Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 36 - Kabar Bahagia


__ADS_3

Setelah sholat subuh di mushola rumah sakit Karin sudah dijemput oleh sopirnya. Karin lalu berpamitan pulang dengan calon mertuanya.


"Pa, Karin pulang dulu ya. Nanti sore Karin akan kesini lagi."


"Iya nak, hati-hati ya."


"Iya Pa."


Karin lalu berjalan keluar kamar rawat inap Yudha. Mama Sabrina sudah sadar namun masih tetap di ruangan perawatan. Dia masih di infus, tak lama kemudian Papa Yudhistira ke ruang rawat istrinya.


"Mama makan dulu ya."


"Enggak Papa. Mama mau ke ruangan Yudha. Mama ingin melihat anak Mama."


"Mama harus makan terlebih dahulu. Nanti kalau Mama tidak makan, Mama akan sakit jika tidak makan sama sekali. Dari semalam Mama belum makan."


"Iya Pa. Ya udah Mama mau makan."


Papa Yudhistira lalu tersenyum dan mulai menyuapi istrinya. Papa Yudhistira akan menceritakan semuanya nanti di ruang rawat Yudha. Setelah selesai sarapan Papa Yudhistira mengambilkan air putih untuk istrinya.


"Papa sudah makan?"


"Belum Ma. Gampang nanti Papa beli di kantin.".


"Papa, Karin mana?"


"Karin pulang setelah sholat subuh tadi Ma. Nanti kesini lagi sore setelah pulang sekolah."


Tak lama kemudian suster datang dan mengecek kondisi Mama Sabrina.


"Sus, saya sudah sehat dan sudah sarapan. Apakah sudah boleh dilepas infusnya?"


"Iya sudah Bu. Mari saya bantu."


Suster lalu melepaskan infus di tangan kiri Maka Sabrina. Biaya rawat inap Mama Sabrina sudah dibayar oleh Papa Yudhistira tadi sebelum masuk ke ruang rawat istrinya. Mama Sabrina dan Papa Yudhistira lalu ke ruang rawat Yudha.


"Ma, Papa ke kantin dulu ya. Papa mau sarapan pagi."


"Iya Papa."


Papa Yudhistira lalu meninggalkan ruang rawat Yudha dan langsung menuju kantin. Papa Yudhistira akan menceritakan kejadian semalam nanti habis sarapan.

__ADS_1


"Nak, kenapa kamu jadi seperti ini? Tidak biasanya kamu naik mobil gak pakai sabuk pengaman. Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan yang membuatmu tidak fokus saat berkendara."


Mama Sabrina jadi mengingat orang yang menolong anaknya bilang Yudha saat kecelakaan tidak memakai sabuk pengaman. Yudha tidak biasanya lalai memakai sabuk pengaman. Pasti ada sesuatu yang Yudha dipikirkan, hanya itu yang ada di pikiran Mama Sabrina.


"Apa Yudha ada masalah di rumah sakit ya? Atau ada masalah dengan Karin? Tapi sepertinya hubungan Yudha dan Karin baik-baik saja. Apalagi mereka sebentar lagi akan bertunangan." batin Mama Sabrina.


Tak lama kemudian Papa Yudhistira sudah kembali lagi ke ruangan Yudha. Saat akan bicara mengenai kejadian semalam sepuluh menit kemudian Papi Aldi datang.


"Yudhis, Maaf aku baru datang. Semalam aku harus mengecek beberapa berkasku dan aku menyuruh asistenku menggantikan meeting pagi ini. Bagaimana keadaan Yudha?"


"Seperti yang kamu lihat Aldi. Yudha masih saja koma."


"Sebentar lagi istriku dan anak-anak akan datang. Tadi mereka sedang mengantar Risa untuk mengecek kandungannya dan USG ke rumah sakit. Alhamdulillah jenis kelamin bayinya sudah terlihat," ucap Papi Aldi dengan wajah yang gembira.


"Tidak apa-apa Aldi. Aku senang kamu datang. Cucumu laki-laki atau perempuan Aldi?"


"Alhamdulillah cucuku laki-laki," ucapnya dengan senyuman.


"Wah aku ikut senang ya Aldi cucumu laki-laki. Cucumu nanti yang akan menggantikanmu memimpin perusahaan," ucap Papa Yudhistira.


"Iya Yudhis."


"Papa, Aldi saja sudah mau punya cucu. Kapan kita punya cucu ya Pa?" ucapnya sambil sedih.


Yudhistira lalu menceritakan semuanya didepan istrinya dan sahabatnya. Mama Sabrina terbengong saat mendengar anaknya sempat mati suri.


"Papa yang benar saja anak kita semalam mati suri? Papa tidak sedang membohongi Mama?"


"Papa tidak berbohong, dokter bahkan sudah ingin mencabut semua alat yang menempel pada tubuh Yudha. Namun Karin melarangnya, dan berkat bujukan Karin yang siap menikah dengan Yudha nanti setelah lulus SMA, Yudha detak jantungnya langsung kembali normal, namun masih saja sampai sekarang belum sadar dari komanya."


"Apa? Karin bilang seperti itu Papa? Wah... Berarti sebentar lagi dong kita akan menikahkan Yudha dengan Karin."


"Iya Mama. Makanya kita sekarang fokus sama Yudha terlebih dahulu agar ia sembuh dan sadar dari komanya."


"Iya Papa, Mama berharap anak kita cepat sadar dari komanya. Wah Mama sudah tidak sabar, berarti tidak sampai setahun lagi Mama juga bakalan punya cucu seperti kamu Aldi," ucapnya dengan mata yang berbinar-binar.


Mama Sabrina sedang membayangkan perut Karin yang sebentar lagi akan membesar seperti Risa. Mama Sabrina juga ingin nanti cucunya laki-laki seperti cucunya Aldi.


"Iya mudah-mudahan ya Sabrina. Aku selalu berdoa agar Yudha cepat pulih dan sadar dari komanya," ucap Papi Aldi.


"Pa, nanti setelah Karin dapat surat keterangan lulus saja kita menikahkan Karin dengan Yudha. Kalau menunggu ijazahnya keluar kan kelamaan Papa. Mama sudah ingin cucu dari mereka."

__ADS_1


"Astaga Mama, itu bisa kita bicarakan lagi nanti saja. Mereka kan baru akan bertunangan terlebih dahulu. Lagian kita juga belum bertemu dengan orang tua Karin untuk memperjelas hubungan mereka."


"Kayaknya tidak perlu bertunangan deh Pa. Langsung kita nikahkan saja mereka nanti."


"Terserah Mama sajalah. Yang penting mereka berdua setuju dengan keputusan kita."


Tak lama kemudian karena mendengar suara berisik akhirnya Yudha mulai mengerjapkan matanya.


"Papa... Mama... Om Al..." Yudha bersuara lirih namun masih terdengar di telinga ketiga orang yang sedang berbincang-bincang tersebut.


"Alhamdulillah nak kamu sudah sadar dari koma," ucap Mama Sabrina memeluk anaknya dan mengecup keningnya.


"Yudha baik-baik saja Mama. Mama Yudha haus, Yudha pengen minum."


Mama Sabrina lalu memberikan air putih untuk Yudha yang dari tadi sudah berada disampingnya.


"Nih, sayang pelan-pelan minumnya ya," ucap Mama Sabrina tersenyum sambil membantu anaknya minum.


"Alhamdulillah nak kamu sudah sadar dari komamu."


"Iya Om Aldi. Pasti ini berkat doa kalian semua. Yudha cepat sadar dari koma. Oh iya Rey mana Om? Yudha pengen ketemu dengan Rey."


"Sebentar lagi mereka akan sama-sama kesini nak setelah makan siang."


Yudha hanya mengangguk pelan. Mama Sabrina lalu keluar dari kamar rawat anaknya untuk menghubungi Karin. Mama Sabrina ingin memberi kabar bahagia bahwa Yudha sudah sadar dari komanya.


...*****...


Karin sudah di sekolahnya. Saat jam istirahat Astrid dan Andre saling memandang saat akan mengajak Karin ke kantin. Melihat Karin yang tidak semangat Astrid berusaha ingin tahu apa yang dipikirkan Karin sekarang.


"Karin, kenapa kamu sepertinya murung? Kamu bisa cerita sama kita. Kita ini kan sahabat."


"Calon suamiku habis kecelakaan, sekarang sedang koma di rumah sakit."


"Semoga cepat sembuh calon suamimu ya Karin," ucap Astrid.


"Mudah-mudahan lekas sadar dan pulih kembali," ucap Andre.


"Iya makasih doanya ya Astrid dan Andre."


"Iya," ucapnya bersamaan.

__ADS_1


Tak lama kemudian hp Karin bergetar. Karin yang melihat calon mertuanya telepon pun langsung mengangkatnya. Wajah Karin yang tadinya murung langsung berubah menjadi bahagia saat mendengar kabar bahwa Yudha telah sadar dari komanya. Ini merupakan kabar bahagia yang diterimanya.


__ADS_2