Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Key Akan Menyerah


__ADS_3

Keyla hanya ingin memastikan bahwa pendengarannya tadi tidaklah salah. Keyla akan memancing Andin lagi agar mengungkapkan isi hatinya.


"Apa Kakak tidak berbohong padaku? Atau Kakak hanya ingin kita masih berhubungan baik saja kan? Cih, sayangnya aku tidak bisa percaya begitu saja dengan omongan kamu!"


"Ayo Kak Andin keluarkan unek-unek kamu," ucap Keyla dalam hati.


"Kakak jujur Keyla. Aku juga mencintai Key selama ini."


Mata Keyla berbinar-binar dan berarti cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan.


"Yuhu, akhirnya berhasil juga." Batin Keyla bahagia.


"Sejak kapan Kakak menyukai Kak Key?" tanya Keyla penasaran.


"Satu tahun yang lalu."


"Yes........."


Terdengar suara laki-laki yang membuat kedua gadis itu terkejut. Keyla lalu menggigit bibir bawahnya karena ketahuan sedang melakukan panggilan telepon dengan Key.


Sedangkan Andin mengernyitkan dahinya saat ini. Bingung dengan suara siapa karena di antara mereka tidak ada laki-laki. Tukang kebunnya sedang ada di taman belakang untuk memotong rumput. Dengan segera Keyla meraih hpnya dari kantong sakunya.


"Kak Key, Kak Andin juga mencintai Kakak. Tadi Kakak juga sudah dengar sendiri kan pengakuan Kak Andin?"


"Iya... Aku mau berbicara dengannya Keyla."


Keyla lalu menyerahkan hp ke Andin.


"Hallo Key," ucapnya sedikit gugup.


"Kamu tidak bisa mengelak lagi Andin. Kita saling mencintai."


"Key, tapi aku..."


Dengan buru-buru Key memotong pembicaraannya.


"Aku akan ke rumah kamu. Kita harus bicara Andin."


"Baiklah," ucapnya singkat dan setelah mengucapkan salam mereka mengakhiri teleponnya.


Andin lalu menyerahkan hp itu kembali kepada Keyla.


"Keyla masuk dulu yuk," ucap Andin tersenyum bahagia.


"Ayo Kakak."


Mereka saling merangkul sudah seperti layaknya seorang Kakak beradik hanya saja Keyla belum berhijab. Keyla mengikuti Andin dan sampailah mereka di dapur. Andin membuka kulkas.


"Kakak akan membuat jus untukmu. Oh iya kamu ingin jus apa?"


"Strawberry saja Kakak ipar," ucap Keyla terkekeh.

__ADS_1


Andin tersipu malu mendengarnya. Dengan segera Andin membuat 3 gelas jus sekalian.


"Kamu tunggu di ruang tamu saja ya. Nanti jika Kakak kamu datang jadi ada yang menyambutnya."


"Baiklah..."


Keyla melangkahkan kakinya meninggalkan dapur dan menuju ke ruang tamu. Tak lama kemudian Andin datang dengan membawa 3 gelas jus dan satu toples kecil berisi cookies.


"Minum dulu Keyla..."


Keyla langsung meneguk jus strawberry itu hampir habis.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya Kak."


"Loh, kenapa buru-buru? Key kan belum datang," ucap Andin.


"Sebentar lagi Kak Key datang kok. Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian saja. Nanti yang ada aku akan sedih."


"Eh? Kenapa sedih?" tanya Andin.


"Ya karena aku masih sendiri sampai sekarang dan aku tidak ingin melihat kalian bermesraan."


"Astagfirullah, pikiran kamu kenapa seperti itu?"


"Karena Kak Keifano dan Kak Anisa sering romantisan di depan mataku."


Keyla masih ingat kalau Kakaknya itu sering mengecup kening dan pipi istrinya dan seperti tidak tahu tempat saja.


"Jadi Kakak kapan nih akan menikah sama Kak Key. Jujur ya Kak Andin, minggu lalu aku sampai bermimpi kalau kalian punya anak yang lucu-lucu."


"Uhukk..... Uhukk......." Andin tersedak saat sedang ngemil cookies.


Keyla memberikan jus yang masih utuh. Andin lalu meneguknya sampai setengah gelas.


"Ehm, tadi kamu bicara tentang anak Keyla?" ucapnya memastikan kalau telinganya masih normal dan tidak salah mendengar.


"Iya, Kak Key sama Kak Andin punya 3 anak."


"Astaga bahkan tiga?" ucap Andin membolakan matanya.


"Ah, semoga saja akan segera terwujud. Makanya Kakak segera menikah ya sama Kak Key. Bila perlu bareng saja menikahnya sama Kak Keisha. Kan nanti seru bisa hamil bareng."


"Heh, perkataan kamu itu kok semakin lama makin ngawur," ucap Key yang baru saja datang.


"Kakak kenapa tidak mengucapkan kata salam?" ucap Keyla protes.


"Sudah tadi saat di depan pintu. Kalian saja yang terlalu asyik bergosip ria jadinya tidak mendengar aku mengucapkan salam."


Andin sekarang tengah malu karena laki-laki pujaannya ada di depan mata. Key mengkode agar Keyla segera pergi. Tak paham dikode akhirnya Key berdehem.


"Aku diusir nih?" ucap Keyla mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Bila ada penggaris bisa diukur 3 cm bibir Keyla yang monyong itu. Andin terkekeh melihat tingkah laku calon adik iparnya yang sedikit absurd ini. Tadi ingin pamit pulang dan Andin melarangnya. Lalu setelah Key datang Keyla bilang telah diusir. Sekarang Andin sudah paham jika Key dan Keyla sering bertengkar.


"Hmm, iya aku pulang sekarang," ucap Keyla sambil meraih tasnya.


"Kakak tidak bermaksud untuk mengusir kamu."


"Huh, basi. Sudah ditolong yang ada aku diusir."


"Nanti kalau kamu masih di sini yang ada nanti kamu akan gigit jari melihat Kakak pacaran."


"Sudah kalian jangan bertengkar, tidak apa-apa Keyla ada di sini Key. Malah jadi semakin ramai kok rumah."


"Tapi Andin..."


"Sudahlah, aku mau pulang," ucap Keyla mendengus kesal dan pergi begitu saja.


"Anak itu pergi tidak memberikan salam."


Sekarang hanya berdua saja dan semakin canggung rasanya. Tadi Key mampir membeli sebuket bunga mawar merah di jalan saat akan menuju ke rumah sang pujaan hatinya.


"Andin, ini untukmu sayang," ucapnya sambil menyerahkan sebuket bunga mawar merah.


Andin tersipu malu Key memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Makasih Key," ucap Andin sambil tersenyum manis.


Andin lalu menghirup aroma bunga tersebut. Tidak seperti kemarin Andin yang tidak menerima bunga pemberian dari Key dan justru Key sendiri yang meletakkan bunga tersebut ke meja.


"Andin, aku bahagia kamu juga mencintaiku."


"Tapi Key aku takut kalau kedua orangtuaku tahu kalau kita menjalin hubungan."


"Kamu tidak usah takut ya. Kita jalani saja dan untuk kedua orangtua kita nanti kita akan pikiran lagi. Yang terpenting adalah kebahagiaan kita."


Andin mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Memang benar cinta tidak bisa dipaksakan begitu saja. Apalagi yang namanya pernikahan itu untuk seumur hidup.


"Key, nanti aku akan mencoba berbicara dengan kedua orangtuaku kalau aku punya pilihan sendiri."


"Iya aku setuju sama kamu Andin."


"Tapi kalau mereka tetap tidak setuju gimana Key?"


Key menghela napas panjang.


"Aku akan mengikhlaskan kamu dan jika itu memang jalan terbaik. Mungkin kita ditakdirkan untuk tidak bersama Andin."


Entah mengapa perkataan Key kali ini membuat Andin hatinya terasa sakit. Seperti akan kehilangan Key.


"Jika kedua orangtua kamu tetap akan menjodohkan kamu dengan laki-laki pilihannya maka aku akan menyerah. Mungkin aku akan pergi keluar negeri saja. Karena untuk apa jika aku masih tetap berada di Indonesia jika takdirku tidak bisa bersama kamu. Aku tidak sanggup untuk melihat kamu bersanding dengan yang lainnya."


Yang Andin khawatirkan benar. Key akan menyerah jika Andin tetap akan dijodohkan dengan laki-laki pilihan kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2