
Karin masih di rawat di rumah sakit saat ini. Dokter bilang Karin akan beberapa hari di rawat di rumah sakit agar kondisinya cepat pulih.
"Mas, perutku terasa sakit," ucapnya sambil meringis dan memegang perutnya.
Dengan segera Yudha menekan tombol yang ada disebelah istrinya. Yudha kini sudah panik saat istrinya merasa kesakitan pada bagian perutnya.
"Sabar ya sayang, dokter akan segera datang." Sambil mengelus punggungnya.
Beberapa menit kemudian dokter datang mengecek kondisi Karin. Setelah pasca operasi tadi perut Karin masih terasa nyeri. Dokter lalu memberikan obat untuk Karin. Sekarang Karin sudah meminum obatnya dan lalu tertidur. Tadi Karin makan terlebih dahulu sebelum meminum obatnya. Tadi Yudha dengan telaten menyuapi Karin. Meskipun Karin hanya makan enam sendok saja. Namun perutnya harus segera diisi karena akan meminum obatnya.
Yudha tidak tega melihat kondisi istrinya seperti ini. Dirinya kini berjanji tidak akan pernah hal seperti tadi akan terulang lagi dalam hidupnya. Yudha akan meminta orang untuk selalu mengawasi rumahnya saat Yudha sedang bekerja.
Yudha merasa kehilangan ketiga anaknya. Fani sekarang sudah mendekam di penjara. Orang tua Fani sempat mengirimkan pesan WhatsApp kepada Yudha untuk mencabut tuntunannya. Orang tuanya berjanji akan memberikan apapun untuknya. Namun mereka tidak bisa jika harus mengembalikan ketiga anaknya yang telah tiada. Orang tua Fani sudah beberapa kali mengirimkan pesan WhatsApp ke Yudha, mereka meminta maaf atas semua kejadian yang menimpa istrinya.
Yudha tidak mau mencabut tuntunannya karena Fani berhak mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Yudha tidak rela jika Fani dibiarkan lolos begitu saja. Fani harus menanggung semua yang telah dia lakukan. Salah sendiri mencoba untuk menyingkirkan Karin dalam hidupnya dan kini dirinya sendiri yang tersingkir dari kehidupan Keluarga Sanjaya. Mama Sabrina bahkan kini juga membenci Fani. Karena Fani telah membuat Karin keguguran. Mama Sabrina jadi kecewa harusnya empat bulanan lagi dapat menimang cucunya. Namun kini ketiga cucunya sudah menghadap kepada sang ilahi.
Yudha tidak akan pernah mencabut tuntunannya dan memaafkan perbuatan Fani. Wanita yang dulu menjadi temannya saat kuliah di Perancis itu kini sudah menjadi wanita yang tidak punya hati. Yudha benar-benar kecewa dengan Fani. Kini Yudha akan membuka lembaran baru bersama Karin. Kejadian ini merupakan sebagai pelajaran untuknya. Yudha tidak mau memaksa Karin lagi untuk memberikan keturunan untuknya. Apalagi kini harapan Karin bisa hamil lagi hanya 20% jika menurut prediksi dokter. Namun Yudha tidak percaya. Karena kuasa Allah SWT yang paling bisa mengubah keadaan. Yudha yakin Allah SWT nanti akan memberikan keajaiban dengan istrinya bisa hamil kembali. Yudha yakin suatu saat nanti anak lahir seorang anak dari tahun istrinya. Yudha akan menantikan saat-saat itu nanti akan tiba pada waktunya.
Yudha tidak akan membahas soal anak lagi dengan Karin. Biarlah kuasa Tuhan nanti yang akan memberikannya. Yudha ingin rumah tangganya baik-baik saja. Mungkin mereka akan pacaran dulu setelah menikah dan nanti-nanti saja untuk memiliki anaknya. Lagian Karin baru saja mengalami keguguran. Jadi dalam waktu dekat tidak boleh untuk hamil.
...*****...
Kini Karin sudah keluar dari rumah sakit. Sekarang Karin sedang beristirahat di kamarnya. Yudha selalu meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan bubur setiap pagi untuk istrinya.
Tiga bulan kini telah berlalu. Karin sekarang sudah sehat seperti semula. Sekarang kabar Fani sangatlah memprihatinkan. Kedua orang tuanya meninggal dunia karena mengalami kecelakaan dan Fani histeris saat mendengar orang tuanya meninggal. Sekarang Fani sudah terbebas dari penjara dan sekarang sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Fani mengalami sakit jiwa setelah kedua orang tuanya meninggal. Mungkin Fani terkena karma karena sudah mencelakai Karin yang berakibat Karin kehilangan ketiga anaknya. Yudha akan mengajak Karin untuk jalan-jalan ke taman. Mereka akan membuka lembaran baru.
"Sayang, mungkin kemarin ujian untuk kita. Seharusnya aku menepati janjiku kalau setelah menikah kita berpacaran terlebih dahulu dan bukan membicarakan soal anak."
"Hmm...... Iya Mas. Tapi maafkan aku, sekarang aku jadi sulit untuk kembali hamil lagi," ucapnya sambil menunduk.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan dengarkan apa kata dokter itu. Kamu percayalah akan bisa hamil lagi. Kamu percaya kan kalau ada Allah dengan segala caranya yang kita tidak tahu apa rencananya. Kamu ingat tidak saat aku mati suri dan kamu bisa mengembalikan aku untuk semangat hidup lagi."
"Begitu juga dengan kamu sayang, aku yakin Allah pasti nanti akan mempercayai kita untuk mempunyai momongan lagi," ucapnya kembali.
"Iya Mas, aku percaya kalau Allah akan mempercayai kita untuk punya anak lagi. Aku sekarang sudah sadar Mas dan aku tidak ingin menunda untuk punya anak." Karin masih teringat waktu awal-awal mereka menikah pernah mengkonsumsi pil penunda kehamilan.
"Iya sayang, jangan pernah meminum pil penunda kehamilan itu lagi ya?"
Karin menganggukkan kepalanya. Mereka kini bahagia dengan kehidupannya yang baru. Mereka tidak akan membahas untuk punya anak. Biarkan rencana Tuhan nantinya. Jika sudah waktunya mereka pasti akan mempunyai anak lagi.
Dion dan Alya juga lagi di taman yang sama. Mereka sedang bermain dengan si kembar yaitu Anisa dan Andika. Mereka terlihat sangat bahagia dengan adanya buah hati mereka yang sangat menggemaskan. Anisa dan Andika kini sudah berumur 6 bulanan. Dion melihat Karin dan Yudha di tempat yang sama.
"Umi, Karin dan Kak Yudha juga ada di taman ini."
"Benarkah? Mana mereka Bi?"
"Itu mereka ada di sana," ucap Dion menunjuk tangannya ke arah kanan.
"Iya, Umi ayo."
Mereka berdua lalu mendorong kereta bayi mereka sama-sama. Alya mendorong punya Anisa sedangkan Dion mendorong kereta bayi punya Andika.
"Assalamualaikum..."
Karin lalu menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Wa'alaikum Salam..."
Karin yang melihat kedua anak kembar Alya dan Dion pun langsung teringat dengan ketiga anaknya. Seharusnya satu bulanan lagi Karin melaju ketiga anaknya. Namun takdir berkata lain. Mereka pergi duluan ke surga.
__ADS_1
"Wah, si kembar sekarang sudah besar ya." Yudha sambil memperhatikan Anisa, bayi mungil itu wajahnya perpaduan antara Alya dan Dion.
"Iya, Kak Yudha."
"Imut sekali Anisa. Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Yudha.
"Boleh saja Kak Yudha," ucap Dion dengan senyuman.
"Anisa, kamu sangat cantik sekali nak." Anisa bayi mungil tersebut tersenyum saat digendong oleh Yudha.
Yudha memperlihatkan Anisa bayi mungil yang cantik itu kepada Karin.
"Sayang, lihatlah Anisa sangat cantik sekali."
"Iya Mas, Anisa tidak hanya cantik tapi juga sangat imut." Karin memegang pipi Anisa.
Alya dan Dion saling memandang dan tersenyum.
"Mudah-mudahan kalian juga akan diberi kepercayaan lagi."
"Aamiin................" Karin dan Yudha mengamini ucapan Alya.
Sekarang Anisa sudah ditaruh lagi dikereta bayinya. Kini pandangan Karin mengarah ke Andika.
"Dion, aku ingin sekali menggendongnya."
Dion mengangguk kepalanya. Dengan perlahan Karin menggendong bayi mungil itu. Air matanya kini menetes karena teringat ketiga anaknya.
"Harusnya sebulan lagi aku juga bisa menggendong anakku. Tapi nyatanya..." Perkataannya tidak Karin teruskan.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, kita harus mengikhlaskan kepergian ketiga anak kita. Mereka sudah bahagia di surga." Kini Yudha menghapus air mata istrinya.
Karin mengangguk pelan. Dion dan Alya merasa trenyuh melihat Karin yang begitu terpukul dengan kejadian tiga bulan yang lalu. Dion dan Alya berharap agar Karin segera diberikan momongan lagi agar mereka tidak terlalu berlarut dalam kesedihan.