
Karin sekarang bingung untuk mengambil keputusan. Disatu sisi dia ingin setelah lulus SMA nanti ingin lancar-lancar saja dalam kuliahnya. Tapi disisi lain setelah lulus SMA Karin harus menjadi istri yang mengurus suaminya dan kegiatan rumah tangganya dengan sekaligus menjadi mahasiswi. Jadi Karin merasa belum siap jika hamil. Tapi apakah Yudha sanggup menunggu kehadiran sang buah hati mereka 4 tahun lagi. Karin masih ragu Yudha akan mengerti kemauannya untuk menunda kehamilan. Yudha juga harus paham bahwa Karin masih ingin bebas dan fokus untuk belajar dalam perkuliahannya nanti.
"Ehm..... Kak bicaranya nanti saja ya kalau kita sudah menikah. Agak gimana gitu kalau sekarang bicarain soal anak hehehe," ucapnya sambil cengengesan.
"Hmm baiklah. Tapi Kakak nanti inginnya kita punya banyak anak biar rame di rumah."
"Hah? Banyak? Emangnya Kakak ingin punya anak berapa dariku?" Tanyanya penasaran.
"Minimal 2 dan maksimal 5 anak saja. Karena kita kan sama-sama anak tunggal. Jadi Kakak itu kadang sedih tidak punya adik ataupun Kakak. Maka dari itu Kakak ingin punya anak minimal 2, kalau bisa sih lahirkan 5 anak untukku ya sayang hehehe," ucapnya terkekeh.
Karin melongo mendengar keinginan Yudha yang menurutnya sangat berlebihan. Meminta 5 anak, padahal Karin berencana untuk menunda kehamilannya.
"5 anak? Astaga, perutku akan membesar 5 kali nanti??" Batin Karin sambil membayangkannya bergerdik ngeri.
"Eh tadi katanya gak mau membicarakan soal anak, sekarang kamu yang bicarakan soal anak sayang."
"Kakak tadi yang mancing-mancing sih!" ucap Karin sambil cemberut.
"Kamu makin cantik saja sayang kalau lagi cemberut gitu. Makin gemes deh, jadi pengen..."
Yudha belum meneruskan kata-katanya. Karin langsung bertanya kepadanya.
"Pengen apa?" Tanyanya penasaran dengan jawaban Yudha.
"Pengen cium kamu sayang."
Mata Karin langsung terbelalak.
"Tapi Kakak kan sudah janji dengan diriku sendiri bahwa aku ingin melakukannya jika kita sudah menikah," ucap Yudha tersenyum.
"Makanya kamu jangan mancing-mancing Kakak dong sayang," ucapnya kembali.
"Siapa juga yang mancing-mancing Kakak!" ucapnya ketus.
"Ah iya wanita kan memang selalu benar," ucapnya lirih.
"Kakak tadi bilang apa?"
"Tidak kok sayang, tidak bilang apa-apa."
Mereka sudah selesai makan. Lalu akan pulang ke rumah.
"Sayang, terima kasih ya kejutan ulang tahunnya. Aku bahagia banget di hari ulang tahunku aku sudah bisa mengingat semuanya," ucap Yudha dengan senyumannya yang begitu manis.
__ADS_1
"Kak Yudha ganteng banget sih, kalau lagi senyum begini." Batin Karin.
"Sama-sama sayang. Aku juga bahagia akhirnya kamu bisa mengingatku kembali," ucap Karin dengan senyuman.
Karin dan Yudha lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil Karin.
"Sayang aku yang nyetir mobilnya ya?"
"Tapi kan kamu baru saja sembuh sayang. Gak usah ya, biar aku saja yang nyetir."
"Tapi sayang..."
"Tidak ada tapi-tapian," ucap Karin yang sudah masuk ke mobil duluan.
"Huft..............." Yudha lalu masuk ke mobil Karin.
Karin lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Yudha.
"Sayang, aku langsung pulang ya sudah malam. Titip salam buat Papa dan Mama."
"Iya sayang hati-hati ya. Jangan ngebut bawa mobilnya."
"Siap dokter gantengku," ucap Karin keceplosan berbicara seperti itu yang membuat Yudha loncat-loncat kegirangan.
"Astaga aku tadi keceplosan," ucap Karin yang merutuki dirinya sendiri lalu melajukan mobilnya keluar dari rumah Yudha.
Yudha lalu masuk ke dalam rumahnya. Di rumahnya Papa dan Mamanya sudah menyiapkan kejutan pesta ulang tahunnya. Saat Yudha membuka pintu ruang tamu ternyata gelap semua.
"Loh kok gelap? Apa lampu ruang tamu mati, tapi kok belum di ganti sih."
Saat Yudha melangkahkan kakinya untuk masuk tiba-tiba lampunya menyala. Mamanya sudah membawa kue ulang tahun untuknya.
"Selamat ulang tahun anak Mama yang paling ganteng," ucap Mama Sabrina.
"Selamat ulang tahun nak," ucap Papa Yudhistira.
"Makasih Mama dan Papa."
Yudha lalu meniup lilinnya setelah itu Yudha berpelukan dengan kedua orang tuanya.
"Ayo sekarang potong kuenya nak."
"Iya Ma."
__ADS_1
Suapan pertama Yudha berikan kepada Mamanya orang yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan suapan kedua Yudha berikan kepada Papanya, laki-laki yang selalu ia hormati.
"Mama, Papa, Yudha sudah ingat semuanya. Yudha sudah ingat dengan Karin dan berkat Karin juga Yudha bisa mengingat semuanya."
"Alhamdulillah," ucapnya bersamaan.
"Oh iya tadi Karin titip salam buat Mama dan Papa."
Papa Yudhistira dan Mama Sabrina saling memandang dan lalu tersenyum.
"Loh nak kamu baru beli jam tangan tadi?" Tanya Papa Yudhistira.
"Tidak Papa. Ini hadiah ulang tahun Yudha dari Karin."
"Karin yang memberikannya untukmu?" Tanya Mama Sabrina.
"Iya Ma. Ini hadiah yang special dari orang yang special."
"Bagus nak kalau kamu sudah mengingat semuanya. Karena sebentar lagi kan Karin lulus SMA dan kalian bisa menikah."
"Iya Papa. Yudha juga sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba."
"Kamu pintar cari istri nak. Udah cantik, perhatian dan masih muda lagi."
"Iya menantu idaman kita ya Pa."
"Iya Mama."
"Makanya Yudha ingin segera menikahinya setelah lulus SMA. Karena Yudha takut bahwa nanti kalau Yudha tidak bergerak dengan cepat bisa-bisa Karin jatuh ke lain hati saat bertemu dengan teman-teman barunya di kampus dan pastinya teman-temannya itu lebih muda dari Yudha."
"Benar apa katamu nak. Papa setuju denganmu."
"Iya Papa dan Mama tenang saja. Yudha nanti akan segera berikan cucu untuk Papa dan Mama agar Yudha juga tenang. Teman laki-laki Karin pasti tidak akan ada yang berani mendekati Karin saat melihat Karin sedang hamil," ucap Yudha tersenyum senang.
"Pintarnya anak Mama. Sampai kamu sudah berpikiran sejauh itu supaya tidak kehilangan Karin."
"Iya Mama, Yudha takut kehilangan Karin."
"Tapi keputusan kamu sudah tepat nak. Ya sudah kamu istirahat ya nak, soalnya kamu baru sembuh."
Yudha mengangguk lalu ke kamarnya untuk istirahat. Di dalam kamarnya Yudha langsung berganti pakaian dan tidur dengan nyenyak malam ini. Berbeda dengan Karin setelah sampai rumahnya Karin tidak bisa tidur, Karin masih memikirkan perkataan Yudha. Apalagi Yudha ingin punya banyak anak darinya. Karin tidak bisa membayangkan akan melahirkan 5 anak. Yudha minimal minta 2 anak dari pernikahannya, seperti Karin masih bisa memberikan kalau 2 anak. Namun kalau harus 5 sepertinya Karin tidak sanggup.
Padahal Karin berencana untuk menunda kehamilannya nanti. Tapi sepertinya Karin akan mengurungkan niatnya karena keinginan Yudha yang ingin segera mempunyai anak darinya. Karin tidak tega dengan Yudha, tapi Karin juga tidak ingin secepatnya punya anak. Karin semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Tetap dalam pendiriannya untuk menunda kehamilannya atau mengikuti kemauan Yudha untuk segera memberikannya anak. Karin semakin berkecamuk dalam pikirannya, mungkin inilah resiko akan menikah dengan pria dewasa.
__ADS_1