
Yudha melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya terlihat istrinya sedang duduk di sofa dan pandangannya mengarah ke jendela. Karin kini sedang memikirkan sesuatu. Yudha pun tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya dan pasti mengenai perkataan anaknya yang meminta adik.
"Sayang......." Yudha lalu duduk mendekati istrinya.
"Kenapa Mas? Langsung bicara saja!" ucapnya ketus.
Karin tidak menoleh dan pandangannya masih fokus ke arah jendela. Karin masih kesal dengan suaminya yang mendukung anaknya meminta adik.
"Sayang apa kamu tidak akan berubah pikiran? Kasihan Key ingin punya adik." Berkata dengan hati-hati kepada istrinya.
"Mas kenapa masih membahas itu? Aku kan pernah bilang kalau aku tidak mau hamil lagi. Tiga anak sudah cukup Mas. Rumah kita juga sudah ramai dengan adanya Keifano, Keisha dan Key."
"Tapi sayang. Gimana dengan permintaan Key?" ucapnya dengan serius.
"Nanti pasti Key lama-lama akan paham Mas kalau sudah besar. Key sekarang masih kecil jadi mudah terpengaruh dengan perkataan orang lain. Bila perlu nanti Mamanya Laura akan aku labrak karena telah berbicara sembarangan dengan anakku."
"Eh, sayang kamu jangan pakai emosi ya kalau bicara dengan Mamanya Laura. Kasihan dia juga sedang hamil."
"Jadi Mas lebih kasihan dengan Mamanya Laura daripada denganku? Mas, aku ini istri kamu. Kenapa kamu memikirkan orang lain?" Menatap tajam ke arah suaminya.
"Astaga istriku kan lagi kedatangan tamu bulanannya. Jadi mudah emosi." Batin Yudha menyesal karena baru ingat saat ini istrinya sedang kedatangan tamu bulanannya.
"Ah, tidak sayang. Bukan maksudku berbicara seperti itu." Kini Yudha semakin merasa serba salah karena dirinya telah salah bicara dengan istrinya yang lagi kedatangan tamu bulanannya.
"Tau ah Mas! Kalau kamu tetap membujukku untuk memberikan adik untuk Key, silakan kamu cari istri lainnya yang bisa memberikan adik untuknya," ucap Karin beranjak dari sofanya dan menuju ke kamar mandi sambil membanting pintunya.
"Astagfirullah. Benar kata Rio kalau wanita sedang kedatangan tamu bulanannya pasti akan gampang marah." Lirihnya.
Kini Yudha bingung jika ditagih anaknya sendiri yang sangat ingin punya adik tersebut dan Karin juga tidak mau untuk mengabulkan permintaan anaknya. Yudha sekarang bingung antara lebih membela istrinya atau membela anaknya sendiri.
Yudha akan mencoba membujuk Karin lagi tapi nanti ada saatnya. Kalau sekarang Karin emosinya sedang meluap-luap. Karena Karin jawabannya akan sama saja jika Yudha membujuknya saat ini. Yudha sebenarnya tidak ingin mengecewakan anaknya. Karena Yudha sangat sayang dengan Key. Yudha berharap Karin mau mengabulkan permintaan anaknya agar Key tidak akan kecewa. Yudha berharap Karin akan terbuka hatinya untuk menuruti keinginan Key.
...*****...
__ADS_1
Pasangan Alya dan Dion kini tengah berbahagia. Alya kini sedang hamil lagi. Kehamilan keduanya kini Alya hanya mengandung satu anak. Sekarang usia kandungannya sudah berjalan 6 bulan dan anaknya sudah mulai aktif menendang-nendang dalam perutnya. Dion bersyukur istrinya bisa hamil lagi. Si kembar Anisa dan Andika kini sudah berumur 9 tahun. Mereka sudah duduk di bangku kelas 4 SD. Mereka berbeda 2 tahun kurang 1 bulan dengan Keifano dan Keisha. Alya kini sedang di sofa melihat ke arah perutnya yang semakin membesar.
"Abi, anak kita jaraknya jauh dengan kedua Kakaknya." Sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membesar.
"Tidak apa-apa Umi. Anak adalah anugerah dari Allah. Jadi kita harus mensyukuri dan menerimanya."
Alya lalu mengangguk pelan dan benar juga perkataan suaminya bahwa anak adalah anugerah dari Allah.
"Iya Bi. Maaf ya, aku lalai mengkonsumsi pil pencegah kehamilannya."
"Tidak apa-apa. Umi, tidak usah meminta maaf. Umi tidak salah kok."
"Bi, aku ingin makan sesuatu." Alya masih mengusap perutnya dan sambil menatap langit-langit rumahnya. Alya membayangkan makanan yang dulu dia sering makan saat menjadi mahasiswa.
"Kamu sedang ngidam ingin makan apa Umi?"
"Iya Bi, aku ingin makan ayam geprek yang ada di dekat kampus. Kita ke restoran yang waktu itu yuk Bi. Sambil mengenang masa-masa kita dahulu bertemu saat kita masih menjadi mahasiswa," ucapnya sambil tersenyum.
"Boleh Umi. Ya sudah aku bilang sama anak-anak terlebih dahulu ya?"
"Baiklah Umi. Apapun kemauan kamu pasti aku akan turuti."
"Ini juga karena kemauan anak kita Bi."
"Anak Abi ingin tahu ya masa-masa Abi dulu baru mengenal Umi?" ucapnya terkekeh sambil mengelus perut Alya.
"Iya Abi," ucap Alya sambil menirukan suara anak kecil.
"Umi semakin menggemaskan deh itu pipinya."
"Abi, bilang aku gendut?"
"Tidak Umi. Kamu memang semakin menggemaskan."
__ADS_1
"Sudah Bi. Ayo kita ke restorannya. Aku sudah ingin memakan ayam gepreknya."
"Iya Umi."
Sebelumnya anak-anaknya Dion beritahu bahwa mereka ingin ke restoran dan Dion tak lupa memberitahu bahwa Alya sedang ngidam. Anak-anaknya paham, Dion lalu bicara kepada anak-anaknya ingin dibawakan makanan apa dan mereka lalu memesan 2 porsi ayam bakar. Dion lega anak-anaknya bisa mengerti keadaan Alya yang sedang ngidam. Sekarang mereka sedang ada di perjalanan menuju ke restoran.
"Yah macet lagi," ucap Dion lalu bersender di kursinya.
"Anak Umi, sabar ya nak. Sebentar lagi kita akan memakan ayam gepreknya." Sambil memegang perutnya.
Dion lalu menoleh ke arah Alya dan mengusap perut istrinya sebentar.
"Dia meresponku Umi."
"Iya Bi, dia menendang-nendang dalam perutku."
"Umi, kita belum tahu jenis kelamin bayi kita."
"Abi biar surprise seperti si kembar saja ya? Jadi kita tidak perlu tahu jenis kelamin bayi kita. Nanti saat dia lahir kita baru akan tahu jenis kelaminnya."
"Iya Umi." Padahal Dion sebenarnya ingin tahu jenis kelamin anaknya. Namun Dion juga menjaga perasaan istrinya yang ingin saat lahiran saja mengetahui jenis kelamin bayinya.
Mereka kini sudah sampai ke restoran. Dekorasi restorannya masih sama seperti dulu. Hanya saja sudah berbeda catnya. Alya berharap mudah-mudahan saja rasa ayam gepreknya masih sama. Dion dan Alya sudah duduk di kursi. Dion lalu memesan makanannya. Dion memilih ayam geprek yang levelnya rendah dan tidak terlalu pedas. Karena tidak mau dirinya maupun istrinya kepedesan memakan ayam geprek tersebut.
Saat makanannya datang Alya memakannya dengan lahap. Dion sebenarnya tidak suka dengan makanan yang terlalu pedas. Namun istrinya saat hamil ingin selalu ditemani makan. Maka dari itu Dion selalu makan apapun yang Alya juga makan. Dion tidak berani menolak ajakan istrinya untuk makan bersama. Karena ini juga permintaan anaknya yang masih dalam kandungan istrinya. Dion bersyukur istrinya hamil lagi. Dion semakin sayang dengan Alya. Istrinya sudah memberikannya anak kembar dan sekarang juga sedang mengandung buah hatinya. Alangkah bahagianya Dion akan punya anak lagi.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Jangan lupa berikan hadiah dan vote. Terima kasih ❤️
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya baru author 💙