Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Ketika Keifano dan Anisa Bertemu


__ADS_3

Alya juga mau menyampaikan kepada Anisa kalau nanti malam akan bertemu dengan calon besannya. Anisa nanti juga akan bertemu dengan Keifano.


"Oh iya nak, nanti malam kita temui Keluarga Sanjaya yuk. Mereka mengajak kita bertemu."


"Kenapa kok cepat sekali Umi? Bukankah baru tadi Umi dan Abi bilang kalau mau menjodohkan Anisa sama Keifano?" Tanya Andika.


"Iya nak. Tadi Tante Karin yang telepon Umi. Mereka mengajak pertemuan kita malam ini untuk membahas kelanjutan perjodohan antara Keifano dan juga Anisa."


"Berarti nanti malam akan ada Keifano juga dong Umi?"


"Iya nak. Kan Keifano yang akan dijodohkan dengan kamu. Masa iya Key sebagai adiknya yang datang?" ucapnya tersenyum tipis.


"Lagian Key masih berumur 21 tahun. Kamu dengannya jaraknya terlalu jauh. Kalau sama Keifano kan kalian jaraknya hanya 2 tahun kurang sebulan saja." Dion menjelaskan.


"Andika tapi tidak bisa ikut Umi dan Abi. Karena besok akan ada meeting pagi."


"Iya nak tidak apa-apa. Nanti kita bertiga saja yang akan hadir dan sepertinya mereka juga begitu sepertinya hanya mengajak Keifano," ucap Dion.


Mereka kini sudah bubar dan kembali ke kamarnya masing-masing. Malam telah tiba, Alya kini sedang bingung ingin berpakaian yang mana.


"Abi aku pantasnya pakai pakaian yang mana?" Sambil memperlihatkan dua buah gamis yang dia tenteng di kedua tangannya.


"Apapun yang Umi pakai akan terlihat cantik dimata Abi."


"Abi ih, kok gombal sih! Umi serius nih mau tanya. Umi ingin terlihat tampil cantik juga di depan calon besan kita."


"Pakai yang ini saja Umi, warnanya bagus."


Akhirnya Alya menggunakan pakaian yang dipilih oleh suaminya. Dion lalu menyamakan warna kemejanya dengan apa yang dipakai Alya. Mereka akhirnya menggunakan pakaian yang senada. Mereka lalu keluar dari kamarnya.


"Abi sama Umi mau kemana kok pakaiannya rapi banget?"


"Kita mau nemuin Om Yudha sama Tante Karin nak untuk membicarakan soal perjodohan Anisa."


"Oh iya Andika lupa," ucapnya dan lalu menepuk jidatnya.


"Kamu tolong panggilkan Anisa di kamarnya ya nak."


"Baik Umi..."


Andika lalu berjalan ke kamar Anisa. Di kamarnya Anisa sekarang perasaannya bimbang.

__ADS_1


"Aku sudah dua tahunan tidak bertemu dengan Keifano. Semenjak Keifano kuliah di Korea dirinya jarang pulang," ucap Anisa.


Anisa merasa ragu jika Keifano mau dijodohkan dengannya sekarang. Sebab yang Anisa tahu wanita Korea cantik-cantik semua. Anisa jadi merasa minder. Sekarang Anisa sedang bercermin melihat dirinya yang hanya memakai gamis dan juga hijab. Penampilannya sangat jauh sekali dengan orang Korea yang pakaiannya terkesan lebih terbuka disaat musim panas dan gugur.


"Bagaimana kalau Keifano menolak perjodohan ini? Pasti persahabatan kedua orangtua kita semakin renggang," ucapnya kembali.


"Anisa... Anisa....." Teriak saudara kembarnya dari luar sambil mengetuk pintu.


Anisa lalu membuyarkan lamunannya. Anisa lalu berjalan menuju ke arah pintu dan lalu membuka pintunya.


"Iya, ada apa Andika?" Tanya kepada saudara kembarnya.


"Umi dan Abi sudah menunggu kamu di ruang tamu. Kamu kenapa belum siap?"


"Ah iya. Aku akan berganti baju. Bilang ke Abi dan Umi untuk menunggu aku sebentar saja."


"Hmm iya, oke..."


"Jangan lupa dandan yang cantik, biar Keifano langsung tertarik denganmu Anisa."


"Andika, ini hanya pertemuan saja. Tidak seperti acara kondangan. Jadi aku hanya akan berdandan tipis saja seperti aku mengajar di kampus."


Anisa hanya tersenyum tipis. Andika langsung pergi dan bilang kepada kedua orangtuanya kalau Anisa sedang dandan. Tak lama kemudian Anisa datang ke ruang tamu yang kedua orangtuanya sudah menunggunya.


"Wah, anak Umi terlihat lebih cantik."


"Makasih Umi."


"Ayo kalau begitu kita berangkat sekarang."


Dion yang mengemudikan mobilnya. Alya dan Anisa duduk dibelakang. Sedangkan di rumah Yudha dan Karin sudah menunggu Keifano di teras depan rumah.


"Itu anak katanya mau menyusul kita, mana sih kok belum nongol juga," gerutu Karin.


"Sabar Mama. Mungkin Keifano sedang bingung tadi memilih bajunya. Seperti aku dulu saat ingin bertemu denganmu," ucapnya terkekeh.


Karin tersenyum tipis dan mengingat dulu suaminya selalu tampil rapi dan terlihat ganteng saat bertemu dengannya. Tak lupa Yudha sering membawa bunga mawar untuknya. Yudha jadi teringat saat masa mudanya kalau dulu juga bingung memilih baju untuk bertemu dengan Karin. Karena dirinya harus berpenampilan se-cool mungkin untuk bertemu dengan sang pujaan hatinya. Sedangkan di kamarnya, Keifano sedang melihat ke arah jendela.


"Kenapa aku harus dijodohkan? Kenapa Papa dan Mama tidak membebaskan aku untuk memilih pasangan hidupku sendiri."


"Kak Keifano, sudah ditunggu Papa dan Mama di teras," teriak Keyla dari balik pintu.

__ADS_1


"Iya, Kakak akan temui Papa dan Mama."


Tak lama kemudian Keifano keluar dari kamarnya. Sekarang Keifano sudah sampai di teras.


"Nak, kamu terlihat ganteng malam ini," puji Karin terhadap putranya.


"Gantengnya Keifano sudah keturunan sayang. Kan suamimu ini ganteng. Kalau aku tidak ganteng mana mungkin kamu mau denganku," ucap Yudha terkekeh.


Karin lalu menghadiahkan cubitan pada perut suaminya.


"Yang sangat mirip wajahnya dengan Papa itu Key." Keifano berbicara tentang fakta.


"Iya Key itu seperti pinang dibelah dua sama kamu Mas," ucap Karin.


"Iya Key sebelas dua belas sama Papa. Kelakuannya juga sama," ucap Keifano.


"Sudah ayo kita berangkat sekarang. Nanti Keluarga Hendrawan kalau datangnya duluan kan kita yang malu," ucap Yudha.


"Iya benar kata Papa."


Mereka akhirnya pergi ke tempat mereka janjian. Keifano yang mengemudikan mobilnya. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di restoran bintang lima tempat mereka janjian. Keifano, Karin dan Yudha duduk ruang VIP. Seperti biasa mereka selalu memesan ruang yang bebas asap rokok. Sepuluh menit kemudian Keluarga Hendrawan datang. Anisa tersenyum tipis dan lalu menundukkan pandangannya saat melihat ke arah Keifano. Terlihat Anisa tersipu malu saat melihat Keifano yang kemungkinan akan menjadi calon suaminya.


"Wah, calon menantuku cantik sekali." Puji Karin terhadap Anisa.


"Biasa saja kok Tante."


"Panggil aku Mama ya Anisa karena sebentar lagi kamu juga akan menjadi anakku," ucap Karin dengan senyuman.


"Sepertinya calon mertuaku sifatnya baik dan tidak seperti di sinetron-sinetron yang pernah aku dengar kalau mertua perempuan itu selalu galak sama menantunya." Batin Anisa.


"Eh? Iya Mama," ucapnya malu-malu.


"Bagaimana nak, Anisa cantik bukan?" Tanya Yudha kepada Keifano.


Keifano hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Dion dan Alya yang melihat senyuman Keifano jadi bisa menebak kalau Keifano mau untuk dijodohkan dengan Anisa.


"Tak hanya cantik tapi Anisa juga berakhlak baik." Puji Karin terhadap calon menantunya.


Dion dan Alya saling melempar senyuman saat anaknya dipuji cantik oleh Yudha dan Karin.


"Mama dan Papa ini apa-apaan sih, masa menjodohkan aku dengan wanita berjilbab seperti ini? Anisa bukan tipe perempuan yang aku inginkan." Batin Keifano saat melihat penampilan Anisa dari atas sampai bawah dan terkesan lebih tertutup.

__ADS_1


__ADS_2