Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 37 - Hilang Ingatan


__ADS_3

Setelah cek kandungannya Risa, Rey, Papa Kevin, Mama Angel dan Mami Ana ada di rumah Keluarga Alexander. Karin sekarang sudah sampai rumah. Karin bahagia mendengar Yudha sudah sadar.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum Salam..."


"Karin sini sayang duduk sebelah Mama dan Kakak kamu."


"Eh ada Mami Ana sama Kak Rey juga."


Karin lalu mengecup punggung tangan Mama Angel, Papa Kevin dan Mami Ana. Karin lalu berjalan duduk di sebelah Risa dan Mama Angel.


"Iya, kami habis USG jenis kelamin Baby R," ucap Rey.


"Wah, apa jenis kelamin keponakanku?" tanyanya penasaran.


"Jenis kelaminnya laki-laki," ucap Risa.


"Asyik bakalan punya keponakan laki-laki, pasti nantinya gemesin soalnya Kak Risa kan cantik banget..."


"Pasti nanti lahirnya mirip dengankulah Karin ganteng dan imut..." Dengan percaya diri Rey berbicara seperti itu.


"Ya iyalah secara kan Kak Rey emang bapaknya hahaha," ucap Karin sambil cengengesan.


"Eh iya sih, benar juga katamu. Sekarang sudah bisa tertawa ya Karin, semalam saja nangis-nangis."


"Ya kan beda suasananya Kak Rey. Sekarang lagi membicarakan calon keponakanku."


"Eh iya aku mau bikin brownies coklat dulu ah..."


"Karin mau ku bantuin?" tanya Risa.


"Tidak usah Kak Risa kan lagi hamil. Nanti Kakak kecapekan, kalau kecapekan kan nanti Karin dimarahin sama suami Kakak. Kakak jagain jagoan Kakak saja, calon keponakanku yang ganteng ini," ucap Karin tersenyum sambil mengelus perut Risa pelan.


"Hahaha, Rey mah kalau marahin kamu nanti aku marahin balik deh. Rey kan tipe suami-suami takut istri. Enaknya begitu Karin kalau punya suami brondong. Rata-rata takut sama istrinya."


"Hahahahaha....................." Lalu semua orang yang di ruang keluarga pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Risa.


Rey hanya diam saja. Memang benar sih Rey takut sama istrinya, apalagi kalau Risa sudah marah dan ngambek. Udah gimana Rey cari cara supaya Risa tidak marah dan ngambek.


"Ya sudah Karin mau ke kamar naruh tas dan ganti baju. Habis itu Karin mau bikin brownies coklat. Kak Risa diam disini saja jangan ke dapur. Kak Risa jagain keponakanku saja."


"Ok siap Karina Alexander, sepupuku yang bentar lagi akan menikah nih kalau sudah lulus SMA."

__ADS_1


Karin hanya tersenyum lalu melangkahkan kakinya ke kamarnya. Setelah ganti baju Karin langsung menuju dapur untuk membuat brownies coklat untuk Yudha dan calon mertuanya. Mama Angel tersenyum melihat keponakannya berkutat di dapur dengan semangat membuat brownies coklat.


"Ini pertama kali aku masak untuk Kak Yudha. Semoga saja Kak Yudha suka dengan brownies buatanku," ucap Karin dengan senyuman.


Karin dengan semangat membuat brownies coklat yang pernah diajarkan oleh Mama Angel. Karin dengan cekatan membikin brownies agar segera dibawa ke rumah sakit. Saat semuanya sudah selesai tinggal di oven sebentar. Waktu itu Karin luangkan untuk menghubungi Alya bahwa Yudha sudah sadar dari komanya. Alya nanti akan ke rumah sakit menjenguk Yudha bersama Dion. Setelah selesai tak lupa Karin membiarkannya terlebih dahulu di loyang agar tidak terlalu panas saat dibawa. Karin tinggal untuk mandi dan berdandan di kamarnya. Setelah kira-kira 35 menit Karin sudah selesai mandi dan berdandan. Karin tadi membuat dua loyang brownies. Satu loyang untuk di rumah dan satu loyangnya lagi akan dibawa ke rumah sakit. Karin menaruh ke dalam wadah tapi belum di potong untuk brownies yang akan dibawa ke rumah sakit. Satu loyang lainnya Karin menaruhnya di piring, tak lupa sudah Karin potong-potong untuk suguhkan di ruang keluarga.


"Tara........ Brownies coklat topping choco chips sudah matang. Ayo silahkan diicipi," ucap Karin sambil meletakkan piringnya di meja.


Semuanya yang ada di ruang keluarga mencicipi brownies coklat yang Karin buat.


"Enak, masih anget juga brownis-nya," ucap Risa.


"Iya enak. Aku suka topping choco chips dari pada keju atau meses."


"Sama seperti Mama bikinnya," ucap Papa Kevin.


"Iya kan Mama ya ngajarin Papa," ucap Mama Angel bangga karena brownies rasanya pas.


"Wah, Karin semakin pintar buat kue sekarang. Seperti Risa dong ya, kamu juga harus belajar bikin bolu gulung selai blueberry nak dari Risa. Risa buatnya enak sekali dan lembut, bahkan sampai Papi Aldi suka bolu gulung buatan Risa."


"Lanjutkan belajar masaknya ya nak semangat, sebentar lagi status pelajar kamu tidak sampai satu tahun lagi akan berubah menjadi status istri dan mungkin akan segera berganti status menjadi seorang ibu hehehe," ucap Mami Ana kembali.


Karin tersenyum dan tersipu malu mendengar Mami Ana berbicara seperti itu.


Memang setelah lulus SMA Karin siap untuk menikah dengan Yudha. Tapi untuk soal anak Karin ingin menunda untuk kehamilannya. Kejadian kecelakaan Yudha kemarin yang membikin Karin membuka hatinya untuk terus bersama Yudha. Karin tidak ingin kehilangan Yudha untuk kedua kalinya.


"Ayo, kalau sudah siap semua kita ke rumah sakit menengok Yudha," ucap Papa Kevin.


Karin lalu mengambil sekotak brownies yang di dapur. Mereka berangkat dan dalam satu mobil. Karena mobilnya muat untuk 8 orang. Tak sampai satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Karin dengan tersenyum sambil membawa sekotak browniesnya. Karin dengan penuh harap Yudha akan memakan brownis buatannya. Setelah sampai di ruang rawat VVIP kamar Yudha. Mereka langsung masuk satu persatu. Pertama Mami Ana yang masuk duluan.


"Eh Tante Anastasya, Om Aldi sudah datang dari tadi Tante," ucap Yudha sambil tersenyum.


"Iya nak kami ke rumah sakit untuk menjengukmu menyusul, soalnya tadi Tante ke dokter kandungan terkebih dahulu."


"Ke dokter kandungan?" tanya Yudha kaget sekaligus penasaran.


Yang ada dipikirkan Yudha sekarang Tante Ana sedang hamil. Yudha betapa terkejutnya kalau Rey akan punya adik, dimana umur Tante Ana tidak muda lagi.


"Kok Yudha kelihatannya bingung gitu ya?" batin Papa Yudhistira.


"Iya nak ke dokter kandungan, kami habis USG jenis kelamin Baby R. Cucu Tante berjenis kelamin laki-laki ternyata. Tante senang sekali cucu pertama Tante ternyata laki-laki."


"Cucu? Bukannya Rey masih sekolah dan belum lulus ya?" batin Yudha yang semakin bingung.

__ADS_1


Setelah itu Rey dan Risa masuk ke ruang rawat Yudha. Risa dan Rey bergandengan tangan mesra masuk ke ruang rawat Yudha. Risa bergelayut manja di lengan kekar suaminya. Yudha terbengong saat melihat perempuan yang bersama dengan Rey sedang hamil. Kehamilannya sudah terlihat karena usia kehamilan Risa yang hampir memasuki usia 5 bulan.


"Jadi ini yang di maksud Tante Anastasya kalau sebentar lagi akan punya cucu laki-laki. Rey kan belum menikah. Apa jangan-jangan perempuan itu hamil di luar nikah? Tapi sepertinya tidak mungkin Rey berbuat seperti itu dan untuk memastikannya aku akan bertanya langsung." batin Yudha yang masih penasaran.


"Rey siapa perempuan itu? Apa dia adalah pacar kamu? Kenapa kamu tega menghamili anak orang di luar nikah?"


Pertanyaan memberondong dari Yudha lolos membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut terbengong dan saling memandang. Risa terkejut dengan ucapan Yudha.


"Kak Yudha tidak mengingatku? Apa ia tidak akan ingat dengan Karin juga?" batin Risa yang mulai cemas.


"Apa Kak Yudha hilang ingatannya ya sayang." Lirih Risa ditelinga Rey.


"Sepertinya begitu sayang, sampai tidak kenal sama kamu," ucap Rey pelan.


"Rey jawab! Kok kamu malah bisik-bisik sama perempuan itu? Atau jangan-jangan semua itu memang benar?"


Risa berusaha untuk menenangkan Rey agar tidak terbawa emosi dengan cara mengelus lengannya. Rey yang mengerti berusaha untuk menahan emosinya karena Yudha saat ini sedang hilang ingatan.


"Kak Yudha Rey sudah menikah dari setahun yang lalu. Wajar saja kalau sekarang istriku sedang hamil karena dia sedang mengandung anakku," ucap Rey yang tidak terima dirinya dibilang menghamili anak orang di luar nikah pula menuduhnya.


Yudha melongo saat mendengar penjelasan dari Rey. Tak lama kemudian Mama Angel, Papa Kevin dan Karin masuk ke dalam ruangan Yudha. Tadi mereka menemani Mama Angel ke toilet terlebih dahulu.


"Apa kamu juga tidak ingat dengan nama istriku?" tanya Rey kepada Yudha.


Yudha hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sedangkan Mama Angel, Papa Kevin dan Karin yang baru saja masuk ruangan tersebut dibuat terkejut saat mengetahui Yudha tidak dapat mengingat Risa.


"Dia istriku, bernama Risa Alexander. 3 tahun yang lalu kami bertunangan saat Risa berulang tahun ke 17 dan Kak Yudha datang diacara pertunangan kita. Kita dulu menikah secara agama terlebih dahulu untuk saling mengenal satu sama lain dan sudah setahunan ini kami sudah menikah secara resmi sah dimata hukum dan agama. Baru empat bulanan ini istriku hamil," ucap Rey sambil memegang perut Risa.


Yudha masih diam saja dan mencerna perkataan Rey. Yudha masih belum mengingatnya.


"Apa kamu tidak ingat dengan Mama Evangeline dan Papa Kevino Putra Alexander?" ucapnya sambil menunjuk kedua mertuanya yang berada di ujung dekat pintu.


Yudha hanya menggeleng lemah.


"Mereka adalah mertuaku."


Karin lalu mendekati Mama Sabrina. Karin saat ini masih berpikiran positif tentang Yudha. Karin berharap Yudha masih teringat padanya.


"Mama, ini tadi Karin buat brownies coklat topping choco chips. Masih hangat tadi saat Karin bawa kemari. Mama silahkan dicoba ya nanti. Karin membutuhkan saran dari Mama tentang masakan Karin kurang apa," ucapnya ramah sambil tersenyum dan akan menyerahkan sekotak browniesnya ke Mama Sabrina.


"Mama, jangan sembarangan terima makanan dari orang yang tak dikenal."


"Deg......................." Seketika hati Karin terasa sakit saat Yudha juga tidak dapat mengenalinya.

__ADS_1


__ADS_2