Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 100 - Menantikan Kelahiran Baby Twins


__ADS_3

Sekarang Karin sedang liburan semester. Mereka kini akan pulang ke Indonesia. Sesuai janjinya Yudha akan membawa Karin ke Bandung. Karin sudah tidak sabar ingin ke Bandung. Sekarang kandungan Karin sudah berjalan 9 bulan dan tinggal menghitung hari saja akan melahirkan.


"Sayang, kamu sudah siap jika kita pulang ke Indonesia?" Tanyanya ingin memastikan.


"Sudah siap Mas. Aku ingin sekali ke Bandung."


"Baiklah kita akan segera ke Indonesia. Anak-anak Papa, kita akan ke Indonesia nak. Mama kamu ingin sekali ke Bandung," ucapnya sambil memegang perut Karin sejenak.


"Ayo Mas. Aku sudah tidak sabar ingin ke Bandung."


"Iya sayang."


Mereka sudah keluar dari apartment. Mereka kini sudah siap untuk berangkat ke Indonesia. Yudha menarik kopernya keluar apartment. Karin dan Yudha lalu naik taksi menuju Bandara. Di Bandara Incheon sudah tersedia jet pribadi milik Keluarga Wijaya. Mereka hanya tinggal menaikinya saja. Karin bersyukur suami sepupunya bisa sukses dan Karin jadi bisa naik jet pribadi kemana-mana.


Setelah sampai di Indonesia. Mereka dijemput oleh Papa Keynan.


"Papa.............." Karin memeluk Papa Keynan.


"Alhamdulillah kamu sudah sampai di Indonesia lagi nak."


Papa Keynan kini bahagia anaknya telah pulang. Meskipun hanya sebentar tapi bisa mengobati kerinduannya kepada anaknya.


"Iya Papa, tapi cuma sebentar. Setelah aku melahirkan dan liburan semesternya selesai aku akan kembali ke Korea bersama suamiku," ucapnya tersenyum senang.


"Papa ikut bahagia kalau kamu juga bahagia nak." Papa Keynan kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Papa jangan menangis. Karin jadi ikut sedih kalau Papa menangis." Karin lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Papa Keynan.


"Papa menangis karena bahagia nak. Sebentar lagi Papa akan punya cucu lagi." Memegang perut Karin yang sudah membuncit.


"Iya Papa, HPL 9 hari lagi. Mereka akan segera lahir."


"Papa sudah tidak sabar menunggu beberapa hari lagi cucu Papa akan lahir." Papa Keynan sudah tidak sabar ingin menggendong kedua cucunya.


"Iya sabar ya Pala. Sebentar lagi cucu Papa akan segera lahir kok," ucapnya dengan senyuman.


Kini Papa Keynan beralih ke menantunya. Yudha tersenyum ke arah Papa Keynan.


"Menantuku sini nak..."

__ADS_1


Yudha menurut perkataan Papa Keynan. Perlahan Yudha mendekati mertuanya. Papa Keynan langsung memeluk menantunya. Yudha terkejut saat mertuanya memeluknya. Yudha lalu membalas pelukannya.


"Nak, terima kasih kamu sudah mengorbankan pekerjaan kamu demi bersama anakku."


"Papa, apapun akan aku lakukan demi bisa bersama Karin. Aku tidak mau kehilangan istriku lagi Papa."


Papa Keynan lalu melepas pelukannya.


"Anakku tidak akan pernah meninggalkan kamu nak. Dia sangat mencintaimu. Aku yakin dia akan menemanimu merintis bisnis dari 0 dan sampai kamu sukses."


"Aamiin. Makasih Papa."


"Iya nak. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Kalau begitu ayo kita pulang. Mama Chintya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kalian."


"Iya Papa." Jawabnya bersamaan.


Mereka semua sudah masuk ke dalam mobil. Papa Keynan langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Yudha membiarkan istrinya agar duduk lebih nyaman. Karin menyenderkan tubuhnya ke lengan suaminya yang kekar. Setelah beberapa puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah. Karin bahagia kini sampai di rumahnya. Yudha dan Karin akan menginap di rumah orang tua Karin malam ini dan besok baru akan berangkat ke Bandung.


Karin dan Yudha sudah keluar dari mobilnya. Mama Chintya kini berjalan dan langsung memeluk anaknya. Mama Chintya sangat rindu dengan Karin karena sudah beberapa bulan tidak bertemu.


"Mama sangat rindu sama kamu nak."


Mama Chintya lalu melepas pelukannya. Pandangan Mama Chintya beralih ke perut Karin yang sudah membesar karena kandungan Karin sudah berjalan 9 bulan.


"Alhamdulillah kedua cucu Mama sebentar lagi akan lahir. Semoga kamu lahirannya lancar ya sayang," ucapnya sambil mengelus perut Karin pelan.


Mama Chintya bahagia saat mengelus perut Karin kedua cucunya meresponnya.


"Iya Aamiin Mama, sebentar lagi mereka akan segera hadir dan melengkapi keluarga kecilku."


Pandangan Mama Chintya lalu beralih ke menantunya.


"Nak Yudha, terima kasih telah menjaga anak Mama dan juga kedua calon cucu Mama." Sambil menepuk bahu Yudha.


"Mama tidak perlu berterima kasih dengan Yudha Mama. Sudah sewajarnya jika suami menjaga istri dan anak-anaknya," ucapnya dengan senyuman.


Mama Chintya lalu tersenyum.


"Ayo kita masuk ke dalam, keluarga besar kita sudah berkumpul semua menunggu kedatangan kalian."

__ADS_1


"Iya Mama." Jawabnya bersamaan.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Mereka menyambut baik Karin dan Yudha. Mereka lalu makan bersama-sama. Setelah makan bersama Karin menuju ke kamarnya. Rindu sekali rasanya sudah lama tidak ke kamarnya. Meskipun dirinya meninggalkan kamarnya sudah beberapa bulan namun kamarnya tetap bersih karena Bibi selalu membersihkannya. Karin merebahkan tubuhnya ke ranjang.


"Ah, rasanya nyaman sekali bisa tidur di kamarku lagi." Karin bahagia bisa tidur nanti malam di kamarnya.


Yudha tersenyum saat melihat istrinya bahagia berada di kamarnya. Perlahan Yudha mendekati Karin dan duduk disampingnya.


"Auwww......." Karin meringis sambil memegang perutnya dan lalu duduk ditepi ranjang.


"Kamu kenapa sayang? Apa perutmu sakit?" Yudha kini cemas dengan istrinya yang merintih kesakitan.


Karin menggelengkan kepalanya pertanda perutnya tidak sakit.


"Tidak Mas. Mereka tadi menendangnya begitu kuat." Karin masih memegang perutnya.


"Wah, anak-anak Papa sudah tidak sabar ya ingin lahir?" sambil mengusap-usap perut buncit Karin.


"Iya Papa, biar bisa ketemu Papa dan Mama," ucap Karin sambil menirukan suara anak kecil.


Yudha gemas jika istrinya bicara seperti itu lalu Yudha mencubit pipi Karin. Tidak mau kalah Karin dari suaminya lalu Karin juga mencubit Pipi Yudha dan mereka lalu tertawa bersama.


Setelah itu Yudha memeluk perut Karin. Kepalanya sekarang sudah berada didepan perut Karin lalu Yudha menempelkan telinganya diperutnya. Karin lalu mengelus kepala suaminya. Entah kenapa rasanya bahagia melihat Yudha seperti ini. Meskipun tingkahnya menurutnya konyol.


"Mas kamu ngapain?" ucapnya terkekeh melihat tingkah suaminya.


"Aku sedang mendengarkan anak kita yang masih dalam kandungan kamu sayang."


"Hahaha, mereka hanya menendang-nendang saja Mas. Entar kalau bersuara saat mereka lahir."


"Ah iya kamu benar sayang. Barusan anak kita menendang pipiku. Anak Papa sudah mulai jahil ya? Padahal masih dalam perut Mama Karin. Apalagi kalau kalian sudah lahir nak."


"Ini tadi tidak tahu yang menendang pipiku anak kita yang laki-laki atau perempuan sayang," ucapnya kembali.


"Lah, tendangannya kuat atau pelan?"


"Biasa saja sih sayang."


"Ya mungkin yang menendang pipi kamu putri kita," ucapnya terkekeh dan mereka lalu tertawa bersama.

__ADS_1


Inilah yang Yudha inginkan bahagia bersama keluarga kecilnya. Sebentar lagi kedua anaknya akan hadir yang akan menjadi pelengkap dalam rumah tangganya. Bagaimanapun juga jika ada anak dalam rumah tangganya pasti akan bahagia.


__ADS_2