
Please berikan jempol ๐ kalian terlebih dahulu sebelum membaca karena jempolnya semakin menghilang akhir-akhir ini ๐
Key akan menemui Andin untuk membicarakan hubungannya. Key langsung akan mengajak Andin untuk menikah kali ini. Ide Keyla akan Key gunakan karena ini demi masa depannya juga. Key hanya ingin menikah dengan wanita yang ia cintai.
"Kakak mau nemuin Andin dulu."
"Salam ya Kak untuk calon Kakak ipar. Jangan lupa dengan misi kita, Kakak semangat ya dan mulai berlaku hari ini waktu taruhannya."
Mereka tadi sepakat dalam waktu 1 bulan Andin harus mau menikah dengan Key. Siapa yang berhasil membujuk Andin, itu yang akan menjadi pemenangnya.
"Iya Kakak pasti akan menang Keyla dan kamu siap-siap untuk jadian sama Leon selama satu tahun."
"Jangan percaya diri dulu. Bisa saja kan aku yang menang karena bisa membujuk Kak Andin."
"Aku tidak yakin kalau kamu bisa membujuknya."
"Kita lihat saja nanti," ucap Keyla yang lalu keluar dari kamar Key.
"Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan saja Andin mau aku bujuk. Kasihan Keyla belum pernah dekat dengan laki-laki selama ini."
Key lalu meraih jaketnya dan juga kunci mobilnya. Tak lupa tadi Key menggunakan parfum yang Andin pilihkan saat mereka jalan-jalan di mall waktu itu. Sebelum pergi ke tempat janjian, Key membeli sebuket bunga mawar untuk gadis pujaannya.
"Mudah-mudahan saja Andin suka dan menerimaku sebagai calon suaminya."
Key lalu melajukan mobilnya ke taman, tempat mereka janjian. Terlihat gadis cantik berhijab yang sudah menunggu sang pangerannya datang. Key menyembunyikan sebuket bunga tersebut dibalik tubuhnya.
"Bidadariku," ucap Key.
Andin yang mendengar suara tidak asing itu lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Key......."
Senyuman tipis terlihat dari wajah Andin.
"Sayang, ini bunga untuk kamu."
"Makasih ya Key..."
Andin lalu menerima bunga itu dan kemudian menghirupnya. Seketika Andin menundukkan pandangannya. Key melihat Andin sepertinya habis menangis. Perlahan Key duduk disampingnya.
"Sayang, kenapa kamu bersedih?"
__ADS_1
"Key, sepertinya hubungan kita sampai di sini saja."
Key betapa terkejutnya saat ini. Dadanya seketika sakit seperti ada ribuan batu yang menghantamnya. Saat akan mengajak gadis pujaannya untuk menikah. Justru Andin ingin mengakhiri hubungannya dengan Key.
"Apa? Kamu ingin kita putus?" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya lemah.
"Iya, kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini semakin jauh lagi Key."
"Andin, kita berjanji kan akan berjuang sama-sama untuk mendapatkan restu kedua orangtua kita? Tapi kenapa kamu memilih untuk mundur?"
"Ada suatu alasan yang tidak bisa aku jelaskan Key."
"Apa kamu sudah bertemu dengan laki-laki itu? Apa laki-laki itu lebih tampan dariku sehingga kamu langsung jatuh cinta padanya dan mengakhiri hubungan kita?"
"Aku belum pernah bertemu dengannya."
"Lalu apa yang membuat kamu memutuskan hubungan kita?"
"Mamaku sakit Key dan sekarang sedang Papa sedang membawa Mama keluar negeri untuk berobat."
"Mamamu sakit apa?"
"Mama bilang jika setelah pulang ke Indonesia nanti dalam keadaaannya sembuh atau tidak sembuh nanti akan tetap menikahkan aku dengan laki-laki itu. Pernikahan itu jadi akan dipercepat setelah Mama dan Papa pulang ke Indonesia. Jadi aku tidak bisa mengulur waktu lagi sampai aku lulus S2."
Sebenarnya Andin akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan orangtuanya saat sudah lulus S1 kemarin. Tapi Andin ngotot tidak ingin menikah terlebih dahulu karena ingin melanjutkan kuliah S2. Yang menjadi alasan sebenarnya karena Andin ingin mengulur waktu agar tidak dinikahkan dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Padahal orangtuanya itu berpikir bahwa setelah menikah masih bisa melanjutkan kuliahnya.
"Jadi hubungan kita tidak bisa dipertahankan lagi?" tanya Key memastikan.
"Iya... Sepertinya tidak Key. Maafkan aku..."
"Aku menghargai keputusan kamu Andin. Hmm bahkan tadi sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk membawa hubungan kita semakin seruis. Aku ingin menikahi kamu Andin, namun kamu malah memutuskan hubungan kita," ucap Key tersenyum getir.
"Key, maafkan aku..."
"Andin selama ini aku tidak pernah kan bersikap tidak sopan kan sama kamu?"
Andin mengangguk pelan. Key dan Andin selama ini hanya bergandengan tangan saja tidak lebih.
"Aku harap laki-laki itu juga bersikap baik sama kamu. Aku turut bahagia jika kamu bisa berbakti kepada orangtua. Aku bahagia jika kamu bahagia. Karena kamu adalah sumber kebahagiaanku."
Key menghela napas panjang.
__ADS_1
"Mungkin memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Sekuat apapun aku mencoba untuk mempertahankan hubungan kita namun jika aku hanya berjuang sendirian saja aku juga tidak bisa Andin. Semoga kamu tidak salah akan keputusan yang telah kamu ambil," ucap Key yang lalu beranjak dari tempat duduknya.
Andin lalu teringat jika Key akan pergi jauh keluar negeri dan mungkin akan menetap tinggal di sana dan tidak akan kembali. Key pernah bilang seperti itu kalau sampai Andin memilih untuk melanjutkan perjodohannya dengan laki-laki pilihan kedua orangtuanya. Key tidak ingin tinggal di Indonesia, karena gadis pujaannya itu akan bersanding dengan pria lain dan itu hanya akan menambah sakit hati Key yang semakin mendalam.
"Key jangan pergi keluar negeri. Aku mohon tetaplah tinggal di Indonesia."
"Aku bingung harus bagaimana lagi Andin. Hatiku sakit jika melihat kamu bersama laki-laki lain."
Andin kini semakin terisak. Disatu sisi tidak ingin kehilangan Key, namun disisi laln Andin tidak ingin melawan kehendak kedua orangtuanya.
"Sudah kamu jangan menangis lagi dan aku tidak akan pergi," ucap Key yang lalu menghapus air mata gadis pujaannya.
"Saat ini aku hanya bisa membuat Andin tenang dulu. Setelah itu aku bisa pergi keluar negeri. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu." Batin Key.
Sebenarnya kedua orangtuanya Andin ingin menikahkannya dengan laki-laki pilihannya setahun lagi setelah Andin lulus S2. Namun saat ini Mama Siska tengah sakit dan nanti saat sembuh atau tidak sembuh ingin melihat anaknya menikah setelah pulang berobat dari luar negeri.
"Jangan pernah bersedih lagi Andin. Anggaplah aku ini sebagai Kakakmu. Jika aku tidak bisa bersamamu maka kita masih bisa dekat dengan menjadi saudara bukan?"
Andin lalu mengangguk pelan.
"Peluklah aku untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum kamu dimiliki oleh pria lain," ucap Key yang lalu merentangkan kedua tangannya.
Andin lalu berhamburan memeluk laki-laki yang dicintainya. Key memeluk gadis pujaannya dengan erat.
"Jika aku bisa memohon pada Tuhan, tolong hentikan waktu saat ini juga. Karena aku ingin bisa selalu memeluknya setiap saat. Mungkin aku terlalu egois dan berangan-angan terlalu jauh karena ingin menjadi laki-laki yang dijodohkan dengan Andin." Batin Key.
"Aku mencintaimu, tapi aku juga tidak mungkin bisa bersamamu. Maafkan aku Key," ungkap Andin yang semakin terisak dalam tangisannya.
Tak terasa air mata Key jatuh saat Andin berbicara seperti itu.
"Aku juga mencintaimu. Tapi aku juga tahu kalau kita tidak bisa bersama. Banyak rintangan yang harus kita hadapi jika kita bersama," ucap Key yang lalu melepaskan pelukannya.
Andin melihat Key juga menangis.
"Key.........," lirihnya.
Dengan segera Key lalu mengusap air matanya dan tidak ingin menjadi pria yang lemah dimata gadis yang ia cintai.
Dukung author juga dengan memberikan vote gratis (tanpa mengurangi poin)
Readers kesayangan jangan lupa tinggalkan jejak kalian biar author semakin semangat bikin ceritanya๐๐ค
__ADS_1