
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Karin di kelasnya terlihat murung. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Astrid dan Andre seakan penasaran dengan tingkah laku Karin, karena Karin tidak biasanya seperti ini. Dia selalu ceria setiap harinya.
"Karin kamu sepertinya tidak semangat hari ini. Ada apa? Apa calon suamimu itu yang membikin kamu jadi galau seperti ini?" Tanya Astrid dengan berbagai pertanyaannya.
"Kalau nanya satu-satu beb. Entar Karin bingung jawabnya," ucap Andre.
"Kamu ke kantin gih. Beliin kita camilan yang bisa di makan sama jus jeruknya ya?"
"Punya pacar cuma di manfaatin untuk disuruh-suruh nih." Andre pun cemberut.
"Situasinya sedang beda beb, mengertilah!" ucap Astrid seraya mengkode Karin yang sedang galau.
"Hmm iya, aku akan ke kantin sekarang."
Andre melangkahkan kakinya untuk keluar kelas dan menuju ke kantin.
"Karin, kamu cerita sama aku. Aku siap membantu kamu kalau ada masalah."
"Aku hanya bingung saja Astrid."
"Bingung kenapa?"
"Kak Yudha ingin menikah denganku setelah aku lulus SMA."
"Wah asyik dong, akhirnya kamu juga akan sama kaya aku yang akan menikah muda."
"Itu yang sedang aku pikirkan Astrid. Kak Yudha ingin punya banyak anak dariku."
"Kamu tahu sendiri kan kalau umurku dengannya berbeda 7 tahun. Mungkin inilah resiko akan menikah dengan pria dewasa," ucapnya kembali.
"Emangnya Kak Yudha menginginkan berapa anak darimu?" Tanya Astrid penasaran.
"Kak Yudha menginginkan anak dariku minimal 2 anak dan maksimal 5 anak."
"Pffffftttttt.............." Astrid berusaha menahan tawanya.
"Kamu kok malah tertawa sih?" Karin mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha... Akhirnya kamu akan menikah muda juga. Jadi kita bisa hamil bareng dong nanti dan pastinya seru Karin."
"Aku gak ingin cepat hamil Astrid."
"Maksudnya kamu ingin menunda kehamilan gitu?" Tanya Astrid penasaran.
"Sepertinya iya. Mungkin aku akan menundanya sampai aku benar-benar siap untuk hamil."
"Kamu akan menundanya berapa lama?"
"Mungkin sampai aku lulus kuliah nanti."
__ADS_1
"Eh? Kamu yakin akan menunda selama itu. 4 tahun bukan waktu yang singkat loh Karin. Apalagi Kak Yudha sudah berumur bukan?"
"Iya juga sih. Kemarin Kak Yudha habis ulang tahun ke 26, makanya sekarang aku sedang bingung Astrid."
Kalau Yudha tahu sepertinya akan marah jika sampai tahu bahwa Karin menunda kehamilannya. Meskipun Karin akan menutupinya namun lama kelamaan Yudha akan tahu jika Karin melakukan KB secara diam-diam darinya.
"Kamu lebih baik gak usah menunda kehamilan saja sih menurutku Karin. Lagian kan kamu masih bisa kuliah meskipun kamu sedang hamil juga."
"Tapi jika aku kuliah dalam keadaan hamil kan pasti ribet Astrid. Nanti kalau perutku tiba-tiba kram atau kontraksi di kelas gimana."
"Ya bisa di atur dong Karin. Kalau kandungan kamu sudah mulai membesar, kamu bisa ajukan untuk cuti kuliah."
"Cuti kuliah?"
"Iya, itu bisa kamu manfaatkan untuk fokus dengan kehamilan kamu dan juga mengurus anak kamu. Lumayan kan cuti kuliah 1 tahun."
"Huft............"
"Kenapa kamu masih bingung?"
"Curhat sama kamu sama saja. Kamu juga memintaku untuk tidak menunda kehamilan."
"Coba deh kamu pikir lagi Karin tentang ucapan ku. Kalau kamu menunda kehamilan selama 4 tahun nanti kamu dikira mandul loh."
Karin masih terdiam memikirkan perkataan Astrid.
"Nanti yang ada Yudha disuruh menikah lagi dengan perempuan lain oleh kedua orang tuanya karena mereka menginginkan cucu untuk penerus keluarganya."
"Gimana apa kamu tetap kekeh ingin menunda kehamilan?"
"Mungkin aku akan menunda 1 tahun saja Astrid. Karena saat lulus SMA usiaku masih muda."
"Bagus deh. Kalau bisa sih jangan terlalu lama menundanya. Ingat nanti kamu dikira gak bisa kasih keturunan ke Yudha."
"Hmm iya aku mengerti. Terima kasih ya Astrid atas solusinya, kamu memang sahabatku terbaik."
"Sama-sama sayang." Mereka lalu saling berpelukan.
Tak lama kemudian Andre datang membawa 3 bungkus siomay dan 3 jus jeruk.
"Wah aku juga mau dong beb dipeluk," ucap Andre menggoda Astrid.
"Huh iri saja kamu," ucap Karin.
Mereka lalu memakan siomay yang dibeli Andre.
...*****...
Yudha sekarang sudah boleh membawa mobil lagi oleh orang tuanya. Namun baru minggu depan akan masuk lagi bekerja di rumah sakit. Tadi saat menjemput Karin di sekolahnya, Yudha sempat bilang bahwa malam ini akan datang bersama kedua orang tuanya untuk melamarnya. Karin tadinya terkejut saat Yudha bilang akan melamarnya dan memang benar sebentar lagi Karin akan lulus SMA. Karin juga sudah bilang kepada kedua orang tuanya juga Kakek dan Neneknya.
__ADS_1
FLASHBACK ON
"Sayang nanti malam aku dan kedua orang tuaku akan datang ke rumahmu."
"Ke rumah?" Tanyanya bingung.
"Ya, untuk apalagi kalau tidak untuk melamarmu untuk menjadi istriku sayang."
"Melamarku? Kok mendadak sih sayang bilangnya?"
"Ya kan untuk membahas pernikahan kita sayang. Sebentar lagi kan kamu lulus SMA."
"Hmm iya. Nanti aku bilang ke Mama, Papa, Kakek dan Nenek."
FLASHBACK OFF
Malam pun telah tiba. Mobil Yudha sudah masuk ke halaman rumah Karin. Bibi yang membukakan pintu lalu menemui sang pemilik rumah.
"Nyonya, Tuan, ada tamu."
"Baiklah aku akan ke sana."
Papa Keynan berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan Mama Chintya mencari kedua mertuanya untuk bilang keluarga Yudha sudah datang. Setelah bilang ke mertuanya, Mama Sabrina menuju kamar Karin.
"Ceklek............."
"Nak, Yudha sudah datang sayang bersama kedua orang tuanya."
"Hah? Sudah pada datang ya Ma," ucap Karin gugup.
"Kamu sebentar lagi akan menikah sayang. Mama gak nyangka anak Mama sudah besar," ucap Mama Chintya membelai rambut panjang Karin.
"Kamu nanti nurut ya nak apa kata suami kamu. Jangan pernah membantahnya. Sekarang ayo kita keluar sudah ditunggu mereka."
"Iya Mama."
Karin dan Mama Chintya keluar dari kamar Karin. Karin hari ini sangat cantik dengan memakai dress selutut yang berwarna peach. Saat Karin dan Mama Chintya turun dari tangga Yudha menatap wajah Karin yang sedang turun dari tangga tanpa berkedip. Papa Keynan yang tahu itu lalu berdehem untuk membuyarkan lamunan Yudha. Seketika Yudha jadi malu di depan calon mertuanya Yudha bersikap seperti itu.
"Aku tahu anakku sangat cantik nak Yudha. Tapi jagalah pandanganmu." Papa Keynan terkesan galak sepertinya.
"Astaga, anakku ini gak bisa jaga sikapnya." Batin Papa Yudhistira.
"Nanti kalau sudah sah, aku boleh memandangnya setiap saat." Batin Yudha senang.
Yudha hanya mengangguk dan dirinya sekarang malu setengah mati. Yudha sekarang bimbang apakah Papa Keynan akan menerima lamarannya atau tidak saat Yudha tadi memperhatikan Karin seperti itu karena tadi Papa Keynan galak kepadanya. Mereka langsung saling bersalaman. Tadi Yudha sudah mengecup punggung tangan Papa Keynan serta Kakek dan Neneknya Karin. Sekarang giliran Yudha mengecup punggung tangan Mama Chintya. Karin juga melakukan hal yang sama dengan Yudha. Karin mengecup punggung tangan Mama Sabrina dan Papa Yudhistira. Mereka sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Kedatangan saya kemari untuk mengantarkan anak saya Yudha. Kami ada niat baik untuk datang kemari." Papa Yudhistira lalu menepuk pundak Yudha agar berbicara.
"Maksud kedatangan saya kemari bersama kedua orang tua saya untuk melamar Karin Om."
__ADS_1
"Tidak semudah itu saya memberikan restu kepadamu. Karena Karin adalah anak satu-satunya yang saya sayangi."
Perkataan Papa Keynan membuat seisi ruang tamu itu terbengong, terutama Yudha dan Karin yang terkejut mendengar ucapannya. Yudha nyalinya semakin menciut untuk bersanding dengan Karin. Yudha paham bahwa umurnya berbeda jauh dengan Karin.