
Tak terasa dua bulan telah berlalu. Kini saatnya tiba acara akad nikah Keifano dengan Anisa. Keifano memakai pakaian yang senada dengan yang Anisa kenakan. Anisa menatap ke arah jendela. Akad nikahnya akan berlangsung pukul sembilan pagi.
"Aku tidak menyangka akan menikah denganmu." Batin Anisa tersenyum tipis.
Karin sampai pangling dengan calon menantunya.
"Kamu cantik sekali Anisa," puji Karin terhadap calon menantunya.
"Makasih Tante," ucap Anisa malu-malu.
"Mama, panggil aku Mama sayang," ucap Karin.
"Iya Mama..."
Mereka menggelar akad nikah sekaligus resepsi pernikahannya di ballroom hotel milik Rey. Dion juga merupakan sahabatnya sejak SMP jadi Rey menghadiahkan pernikahan Anisa dan Keifano di ballroom hotelnya. Rey juga memberikan paket khusus bulan madu untuk menginap di hotelnya selama seminggu dengan kamar kelas VVIP. Karena Karin adik sepupunya Risa jadi Rey menganggap keponakannya yaitu Keifano sudah seperti anaknya sendiri. Karena anak mereka seumuran dengan Revano, putra bungsunya.
Setelah terdengar kata sah, Anisa diapit oleh Alya dan Karin menuju ke pelaminan. Sekarang Anisa duduk disamping suaminya. Anisa terlihat gugup duduk di samping Keifano yang baru beberapa menit yang lalu resmi menjadi suaminya. Keifano melihat Anisa sangat cantik hari ini dan sampai terbengong melihatnya.
"Ehem, nak pasangkan cincinnya," ucap Yudha yang langsung membuyarkan lamunannya.
"Eh, iya Papa," ucap Keifano.
"Putraku, sepertinya kamu terpesona melihat kecantikan Anisa," ucap Karin.
Anisa tersenyum saat Karin berbicara seperti itu. Keifano melempar senyuman dan lalu memasangkan cincin pernikahan ke jari manis Anisa. Cincin saat Keifano melamarnya Anisa taruh di kotaknya kembali dan ada di kamarnya. Sekarang saatnya Anisa memasangkan cincin ke jari manis Keifano. Cincin yang baru saja Anisa pakaikan ke jari manis suaminya ada namanya yang terukir di sana. Sama dengan cincin yang sekarang Anisa pakai ada tulisan nama Keifano. Anisa lalu mengecup punggung tangan suaminya. Keifano lalu mengecup kening Anisa. Mereka terlihat malu-malu saat ini padahal sudah sah menjadi suami istri. Setelah itu mereka menandatangani buku nikah dan berfoto berdua.
Mereka lalu meninggalkan kursi yang tadi untuk akad nikah dan sekarang duduk di kursi pelaminan. Mereka foto keluarga. Baik Keluarga Sanjaya, Alexander, Hendrawan dan Wijaya semuanya berfoto bersama secara bergantian.
Keluarga Sanjaya terdiri dari keluarga besar dari Yudha. Keluarga Alexander dari Karin dan juga Risa. Keluarga Hendrawan dari Dion. Sedangkan Keluarga Wijaya dari Rey. Tak lupa para tamu undangan selain bersalaman dan mengucapkan selamat, mereka ikut juga berfoto untuk dokumentasi.
Semua tamu undangan memberikan doa yang baik. Mereka berharap Anisa dan Keifano menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan langgeng selamanya sampai maut memisahkan. Mereka semua juga mendoakan agar Anisa dan Keifano segera diberikan keturunan. Anisa dan Keifano mengamini setiap tamu undangan yang mendoakan mereka. Menurut Anisa setiap doa yang mereka panjatkan sangat berarti untuknya. Anisa berharap pernikahannya akan langgeng seperti Umi Alya dan Abi Dion. Mereka tetap langgeng sampai sekarang.
Ribuan tamu undangan sudah pulang. Mereka mengundang dua ribu tamu undangan terdiri dari sahabat, kerabat dekat, teman dan juga rekan kerja dari masing-masing kedua mempelai dan juga orangtuanya. Saat ini tamu undangan telah pulang. Tinggal keluarga kedua mempelai saja yang masih ada di ballroom. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
"Nak, sudah malam, kalian beristirahatlah," ucap Yudha.
"Iya kalian pasti capek berdiri berjam-jam menyalami tamu undangan," ucap Dion.
__ADS_1
Karin mendekati putranya.
"Nak, jangan lupa cepat berikan Mama cucu yang lucu-lucu," ucap Karin sambil menepuk pundak anaknya.
Keifano hanya tersenyum tipis saat Mamanya berbicara seperti itu. Sedangkan Alya mendekati putrinya.
"Ingat pesan Umi kemarin ya nak. Patuhi suamimu meskipun umurnya lebih muda darimu," ucap Alya lirih.
"Iya Umi. Anisa akan ingat pesan Umi kemarin," jawab Anisa.
Orang kepercayaan Rey telah datang.
"Nak, kalian beristirahatlah. Kalian akan diantar ke kamar oleh Pak Gio, beliau karyawan kepercayaanku di hotel," ucap Rey.
"Makasih Om Rey."
"Iya kalian tenang saja, selama seminggu ini pakaian kalian sudah ada di kamar hotel. Aku, Alya dan Karin sudah menyiapkan dua koper punya kalian," ucap Risa.
"Makasih Tante Risa," ucap Anisa.
"Iya sama-sama nak."
"Silakan masuk Tuan dan Nyonya Sanjaya," ucap sang karyawan kepercayaan Rey.
Keifano dan Anisa masuk ke kamar yang telah disiapkan oleh Rey dan Risa khusus untuk keponakannya. Anisa dan Keifano terkejut saat melihat kamar itu. Nuansa romantis dan bertaburan bunga mawar merah serta lilin aroma terapi menghiasi setiap sudut ruangan. Ranjang yang ditaburi bunga mawar menjadi ciri khas kamar pengantin baru.
"Ini kartu aksesnya. Selamat malam Tuan dan Nyonya," ucap Pak Gio sambil menyerahkan kepada Keifano.
Perkataan Pak Gio membuyarkan lamunan Keifano dan juga Anisa.
"Malam Pak dan makasih," ucap Keifano.
"Sama-sama Tuan. Saya permisi dulu."
Pak Gio lalu keluar dari kamar tersebut. Kini tinggal Anisa dan Keifano saja yang ada dalam kamar tersebut. Mereka begitu canggung saat ini.
"Kamu bersih-bersih dulu saja Anisa."
__ADS_1
"Kamu duluan saja suamiku," ucap Anisa dengan nada lembut.
Kata 'suamiku' entah kenapa membuat hati Keifano bergetar tak hanya itu jantungnya juga berdetak lebih cepat daripada biasanya.
"Suamiku?"
"Eh, maaf. Tapi akan sangat tidak sopan jika hanya memanggil dengan sebutan nama saja," beber Anisa.
"Tidak apa-apa aku suka kalau kamu memanggilku dengan sebutan suamiku dan memang benar aku ini suami kamu," ucap Keifano dengan senyuman manisnya.
"Benarkah ini Keifano yang aku kenal? Kenapa ia jadi sangat berubah setelah putus dengan Cassandra. Tapi alhamdulilah kalau Keifano sudah berubah." Batin Anisa.
"Kamu kenapa melamun?"
"Eh, iya kamu yang ke kamar mandi duluan saja," ucap Anisa.
"Ladies first. Jadi kamu duluan saja."
"Baiklah," ucap Anisa dan lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
"Anisa tunggu..." Keifano lalu meraih tangan Anisa.
"Ada apa?" tanya Anisa.
"Kamu belum melepaskan hijab dan mahkotanya."
"Astaga," ucap Anisa dan lalu melepaskan mahkota dari kepalanya.
"Bolehkah aku membantumu melepas hijabnya? Karena ada beberapa jarum pentul yang membalut hijabnya, aku takut kamu tertusuk jarumnya."
"Bo-boleh..." Perkataan Anisa terbata-bata, saat ini Anisa gugup karena Keifano akan melihatnya tidak menggunakan hijab untuk pertama kalinya.
Keifano membantu melepaskan hijab yang Anisa gunakan. Keifano berhasil melepaskan hijabnya. Keifano terpesona saat melihat wajah cantik Anisa dengan tanpa balutan hijab. Sedangkan Anisa kini malu suaminya telah melihatnya tanpa hijab.
"Aku ke kamar mandi dulu," ucap Anisa.
"Hmm, iya." Keifano menjawab singkat.
__ADS_1
Setelah Anisa masuk ke kamar mandi. Keifano tersenyum karena masih terbayang wajah Anisa yang tanpa balutan hijabnya. Bahkan sekarang Anisa jauh lebih cantik daripada Cassandra menurutnya.