Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 73 - Memaafkanmu


__ADS_3

Karin lalu ingat bahwa Yudha hari ini akan menjemputnya. Karin yakin Yudha sekarang pasti sedang mencarinya ke hotel dan tidak menemukan dirinya. Yudha pasti sedang bingung mencarinya. Karin sengaja meminta tolong kepada Risa dan Rey untuk tidak memberitahu keberadaannya saat ini. Kedua orang tua Risa dan Rey juga Karin mohon untuk tutup mulut. Karin nanti akan menceritakan kejadian ini kepada Papa Keynan dan Mama Chintya. Bagaimanapun juga orang tuanya berhak tahu keadaannya. Tapi nanti setelah Karin keluar dari rumah sakit Karin akan cerita dengan keluarganya. Kalau sekarang mereka pasti akan khawatir, terlebih neneknya sedang sakit. Kalau Karin memberitahu keadaannya sekarang nanti yang ada neneknya akan drop. Karin tidak mau terjadi apa-apa sama neneknya.


Sekarang Karin akan melihat seberapa jauh suaminya itu akan mencarinya. Apakah Yudha akan berhasil menemukannya jika Yudha tidak tahu informasi apapun tentang keberadaannya. Karin juga belum siap untuk bertemu dengan suaminya. Rasa kecewanya kini masih ada bahkan sudah bercampur dengan rasa sakit hati yang kini Karin rasakan karena saat suaminya bicara itu sangat menyakitkan baginya. Bagaimana tidak sakit hati saat dituduh oleh suaminya sendiri berselingkuh dibelakangnya dan bahkan dikira sudah melakukan hal yang tidak-tidak. Karin bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk mengkhianati suaminya. Yudha hanya salah paham saja sama Karin.


Kini sudah dua rumah sakit Yudha datangi namun tidak ada nama istrinya sebagai pasien di rumah sakit tersebut. Sekarang Yudha menuju rumah sakit milik keluarganya. Yudha akan mengecek sendiri daftar nama pasien di rumah sakitnya. Namun hasilnya nihil, tidak ada nama istrinya. Yudha menghela nafas panjang.


"Sudah 3 rumah sakit aku datangi namun hasilnya tetap sama saja nihil. Kamu dimana sayang?" Lirihnya.


Kini Yudha kembali melajukan mobilnya untuk mencari keberadaan istrinya. Yudha pergi ke rumah sakit lainnya. Setelah empat rumah sakit yang Yudha datangi akhirnya membuahkan hasil. Kini ada daftar nama istrinya di rumah sakit tersebut. Perlahan Yudha berjalan menuju ke ruang rawat inap istrinya. Yudha akan langsung meminta maaf kepada Karin saat nanti bertemu dengannya.


Risa dan Rey masih didalam ruangan. Mama Angel dan Papa Kevin sudah pulang. Yudha memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tempat istrinya dirawat. Karin terbengong saat pintu kamarnya terbuka terlebih yang membuka pintu kamarnya adalah suaminya. Pupil matanya kini melihat ke wajah suaminya yang menatap wajahnya. Kini suaminya telah berhasil menemukannya. Karin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


Yudha tahu kini istrinya masih kecewa dengannya. Yudha menghela nafas panjang dan lalu berjalan mendekati istrinya. Yudha sangat rindu dengan Karin. Risa dan Rey kini saling beradu pandang, mereka akan pergi agar Yudha dan Karin bisa berbicara empat mata.


"Karin, kita pulang dulu ya. Nanti kita akan ke sini lagi," ucap Risa.


"Kak Rey nanti akan suruh karyawan hotel untuk membawa tas dan juga hp kamu ke rumah sakit."


"Tidak usah Rey. Tas Karin sudah aku bawa dan sekarang ada didalam mobil dan ini hpnya," ucap Yudha sambil meraih hp Karin dari dalam kantong sakunya.


"Kalau begitu kita pulang dulu ya Karin dan Kak Yudha." Rey pamit dengan pasangan suami istri yang sedang saling diam tersebut.


"Karin, kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya," ucap Risa.


Karin hanya mengangguk pelan. Kini Rey dan Risa sudah keluar dari ruangan tersebut membiarkan Yudha dan Karin berbicara mengenai masalah rumah tangganya. Rey dan Risa tidak mau ikut campur urusan pribadi Karin. Rey lalu melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Mereka akan mandi setelah semalaman menjaga Karin.


Kini tinggal berdua saja yang di ruangan tersebut. Mereka masih enggan untuk bicara. Terlihat hanya saling diam saja di antara keduanya. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Karin. Kini Yudha yang akan membuka suara duluan. Yudha duduk di kursi sebelah ranjang istrinya.


"Sayang, maafkan aku..." Kini Yudha menggenggam tangan Karin.


Karin masih terdiam saja. Tidak menjawab perkataan suaminya.


"Sayang....." Karin kini menoleh ke arah Yudha dan melepaskannya genggam tangan suaminya.


"Mas, mana hpku?" ucapnya sambil membuka telapak tangannya.


Yudha tersenyum saat Karin masih memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.


"Ini sayang," ucapnya singkat sambil mengambil hp Karin dari dalam kantong saku dan menyerahkannya.


Karin berusaha menyalakan hpnya dan ternyata hpnya habis baterainya. Lalu Karin meletakkan hpnya di atas meja.


"Sayang, aku sudah tahu semuanya. Maafkan aku atas kejadian semalam dan aku telah menuduhmu selingkuh dibelakangku."


"Kak Yudha tidak semudah itu aku bisa melupakan kejadian semalam." Batin Karin.


"Aku sungguh kecewa sama kamu Mas..."


"Sayang maaf..." Lirihnya sambil menunduk.


"Mas, sudahlah! Sekarang Mas sudah tahu semuanya kan? Mas sekarang boleh pergi dan aku mau istirahat."

__ADS_1


"Sayang, kamu mengusirku?"


Karin kembali terdiam. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan suaminya yang hanya menguras tenaga saja.


"Sayang, dengarkan dulu penjelasanku." Yudha menggenggam tangan Karin kembali namun dengan segera Karin menepisnya.


"Mas saja tidak mau mendengarkan penjelasanku kemarin kan? Bahkan Mas tidak membukakan pintu kamar dan aku menunggumu di luar hampir satu jam lamanya."


Karin masih kesal dan kecewa dengan suaminya.


"Sayang kita salah paham. Mas minta maaf dan kini aku sudah menyesalinya," ucapnya yang sudah mulai berlinang air mata.


Kini Karin melihat suaminya untuk kedua kalinya menangis. Waktu itu saat Mama Sabrina bilang bahwa Yudha tidak bisa memberikan keturunan untuk Karin dan hari ini Karin kembali melihat Yudha menangis.


"Hapus air mata buayamu itu Mas. Aku tidak mau melihatnya!" Seru Karin sambil memalingkan wajahnya kembali.


Yudha bagaikan ditusuk jarum hatinya. Sangat sakit sekali rasanya saat istrinya bicara seperti itu. Padahal dirinya sungguh menyesal atas perbuatannya semalam. Yudha kini belum tahu kalau anaknya bisa diselamatkan. Karin tidak mengalami keguguran meskipun semalam mengalami pendarahan. Karin hanya butuh istirahat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran.


"Sayang tatap wajahku. Aku tahu kamu sekarang pasti membenciku. Aku benar-benar menyesal atas kejadian semalam." Tangisannya kini pecah terdengar di ruangannya.


"Mas cukup! Jangan menangis. Aku ingin sekarang kamu keluar. Aku butuh ketenangan dalam hidupku Mas."


Yudha terkejut kemarin dirinya yang ingin ketenangan dalam hidupnya sekarang berbalik Karin yang ingin ketenangan dalam hidupnya.


"Apa maksudmu sayang?"


"Kamu pikir saja sendiri!" ucapnya ketus.


Karin tidak tega melihat suaminya seperti itu. Meskipun Yudha salah. Tapi sudah beberapa kali meminta maaf padanya. Bagaimanapun juga Yudha masih tetap suaminya dan ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.


"Aku sudah memaafkanmu Mas," ucapnya lirih tapi masih terdengar sampai ke telinga Yudha.


"Benarkah sayang?" Mata Yudha kini berbinar-binar.


Karin hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Sayang terima kasih," ucapnya sambil tersenyum.


Lalu saat akan memeluk istrinya dengan segera Karin menghentikan Yudha dengan tangannya.


"Stop Mas!"


Yudha bingung kenapa Karin tidak mau Yudha peluk. Biasanya tidak begini sikap istrinya.


"Sayang, kenapa kamu tidak mau aku peluk? Katanya kamu sudah memaafkan ku?"


"Aku tidak mau dekat denganmu Mas. Aku masih trauma atas kejadian semalam." Karin masih takut bila dekat dengan suaminya.


"Sayang maaf... Aku telah membuatmu trauma."


Karin belum menjawabnya dan tiba-tiba ada dokter masuk dan mengecek kondisi Karin.

__ADS_1


"Kamu nanti sore sudah boleh pulang. Jangan lupa diminum vitamin dan obat penguat kandungannya ya. Sebentar lagi perawat akan membawakan obatnya."


Yudha mengernyitkan dahinya saat dokter bilang obat penguat kandungan yang artinya anaknya selamat dan Karin tidak mengalami keguguran.


"Terima kasih dok," ucap Karin dengan senyuman manis.


"Sama-sama." Dokter muda tersebut juga membalas senyuman Karin.


Yudha memperhatikan Karin dan juga dokter muda tersebut yang saling membalas senyuman. Dari tadi Karin tidak pernah tersenyum saat Yudha datang. Ada rasa panas dalam hatinya apalagi dokter yang menangani Karin masih muda dan wajahnya sangat tampan.


"Oh iya, tolong dijaga istrinya ya agar kejadian semalam jangan sampai terulang kembali. Untung saja ada sepupunya yang membawanya ke rumah sakit. Kalau saja terlambat 10 menit saja mungkin anaknya tidak bisa diselamatkan."


"Siap dok. Saya akan menjaga istri saya dengan baik. Bahkan tidak akan saya biarkan laki-laki lain mendekatinya."


Dokter muda tersebut tahu bahwa Yudha saat ini sedang terbakar api cemburu.


"Saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang harus saya cek kondisinya."


"Ya, silakan pergi..."


Setelah dokter muda dan tampan itu keluar ruangannya. Karin menatap tajam ke arah suaminya.


"Mas, kamu apa-apaan sih bicara sama dokter kok seperti itu?"


"Karena dokternya genit. Dari tadi memandang wajahmu terlalu lama. Mungkin dokter muda itu suka sama kamu."


Tak lama kemudian perawat datang membawa vitamin dan juga obat penguat kandungan. Perawat menjelaskan waktu meminum obat dan vitaminnya.


"Baik, terima kasih dan taruh saja disitu nanti saya akan minum sendiri."


Perawat tersebut meletakkan vitamin dan obat penguat kandungan ke meja dan perawat tersebut langsung pergi.


"Sayang, anak kita masih," ucapnya terpotong saat Karin menjawabnya dengan cepat.


"Ya, apa dari tadi menurutmu anak kita sudah tiada?"


"Bukan begitu maksudnya sayang. Aku bahagia anak kita bisa selamat. Aku sangat takut kehilangannya."


Yudha tidak menceritakan bahwa dirinya mimpi ada suara anak kecil yang minta tolong padanya dan takutnya Karin nanti akan kepikiran. Kini Yudha bersyukur anaknya bisa selamat.


"Sayang, bolehkah aku memegang perutmu?" ucapnya dengan hati-hati.


Karin terdiam sejenak lalu berpikir bahwa tidak ada salahnya Yudha perhatian dengan anaknya. Bagaimanapun juga anaknya butuh kasih sayang dari seorang ayah.


"Boleh, tapi jangan lama-lama."


Yudha tersenyum bahagia Karin mengizinkannya untuk menyapa anaknya. Perlahan Yudha mengarahkan tangannya ke perut Karin dan mengelusnya pelan.


"Hallo nak, kamu sehat-sehat ya di dalam perut Mama. Maafkan Papa ya nak karena Papa hampir saja mencelakakanmu," ucapnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Suara Yudha terdengar lirih dan Karin tahu sekarang Yudha sudah menyesali perbuatannya. Karin merasa nyaman saat tangan Yudha berada di perutnya. Memang anaknya sepertinya butuh kasih sayang dan perhatian dari ayahnya. Karin lalu meminum obat penguat kandungan dan vitaminnya akan diminum nanti setelah makan siang. Kini Karin sedang beristirahat tidur. Yudha menunggu istrinya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya dan mengabari keluarganya bahwa Karin tidak apa-apa dan yang terpenting bayinya bisa diselamatkan. Papa Yudhistira dan Mama Sabrina bahagia mendengar cucunya bisa selamat. Mereka akan segera ke rumah sakit. Yudha sudah share location melalui pesan WhatsApp kepada Mamanya.

__ADS_1


__ADS_2