Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 62 - Senyumanmu Mengalihkan Duniaku


__ADS_3

Setelah sholat subuh berjamaah Yudha dan Karin kembali terlelap dalam mimpi. Pagi hari suara ayam berkokok terdengar di telinga Yudha. Perlahan Yudha mulai mengerjapkan matanya. Langsung saja Yudha bergegas ke kamar mandi. Saat sudah kembali dari kamar mandi Yudha melihat sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya. Yudha kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang king size tersebut.


"Maaf sayang, aku telah membuatmu lelah," ucap Yudha sambil memandangi wajah cantik istrinya.


Yudha kemudian membelai wajah Karin dan merapikan anak rambutnya yang menutupi wajah cantik istrinya. Karin yang masih terlelap dalam mimpi seketika Karin merasakan tidurnya terusik. Siapa lagi yang menggangu tidurnya kalau bukan dokter tampan yang baru saja sah 2 hari yang lalu menyandang status sebagai suaminya. Karin mulai mengerjapkan matanya. Yudha tersenyum kemudian wajahnya mendekati istrinya.


"Morning kiss," ucap Yudha sambil mengecup pipi Karin.


"Sayang, kok pagi-pagi udah ngagetin aku sih?"


"Karena kita harus sarapan sayang. Tenaga kita terkuras habis semalam."


Karin melongo mendengar perkataan suaminya dan langsung saja Karin bangun segera menuju ke kamar mandi. Pintu di luar diketuk oleh Bibi.


"Den, Non. Waktunya sarapan pagi."


Yudha berjalan dan membuka pintu kamarnya.


"Iya Bi. Karin lagi di kamar mandi, bilangin ke Mama dan Papa ya Bi kalau bentar lagi kita akan turun ke bawah untuk sarapan bersama"


"Baik Den." Bibi langsung menuju ke ruang makan memberitahu ke Tuan dan Nyonya.


Di ruang makan Papa Yudhistira menggerutu.


"Ma, lihatlah anak kita belum juga terlihat batang hidungnya. Ini padahal sudah jam berapa."


"Sabar Papa. Mungkin sebentar lagi mereka datang. Lagian ini baru jam setengah delapan."


"Yudha ini tidak kasihan apa sama istrinya yang masih kecil dan baru saja lulus SMA." Gerutu Papa Yudhistira.


"Biarin saja Papa, mungkin sebentar lagi kita akan segera punya cucu dari mereka," ucapnya sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya.


Tak lama kemudian Yudha dan Karin keluar dari kakamarnya dan segera untuk duduk di ruang makan. Karin mengambilkan sarapan untuk suaminya. Yudha bahagia akhirnya bisa disiapkan sarapan juga dengan Karin di rumahnya sendiri.


"Ternyata enak sekali ya punya istri. Apa-apa selalu disiapkan. Tidak hanya baju saja tapi juga makanan." Batin Yudha sambil tersenyum melihat istrinya yang sedang mengambilkan makanan untuknya.


Mereka akhirnya sarapan pagi bersama. Suasana di ruang makan saat ini hening, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di ruang makan. Setelah selesai makan bersama Papa Yudhistira akhirnya akan membuka pembicaraan duluan.


"Nak, kamu jangan membuat menantuku terlalu kelelahan. Dia masih terlalu muda nak."


Yudha mengangguk pelan dan mengerti ucapan Papanya. Sedangkan Karin tersedak, disuapan terakhirnya dirinya terkejut mendengarkan ucapan Papa mertuanya seperti itu. Yudha yang berada disebelahnya langsung menyodorkan segelas air minum.

__ADS_1


"Sayang, makannya pelan-pelan."


"Papa ini, menantu kita belum selesai makan sudah membuka pembicaraan saja," ucap Mama Sabrina kesal karena menantunya jadi tersedak.


"Yudha mengerti Papa apa yang harus Yudha lakukan. Papa tenang saja, Yudha tidak akan membuat menantu kesayangan Papa ini kelelahan," ucapnya dengan senyuman.


"Apa mukaku terlihat pucat? Kok Papa bilang aku kelelahan." Batin Karin.


"Baguslah kalau begitu."


Mereka lalu menyudahi sarapan pagi bersama. Yudha akan mengajak Karin ke taman belakang rumah untuk menghirup udara pagi yang segar.


"Sayang, aku ada kejutan buat kamu," ucapnya berbisik di telinga Karin.


"Kejutan apa sayang?" Karin sedang memikirkan sesuatu yang Yudha akan berikan untuknya.


"Ayo ikut aku saja. Kamu pasti suka dengan kejutan dariku," ucap Yudha sambil menggenggam tangan Karin menuju ke taman belakang rumahnya.


Karin pemandangannya mengarah ke beberapa tanaman bunga mawar yang masih baru di tanam.


"Mas, kamu yang menanam bunga mawar ini semuanya?"


"Iya sayang, karena kamu suka sekali sama bunga mawar akhirnya aku berinisiatif untuk menanam bunga mawar di taman ini. Semuanya aku sudah persiapkan sebelum kita menikah."


"Mungkin beberapa bulan lagi baru akan berbunga sayang. Bagaimana apakah kamu senang dengan kejutanku?"


"Iya sayang aku sangat bahagia kamu menanam bunga mawar sebanyak ini untukku."


Yudha lega akhirnya istrinya bahagia dengan kejutannya.


"Aku akan selalu membuatmu bahagia sayang. Akhirnya kita bisa pacaran setelah menikah," ucap Yudha sambil memeluk Karin mengusap rambut panjang istrinya dengan lembut.


"Rey, sekarang bukan kamu saja yang bisa bermesraan dengan Risa. Tapi aku juga bisa bermesraan dengan istriku." Batin Yudha.


Karin bahagia mendengar ucapan Yudha. Ternyata Yudha sangat romantis sesuai dengan laki-laki idamannya.


...*****...


Pagi hari setelah sarapan pagi Karin dan Yudha berangkat menuju ke Bandung untuk berbulan madu. Dion dan Alya yang memberikan voucher selama 3 hari berbulan madu di Bandung. Yudha bahagia adik kelasnya bersama suaminya itu ternyata orang baik. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan. Akhirnya mereka sampai di Bandung. Untung saja Yudha masih ada cuti. Karena dirinya hanya cuti seminggu.


Karin merentangkan kedua tangannya sambil matanya terpejam, menikmati angin sepoi-sepoi di kota resort tersebut. Yudha berjalan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. Yudha melingkarkan tangannya ke perut istrinya.

__ADS_1


"Mas mengagetkanku saja."


"Sayang, maaf kalau aku telah mengagetkanmu. Biarkan seperti ini sejenak saja," ucapnya sambil meletakkan dagunya di bahu Karin.


Karin mengangguk pelan. Yudha tersenyum senang dan mereka lalu menikmati angin sepoi-sepoi bersama di resort.


Malam telah tiba suara hujan deras terdengar di luar sana. Karin dan Yudha untung saja tadi sudah makan malam bersama. Malam semakin mencekam dan suasana menjadi semakin dingin.


"Sayang ayo waktunya kita tidur," ucapnya sambil mengedipkan mata.


"Mas, biarkan aku istirahat sejenak malam ini ya? Kita habis perjalanan jauh tadi, aku masih lelah."


"Hmm baiklah sayang. Aku juga tidak akan memaksamu. Aku tadi hanya bercanda saja."


Karin bahagia akhirnya dirinya bisa istirahat sejenak. Karena sudah dua malam mereka selalu begadang. Mereka akhirnya terlelap bersama, Karin tertidur di lengan kekar suaminya. Yudha bahagia bisa tidur berdekatan seperti ini dengan istri tercintanya.


Pagi hari mereka sudah sarapan bersama. Karin berjalan menikmati udara pagi yang segar.


"Sayang......" Karin menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya.


"Aku dari tadi mencarimu dan ternyata kamu di sini. Kenapa kamu tidak mengajakku sih sayang kalau mau menikmati udara pagi hari."


"Habis Mas dari tadi mainan hp mulu," ucap Karin protes tidak mau disalahkan."


"Kamu ini sudah bisa protes ya sama suami," ucapnya sambil mengacak-acak rambut istrinya.


"Mas, kenapa rambutku kamu acak-acak?"


"Hahaha, kamu makin cantik sayang."


Karin hanya tersenyum tipis. Mereka lalu menikmati keindahan pemandangan indah di kota Bandung.


"Mas, aku belum pernah masak untukmu."


"Tidak apa-apa sayang. Kamu gak perlu repot-repot masakin aku."


"Tapi nanti kalau aku masakin kamu. Kamu mau untuk memakannya ya sayang?"


"Siap istriku. Apapun nanti yang kamu masak pasti akan aku makan," ucapnya sambil tersenyum.


"Senyumanmu manis sekali sih Mas. Senyumanmu mengalihkan duniaku. Aku tidak menyangka bisa jatuh dalam pesona dokter tampan sepertimu." Batin Karin.

__ADS_1


Karin tersenyum meskipun dirinya belum pandai memasak namun akan berusaha untuk terus belajar agar bisa memasak untuk suaminya dan kelak untuk anak-anaknya juga. Karin ingin menjadi istri dan sekaligus ibu yang baik untuk keluarga kecilnya.


__ADS_2