berasal dari 7 sumber dan bunga 7 rupa oleh orang seperti suami, orang tua calon ibu, orang tua calon ayah dan sepupu lainnya. Setelah prosesi adat jawa siraman, lalu lanjut ke acara prosesi menjatuhkan telur ayam mentah dari dalam kemben, tugas ini hanya bisa dilakukan oleh Yudha sang calon ayah, tradisi jawa ini bertujuan agar sang bayi yang akan dilahirkan dapat dengan mudah proses persalinannya dan tanpa ada halangan satu apapun. Acara selanjutnya Yudha harus memutuskan benang lawe atau janur yang dililitkan ke perut Karin, hal ini merupakan sebagai simbol memutus ari-ari bayinya nanti saat lahir ke dunia.


Acara tradisi jawa yang selanjutnya yaitu brojolan. Dimana Karin akan dipakaikan sarung dan yang masing-masing dipegang ujungnya oleh masing-masing calon Kakek di samping kiri ada Papa Yudhistira dan di kanan ada Papa Keynan. Yudha kemudian memasukkan satu kelapa gading muda dari atas dan akan diterima oleh Mama Chintya (calon Nenek dari pihak calon ibu) hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Setelah itu diikuti dengan kelapa gading muda kedua dan diterima oleh Mama Sabrina (calon Nenek dari pihak calon ayah). Mama Sabrina menerima kelapa tersebut sambil membawanya dengan selendang dan kemudian menggendong kelapa tersebut seperti menggendong seorang bayi dan membawanya ke kamar seperti menidurkan seorang bayi.


Setelah itu gantj ke acara selanjutnya yaitu ganti busana atau yang biasa disebut acara pantes-pantes. Karin berganti pakaian hingga sebanyak tujuh kali. Saat menggunakan pakaian ke enam para tamu undangan akan bilang 'belum pantas' dan disaat Karin memakai pakaiannya yang ke tujuh dan para tamu undangan harus sudah menjawab 'sudah pantas'. Lalu kain-kain yang dipakaikan tadi setelah ganti dengan kain berikutnya akan diletakkan di bawah kaki Karin. Sehingga lama-lama pakaian tersebut akan menumpuk melingkari Karin. Setelah selesai dengan pakaian yang ke tujuh Yudha membantu mendudukan Karin di atas tumpukan pakaian kain tersebut sehingga Karin sekarang seperti ayam yang sedang mengerami telurnya, tradisi jawa ini melambangkan bahwa sang ibu akan menjaga dan memelihara calon bayi yang ada di dalam kandungannya dengan penuh kasih sayang.


Acara selanjutnya Yudha menyuapi Karin dengan tumpeng dan bubur merah putih, tradisi ini memiliki arti yang sama artinya dengan kasih sayang seorang suami kepada istrinya yang sedang mengandung anaknya. Yudha tersenyum saat menyuapi Karin dengan acara tradisi Jawa seperti ini. Yudha jadi tambah pengetahuannya tentang tradisi Jawa yang sudah turun-temurun dilakukan oleh keluarga istrinya.


"Sayang akhirnya kita merasakan tradisi adat jawa tujuh bulanan kehamilan kamu. Waktu kamu hamil Keifano dan Keisha kita masih berada di Korea jadi hanya acara kecil-kecilan dan tidak ada acara seperti ini."


Saat Karin hamil pertama kali Karin keguguran, 3 anaknya meninggal dunia disaat kandungannya baru berusia 5 bulan. Saat Karin hamil yang kedua Karin sedang kuliah di Korea jadi tidak bisa melaksanakan tradisi adat jawa ini. Baru kehamilannya yang ketiga Karin bisa merasakan tradisi tujuh bulanan dengan adat jawa.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tibalah saatnya ke acara yang terakhir yaitu prosesi jualan cendol dan rujak oleh Karin dan Yudha. Yudha membawa payung untuk memayungi Karin saat sedang berjualan cendol. Yudha yang menerima uang hasil dari jualannya tersebut dan dimasukkan ke dalam wadah dan Karin yang akan melayani para pembeli.


Setelah itu Karin juga harus membuat rujaknya sendiri. Sedangkan rujak yang dibuat adalah rujak serut. Karin harus yang membuatnya sendiri dan dengan didampingi oleh Yudha. Rujak serut yang dibuat dari 7 macam aneka buah. Karin harus meracik sendiri bumbu rujaknya itu sendiri tidak dengan bantuan suaminya. Apabila bumbu rujaknya enak berarti anaknya akan lahir perempuan sedangkan jika bumbu rujaknya rasanya kurang enak berarti anaknya yang akan lahir adalah laki-laki.


Rujak serut buatan Karin rasanya kurang enak dan memang benar Yudha sudah tahu jenis kelamin bayi anaknya sesuai dengan tradisi Jawa tersebut. Meskipun Karin tidak mau untuk mengetahuinya karena ingin surprise nanti saat melahirkan. Sementara para tamu undangan sedang akan antri membeli rujak serutnya dengan uang pecahan zaman dahulu yang terbuat dari tanah liat. Prosesi ini bermaksud agar sang anak yang akan dilahirkan nanti akan mendapat rezeki yang berlimpah. Prosesi tujuh bulanan tradisi jawa lumayan cukup lama. Acara berlangsung lancar dan tanpa halangan satu apapun. Karin dan Yudha mengucapkan banyak terima kasih kepada para saudara, teman dan sahabat beserta para tamu undangan lainnya yang telah datang di acara tujuh bulanan kehamilan Karin.


"Sayang, akhirnya selesai juga acara tujuh bulanannya."


"Iya Mas Alhamdulillah ya..."

__ADS_1


"Eh bro selamat ya. Sudah mau punya anak lagi nih. Semoga lancar sampai melahirkan." Dokter Rio sahabat mengucapkan selamat kepada Yudha dan Karin.


"Aamiin............"


"Kamu makanya buruan nikahin Dokter Siska biar bisa seperti aku. Iya gak sayang?"


"Hmm iya." Jawabnya singkat.


Dokter Siska tidak bisa datang di acara tujuh bulanan Karin. Karena Papanya sedang sakit.


"Kita sudah bertunangan kok bro."


"Alhamdulillah........"


Yudha bahagia sahabatnya itu serius menjalin hubungan dengan Dokter Siska.


Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and gift biar author tambah semangat 🆙


tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂


Gift dari kalian sangat membantu author untuk naik peringkat rangking 😊


Terima kasih yang sudah kasih gift author 💙


__ADS_1


__ADS_2