Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 16 - Bersikap Romantis


__ADS_3

Malam minggu Yudha sebelum pergi ke rumah Keluarga Alexander ia tak lupa membeli sebuket bunga mawar merah yang akan ia berikan kepada wanita yang menjadi pujaannya selama ini. Yudha senang ternyata Karin juga wanita pilihan Papanya dan mereka telah akrab duluan sebelum Yudha kenalkan dengan kedua orang tuanya. Yudha sekarang sudah yakin bahwa Karin memanglah jodohnya yang selama ini ia idam-idamkan.


"Aku berharap kamu menyukainya sayang." sambil tersenyum melihat sebuket bunga yang diletakkan di kursi mobilnya.


Mobil Yudha melaju dengan cepat. Ia ingin segera menemui Karin. Rasa kangennya seakan-akan mereka tidak ketemu beberapa bulan, padahal baru dua hari yang lalu mereka bertemu.


"Baru saja dua hari tidak bertemu denganmu sayang. Tapi rasanya sudah 2 bulan lamanya tidak bertemu hehehe," ucapnya terkekeh.


Yudha jadi teringat perkataan sahabatnya siapa lagi kalau bukan Dokter Rio bahwa sekarang ia telah bucin dengan gadis remaja yang ia sukai.


Mobilnya sudah sampai di halaman depan rumah Keluarga Alexander.


"Ting.. Tong..." suara bel berbunyi.


Yudha menyembunyikan sebuket bunga mawarnya di balik badannya. Setelah Karin membuka pintu untuknya ia akan menyerahkan sebuket bunga itu langsung dengan Karin.


Saat pintu dibuka ternyata Mama Angel yang membukakan pintunya. Yudha pun malu karena ia salah sasaran.


"Hehehe Tante yang bukain pintunya ternyata. Saya kira Karin Tan," ucapnya sambil cengengesan dan sedikit malu.


"Hahaha tidak apa-apa nak Yudha. Karin sedang berdandan di kamarnya. Kenapa kamu sudah kangen ingin bertemu dengan keponakan saya ya? Baru 2 hari saja kan kamu tidak bertemu dengan Karin," ucapnya meledek Yudha.


"Iya hehe. Tante selalu bisa nebak apa yang Yudha pikirkan."


"Yaudah Tante panggilin Karin dulu ya. Kamu masuk gih nak."


"Tidak usah Tan. Nanti kan jadinya tidak surprise. Eh Tan, pintunya ditutup lagi aja biar nanti Karin yang buka biar surprise."


"Hmm baiklah nak. Semoga saja Karin suka dengan surprise darimu."


"Iya terima kasih Tan."


Mama Angel lalu menutup kembali pintunya sesuai dengan keinginan Yudha.


"Ada-ada saja anak muda zaman sekarang. Sudah bucin banget Yudha sepertinya dengan Karin." sambil terkekeh dan berjalan menuju kamar Karin.


Mama Angel bahagia karena keponakannya telah menemukan seorang laki-laki baik yang nantinya akan menjadi suaminya dan dari keluarga yang terpandang juga. Mama Angel langsung menuju kamar Karin dan memberi tahu bahwa ada Yudha didepan.


"Sayang, sepertinya nak Yudha sudah sampai. Itu bel pintu depan sudah berbunyi," ucap Mama Angel yang seolah-olah belum membuka pintu ruang tamu.


"Baiklah Ma Karin akan kesana menemui Kak Yudha," ucapnya lalu menutup bedaknya.


Karin bermake-up tipis malam ini. Hanya menggunakan bedak tabur dan lip balm. Sebenarnya Karin tidak bermake-up saja sudah cantik. Yudha pernah bilang lebih suka Karin tampil natural. Namun sebagai wanita rasanya kurang percaya diri saat tidak memakai make-up sama sekali.

__ADS_1


Mama Angel lalu keluar kamar Karin dan menuju ke dapur. Mama Angel ingin membuatkan teh hangat untuk suaminya yang sedang berada di ruang kerjanya. Ia ingin menemani suaminya minum teh. Dua cangkir teh sudah siap untuk dibawa ke ruang kerjanya. Padahal di rumah ada Bibi Ika. Namun kalau untuk suaminya Mama Angel lebih memilih untuk membuatnya sendiri. Mama Angel berjalan ke ruang kerja suaminya pelan-pelan.


"Ceklek....." suara pintu terbuka.


Mama Angel langsung membawa dua cangkir teh tersebut diletakkan di atas meja dekat sofa.


"Papa, aku buatin teh untukmu. Ayo kita minum bersama selagi masih hangat." sambil duduk di sofa.


Papa Kevin lalu berjalan ke arah istrinya dan duduk disebelahnya.


"Makasih istriku," ucapnya sambil tersenyum.


"Sama-sama Papa."


Mereka menikmati teh hangatnya bersama-sama.


"Pa, Yudha dan Karin semakin hari semakin so sweet deh Pa. Mama jadi kangen sama Risa dan Rey."


"Nanti Papa akan bicara sama Aldi biar mereka tinggal bersama kita sementara waktu."


"Benarkah Pa? Tapi kan istri harusnya ikut suaminya?"


"Bukannya Mama ingin Risa tinggal disini? Kan tidak apa-apa Ma."


"Baiklah, nanti Papa akan bicarakan mengenai hal ini sama Aldi."


...*****...


Karin berjalan ke arah ruang tamu dengan senyum mengambang di wajahnya. Karin lalu membuka pintu. Alangkah terkejutnya melihat Yudha yang sudah berjongkok dan memberikan sebuket bunga mawar merah yang masih segar kepadanya.


"Sayang ini buatmu," ucapnya dengan tersenyum.


Karin tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Yudha kepadanya. Baru kali ini Yudha bersikap romantis.


Karin menerimanya dan lalu mencium bunganya.


"Makasih sayang bunganya aku suka."


"Hanya bunganya aja nih yang kamu cium sayang? Kakak kan juga pengen kamu cium juga sayang."


Karin melongo mendengar ucapan Yudha barusan. Seketika Yudha tersadar akan perkataannya.


"Eh maaf sayang. Kakak ngomongnya jadi kebablasan. Jadi pengen cepet-cepet nikahin kamu deh. Biar bisa kamu cium hehe," ucapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Karin langsung mencubit perut Yudha.


"Auwww kok dicubit sih sayang perutku sakit nih," ucapnya sambil mengusap perutnya.


"Salah sendiri Kak Yudha ngomongnya kemana-mana hahaha."


"Euh makin gemes deh aku sama kamu sayang," sambil mencubit pipi Karin.


"Kak Yudha mulai nakal ya tangannya!" ucap Karin dengan tatapan tajam.


"Sayang, maaf habis kamu gemesin banget sih dan itu balasannya tadi kamu mencubit perutku. Kita 1 sama sayang hehehe," ucapnya sambil cengengesan.


Karin hanya cemberut sambil melipatkan kedua tangannya.


"Sayang jangan ngembek gitu dong. Kamu tadi sih nyubit Kakak duluan. Maafin kelakuan Kakak yang tadi ya? Kakak janji tidak akan melakukannya lagi," ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Iya Karin maafin Kakak," ucapnya sambil tersenyum.


"Makasih sayang," ucapnya tersenyum dan sambil menggenggam tangannya.


"Kita jadi pergi atau tidak kalau Kakak terus menggenggam tanganku?"


"Iya sayang kita jadi pergi," ucapnya sambil melepaskan genggamannya.


"Yaudah Karin taruh bunganya dulu ya sayang. Sama ambil tas di kamar."


"Iya sayang Kakak tunggu."


Setelah 6 menit kemudian Karin sudah siap untuk pergi dengan Yudha. Malam ini Yudha ingin mengajak Karin jalan-jalan.


"Sudah siap sayang?"


"Sudah ayo."


Seperti biasa Karin diperlakukan seperti tuan putri karena selalu Yudha yang membukakan pintu mobilnya untuk Karin.


"Silahkan masuk tuan putriku."


"Hahaha Kamu bisa saja sayang gombalnya," ucapnya sambil tertawa.


Yudha tersenyum lalu langsung masuk ke mobilnya dan melajukannya untuk keluar halaman rumah.


"Semoga kamu suka dengan kejutanku malam ini sayang." batin Yudha.

__ADS_1


Kali ini Yudha ingin mengajak Karin ke suatu tempat yang belum pernah mereka kunjungi. Yudha sudah menyiapkan kejutannya untuk Karin.


__ADS_2