
Karin bingung sekarang tidak sedang ngapa-ngapain setelah pulang dari rumah sakit mengecek kandungannya. Seketika Karin ingin membuat brownies coklat. Karin segera turun dari kamarnya dan menuju dapur.
"Nona, Tuan melarang Nona untuk memasak."
"Aku hanya ingin membuat brownies saja Bibi. Ini juga karena keinginan anak-anakku."
Bibi ke bicara kalau majikannya sedang ngidam sang Bibi tidak berani untuk melarangnya.
"Baik Nona. Kalau begitu Bibi ke taman belakang dulu mau nyapu."
"Iya Bibi."
Bibi telah pergi ke taman belakang. Sekarang Karin sedang berkutat dengan alat masaknya. Beberapa puluh menit kemudian sudah jadi brownies coklatnya.
"Akhirnya jadi juga brownies coklatnya. Kalian sabar ya anak-anak Mama. Setelah browniesnya agak dingin baru akan Mama makan," ucapnya sambil memegang perutnya sebentar.
Meskipun Karin sedang hamil 4 bulan lebih 3 minggu tapi pinggangnya sudah sering merasakan pegal-pegal. Mungkin karena sedang mengandung 3 anak sekaligus.
Hari ini Fani berencana akan menemui Karin. Pukul sebelas pagi Fani datang ke rumah baru Yudha. Fani memakai kacamata hitamnya. Fani tersenyum saat sudah mengetahui Yudha pindah ke rumah barunya.
"Tante Sabrina, meskipun Tante tidak memberi aku informasi tentang rumah baru Yudha. Tapi kini aku telah berhasil menemukan rumahnya," ucapnya sambil membenarkan kacamata hitamnya.
Fani turun dari mobilnya dan langsung berjalan ke arah rumah Yudha. Fani menekan bel pintu di rumahnya. Karin berjalan pelan-pelan sambil tangan kirinya memegang perutnya.
"Siapa yang bertamu jam segini ya?" Karin penasaran dan ingin membukanya langsung.
Setelah membuka pintunya Karin bingung dengan siapa wanita yang ada di hadapannya karena menggunakan masker dan kacamata hitam.
"Cari siapa ya?" tanyanya.
"Masa kamu tidak ingat Karin sama aku?" ucapnya sambil melepaskan masker dan kacamatanya.
Karin terkejut dengan siapa tamu yang datang. Ternyata pelakor yang dulu pernah datang ke rumah mertuanya.
"Mau apa kamu kesini?"
"Hei tidak sopan. Tamu itu disuruh masuk dulu baru diajak untuk ngobrol."
Belum mempersilakan masuk, Fani sudah main nyelonong saja duduk di ruang tamu.
"Aku belum mempersilakan kamu masuk. Kamu ini gak sopan sekali bertamu di rumah orang," ucap Karin kesal.
"Ini rumah Yudha dan sebentar lagi akan menjadi rumahku juga."
"Maksud kamu apa?" Karin kini semakin kesal dengan Fani.
__ADS_1
"Anakmu ini akan punya ibu tiri," ucapnya sambil memegang perut Karin.
Dengan segera Karin menepis tangan Fani dari perutnya.
"Sebentar lagi Yudha pasti akan menikahi aku," ucapnya kembali yang membikin hati Karin semakin panas.
"Kamu ini cintanya sudah ditolak sama suamiku dan masih mau mengejarnya? Seperti tidak ada laki-laki yang mau menerima dirimu saja."
"Apa katamu? Hei, seharusnya kamu yang ngaca. Kamu tidak pantas bersanding dengan Yudha. Kamu pasti pakai ilmu pelet kan agar Yudha terpikat sama kamu?"
"PLAK.................." Karin menampar wajah Fani dengan cepat.
"Jaga ya omongan kamu. Yudha itu cintanya cuma sama aku dan sudah menutup hatinya untuk wanita lain."
"Kamu kurang ajar berani-beraninya menampar wajahku." Sambil memegang pipinya yang masih terasa panas karena Karin menamparnya terlalu keras.
"Karena bicaramu kurang sopan. Untuk apa pendidikan tinggi sampai S3 kalau tingkah dan perilakunya tidak sopan. Katanya kamu seorang dosen, seharusnya tahu bagaimana berperilaku yang sopan dan santun."
"Kurang ajar, wanita ini telah merendahkan aku." Batin Fani.
"Kalau tujuan kamu hanya bikin rusuh saja, lebih baik kamu pulang saja!"
"Apa? Kamu berani untuk mengusirku."
"Iya ini rumahku dan suamiku. Aku berhak untuk mengusir tamu yang tidak sopan seperti dirimu."
"Ingatlah aku akan kembali dan membikin perhitungan sama kamu," ucapnya sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Silakan pergi,. pintunya sudah terbuka lebar."
Fani mendengus kesal dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu setelah mengancam Karin. Nanti Karin akan bercerita sama suaminya kalau si pelakor sudah tahu rumah barunya.
Sore hari Yudha telah pulang dari rumah sakit. Yudha begitu rindu dengan istri dan ketiga calon anaknya. Karin membukakan pintu untuk suaminya.
"Assalamualaikum sayang."
"Wa'alaikum Salam Mas," ucapnya sambil mengecup punggung tangan suaminya.
Karin istri yang patuh terhadap suaminya jadi selalu menyambut kepulangan Yudha kalau dirinya tidak ketiduran di kamarnya.
"Mas, aku tadi bikin brownies coklat."
"Sayang, aku kan sudah bilang kamu jangan masak. Aku takut kamu kecapekan sayang."
"Tidak kok Mas dan karena anak-anak sedang ingin memakan brownies buatan aku."
__ADS_1
"Oh kamu lagi ngidam ya sayang? Wah anak-anak Papa sedang ingin makan brownies ya?" ucapnya sambil mengelus perut Karin pelan.
"Iya Mas. Aku ingin makan brownies coklatnya bareng sama kamu."
"Yuk sayang kita segera makan brownies coklatnya, nanti kalau ditunda-tunda memakannya bisa-bisa anak kita ileran."
"Iya Mas, maka dari itu aku tidak mau kalau sampai anak kita ileran."
Mereka lalu duduk di ruang makan. Yudha dan Karin saling menyuapi satu sama lain. Mereka bahagia bisa makan brownies coklatnya bersama. Bibi yang melihat Nona dan Tuannya semakin mesra pun bahagia. Tak lupa Karin juga memberikan brownies buatannya kepada Bibi. Bibi bersyukur bisa punya majikan sebaik Karin yang menganggapnya tidak hanya sebagai asisten rumah tangganya tapi juga sudah seperti keluarga.
Setelah ngemil brownies mereka makan bersama.
"Sayang, aku makannya sedikit saja ya. Sudah kebanyakan makan brownies tadi."
"Hmm iya Mas."
Sebenarnya Yudha bisa mengambil sendiri makanannya namun Karin melarangnya karena ini merupakan tugasnya sebagai seorang istri. Yudha hanya pasrah saja kalau Karin sudah berbicara seperti itu. Mereka lalu makan bersama.
"Sayang, kamu kebiasaan deh makannya belepotan. Sudah mau menjadi ibu makannya masih belepotan hehehe," ucapnya terkekeh sambil mengambil nasi yang menempel di ujung bibir Karin.
"Mas, jangan meledekku ya!" Dengan tatapan tajamnya.
"Hmm... Iya sayang, tidak akan lagi."
Mereka sudah selesai makan bersama dan sekarang sudah berada di kamarnya. Yudha kini sedang mandi. Karin tadi sudah mandi jadi sekarang bersantai duduk di sofa. Karin akan menceritakan semuanya kepada Yudha. Setelah Yudha sudah selesai mandi dan memakai pakaiannya kini Yudha menghampiri istrinya dan duduk disampingnya.
"Sayang, apa yang sedang mengganggu pikiran kamu?"
"Fani teman kamu."
"Fani? Ada apa dengan dia?" tanyanya penasaran.
"Tadi dia datang ke rumah kita Mas dan ingin dinikahi oleh kamu."
Karin lalu menceritakan semuanya dan ancaman Fani kepadanya. Yudha terkejut mendengar cerita dari istrinya.
"Sayang, percayalah padaku. Aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup dan hanya dengan kamu saja."
"Mungkin Fani hanya terobsesi ingin memiliki aku. Kamu harus hati-hati sama dia ya sayang. Aku takut bila dia berbuat macam-macam sama kamu. Lebih baik kalau ada tamu jangan kamu buka pintunya."
"Iya Mas, aku akan lebih berhati-hati lagi sama si ulat bulu itu."
"Lucu sayang kamu bilang Fani ulat bulu," ucapnya terkekeh.
"Pelakor seperti dia tidak pantas disebut sebagai wanita."
__ADS_1
Mereka lalu tertawa bersama. Karin akan menuruti keinginan suaminya agar lebih berhati-hati terhadap Fani.