
Tak terasa mereka sudah 3 hari di Bandung. Mereka kini sudah kembali ke rumah. Papa Yudhistira sudah dari tadi berangkat ke rumah sakit.
"Assalamualaikum....."
"Wa'alaikum Salam....."
Mereka lalu mengecup punggung tangan Mama Sabrina secara bergantian.
"Bagaimana bulan madu kalian selama di Bandung nak?"
"Menyenangkan sekali Mama kita kebanyakan jalan-jalan di sana," ucap Karin sambil tersenyum.
"Iya udaranya juga sangat sejuk di sana. Kita bahkan betah di sana Mama," ujar Yudha.
"Kalian pasti lapar setelah perjalanan jauh. Kalian makan dulu ya. Mama sudah masak untuk kalian."
"Iya Mama," ucapnya bersamaan.
Karin dan Yudha lalu makan bersama. Mama Sabrina tadi sudah makan bareng suaminya. Jadi hanya menemani anak dan menantunya makan sambil meminum teh jahe.
"Aku harap menantuku akan segera hamil cucuku. Aku sudah tidak sabar untuk menggendong bayi." Batin Mama Sabrina.
...****...
Sebulan kemudian sekarang Karin sudah mulai masuk aktif dalam kegiatan di kampusnya. Karin kini sedang menjalankan ospek selama 3 hari. Para laki-laki seniornya ataupun mahasiswa baru terpesona melihat kecantikan Karin. Apalagi yang satu kelompok ospek dengannya merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung bisa mengenal Karin dan mendapatkan nomor teleponnya. Karena satu kelompok jadi nomor mereka ada dalam WhatsApp grup. Karin sedang berjalan melewati para mahasiswa lainnya.
"Busyet, ada bidadari lewat cuy." Ujar salah satu mahasiswa semester 3 yang menjadi HIMA.
"Iya benar-benar cantik sekali dan anggun lagi." Sambil menepuk bahu sahabatnya.
Karin hanya tersenyum saat melewati mahasiswa itu. Karena harus sopan dengan para seniornya. Terlebih dirinya baru 2 hari menjalankan ospek dan besok adalah hari terakhirnya untuk ospek. Kalau Yudha sampai tahu dirinya digoda oleh laki-laki pasti Yudha akan marah. Semenjak Yudha resmi menyandang status sebagai suaminya sekarang Yudha menjadi posesif dan over protective. Karin tidak terlihat seperti sudah menikah. Tubuhnya tetap ramping karena dirinya rajin berolahraga. Karin sangat suka push up karena merupakan olahraga tergampang menurutnya.
Sudah sebulan lamanya mereka menikah namun belum ada tanda-tanda kehadiran sang buah hati. Memang Karin menunda kehamilannya sebentar karena Karin takut keguguran jika dia hamil saat ospek. Karena ospek hanya akan dilakukan sekali saat dirinya masuk ke dalam universitas maka dari itu Karin ingin saat dirinya ospek tidak sedang hamil. Kegiatan ospek sangat menguras tenaga karena akan panas-panas setiap harinya dari pagi sampai sore hari banyak menghasilkan waktu di lapangan dan besok merupakan saat terakhir kegiatan ospeknya sebelum mengawali aktivitas perkuliahannya.
__ADS_1
Karin berharap semoga Yudha nanti akan memaklumi alasan dirinya untuk menunda kehamilannya jika sampai ketahuan meminum pil penunda kehamilan. Atau kalau tidak nanti Karin akan segera berbicara jujur mengenai hal ini. Karena Yudha nanti pasti curiga jika dirinya tak kunjung hamil. Karin berpikir Yudha pasti akan bisa mengerti kenapa alasannya untuk menunda kehamilannya. Karena memang bahaya jika Karin misalnya sedang hamil dan tetap ingin mengikuti ospek. Nanti yang ada akan berakibat fatal dan hal terbesar yang akan terjadi bisa mengalami keguguran. Dalam pikiran Karin saat ini mudah-mudahan Yudha nanti tidak akan marah dengannya saat menjelaskan alasannya untuk menunda kehamilannya. Karin berencana nanti tidak akan lagi menunda kehamilannya saat mereka bulan madu ke Paris, Perancis. Karin sudah memantapkan hatinya untuk siap menjadi seorang ibu saat sudah pergi ke Paris, Perancis.
...*****...
DI RUMAH ALYA
Setelah tadi mengecek keadaan toko kuenya sebentar Alya langsung pulang ke rumah orang tuanya. Sekarang Alya sedang menunggu suaminya pulang dari kantor. Biasanya 10 menit lagi suaminya akan datang. Alya membuatkan teh hangat untuk suaminya dan duduk manis di ruang tamu menunggu kedatangan suami tercinta. Alya sekarang badannya agak gendutan. Perut Alya juga kini sudah mulai terlihat.
Tak lama kemudian mobil Dion terdengar masuk ke halaman rumahnya. Alya tersenyum saat suaminya mengucapkan salam. Dion tersenyum melihat sang istri menyambutnya pulang. Rasa lelahnya kini terbayarkan. Alya langsung mengecup punggung tangan Dion.
"Bi, diminum dulu tehnya."
"Makasih Mi."
Meskipun Alya sedang hamil muda namun perutnya kini sudah mulai terlihat karena sedang mengandung bayi kembar. Dion pun semakin gemas dengan istrinya. Setelah minum teh hangat bikinan Alya Dion punya ide jahil untuk menjahili istrinya.
"Umi pipinya semakin chubby." Dion mencubit kedua pipi istrinya.
"Jangan! Umi gak boleh diet, Umi kan sedang hamil. Apalagi anak kita kembar."
"Hmm... Umi akan tetap jaga pola makan mulai sekarang. Umi akan lebih banyak makan buah saja dari pada nasi. Aku gak mau terlalu gendut Bi."
"Iya terserah Umi saja. Yang penting Umi tetap harus makan nasi setiap hari."
"Iya Bi."
"Mulai malam ini aku harus makan buah saja dari pada makan nasi. Aku tidak mau terlalu gendut." Batin Alya.
Dion ingin protes sebenarnya sama istrinya. Tapi mengingat Alya sedang hamil, Dion mengurungkan niatnya. Karena Ibu hamil itu sangat sensitif dan mood-nya sering berubah-ubah. Dion harus bersabar menghadapi Alya untuk beberapa bulan lagi. Dion melihat perubahan perut istrinya dan senyum merekah terukir di wajahnya.
"Wah perut Umi sudah mulai terlihat."
"Iya Bi, Alhamdulillah ya," ucap Alya dengan senyuman.
__ADS_1
Dion lalu mendekatkan wajahnya ke perut Alya dan mendaratkan kecupannya sebanyak dua kali di perut sang istri. Dion memberikan kasih sayang kepada dua anaknya yang masih di dalam kandungan. Alya bahagia saat Dion perhatian sama anaknya.
"Hallo anak-anak Abi. Sehat-sehat ya didalam perut Umi," ucap Dion memegang perut Alya dan mengusapnya perlahan.
"Terima kasih ya Umi." Dion lalu mendongakkan kepalanya sambil menatap wajah istrinya.
Alya mengangguk pelan dan menatap wajah suaminya, pandangan mereka lalu saling terkunci. Alya lalu tersenyum dan saat Dion sedang mendekatkan wajahnya dengan wajah Alya mertuanya datang baru saja beli kerupuk dari warung. Dion dan Alya tidak sadar bahwa saat ini Mama Sofie sudah di depan pintu ruang tamu.
"Ehem....." Mama Sofie berdehem. Dion lalu memundurkan wajahnya, sekarang Dion merasa malu tertangkap basah sedang mau mengecup bibir istrinya didepan mertuanya.
Dion dan Alya terkejut saat Mama Sofie datang tiba-tiba. Karena Mama Sofie tidak mengetuk pintu jadi mereka tidak tahu kalau Mama Sofie sudah di depan pintu ruang tamu.
"Eh Mama?" Dion lalu beranjak dari duduknya dan mengecup punggung tangan Mama Sofie.
"Kalau mau lanjut jangan di ruang tamu dong nak. Nanti kalau tiba-tiba ada tamu gimana? Untung saja Mama tadi yang masuk."
"Astagfirullah, maaf Mama tadi gak sengaja."
"Iya nak lain kali jangan seperti itu ya."
"Iya Mama."
Mereka berdua malunya setengah mati. Alya dan Dion lalu menuju kamar.
"Mi, maaf tadi Abi lupa kalau kita masih di ruang tamu." Dion merasa canggung dengan Alya saat ini.
"Iya tidak apa-apa Bi."
"Abi, mandi dulu ya Mi." Dion lalu mengalihkan pembicaraannya.
"Iya Bi. Umi akan siapkan pakaian ganti untuk Abi."
Dion mengangguk lalu menuju ke kamar mandi. Alya lalu memilihkan pakaian yang akan suaminya pakai. Dion dan Alya malam ini akan menginap di rumah Alya. Katanya Alya sedang kangen sekali tidur di kamarnya. Dion pun menuruti keinginan istrinya. Mungkin saja anak-anaknya ingin dekat dengan Kakek dan Neneknya.
__ADS_1