
Ulang tahun Anisa tengah malam ini. Keifano membawa kue, sebuket bunga mawar merah dan hadiah spesial untuk istrinya yaitu kalung berlian. Keifano yakin Anisa akan mau menemuinya malam ini. Keifano membiarkan kue dan hadiah spesialnya di mobil. Keifano akan menemui orang yang membukakan pintu rumah terlebih dahulu. Harapannya bertemu dengan Umi Alya atau Abi Dion. Keifano akan menceritakan semuanya dan telah menyesali perbuatannya. Saat mengetuk pintu ternyata Abi Dion yang membukanya.
"Assalamualaikum Abi," ucap Keifano.
"Wa'alaikum Salam nak. Kok datang larut malam?" tanya Dion.
"Anisa kan ulang tahun Abi."
"Astagfirullah, Abi sampai lupa," ucap Dion menepuk jidatnya.
"Abi, izinkan Keifano bertemu dengan Anisa. Keifano menyesal telah menuduh Anisa yang macam-macam Abi. Key sudah cerita semuanya dan yang Anisa lihat di cafe itu bukan kejadian yang sebenarnya. Mantan kekasihku hanya ingin bertemu untuk terakhir kalinya dan Anisa hanya salah paham Abi," ucapnya sambil bersimpuh di kakinya.
"Nak, bangunlah dan jangan seperti ini."
"Keifano tidak akan bangun sebelum Abi memaafkan Kei," ucap Keifano bersikukuh dengan pendiriannya.
"Abi sudah memaafkan kamu nak. Sekarang kamu bangunlah," ucap Dion.
"Makasih Abi," ucap Keifano sambil memeluk Dion.
"Sama-sama nak. Kamu temui Anisa gih ke kamarnya. Tapi sepertinya Anisa sudah tidur nak."
"Kalau begitu kita beri kejutan sama Anisa di hari ulang tahunnya," jawab Alya yang seketika muncul.
"Iya Umi, Keifano sudah beli kuenya. Sebentar, Keifano ambil dulu di mobil."
Keifano lalu berlari dengan cepat menuju ke mobilnya.
"Abi, tadi Umi sudah mendengar percakapan antara kalian. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Kita harus bisa menyatukan mereka kembali."
"Iya Umi. Kamu benar dan bagaimanapun juga Anisa harus didampingi suaminya saat seperti ini dan seperti aku dulu yang selalu ada disisi kamu saat kamu sedang hamil."
"Iya Bi. Namanya ibu hamil pasti akan merasakan yang namanya ngidam."
Tak lama kemudian Keifano membawa kue dan juga sebuket bunga mawar merah. Tak lupa kado spesial kalung berlian ia kantongi di saku celananya. Alya maupun Dion tersenyum saat Keifano membawa sebuket bunga mawar merah dan kue ulang tahun.
"Biar Umi bantu bawa bunganya ya nak," ucap Alya.
"Iya Umi," jawab Keifano singkat.
"Ayo nak, kita segera ke kamarnya dan memberikannya kejutan," ucap Dion yang melangkahkan kakinya duluan.
__ADS_1
Mereka lalu pergi ke kamar Anisa. Andika terkejut melihat Keifano ada di rumahnya.
"Keifano, ngapain kamu ke rumah? Bukankah Anisa tidak ingin bertemu dengan kamu?"
"Saudara ipar, untuk kali ini saja kita jangan berdebat ya? Hari ini ulang tahunnya Anisa dan mohon untuk kerjasamanya."
"Nak, tahan emosi kamu. Nanti Abi akan ceritakan semuanya. Kita hanya salah paham saja."
"Hmm, baiklah," jawab Andika pasrah jika Abi Dion yang sudah berbicara maka Andika hanya bisa mengikuti perintah Abinya.
Alya mengetik pintu kamar anaknya berkali-kali.
"Nak, ini Umi. Bukalah pintunya sayang."
Alya terus saja mengetuk pintu kamar Anisa. Di kamarnya Anisa mengerjapkan matanya saat mendengar bunyi ketukan pintu. Anisa lalu berjalan perlahan dan membuka pintu kamarnya.
"Surprise," ucap Dion, Alya, Andika dan Keifano.
Anisa terkejut disaat ulang tahunnya ada orang-orang tersayang yang ada didekatnya. Anisa mengernyitkan dahinya saat suaminya juga datang dan membawa kue ditangannya saat ini.
"Keifano....."
Entah Anisa harus bahagia atau tidak saat suaminya datang. Disatu sisi Anisa bahagia suaminya datang disaat ulang tahunnya tapi disisi lain Anisa masih takut jika suaminya masih salah paham dan ketakutan Anisa yaitu pada kedua anaknya. Anisa takut suaminya akan berbuat macam-macam yang membahayakan kedua anaknya. Karena saat itu Keifano marah dan bilang tidak mau punya anak darinya. Anisa berjalan mundur dua langkah sambil memegang perutnya.
Anisa lalu menetralkan dirinya dengan menghembuskan napas panjang dan membuangnya secara perlahan.
"Selamat ulang tahun sayang. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Aku mencintaimu Anisa," ucap Keifano dengan tulus.
Anisa mendengar perkataan suaminya tulus dan lalu tersenyum tipis. Anisa jadi tidak enak saat ini. Padahal niatnya untuk menjauhi suaminya. Namun bingung saat suaminya tiba-tiba datang seolah-olah tidak ada masalah dalam rumah tangganya. Anisa juga heran dengan keluarganya yang tiba-tiba menyambut kedatangan Keifano dengan baik padahal Anisa sudah bilang bahwa tidak ingin bertemu dengan suaminya. Rasa kecewanya begitu dalam. Coba bayangkan saja jika kalian berada dalam posisi Anisa, di mana wanita yang sedang hamil dan lalu melihat suaminya berpelukan mesra dengan wanita lainnya. Wanita mana yang tidak merasakan sakit hati.
"Sayang, ayo tiup lilinnya," perkataan Keifano membuyarkan lamunan Anisa.
"Iya, ayo tiup lilinnya nak."
Dengan segera Anisa meniup lilinnya. Meskipun masih terkesan canggung tapi Anisa tidak mau mengecewakan suaminya yang sudah jauh datang ke rumahnya.
"Untuk potong kuenya kita berkumpul di ruang keluarga saja yuk," ucap Andika memberikan saran.
"Iya di ruang keluarga saja," ucap Dion yang setuju dengan pendapat Andika.
Mereka lalu beramai-ramai ke ruang keluarga. Alya menyuruh Keifano untuk membantu memotong kuenya. Dengan senang hati Keifano membantu Anisa. Jarak duduk mereka hanya 20 cm bisa dikatakan sangat dekat saat ini. Anisa memberikan potongan pertama untuk Umi Alya, kemudian Abi Dion dan Andika. Yang terakhir barulah suaminya. Keifano sedih saat mendapatkan potongan kue paling terakhir. Setelah acara potong kue selesai. Keifano lalu memberi bunga kepada istrinya.
__ADS_1
"Anisa, aku minta maaf dan selama ini kita telah salah paham. Kejadian di cafe bukan seperti yang kamu pikirkan. Cassandra hanya meminta bertemu untuk terakhir kalinya."
"Aku tidak mau membahasnya lagi."
Keifano mengerti bahwa ibu hamil sangat sensitif perasaannya.
"Maukah kamu memaafkanku?" Jika kamu memaafkan aku maka terimalah bunga ini," ucap Keifano dengan nada memohon.
Alya memberikan kode dengan anggukan. Tak hanya Alya namun Dion juga melakukan hal yang sama dengan memberikan kode anggukan kepala. Anisa lalu meraih sebuket bunga mawar merah tersebut. Keifano lega istrinya telah memaafkannya.
"Sayang, masih ada satu hadiah lagi untukmu," ucap Keifano.
Anisa tidak menjawabnya. Anisa juga penasaran dengan hadiah apa yang dimaksud suaminya. Keifano lalu meraih kantong sakunya. Kotak beludru tersebut menampilkan sebuah kalung berlian.
"Aku pakaikan sekarang ya?" ucap Keifano bersemangat.
"Tidak usah."
Perkataan Anisa seketika membuat wajah Keifano terlihat murung.
"Maksudku nanti dipakai saat acara-acara penting saja," jawab Anisa dengan cepat.
Keifano tersenyum tipis. Ia tahu jika istrinya masih kecewa dengannya.
"Keifano, ini sudah larut malam dan sebaiknya kamu pulang," ucap Anisa yang secara halus mengusir suaminya.
"Baiklah..." Keifano beranjak dari tempat duduknya.
"Nak, kamu menginap saja. Sudah jam 1 pagi dan takutnya kalau ada begal justru nanti akan bahaya."
"Iya Abi."
Anisa matanya melebar saat Abi Dion menyuruh Keifano untuk menginap dan berarti Keifano akan tidur di kamarnya malam ini.
"Sekarang kalian masuklah ke dalam kamar dan biar nanti Umi yang beresin semuanya."
"Baik Umi," ucap Anisa dan Keifano bersamaan.
Anisa lalu naik ke lantai atas duluan.
"Nak, susul istrimu," ucap Alya lirih.
__ADS_1
"Baik Umi. Selamat malam semuanya..."
Keifano lalu berjalan menuju kamar Anisa.