
Mama Sabrina dan Papa Yudhistira sebelum ke rumah sakit mereka tak lupa membeli buah untuk menantunya yang sedang hamil muda. Mereka merasa bersalah karena sudah salah paham dengan Karin selama ini. Papa Yudhistira melajukan mobilnya ke rumah sakit dengan kecepatan sedang. Tadi anaknya sudah memberitahu lewat pesan WhatsApp bahwa menantunya di rawat di rumah sakit.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Perlahan mereka sedang berjalan menuju ke ruangan tempat menantunya di rawat. Mama Sabrina akan langsung meminta maaf dengan Karin. Karena dirinya kemarin yang menyebabkan adanya kesalahpahaman di rumah dan membuat menantunya pergi dari rumah. Kini setelah mengetahui menantunya sedang hamil cucunya, Mama Sabrina akan membujuk Karin untuk pulang ke rumah. Mama Sabrina ingin hubungan antara Karin dan Yudha baik-baik saja apalagi sekarang cucunya akan segera hadir jadi peran sang ayah sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang si kecil. Terlebih Yudha adalah seorang dokter kandungan. Jadi Yudha bisa mengecek kandungan istrinya kapan saja yang dirinya mau.
Mama Sabrina nanti akan melarang Karin untuk tidak membantunya memasak di rumah selama hamil. Karena selama ini Karin membantunya memasak. Mama Sabrina tidak ingin Karin terlalu kecapekan dan bisa bahaya jika terlalu kecapekan karena usia kandungannya masih muda dan masih rentan jika melakukan aktivitas berat.
Kini mereka sudah sampai di kamar menantunya di rawat. Terlihat Karin sedang tidur di ranjang rumah sakit. Yudha memberikan kode jari telunjuknya ke bibir agar tidak terlalu berisik. Mama Sabrina dan Papa Yudhistira lalu duduk di sofa.
"Nak, apa Karin belum sadar dari semalam? tanyanya lirih.
"Sudah Pa. Barusan Karin minum obat dan lalu tidur." Yudha menjelaskan.
"Nak, menantu Mama akan memaafkan Mama apa tidak ya?" ucapnya belum yakin karena perbuatannya yang membuat menantunya pergi dari rumah.
"Karin pasti akan memaafkan Mama. Yudha yang bersalah sama Karin saja tadi Karin memaafkan Yudha."
Kini Mama Sabrina sedikit lega perasaannya setelah anaknya bicara seperti itu.
"Syukurlah nak kalau Karin sudah memaafkanmu," ucap Papa Yudhistira kini lega menantunya bisa memaafkannya anaknya dan pertanda rumah tangganya baik-baik saja.
"Kamu jangan membuatnya kecewa lagi ya nak. Nanti Karin akan benar-benar pergi darimu," ucap Papa Yudhistira memberikan saran.
"Siap Papa. Yudha tidak akan pernah mengecewakan Karin lagi. Kejadian ini Yudha pastikan tidak akan terulang kembali."
Yudha yakin kejadian ini merupakan terakhir kalinya. Yudha tidak akan membiarkan kejadian ini terulang lagi.
"Baguslah nak. Papa juga berharap seperti itu. Semoga hubungan kamu sama Karin langgeng sampai maut memisahkan."
"Aamiin......." Yudha mengaminkan doa Papanya.
Tak lama kemudian Karin mulai mengerjapkan matanya. Karin melihat ke arah sofa dan ada suaminya dan kedua mertuanya yang sedang duduk di sofa tersebut. Tak lama kemudian seorang suster membawakan makan siang untuk Karin.
"Silakan dinikmati makan siangnya Nona dan jangan lupa untuk meminum vitaminnya."
"Terima kasih sus," ucapnya sambil tersenyum.
Setelah suster pergi Yudha berdiri dari duduknya dan menghampiri istrinya lalu membantunya untuk duduk. Yudha membenarkan bantalnya agar Karin nyaman untuk duduk karena Karin akan makan siang setelah itu minum vitaminnya.
"Sayang, ayo aaaaa...." Yudha kini mau menyuapi istrinya sendoknya sudah berada tepat di depannya.
"Mas, aku bisa makan sendiri. Mana sini piringnya." Karin berusaha untuk menolak akan disuapin suaminya.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan keras kepala dan kamu harus makan Biarkan aku yang menyuapimu makan," ucap Yudha.
Karin mendengus kesal dan akhirnya Karin mau disuapin oleh suaminya. Yudha tersenyum Karin mau makan dan disuapi olehnya, ada rasa bahagia dalam hatinya. Ini kemajuan besar setelah tadi Karin memaafkannya. Papa Yudhistira dan Mama Sabrina saling melempar senyuman. Menantunya itu sudah benar-benar memaafkan anaknya terbukti mau disuapin oleh Yudha. Karin juga memakan buah apel yang tadi dibawakan oleh Mama Sabrina. Padahal tadi Mama Sabrina membawakan beberapa jenis buah seperti jeruk, apel, anggur dan buah pir namun Karin lebih memilih untuk makan buah apelnya saja. Sekarang Karin sudah meminum vitaminnya kemudian Mama Sabrina berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati menantunya yang sedang mengandung cucunya.
"Nak, maafkan Mama. Kemarin Mama tidak sengaja membuat berita heboh di rumah."
Karin masih terdiam tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
"Sayang, maafkan Mama yang tidak mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu dan membuat kalian jadi salah paham." Kini Mama Sabrina menggenggam tangan menantunya.
Karin tersenyum kecut mendengar Mama mertuanya bicara seperti itu. Melihat Karin tidak ada jawaban kini giliran Papa Yudhistira berjalan mendekati menantunya dan akan mengajaknya bicara.
"Nak, maafkan kami yang telah salah paham sama kamu. Kami benar-benar menyesal dan minta maaf nak," ucapnya dengan nada memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.
Karin tidak tega saat melihat Papa Yudhistira memohon maaf kepadanya. Akhirnya Karin membuka hatinya kembali untuk memaafkan kedua mertuanya.
"Karin sudah memaafkan Mama dan Papa." Kini Karin memaafkan kedua mertuanya. Sebagai manusia harus saling memaafkan. Meskipun masih ada rasa kecewa di dalam hatinya.
"Alhamdulillah... Terima kasih ya nak." Mama Sabrina mengelus puncak kepala menantunya.
Karin hanya mengangguk pelan sebenarnya Karin masih kecewa terhadap Mama mertuanya yang mencampuri urusan rumah tangganya. Karin padahal sudah mempersiapkan rencana akan memberikan kejutan untuk suaminya karena sedang hamil pun gagal karena Mama mertuanya yang sudah memberikan kejutan terlebih dahulu untuknya dan menyebabkan terjadinya kesalahpahaman kemarin.
Karin sebenarnya ingin melihat ekspresi suaminya saat membuka kado darinya. Entah mengapa tapi semua rencananya itu gagal karena Mama Sabrina yang terlalu mencampuri urusan kehidupan rumah tangganya. Karin sebenarnya ingin tinggal bersama dengan Yudha hanya berdua saja. Meskipun harus mengontrak rumah, atau tinggal di apartment. Karin hanya ingin tidak akan terjadi kesalahpahaman lagi antara dirinya dan juga suaminya.
"Belum Pa. Karena Nenek sedang sakit. Karin takut Nenek akan drop jika mengetahui keadaan Karin yang semalam pendarahan. Tapi nanti setelah keluar dari rumah sakit Karin akan menceritakan semuanya kepada keluarga Karin termasuk kabar bahagia kalau saat ini Karin sedang hamil."
"Iya nak. Mereka berhak tahu tentang masalah dan kabar bahagia ini." Papa Yudhistira setuju dengan menantunya.
Karin lebih cocok berbicara dengan Papa Yudhistira daripada Mama Sabrina. Karena Papa Yudhistira yang selama ini memberikannya masukan atau solusi jika ada masalah dalam kehidupan rumah tangganya. Bukan seperti Mama Sabrina yang selalu ikut mencampuri kehidupan rumah tangganya. Sebenarnya Karin tidak suka dengan hal itu. Namun gimana lagi, Karin juga harus menghormati Mama Sabrina karena bagaimanapun juga kini Mama Sabrina juga sudah menjadi Mamanya.
Sore hari telah tiba, sebelum pulang Yudha mengajak Karin ke rumah sakitnya untuk memeriksakan kandungannya. Karin telah mengirimkan pesan Rey dan juga Risa agar nanti menjemputnya di rumah sakit milik keluarga suaminya. Meskipun Karin sudah memaafkan Yudha dan kedua mertuanya tapi rasa kecewanya masih ada. Karin memutuskan untuk menerima tawaran Risa untuk sementara tinggal bersamanya. Untung saja tadi sebelum tidur siang Karin mencharger hpnya terlebih dahulu jadi sekarang bisa untuk menghubungi keluarganya.
Kini Karin dan Yudha beserta kedua orang tua Yudha sudah sampai di rumah sakit punya keluarganya. Karin merasa bahagia akan diperiksa oleh suaminya sendiri. Karin sekarang sudah berada di ruangan tempat suaminya bekerja. Kini Karin disuruh untuk berbaring di ranjang rumah sakit. Yudha menghembuskan napas panjangnya terlebih dahulu saat akan mengecek kandungan istrinya. Yudha terlihat gugup saat akan mengecek kandungan Karin. Karena ini merupakan pertama kalinya Yudha akan memeriksa kandungan istrinya. Kemudian Yudha menaikkan kaos yang dipakai istrinya dan memberikan gel ke perutnya. Yudha lalu menggerak-gerakkan alatnya di perut sang istri dan lalu melihat ke arah layar monitornya.
Matanya terbelalak saat melihat ke layar monitor. Terdapat tiga titik yang masih berukuran kecil di sana. Yang artinya kini Karin tengah mengandung ketiga anaknya. Yudha akan sangat menyesal jika kemarin Karin mengalami keguguran setelah tahu kini Karin mengandung tiga anaknya sekaligus.
"Sayang, usia kehamilan kamu sudah berjalan lima minggu." Yudha menjelaskan kepada istrinya.
"Hmm ya." Karin hanya menjawabnya singkat dan pandangannya melihat ke arah langit-langit ruangan tersebut.
"Sayang, lihatlah anak kita kembar," ucap Yudha dengan senyum merekah.
__ADS_1
"Apa? Kembar??" Karin sangat terkejut mengetahui bahwa saat ini dirinya sedang mengandung anak kembar.
"Iya sayang, coba kamu lihat ke layar monitor. Di sana menunjukkan bahwa ada tiga titik kecil yang menunjukkan bahwa anak kita kembar tiga." Yudha meminta Karin untuk melihatnya sendiri agar percaya dengan ucapannya.
Mama Sabrina dan Papa Yudhistira matanya berbinar-binar melihat layar monitor. Mereka akan mendapatkan cucu tiga sekaligus dari anaknya. Rasa bahagia kini menyelimuti dirinya. Bayangan tiga bayi mungil akan segera hadir sebentar lagi meramaikan suasana rumahnya.
"Apa kembar tiga??" Matanya membola dengan sempurna saat melihat ke arah layar monitor tersebut dan memang ada tiga titik di sana.
Karin lalu membayangkan bahwa bagaimana Risa kemarin saat mengandung Reno. Perutnya sangat besar padahal Risa hanya mengandung satu bayi laki-laki. Kini Karin membayangkan jika dirinya hamil anak kembar tiga dan bayinya berjenis kelamin laki-laki seperti apa nantinya perutnya akan membesar tiga kali lipat dari pada perut Risa kemarin. Seketika Karin pingsan setelah membayangkan akan sebesar apa perutnya nanti karena mengandung ketiga anaknya. Yudha lalu cemas saat istrinya pingsan.
Mama Sabrina kini benar-benar bahagia karena Yudha menepati janjinya dengan membuktikan bahwa bisa memberikannya cucu kembar untuknya. Seperti Alya dan Dion yang akan punya anak kembar.
"Astaga, sayang kamu pingsan." Yudha segera menghentikan pemeriksaan kandungan istrinya dan membersihkan gel di perut Karin.
"Karin pasti sangat terkejut nak saat mengetahui hamil anak kembar dan kembarnya tiga sekaligus," ucap Mama Sabrina.
"Iya ucapan Mama ada benarnya." Yudha juga berpikiran sama dengan Mamanya.
Mama Sabrina kemudian membuka tasnya dan mencari minyak angin dan menyerahkan kepada anaknya. Yudha mengoleskan minyak angin tersebut ke pelipisnya dan sedikit ke hidungnya. Dua menit kemudian Karin mulai mengerjapkan matanya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar nak," ucap Mama Sabrina sambil tersenyum.
"Mas, aku sedang di ruanganmu?" Seketika Karin memperhatikan ruangan tersebut dan memang sedang berada di ruangan suaminya bekerja.
"Iya sayang, tadi aku habis memeriksa kandungan kamu. Terima kasih ya sayangku. Karena kamu sudah mau mengandung anak-anakku," ucapnya dengan tersenyum sambil mengecup kening Karin dan memeluknya. Kini Yudha bahagia bisa membuktikan kepada Mamanya bahwa dirinya bisa memberikan cucu kembar.
"Anak-anak?" Karin mengeryitkan dahinya, masih bingung karena nyawanya belum terkumpul semua. Karena dirinya baru saja sadar dari pingsannya.
"Iya sayang, kamu sedang mengandung tiga anak sekaligus." Kini tangan Yudha sudah berada di perutnya dan mengelusnya pelan.
"Hah? Jadi aku benar-benar hamil tiga anak sekaligus dan ternyata tadi aku sedang tidak bermimpi?" Karin terkejut sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Tidak sayang, kamu sedang tidak bermimpi. Kamu benar-benar hamil kembar tiga sekaligus. Kita akan punya tiga anak sayang." Yudha kini menggenggam tangan Karin.
"Kamu calon ibu yang hebat nak. Bisa memberikan Mama cucu tiga sekaligus," ucap Mama Sabrina dengan senyuman merekah.
"Iya, Papa sangat berterima kasih sama kamu nak. Kamu jaga kondisi kesehatan kamu ya. Sekarang kamu tidak sendiri dan ada tiga anak di perutmu yang harus kamu jaga." Papa Yudhistira memberikan saran kepada menantunya untuk selalu menjaga kesehatan.
Karin mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Karin tidak menyangka bahwa dirinya akan benar-benar hamil anak kembar sesuai dengan yang Yudha ucapkan waktu itu saat Mama Sabrina merendahkan Yudha yang tidak bisa memberikan keturunan kepada Karin. Perlahan Karin lalu mengusap perutnya pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Karin mengira kemarin dirinya kebanyakan makan dan perutnya berlemak sehingga tubuhnya agak gendutan dan perutnya sudah terlihat sedikit. Ternyata dirinya kini akan menjadi seorang ibu dari ketiga anaknya.
Karin tidak bisa membayangkan seperti apa nantinya saat kandungannya sudah berjalan 9 bulan. Ngeri rasanya ketika membayangkan akan merasakan ketiga anaknya akan menendang-nendang bersama didalam perutnya. Namun dirinya bersyukur kini akan menjadi seorang ibu dan Yudha tidak akan dikatakan tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Karin akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk ketiga anaknya. Karin nanti tidak mau anaknya di urus oleh seorang baby sitter atau pengasuh bayi. Karena Karin ingin mengurus anaknya sendiri agar tidak kurang kasih sayang dari orang tuanya. Karin akan bilang nanti kepada Yudha setelah ketiga anaknya lahir. Yudha pasti akan setuju dengan usulannya. Ini semua juga demi anak-anaknya.
__ADS_1
Yudha akan berusaha untuk menjaga istrinya semasa hamil. Yudha tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk perhatian kepada ketiga anaknya yang masih dalam kandungan istrinya. Yudha kini tambah sayang dan cinta sama Karin. Istrinya kini tengah mengandung ketiga anaknya. Yudha bahagia sebentar lagi akan menjadi seorang Papa. Rumahnya akan ramai dengan ketiga anaknya yang sebentar lagi akan hadir. Kini keluarga kecilnya akan sempurna dengan kehadiran sang buah hati.