Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Wanita Selalu Benar...


__ADS_3

Sudah sebulan Keifano tinggal di rumah mertuanya. Semenjak hamil Anisa ingin selalu dekat dengan Umi Alya. Mama Karin memaklumi bahwa menantunya saat ini sedang hamil dan setiap weekend saja menginap di rumahnya. Saat ini Anisa ingin memakan makanan yang lokasinya dekat dengan rumah mertuanya. Anisa menatap luar jendela kamarnya, Keifano mengerti istrinya sedang ada yang dipikirkan. Perlahan Keifano mendekati istrinya dan melingkarkan tangannya pada pinggang Anisa.


"Bunda, kenapa kamu melamun?" tanya Keifano yang lalu mengecup pipi kiri Anisa.


"Ayah, kamu mengagetkan aku saja."


"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" lirihnya.


"Aku ingin makan di restoran yang dekat dengan rumah Papa. Sudah lama sekali kita tidak makan di sana."


"Ayo kita ke restorannya sekarang juga. Mumpung belum terlalu sore."


"Hmm iya, makasih ya Ayah kamu selalu menuruti keinginan aku."


"Jangan bicara seperti itu. Karena aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu yang sudah mau mengandung anak-anakku," ucap Keifano sambil melepaskan pelukannya.


Anisa lalu membalikkan tubuhnya dan memegang kedua pipi suaminya.


"Sudah seharusnya sebagai seorang istri untuk memberikan suaminya keturunan dan alhamdulilah kita diberikan kepercayaan untuk punya dua anak sekaligus."


"Aku bahagia sayang kita akan punya anak sekaligus dua dan sepertinya akan seru ya punya anak kembar," ucapnya sambil memegang perut istrinya.


"Jadilah Ayah yang baik untuk mereka."


"Pasti sayang, aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik dan Ayah yang baik untuk anak-anak kita."


"Hmm iya. Aku sudah lapar sayang," ucap Anisa.


"Kamu sekarang sering sekali lapar," ucap Keifano terkekeh.


"Gimana gak sering lapar jika setiap aku makan dan dibagi tiga."


"Iya sayang aku mengerti, ayo kita berangkat dan ngidam kamu harus segera dituruti sekarang juga."


Mereka lalu pamit dengan Umi Alya dan Abi Dion. Setelah mobil Keifano pergi dari halaman rumahnya Dion menepuk pundak istrinya.


"Abi, mengagetkan Umi saja."


"Gitu saja kaget sih sayang?" Dion tertawa kecil.


"Abi, aku bahagia Anisa sekarang sama Keifano hubungannya baik-baik saja."


"Iya Umi. Mudah-mudahan saja tidak ada orang ketiga lagi di antara mereka."


"Iya Abi, Umi berharap juga seperti itu."


Andika turun dari kamarnya. Dion dan Alya saling berpandangan. Andika lalu mengecup punggung tangan orangtuanya secara bergantian dan pamit ingin pergi.


"Nak, mau kemana?" tanya Dion.


"Biasa Abi, mau ngopi sama teman-teman dan bicara soal bisnis."


"Bisnis saja yang kamu bicarakan. Kapan kamu nikahnya kalau seperti ini terus? Umur kamu sudah cukup untuk membina rumah tangga nak," ucap Dion menasihati anaknya.

__ADS_1


"Urusan menikah itu belakangan Abi. Karir lebih penting saat ini."


"Nak, apa kamu tidak mau menikah? Anisa saja sudah mau punya dua anak," ucap Alya.


"Nanti kalau sudah waktunya Andika akan menikah."


"Nak, kapan kamu dapat pasangannya jika kamu berkumpul sama teman-teman laki-laki kamu semua," ucap Alya.


"Jangan-jangan kamu seorang gay nak?" tanya Dion ingin memastikan kalau anaknya normal atau tidak.


"Astagfirullah Abi bicaranya jangan sembarangan. Andika laki-laki normal dan masih suka dengan perempuan."


"Buktikan jika kamu laki-laki sejati maka tahun depan kamu harus sudah menikah dan berikan Abi cucu yang lucu-lucu."


"Insya'allah Abi kalau sudah dapat jodohnya. Kan jodoh ada ditangan Allah."


Andika lalu nyelonong saja pergi.


"Astagfirullah anak itu membikin spot jantung saja. Belum selesai bicara sudah main nyelonong pergi saja," ucap Dion mendengus kesal.


"Sabar Abi..."


Setelah berbicara dengan suaminya Alya terkekeh melihat suaminya masih menggerutu karena kesal dengan anaknya.


...*****...


Anisa dan Keifano sudah sampai di restoran. Pelayan datang memberikan menu. Sekarang Keifano sudah memilih makanannya yang ia pesan dan tinggal istrinya. Keifano melongo saat istrinya memilih banyak menu yang dia pesan bukan apa-apa tapi tadi juga sudah makan siang banyak di rumah dan ini sekarang baru jam tiga sore sudah lapar lagi.


"Sayang, apa ini tidak kebanyakan? Maksudnya apa perutmu akan muat untuk memakan semuanya?"


Semua makanan yang mereka pesan telah datang. Anisa matanya berbinar-binar saat melihat semua makanan yang tersaji di meja.


"Sayang kamu harus habiskan semuanya. Aku ingin kamu dan anak-anak kita tidak kekurangan makanan."


"Siap sayang," ucap Anisa sambil hormat.


"Sayang, ayo kita makan sekarang juga nanti keburu dingin."


Anisa mengangguk pelan dan mereka lalu makan bersama. Keifano bahagia istrinya makan dengan lahap. Sekarang Keifano sudah tidak cemburuan lagi sama Key. Keakraban Anisa dan Key hanya sebatas saudara ipar saja.


Setelah makan bersama mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Papa Yudha. Mama Karin bahagia menantunya dan anaknya pulang. Tadi Anisa maupun Keifano sudah mengucapkan salam. Mereka disambut dengan baik. Mama Karin bahagia hubungan anaknya dengan Anisa semakin membaik dan terlihat lebih harmonis.


"Sayang, akhirnya kalian datang," ucap Karin memeluk anaknya dan lalu menantunya.


"Oh iya bagaimana keadaan kedua cucu Mama nak?" ucap Karin sambil memegang perut Anisa.


"Alhamdulillah mereka sehat-sehat Mama."


"Kemarin sudah periksa dan aku bahagia Mama bisa melihat mereka dari layar monitor," ucap Keifano tersenyum.


Karin melihat aura bahagia terpancar dari wajah putranya.


"Sayang, aku jadi ingat saat kamu hamil Keifano dan Keisha. Perutmu besar sekali waktu itu," ucap Yudha.

__ADS_1


"Ah, iya. Anisa pasti juga akan seperti itu sebentar lagi," jawab Karin.


"Sebesar apa Mama?" tanya Anisa penasaran.


"Sebentar nak, Mama masih punya fotonya waktu Mama masih muda dulu," ucap Karin terkekeh.


Karin lalu meraih hpnya dan memperlihatkan fotonya waktu hamil Keifano dan juga Keisha.


"Ini waktu Mama hamil 9 bulan Keifano dan Keisha."


"Iya perut Mama sangat besar sekali," ucap Anisa.


"Iya nak, kalau ini saat hamil Key 6 bulan waktu itu."


"Mama cantik sekali difoto ini."


"Haha itu dulu nak. Sekarang Mama sudah tua."


"Tapi Mama terlihat awet muda."


"Itu karena Mama sering melakukan perawatan nak," ucap Yudha terkekeh.


"Oh iya dan ini saat Mama hamil Keyla 8 bulan lebih 3 minggu waktu itu."


"Wah, Mama Karin wanita yang hebat. Anisa kagum sama Mama."


"Mama hamil berkali-kali karena sering lupa mengkonsumsi pil pencegah kehamilan nak," ucap Karin.


"Iya Mama kamu yang lupa tapi Papa yang yang selalu disalahkan. Sudah dua kali Mama kamu lupa seperti itu dan lahirlah Key dan Keyla," ucap Yudha yang masih ingat saat itu Karin marah-marah dan menyalahkannya.


Keifano terkekeh mendengar perkataan Papanya.


"Sabar Papa, wanita selalu benar," ucap Keifano berbisik.


"Kamu nanti juga akan merasakan hal yang sama nak. Papa sudah dua kali disalahkan padahal Mama kamu yang lupa."


"Tidak akan terjadi denganku Papa."


"Lihat saja nanti," ucap Yudha tersenyum tipis.


Karin mengernyitkan dahinya saat anak dan suaminya berbisik-bisik.


"Hei, kalian bicara apa sih kok bisik-bisik?" tanya Karin penasaran.


"Eh, tidak ada apa-apa sayang, hanya masalah laki-laki saja, iya kan nak?" ucap Yudha melirik kearah Keifano.


Yudha tidak mau tidur di luar lagi karena membicarakan Karin. Maka dari itu berbicara seperti itu dan meminta bantuan anaknya.


"Ehm iya Mama hanya masalah laki-laki," ucap Keifano terpaksa berbohong membantu Papanya.


"Beneran ya? Kalau sampai kalian ketahuan membicarakan Mama. Aku akan tidur sama Anisa saja."


"Nak, berikan pelajaran bagi laki-laki yang suka berbohong," bisik Karin.

__ADS_1


"Kamu mau kan nak tidur sama Mama? Dan biarkan suami-suami kita tidur sendirian."


Anisa mengangguk dan tersenyum tipis.


__ADS_2