
Yudha lalu meletakkan kembali suratnya ke dalam kotak tersebut. Sekarang Yudha duduk di tepi ranjangnya dan mengambil bantal yang biasa dipakai oleh Karin saat tidur. Yudha membayangkan dirinya sedang memeluk istrinya. Yudha begitu rindu dengan istrinya. Padahal baru semalam mereka bertemu.
"Karin, maafkan aku yang terlalu egois sayang. Aku kemarin telah mengabaikanmu," ucap Yudha sambil memeluk bantal yang biasa Karin pakai, aroma vanila dari rambut Karin masih menempel dibantal tersebut.
Yudha kini semakin merasa bersalah saat istrinya mau menjelaskan alasannya yang sebenarnya menunda kehamilannya. Tapi kemarin Yudha bahkan tidak membukakan pintu kamarnya hampir satu jam lamanya dan akhirnya Karin pergi dari rumahnya dan akan pergi dari kehidupannya sesuai dengan apa yang Yudha katakan saat itu, ketika Yudha ingin ketenangan dalam hidupnya.
"Arghhh................" Yudha berteriak histeris sambil mengacak-acak rambutnya.
Suara teriakan Yudha sampai terdengar ditelinga Mama Sabrina dan Papa Yudhistira. Karena sejak kemarin sore Yudha tidak mengaktifkan mode kedap suara di kamarnya.
"Pa, kita ke kamar Yudha yuk. Takut Yudha berbuat yang tidak diinginkan."
"Iya Mama, ayo kita segera ke kamarnya. Papa juga khawatir sama Yudha."
Mama Sabrina takut anaknya berbuat macam-macam karena kepergian istrinya sejak kemarin sore. Kini Papa Yudhistira dan Mama Sabrina sudah sampai di kamar anaknya. Mereka saling memandang saat melihat keadaan Yudha yang kini rambut Yudha sudah acak-acakan.
"Nak ada apa?" Tanya Papa Yudhistira berjalan mendekati anaknya.
"Sayang kamu kenapa?" Mama Sabrina bingung kini anaknya kelihatan sangat gelisah.
Lalu Yudha menyerahkan kotak yang berisi surat dan dua testpack tersebut kepada Mamanya. Mama Sabrina membolakan matanya saat melihat isi kotak tersebut dan telah membaca isi suratnya.
"Karin saat ini sedang hamil nak?" matanya berbinar-binar saat mengetahui bahwa menantunya kini sedang mengandung cucunya.
"Iya Mama. Tapi Yudha gak tahu gimana keadaan Karin saat ini. Mama aku takut," ucapnya dengan sesenggukan.
Mama Sabrina mengernyitkan dahinya saat anaknya bilang seperti itu. Bingung dengan ketakutan yang anaknya rasakan. Karena istrinya hamil itu merupakan kabar gembira dan Yudha justru ketakutan saat ini.
"Kamu takut kenapa nak?" Mama Sabrina kini memeluk anaknya agar lebih tenang.
"Aku takut akan kehilangan anakku Mama. Aku takut Karin akan membenciku."
__ADS_1
"Maksud kamu apa Yudha?" Kini Papanya yang berbicara.
"Yudha menyesal Papa. Yudha sendiri yang telah menyebabkan Karin pendarahan tadi malam. Hp Karin juga tidak bisa dihubungi sampai sekarang Papa."
"Apa?" Mama Sabrina dan Papa Yudhistira terkejut.
"Coba jelaskan secara detail nak. Kami tidak tahu apa yang kamu maksud."
Yudha lalu menceritakan tentang kejadian semalam di hotel saat dirinya mendorong istrinya ke ranjang dengan keras dan menyebabkan istrinya pendarahan. Yudha juga menceritakan juga tentang Vino yang kemarin sore bertemu dengan Karin di taman. Yudha terlalu cemburu dengan sahabat istrinya yang bernama Vino. Sampai Yudha menuduh Karin berbuat yang tidak-tidak dengan Vino.
"PLAKKK................" Satu tamparan keras mendarat dipipi Yudha.
Pertama kalinya Yudha merasakan tamparan keras dari Papanya. Namun ini juga karena perbuatannya kepada istrinya. Semalam Karin juga menamparnya dan sekarang Papanya.
"Papa.. Jangan tampar anak kita." Mama Sabrina mencegah suaminya saat mau menampar Yudha lagi.
Papa Yudhistira geram dengan kelakuan anaknya yang membahayakan istri dan juga cucunya.
"Mama, Yudha sudah keterlaluan sama Karin dan wajar saja Karin mengusir Yudha semalam saat Yudha mendatanginya. Aku tidak yakin rumah tanggamu akan baik-baik saja nak kalau sampai Karin keguguran dan Karin pasti akan membencimu."
"Pa, hp Karin gak bisa dihubungi."
"Sekarang kamu harus cari Karin sampai ketemu. Papa gak mau tahu, pokoknya kamu harus meminta maaf sama istrimu kalau kamu ingin tetap rumah tangga kamu akan baik-baik saja."
"Iya Pa. Yudha akan mencari Karin sekarang juga."
"Nak, sarapan dulu. Kamu harus banyak tenaga untuk mencari istrimu," ucap Mama Sabrina lembut.
"Iya Mama."
Kini Yudha akan sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Baru pertama kalinya kini Yudha tidak sarapan pagi bersama istrinya. Biasanya yang menyiapkan sarapannya adalah istrinya. Kini Mamanya yang menyiapkan sarapan untuknya seperti dulu saat sebelum menikah. Meskipun Yudha menolak tapi selagi Karin belum ketemu, Mamanya yang tetap akan mengambilkan sarapan untuknya.
__ADS_1
Mereka lalu sarapan pagi bersama. Setelah itu Yudha pamit untuk mencari Karin. Yudha akan mencari Karin ke hotel terlebih dahulu. Mama Sabrina akan meminta maaf kepada menantunya. Mama Sabrina sekarang khawatir jika terjadi sesuatu dengan menantunya dan juga cucunya. Mereka bertiga kini menyesal telah salah paham kepada Karin dan tidak mau mendengarkan penjelasan Karin terlebih dahulu. Mereka semua berharap bahwa Karin tidak apa-apa dan cucunya bisa selamat. Mama Sabrina dan Papa Yudhistira berharap Karin akan mau dibujuk lagi untuk tinggal bersamanya.
Kini Yudha sudah pamit kepada kedua orang tuannya untuk mencari Karin.
"Pa, Ma. Yudha berangkat dulu ya mau mencari Karin. Doakan Yudha agar segera menemukan Karin."
"Iya nak. Papa doakan Karin kondisinya tidak apa-apa dan bayinya selamat."
"Nak, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa bawa menantu dan cucu Mama pulang ke rumah."
"Iya Papa, Mama Yudha usahakan ya untuk segera membawa Karin pulang ke rumah."
Setelah mobil Yudha keluar dari rumahnya. Raut wajah Mama Sabrina ditekuk. Kini dirinya menyesal saat kemarin memberitahu kepada suami dan anaknya kalau Karin mengkonsumsi obat pil penunda kehamilan dan membuat menantunya pergi dari rumah. Kini menjadi pelajaran untuknya. Kalau ada apa-apa Mama Sabrina akan tanyakan dulu kepada Karin sebelum memberitahu kepada suami dan juga anaknya. Untuk mengantisipasi hal ini tidak terulang lagi. Mama Sabrina kini khawatir dengan keadaan Karin dan juga calon cucunya.
Biasanya Mama Sabrina memasak bersama menantunya, tak hanya itu mereka sering berbelanja dan ke salon kecantikan bersama. Kini rumahnya terasa sepi seperti kehilangan anak perempuannya.
"Nak, semoga kamu dan juga calon cucu Mama baik-baik saja," ucapnya lirih.
Kini Yudha sudah sampai di hotel milik keluarga Rey. Yudha meminta kartu akses ke kamar Karin. Setelah naik lift dan menekan tombol 23 akhirnya Yudha sampai di lantai 23. Yudha langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar istrinya.
Perlahan Yudha membuka pintu kamar tersebut. Keadaan kamar masih sama seperti semalam. Yudha mencari Karin di kamar mandi dan istrinya tidak ada di kamar hotel tersebut. Yudha lalu melihat ke arah seprei yang menunjukkan noda merah yang semakin banyak dari semalam yang dirinya lihat.
"Astagfirullah, bagaimana jika anakku tidak selamat," Yudha kini sudah meneteskan air matanya.
"Mungkin benar yang dikatakan Papa. Rumah tanggaku mungkin tidak akan berjalan baik-baik saja dan Karin setelah ini pasti akan membenciku."
Seketika pandangannya mengarah ke tas dan juga hp yang ada di meja. Pantas saja hp Karin tidak dapat dihubungi setelah Yudha cek ternyata baterainya habis dan perlu di charger terlebih dahulu.
Kini Yudha bingung harus mencari Karin mulai dari mana soalnya hpnya ketinggalan di kamarnya. Yudha lalu pergi dan meninggalkan kamar Karin dan menuju ruang CCTV. Setelah meminta tolong kepada petugas yang bertugas dalam memantau CCTV akhirnya Yudha melihat dengan jelas hanya karyawan hotel yang masuk ke dalam kamar istrinya yang membawakan mukena dan sajadah sesuai dengan yang Karin bilang. Yudha meminta dipercepat durasi waktunya. Yudha melihat Rey, Risa dan Reno masuk ke dalam kamar Karin. Rey menggendong tubuh Karin keluar dari kamarnya dengan muka yang sudah cemas karena Karin terlihat tidak berdaya saat digendong Rey.
Kini Yudha sudah tahu Karin dibawa oleh Rey dan pastinya menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kenapa Rey dan Risa tidak menghubungi aku ya kalau mereka sudah membawa Karin ke rumah sakit."
Seketika Yudha teringat kalau Karin semalam mengusir dirinya dan tidak mau melihatnya. Mungkin saat ini Karin telah membenci dirinya karena Yudha yang menyebabkan Karin hingga seperti ini Yudha beberapa kali menelepon Rey dan Risa, namun tidak ada yang mengangkat teleponnya. Karin pasti melarangnya untuk memberitahu keberadaannya. Yudha setelah ini akan mencari setiap rumah sakit mencari nama istrinya dan di ruang berapa yang tempat istrinya dirawat.