
Karin dan Yudha hari ini akan pindah ke rumah barunya. Mereka kini sudah memasukkan kopernya ke bagasi dibantu oleh Bibi dan sopirnya.
"Nak, kalian sering-sering ke rumah ya. Mama pasti akan merindukan kalian."
Yudha dan Karin saling memandang, Karin memberikan kode anggukan pelan kepada suaminya.
"Iya Mama pasti, kita akan sering pulang ke rumah."
Kini Mama Sabrina mendekati menantunya.
"Nak, jaga kesehatan kamu ya dan jaga ketiga cucu Mama." Sambil memegang perut Karin.
"Iya Mama," ucap Karin dengan senyuman tipis.
"Mama Sabrina selama ini hanya baik kepadaku karena aku sedang mengandung ketiga cucunya. Kemarin saja saat aku belum hamil Mama Sabrina terlalu cuek sama aku. Hanya Papa Yudhistira yang baik selama ini. Memberikan kasih sayangnya kepadaku seperti anaknya sendiri. Ah, aku jadi kangen sama Papa Keynan." Batin Karin.
"Kalian hati-hati ya nak. Papa sudah menghubungi pihak yayasan. Besok mungkin akan ada asisten rumah tangga datang ke rumah baru kalian."
"Iya Papa, terima kasih banyak."
Papa Yudhistira sudah menghubungi yayasan untuk mencari asisten rumah tangga untuk bekerja di rumah baru anaknya. Papa Yudhistira sengaja mencarikan asisten rumah tangga yang sudah ibu-ibu. Agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Karena jika asisten rumah tangga masih muda bisa jadi akan menggoda anaknya dan merebut Yudha dari Karin. Karena sudah biasa hal itu terjadi selama ini. Anak teman Papa Yudhistira sudah pernah ada yang digoda oleh asisten rumah tangganya sendiri. Itulah yang Papa Yudhistira tidak inginkan.
Meskipun anaknya setia sama istrinya namun kita tidak tahu jika suatu saat nanti anaknya akan tergoda. Maka dari itu Papa Yudhistira mencari asisten rumah tangga yang sudah berumur dan pastinya sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Karin bahagia mempunyai mertua seperti Papa Yudhistira yang selalu mengerti apa yang Karin butuhkan.
Kini Yudha dan Karin sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah siap sayang kita pergi ke rumah baru kita?"
"Siap Mas. Aku sudah tidak sabar ingin lihat rumah baru kita."
Kini Yudha memegang perut Karin dan mengelusnya pelan.
"Sudah siap anak-anak Papa?"
"Siap Papa," ucap Karin menirukan suara anak kecil sambil memegang tangan suaminya.
Mereka lalu saling melempar senyuman. Karin bahagia kini akan tinggal bersama suaminya dan ketiga calon anaknya. Tidak akan ada lagi yang mencampuri urusan kehidupan rumah tangganya.
Yudha lalu melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang karena Yudha tidak sedang mengendarai mobilnya sendiri melainkan bersama istrinya dan ketiga calon anaknya. Yudha sengaja membangun rumah yang dekat dengan rumah sakit tempat dirinya bekerja. Jaraknya antara rumah barunya dengan rumah sakitnya hanya kurang lebih 5 km.
"Sayang, kita sudah sampai di rumah baru kita. Bagaimana apakah kamu suka?"
__ADS_1
"Suka Mas," ucapnya dengan wajah yang sumringah.
"Maaf ya sayang, rumah kita yang baru cuma segini. Tidak sebesar rumah kedua orang tua kita. Ini murni dari kerja kerasku selama ini."
"Mas, tidak apa-apa. Justru aku tidak suka rumah yang terlalu besar. Ntar nyari Mas jadi lama hehehe," ucapnya terkekeh.
"Kamu ini bisa saja sayang. Ya sudah ayo kita masuk. Nanti setelah habis isya kita ada pengajian di rumah baru kita."
Kini semua keluarga Karin sudah ada di rumah baru mereka. Karin terkejut saat baru masuk rumah dan ada semua keluarganya. Karena baru saja ingin meminta izin sama suaminya kalau besok akan pergi ke rumah Papanya dan kini keluarga besarnya sudah datang berkumpul.
"Papa....." Karin lalu memeluk Papanya.
"Nak, Papa sangat rindu dengan anak Papa yang manja ini."
"Papa, Karin sudah tidak manja lagi."
"Iya nak, karena kamu sudah akan menjadi calon ibu."
"Papa, Karin sangat rindu sama Papa. Baru saja mau minta izin sama Mas Yudha kalau besok mau ke rumah Papa. Tapi Papa sudah datang. Papa dan semuanya malam ini menginap di sini ya?"
Semua orang lalu menyetujui permintaan Karin. Bagaimanapun juga kemauan ibu hamil harus segera dituruti.
"Mas, terima kasih ya sudah mendatangkan semua keluarga besarku."
"Iya sayang, apa sih yang tidak buat kamu."
Setelah sholat isya di masjid terdekat kini mereka mengadakan pengajian. Mama Sabrina dan Papa Yudhistira juga datang. Kecuali Fani dan keluarganya sengaja Yudha tidak mengundang mereka.
...*****...
Waktu begitu cepat berlalu kini Karin dan Yudha sudah beberapa bulan tinggal di rumah baru mereka. Perut Karin sudah mulai terlihat sedikit membesar. Kandungannya sebentar lagi mau berjalan 5 bulan. Sekarang Fani tidak pernah muncul di kehidupan mereka setelah kejadian beberapa bulan yang lalu. Karin lega setelah pindah ke rumah barunya tidak ada yang mengganggu rumah tangganya, baik Fani ataupun Mama Sabrina.
Hari ini hari minggu, Yudha nanti setelah mandi akan mengajak Karin jalan-jalan. Ibu hamil harus banyak jalan-jalan agar sehat. Sekarang Yudha sudah selesai mandi dan menggunakan pakaiannya rapi. Kini Karin sedang duduk di tepi ranjang.
"Auwww..... Mas, Perutku," ucap Karin meringis sambil memegang perutnya.
Yudha terkejut saat istrinya mengalami kesakitan. Dengan cepat Yudha mendekati Karin.
"Sayang kamu kenapa? Perutmu sakit atau kram?" tanyanya dengan khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan istri dan juga ketiga anaknya.
Karin menggelengkan kepalanya pertanda tidak sakit atau kram perutnya kemudian Karin tersenyum.
"Loh sayang kamu jangan membuatku bingung. Perut kamu kenapa, tadi kamu merasakan kesakitan dan sekarang kamu kok tersenyum." Kini Yudha tampak cemas sekaligus bingung.
__ADS_1
Melihat kecemasan suaminya dengan cepat Karin menarik tangan suaminya untuk memegang perutnya. Yudha matanya berkaca-kaca saat merasakan tendangan kecil dari ketiga anaknya di dalam perut Karin.
"Sayang mereka......" Perkataannya terpotong sambil mengusap air mata dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya kini masih memegang perut Karin.
Karin mengangguk pelan dan lalu tersenyum.
"Iya Mas. Mereka sudah mulai bergerak-gerak didalam perutku."
"Sayang, aku sangat bahagia. Terima kasih kamu telah mengandung ketiga anakku." Kini Yudha langsung memeluk Karin dan merasa bersyukur kini anak-anaknya tumbuh dengan sehat didalam kandungan istrinya.
"Aku juga sangat bahagia. Mas jangan berterima kasih seperti itu. Sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk memberikan keturunan untuk suaminya," ucap Karin sambil melepaskan pelukannya.
"Aku berharap anak kita akan selalu sehat."
"Aamiin..........."
"Hallo Baby A, B, C......." Kini Yudha menyapa ketiga anaknya dengan mengelus perut Karin dan mengecupnya tiga kali.
"Kok A, B, C Mas?" Kini Karin mengernyitkan dahinya merasa bingung.
"Iya A, B, C karena anak kita kembar tiga jadi itu nama singkatan anak kita."
"Hehe lucu juga ya Mas," ucapnya terkekeh.
"Oh iya besok jadwalnya kamu untuk cek kandungan. Aku tidak sabar ingin tahu jenis kelamin anak kita."
"Apa sudah bisa terlihat Mas?"
"Sudah sayang. Aku berharap anak kita berjenis kelamin laki-laki dan perempuan."
"Aamiin... Semoga saja ya Mas. Tapi Mas, aku takut..." Karin langsung menundukkan kepalanya.
"Takut kenapa sayang?" Kini Yudha memegang kedua pipi Karin agar menatap wajahnya.
"Aku baru hamil mau jalan 5 bulan dan perutku sudah sebesar ini. Nanti jika sembilan bulan akan sebesar apa?"
"Sebesar perut Alya waktu hamil Anisa dan Andika. Mungkin lebih besar sedikit. Kamu gak usah takut sayang. Aku janji akan menemani kamu sampai anak kita akan lahir."
"Iya Mas." Kini Karin lega setelah suaminya berbicara seperti itu.
"Ya sudah ayo kita jalan-jalan dan bumil gak boleh bersedih."
"Iya Mas, tapi nanti beli ice cream dulu ya. Aku tiba-tiba ingin ice cream."
__ADS_1
"Iya sayang, apa yang kamu inginkan pasti aku turuti." Sambil membelai rambut istrinya.
Kini Yudha bahagia ketiga anaknya mulai aktif menendang-nendang di dalam perut Karin. Yudha tidak sabar untuk menunggu kelahiran ketiga anaknya ke dunia. Sebentar lagi gelar Papa Muda akan segera terwujud.