
Karin masih memegang kepalanya. Masih berpura-pura sakit kepala. Tidak ada cara lain agar pelakor ini segera pulang dari rumah.
"Mama, kepalaku sangat sakit sekali," ucapnya yang kemudian pingsan.
Mama Sabrina tampak khawatir melihat menantunya sakit kepala.
Karin lalu pura-pura pingsan agar melihat bagaimana reaksi Mama Sabrina selanjutnya. Apakah akan tetap membantu Fani yang tengah kepanasan karena tehnya yang tadi Karin tumpahkan di pahanya atau membantunya yang sedang pingsan. Karin hanya ingin tahu sejauh mana Mama Sabrina bersikap kepadanya.
"Karin..........." Mama Sabrina berteriak dan kini panik jika sesuatu terjadi dengan cucunya, perlahan Mama Sabrina berjalan mendekati menantunya yang sedang pingsan. Mama Sabrina tidak tahu kalau Karin hanya berpura-pura pingsan saja. Mama Sabrina menepuk pipi menantunya agar terbangun.
"Nak... Sayang bangun."
Semenit sudah berlalu. Mama Sabrina kini panik menantunya tak kunjung sadar.
"Ya ampun, kamu ternyata benar-benar pingsan."
"Nak, bantu Tante menggendong Karin ke sofa. Menantu Tante sedang pingsan. Tante takut terjadi apa-apa dengan ketiga cucu Tante."
"Tante, Fani sedang kepanasan. Ini juga akibat ulah menantu Tante itu. Fani lalu harus membantunya? Enggak mau saya Tante."
Fani sekarang sedang mencari kamar mandi untuk membersihkan sisa teh yang menempel di pahanya. Kini Mama Sabrina berusaha untuk menggendong Karin dan meletakkannya di sofa.
Mendengar kata pingsan Yudha membolakan matanya dan takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Apalagi kini Karin sedang hamil ketiga anaknya. Yudha lalu memutuskan sambungan teleponnya dan segera melajukan mobilnya dengan kencang.
Yudha sekarang sudah sampai di rumahnya. Dengan segera Yudha melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Yudha yang melihat istrinya masih pingsan dan sekarang sedang terbaring ke sofa. Mama Sabrina sedang mencari minyak angin di kamarnya. Sedangkan Fani sedang ke kamar mandi menghilangkan noda teh di pahanya. Fani risih teh yang menempel di pahanya lengket. Karin tadi memberikan gula dan garamnya terlalu banyak.
"Sayang........." Karin tahu kalau suaminya sudah datang.
"Duh gimana ini, Kak Yudha datang. Nanti kalau aku ketahuan hanya pura-pura pingsan saja gimana." Batin Karin.
Mama Sabrina datang membawa minyak angin.
"Nak, coba kamu oleskan minyak angin ini sama istri kamu."
Karin matanya masih terpejam. Yudha lalu mengoleskan minyak angin tersebut.
"Sayang bangunlah. Jangan membuatku khawatir."
"Tadi Karin bilang kepalanya sakit nak."
"Ini pasti semua gara-gara Mama."
Mama Sabrina terkejut dengan ucapan anaknya.
"Kok kamu menyalahkan Mama nak. Mama salah apa?"
"Tadi Yudha sedang telepon Karin dan Karin bilang sedang membuatkan teh untuk tamu. Karin lupa menutup teleponnya. Yudha mendengar semua pembicaraan Mama dan Fani."
Mama Sabrina sangat terkejut anaknya mengetahui semuanya.
"Mama sangat keterlaluan. Yudha kecewa sama Mama."
__ADS_1
"Nak, maafin Mama. Tadi Bibi sedang ke supermarket. Jadi Mama menyuruh Karin untuk membuatkan minuman untuk Fani."
Fani yang melihat laki-laki yang selama ini singgah di hatinya pun lalu berlari untuk menemui Yudha.
"Yudha, aku sangat rindu sama kamu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucapnya sambil memeluk Yudha.
"Lepaskan! Kamu jangan memelukku seperti ini."
"Yudha aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukan aku?"
Karin masih mendengarkan pembicaraan mereka. Karin penasaran akan jawaban suaminya.
"Tidak! Cepat lepaskan pelukanmu atau kamu akan menyesal jika tidak segera kamu melepaskan pelukannya."
Fani tetap saja memeluk Yudha dan tidak mau melepaskan pelukannya. Karin sudah tidak tahan lagi dengan drama yang Fani ciptakan. Perlahan Karin membuka matanya.
"Mas............" Lirihnya sambil melihat ke arah suaminya dengan tatapannya yang sendu.
"Karin, lihatlah sebentar lagi suamimu akan jatuh ke pelukanku." Batin Fani.
Yudha kini melihat wajah istrinya yang sudah sadar.
"Gawat, nanti Karin bisa salah paham sama aku." Batin Yudha.
Yudha segera mendorong tubuh Fani sampai terjungkal ke belakang. Untung ada sofa jadi Fani sekarang terduduk di sofa setelah Yudha mendorongnya. Yudha lalu mendekati istrinya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Karin hanya mengangguk pelan.
"Sayang, tadi yang kamu lihat tidak seperti kejadian yang sebenarnya."
"Yudha berani-beraninya kamu bermesraan di depanku." Batin Fani.
"Tante, Fani pulang dulu ya."
"Maaf ya nak atas kekacauan hari ini."
"Iya, tidak apa-apa Tante," ucapnya dengan senyuman manis.
"Aku harus berusaha bersikap baik sama Tante Sabrina. Gimanapun juga dia akan menjadi mertuaku nantinya." Batin Fani.
"Fani pulang dulu ya Tante."
"Iya nak, hati-hati ya. Jangan kapok main ke rumah Tante."
"Iya Tante."
"Aku akan berusaha untuk segera menyingkirkan Karin agar bisa menikah dengan Yudha. Aku tidak rela Yudha bersanding dengan wanita lain." Batin Fani.
Mobil Fani kini sudah meninggalkan halaman rumah Yudha.
Di kamar Yudha kini tengah membaringkan istrinya ke ranjang berukuran king size tersebut.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan salah paham ya. Karena tadi Fani memelukku seperti itu."
"Untung saja tadi Mama Sabrina dan Kak Yudha tidak tahu kalau aku hanya berpura-pura pingsan. Hampir saja ketahuan tadi saat aku mau membuka mata." Batin Karin.
Karin masih terdiam saja dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
"Mas, coba jelaskan siapa Fani itu sebenarnya."
"Dia temanku saat SMA dan kuliah di Perancis. Fani pernah menyatakan cinta kepadaku saat di Perancis. Kita dulu di kampus yang sama tapi hanya berbeda jurusan dan fakultas."
"Apa yang kamu katakan saat Fani menyatakan cinta sama kamu Mas?" tanyanya penasaran.
"Aku menolaknya."
"Aku tidak percaya sama kamu Mas." Karin lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Yudha lalu memegang kedua pipi Karin.
"Sayang lihat aku... Sayang aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Kamu percaya kan sama Mas?" ucap Yudha sambil menatap wajah cantik istrinya.
Karin lalu menatap wajah suaminya. Melihat dari bola matanya dan tidak ada kebohongan di sana.
"Aku percaya sama kamu Mas." Lirihnya.
"Terima kasih sayang. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu karena aku sungguh sangat mencintaimu." Kini Yudha memeluk Karin.
"Sayang, bagaimana kalau kita pindah rumahnya besok?" tanya Yudha.
"Loh katanya kita akan pindah ke rumah baru beberapa hari lagi Mas."
"Aku tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi sayang. Tinggal beberapa perabotan rumah tangga saja yang belum diisi dan yang terpenting kamar kita sudah jadi."
"Iya Mas. Aku ikut Mas saja mau pindahnya kapan."
"Sayang, maafkan aku yang selama ini tidak tahu kalau Mama memperlakukan kamu dengan buruk."
"Tidak apa-apa Mas. Aku sudah tidak mau mengingatnya lagi."
Seketika Karin melihat ke jam di kamarnya.
"Loh Mas, kamu kan harus bekerja sekarang."
"Sayang, itu kan rumah sakit milik keluargaku jadi tidak apa-apa jika aku pulang ke rumah dan menemani istriku dan juga anak-anakku. Lagian ada Dokter Candra yang sudah mengambil alih tugasku hehehe," ucapnya terkekeh.
"Mas, jangan seperti itu. Memang rumah sakit itu milik keluarga Mas. Tapi Mas tidak boleh seperti ini lagi ya?"
"Iya sayang janji lain kali aku tidak akan seperti ini lagi. Tapi untuk hari ini aku akan menemanimu di rumah saja. Mas sedang ingin berduaan sama kamu sayang."
"Eh Mas kita sudah tidak berdua lagi," ucap Karin dengan senyuman.
"Sekarang ada ketiga anak kita di perutku," ucapnya sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Eh iya Mas lupa kalau kita sekarang sudah berlima hehehe," ucapnya terkekeh sambil memegang perut Karin.
Seketika Karin langsung memeluk suaminya. Yudha bahagianya saat istrinya sedang hamil tidak membencinya. Karena Dion pernah bercerita Alya tidak mau dekat dengannya saat mengandung Anisa dan Andika waktu itu. Bahkan Dion harus mengganti parfum yang biasa dipakainya dengan parfum aroma buah yang Alya pilihkan. Berbeda dengan Karin, justru Karin senang dengan parfum yang dipakai Yudha. Karin selalu memeluk Yudha setiap saat. Yudha bersyukur Karin tidak aneh-aneh ngidamnya selama hamil.