
Yudha dan Karin sudah sampai di mall. Mereka bergandengan tangan masuk ke sebuah restoran.
"Sayang, kamu mau makan apa?" Tanya Karin.
"Samakan saja sayang."
Setelah karin memesan makanan dan minumannya Karin melihat Yudha yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Entah apa Karin juga tidak tahu. Karena penasaran Karin akan menanyakannya.
"Sayang, sepertinya kok gelisah? Kakak sedang mikirin apa?"
"Hah? Ehm itu, aku pengennya kita foto prewedding secara indoor juga."
"Oh ternyata itu yang dipikirkan Kak Yudha." Batin Karin.
"Ya sudah Kak habis ini kita foto prewedding secara indoor."
"Benarkah sayang?" Seketika mata Yudha berbinar-binar.
"Ya......" Dengan anggukan kecil.
"Terima kasih sayang," ucapnya sambil tersenyum manis.
Karin menatap wajah Yudha, calon suaminya itu ternyata ganteng. Lebih ganteng dari Vino ataupun Dion. Cuma dari segi umurnya saja Yudha terlihat lebih dewasa.
"Ganteng banget sih kalau Kak Yudha lagi senyum begini." Batin Karin.
"Sayang, ayo kita makan jangan ngelamunin calon suamimu yang ganteng ini."
"Kakak terlalu percaya diri deh!"
"Aku bicara dengan fakta sayang."
Mereka lalu makan bersama, setelah itu langsung menuju ke foto studio. Mereka akan melakukan foto prewedding secara indoor. Setelah 1 jam lamanya, akhirnya selesai juga mereka foto prewedding.
"Sayang kamu kenapa?"
"Aku capek. Kita seharian kesana kemari."
"Ya sudah sayang habis ini kita pulang saja."
Karin menjawab dengan anggukan kecil. Yudha telah membayar semuanya. Tidak menunggu fotonya jadi, karena akan lebih lama lagi. Yudha menyuruh orang yang di studio tersebut untuk mengirimkan fotonya ke rumah. Setelah itu Yudha melajukan mobilnya dan mengantarkan Karin pulang ke rumahnya.
__ADS_1
...*****...
Tak terasa pernikahan Alya dan Dion sudah berjalan satu bulan. Mereka kini telah mandiri hidup berdua di rumah yang telah Dion kontrak. Hubungan mereka kini semakin dekat. Dion sedang liburan semester jadi dirinya bisa bekerja secara normal. Tidak part time seperti biasanya. Meskipun dirinya bekerja di perusahaan Papanya. Namun di kantor Papanya bekerja secara profesional dan menganggap Dion sebagai karyawannya agar karyawannya juga tidak iri. Dion tidak masalah, justru senang karena lebih fokus dalam bekerja.
Alya setiap pagi memasak. Alya pun senang Dion menyukai masakannya sudah dalam sebulan ini. Dion tak pernah protes Alya masak apa aja Dion selalu memakannya. Setelah sarapan pagi bersama Dion akan berangkat ke kantor Papanya.
"Mi, Abi berangkat dulu ya."
"Iya Bi, hati-hati di jalan ya," ucap Alya sambil mengecup punggung tangan suaminya dan tak lupa Dion juga mengecup kening Alya.
"Oh iya ini tasnya Bi."
"Iya Mi."
Setelah menerima tasnya Dion lalu menyalakan mobilnya dan pergi ke kantor. Seperti biasa sebelum ke toko kuenya, Alya selalu membersihkan rumah terlebih dahulu menyapu dan mengepel lantai. Sebenarnya Dion tidak ingin Alya melakukan pekerjaan rumah. Dion ingin hal itu dikerjakan oleh asisten rumah tangga saja. Namun Alya menolak untuk ada asisten rumah tangga, karena dirinya bisa mengerjakan hal itu. Dion pun menghormati pendapat Alya dan Dion menuruti keinginan Alya yang ingin mengurus pekerjaan rumah sendiri.
Malam hari Dion dan Alya disuruh untuk makan malam bersama di rumah orang tua Dion. Setelah makan malam bersama Papa Edwin meminta berkumpul semua di ruang keluarga untuk berbincang-bincang membahas mengenai bulan madu Alya dan Dion.
"Nak, ini hadiah pernikahan kalian dari kita," ucap Papa Edwin memberikan sebuah amplop.
"Apa ini Pa?" Saat Dion menerima amplopnya tetapi belum membukanya.
"Buka saja..." Dion lalu membuka isi dari amplop berwarna putih tersebut. Dion membolakan matanya saat melihat ada namanya tertulis didalam amplop tersebut.
"Iya nak, kalian berbulan madulah ke Bali," ucap Mama Marisa tersenyum senang.
"Ke Bali?" Tanya Alya dan langsung melihat isi dari amplop tersebut dan benar saja ada namanya dan nama Dion di dalam tiket pesawat tersebut.
"Kalian kan sudah menikah selama sebulan dan Papa lihat kalian sudah saling mengenal lebih dekat. Hubungan kalian juga membaik. Jadi kami menghadiahkan paket bulan madu ke Bali selama seminggu."
"Kalian akan bersenang-senang di Bali. Papa dan Mama sudah memesan resort untuk kalian selama bulan madu di Bali. Tenang saja semuanya sudah beres. Semua Mama dan Papa yang atur,"ucap Mama Marisa.
"Ehm... Makasih Mama dan Papa," ucap Dion.
Alya hanya tersenyum saja mendengar percakapan antara kedua mertuanya dan suaminya tersebut yang membicarakan dirinya akan berbulan madu dengan Dion.
"Kalian malam ini menginap di sini saja ya nak?" ucap Mama Marisa.
"Iya ini sudah terlalu larut malam. Bahaya jika jam 22:18 wib berkendara di malam hari takutnya ada begal atau perampok," ucap Papa Edwin.
"Iya Pa," ucap Dion singkat. Dion berpikir ada benarnya juga omongan Papanya.
__ADS_1
Alya dan Dion setuju dengan ucapan Mama Marisa dan Papa Edwin. Setelah selesai berbincang-bincang kedua orang tua Dion sudah masuk ke dalam kamarnya. Dion menggandeng Alya untuk menuju ke kamarnya.
"Mi, ayo kita tidur sudah terlalu larut malam."
"Eh? Iya Bi. Umi juga sudah ngantuk," ucap Alya yang lalu naik ke ranjang king size tersebut.
"Mi, sini memdekatlah. Tidur sini," ucap Dion agar Alya tidur di lengannya. Dion ingin membuat Alya segera jatuh cinta padanya.
Dion membenarkan kepala Alya agar tertidur nyaman di lengannya. Dion bahagia Alya menurut dengannya meskipun umur Dion lebih muda darinya. Alya pun masih ingat pesan Mamanya agar selalu menurut dan menghormati suaminya, meskipun suaminya usianya jauh lebih muda. Setelah membaca doa tidur, mereka akhirnya terlelap dalam mimpinya masing-masing.
Di dalam mimpinya Dion sedang berada di taman yang luas. Dion sedang duduk sendiri di taman tersebut karena kelelahan mencari istrinya yang dari tadi beli minum namun belum balik-balik juga. Dion lalu pandangannya terfokus pada 2 anak yang sedang bermain di taman tersebut. Jarak mereka hanya 5 meter saja. Anak kecil perempuan tersebut menangis setelah mainannya di rebut oleh anak laki-laki yang disampingnya. Anak itu lalu berlari ke arah Dion dan tiba-tiba memeluknya.
"Ayah, ia sangat nakal terhadapku."
"Eh Ayah? Apa dia anakku?" Batin Dion.
"Ayah kenapa diam saja? Bantu aku merebut mainanku lagi."
Dion lalu terbangun dari mimpinya.
"Bi, Abi bermimpi?"
"Iya Mi......"
"Abi, tunggu di sini sebentar."
Alya lalu ke dapur untuk mengambil minum untuk Dion.
"Nih Bi minum dulu."
Dion lalu meminum air putih yang baru saja Alya berikan.
"Bi, mimpi apa?" Tanya Alya penasaran.
"Tadi Abi cuma mimpi lagi ditaman saja kok Mi. Tadinya Abi nyari Umi yang sedang beli minum tapi belum ketemu dan lalu Abi sudah terbangun."
Dion tidak bercerita bahwa dirinya bertemu dengan anak perempuan yang memanggilnya dengan sebutan ayah, takutnya Alya kepikiran akan hal itu.
"Mungkin mimpi Abi membangunkan kita agar sholat malam. Ini udah jam setengah tiga Bi."
"Eh iya Mi. Ya sudah Abi ambil wudhu terlebih dahulu," ucapnya sambil beranjak dari tidurnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, engkau telah memberikan imam yang baik untukku." Lirihnya dengan tersenyum.
Setelah Dion sudah wudhu. Alya langsung wudhu. Mereka lalu sholat bersama. Semenjak menikah, Dion selalu rajin sholat malam. Tidak pernah absen, Alya bahagia mendapatkan laki-laki yang taat dalam ibadah dan sesuai dengan keinginannya.