
Perkataan mengejutkan yang terdengar di telinga semua orang yang berada di ruangan tersebut. Karin lalu menoleh kearah Yudha. Mata Karin sudah mulai berkaca-kaca. Papa Yudhistira sangat sedih melihat anaknya yang tidak bisa mengingat calon istrinya.
"Brukk...................." Belum sempat sekotak browniesnya diterima oleh Mama Sabrina sudah terjatuh di lantai. Namun browniesnya tidak tumpah karena belum diiris. Mama Sabrina lalu mengambil sekotak brownies yang terjatuh, untung masih utuh tidak ada yang keluar dari kotaknya. Mama Sabrina lalu meletakkan browniesnya di meja dekat sofa.
Karin lalu menatap mata Yudha dengan intens. Pandangan mereka saling terkunci.
"Sungguh? Apakah kamu tidak ingat kepadaku Yudha Sanjaya?" tanyanya dengan air mata yang mulai berlinang membasahi pipi mulusnya.
"Aku sungguh tidak mengenalimu. Kenapa kamu bisa tahu nama panjangku?" ucapnya dengan tegas.
Karin lalu berjalan mendekati Yudha dan memastikan perkataannya. Mungkin tadi Karin hanya salah dengar. Sakit rasanya laki-laki yang dicintainya berbicara seperti itu didepan semua orang. Karin tak menyangka bahwa calon suaminya kini tidak mengenalinya. Yudha juga tidak mengenali Risa. Karin akan menanyakan sekali lagi dengan Yudha untuk memastikannya.
"Aku tanya sekali lagi. Apakah kamu tidak mengingat siapa Karina Alexander yang ada didalam foto ini?" ucap Karin saat memperlihatkan hp dengan wallpaper dirinya.
Karin memperlihatkan hp Yudha yang sempat dibawanya saat Mama Sabrina terjatuh pingsan.
"Kenapa hpku bisa sampai ditanganmu dan itu kenapa wallpapernya adalah fotomu? Mama lihatlah, bahkan hpku ada pada dirinya dan wallpapernya sudah dia ganti dengan fotonya."
Karin sudah seperti maling saja yang dituduh oleh sang empunya. Karin tidak tahan lagi mendengar perkataan Yudha lalu menyerahkan hp Yudha dan dompetnya kepada Mama Sabrina yang sempat kebawa semalam.
"Ma, tadi malam ini sempat kebawa Karin. Ini Karin balikin ke Mama."
"Yudha kalau bicara kamu yang sopan. Dia ini calon istri kamu!" Papa Yudhistira sudah mulai terbawa emosi.
"Aku bahkan tidak ingat kalau dia adalah calon istriku. Sudahlah Pa, Yudha tidak mau dijodohkan. Yudha ingin memilih pasangan hidup Yudha sendiri."
"Nak, kamu tidak ingat? Kamu sendiri yang memperkenalkan Karin adalah calon istrimu kepada Mama dan Papa saat kita makan bersama di rumah."
Yudha hanya melongo mendengar ucapan Papanya. Mama Sabrina lalu memencet tombol agar dokter segera datang.
"Benarkah dia calon istriku dan aku sendiri yang mengenalkannya kepada Papa dan Mama? Tapi kenapa aku tidak dapat mengenalinya? Bahkan dia gadis masih remaja. Mungkinkah aku menyukai gadis remaja ini?" batin Yudha.
"Papa mohon bersabar. Kak Yudha sedang sakit saat ini. Kak Yudha belum mengingat semuanya," ucap Karin yang menatap wajah Papa Yudhistira.
"Nak," ucap Mama Sabrina terlihat sedih sambil memegang pundak Karin.
Tapi Karin hanya menunduk dan masih berlinang air mata. Mama Sabrina sekarang merasa kasihan dengan calon menantunya karena anaknya tidak dapat mengingatnya. Mama Sabrina memeluk Karin.
"Nak, yang sabar ya. Kita harus berusaha agar Yudha bisa kembali lagi mengingat semuanya."
"Iya Mama."
Dokter tiba-tiba masuk karena tadi Mama Sabrina sudah menekan tombol yang berada dekat Yudha.
"Dok, bagaimana ini, belum seminggu anak saya sudah sadar tapi kenapa ia tidak bisa mengingat semuanya."
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu Pak. Ini di luar prediksi saya. Kemarin juga pasien bisa kembali hidup juga berkat Nona ini. Kita tidak bisa merubah takdir Tuhan."
"Maksudnya gimana dok? Saya sempat dinyatakan meninggal?"
"Iya, lalu Nona ini yang mencegah saya untuk mencabut semua alat yang menempel pada tubuh Anda. Nona ini menangis dan selalu mengajak Anda bicara. Lalu detak jantung Anda kembali berdetak berkat Nona ini," ucap sang dokter sambil menunjuk Karin.
"Iya nak, benar. Kemarin Karin menangis tersedu-sedu sambil memelukmu. Karin mengajakmu berbicara saat kamu dinyatakan sudah meninggal dan berkat Karin yang mensupportmu, kamu bisa hidup lagi."
"Apa? Berarti aku sempat mengalami mati suri dan yang katanya calon istriku ini yang bisa membuatku kembali bertahan hidup. Jika memang benar berarti gadis ini yang aku cintai, aku tidak ingin terlalu lama untuk hilang ingatan. Aku akan berusaha untuk mengingat semuanya." Batin Yudha.
"Lalu bagaimana dok, agar anak saya bisa mengingat kembali masa lalunya?"
"Dengan mengajak pasien ke tempat yang sering dikunjungi atau tempat yang berkesan bagi pasien. Itu akan mempermudah pasien untuk mengingat semuanya."
"Karin, kamu dan Yudha dulu sering kemana saja?" tanya Mama Sabrina.
"Kak Yudha sering jemput Karin ke sekolah. Lalu setelah itu makan di restoran sebelum mengantarkan Karin pulang. Kalau hari sabtu atau minggu biasanya Kak Yudha mengajak Karin jalan-jalan ke mall dan makan. Kadang ke taman dan waktu itu pernah dinner di rooftop. Kemarin saat sebelum Kak Yudha kecelakaan kita makan dan nonton bersama dengan Kak Rey dan Kak Risa."
"Berarti beneran aku sebelum kecelakaan menyukai gadis ini dan sering mengajaknya jalan, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Bahkan tadi kata Papa aku yang memperkenalkan gadis pilihanku ini kepada Papa dan Mama. Memang sih ada perasaan aneh saat aku dekat dengan dia tadi. Aku harus segera meningkat semuanya." Batin Yudha.
"Tapi maaf, aku belum bisa mengingatmu saat ini."
Karin tersenyum kecut lalu saat akan keluar dari kamar rawat Yudha, terlihat Alya dan Dion sudah datang.
"Assalamualaikum....."
"Kak Alya, Dion," ucap Karin pelan.
Alya dan Dion tersenyum kepada Karin. Alya dan Dion yang baru saja datang pun bingung melihat Karin yang sepertinya baru menangis.
"Eh Alya," ucap Yudha dengan senyuman.
"Kak Yudha bahkan ingat dengan Alya, tapi tidak ingat denganku dan Kak Risa." batin Karin.
"Kak Yudha, Alya dan Dion hanya bawa beberapa buah saja. Kak Yudha semoga cepat sembuh ya."
"Iya terima kasih Alya. Harusnya kamu tidak usah repot-repot bawain buah untuk Kakak. Oh iya siapa laki-laki yang berada disampingmu itu Alya? Apakah sepupumu atau sahabatmu?"
Alya lalu menengok ke arah Mama Sabrina dan Papa Yudhistira. Papa Yudhistira mengisyaratkan dengan anggukan bahwa Yudha mengalami hilang ingatan.
"Dion adalah calon suamiku, rencananya setelah lulus sidang skripsi, aku dengannya akan segera melangsungkan pernikahan."
"Kasihan sekali Karin, calon suaminya mengalami hilang ingatan." Batin Dion yang merasa iba melihat kondisi Yudha saat ini.
Karin lalu keluar dari ruangan rawat Yudha. Risa berusaha untuk mengejar Karin. Risa ikut keluar untuk menenangkan Karin, bagaimanapun juga sepupunya itu pasti hancur hatinya karena calon suaminya yang tidak mengingatnya. Ditambah lagi bisa mengingat Alya tadi.
__ADS_1
"Karin..................." Risa mendekati Karin yang duduk di lantai dan kepalanya menunduk.
Risa berjongkok lalu mengelus punggung Karin.
"Kamu yang sabar ya sayang. Mungkin saat ini Yudha belum mengingat kamu. Tapi kamu harus selalu support Yudha agar mengingat semuanya. Kamu pasti bisa membantunya untuk mengingat semuanya."
"Iya, ya sudah ayo kita duduk di sana saja," ucap Karin yang baru teringat kalau Risa sedang hamil. Kasihan kalau harus berjongkok.
"Ya sudah ayo."
Tak lama kemudian Mama Angel dan Rey keluar menemui Risa dan Karin.
"Nak, kamu yang sabar ya. Yudha pasti akan mengingat semuanya. Kamu harus membantunya agar segera mengingat semuanya," ucap Mama Angel.
"Kakak juga yakin kalau Kak Yudha pasti akan cepat sembuh dan segera mengingat kamu Karin."
"Iya Ma, Kak Rey. Karin berharap juga seperti itu."
"Aduhh............." Risa memegang perutnya.
"Nak kamu kenapa?" Mama Angel khawatir.
"Sayang kamu kenapa?" Rey panik.
"Kak Risa perutnya sakit?" tanya Karin.
"Perutku tiba-tiba kram nih."
"Hah?? Gimana ini, ayo kita ke dokter saja."
"Tidak usah ini sudah agak mendingan kok," ucap Risa sambil mengelus perutnya.
"Benarkah sayang, kamu tidak bohong?" Tanya Rey memastikan.
Risa hanya mengangguk pelan.
"Coba kamu bantu aku agar rasa kramnya cepat hilang."
Rey lalu berjalan mendekati Risa dan duduk disebelahnya. Rey lalu mengelus perut Risa.
"Sayang ini Daddy, kamu lagi apa nak didalam? Sudah merasa tidak nyaman ya di perut Mommy?" ucap Rey yang langsung digetok kepalanya oleh Risa.
"Kalau ngomong sama anak itu yang benar!"
"Lah aku harus bicara gimana sayang? Tadi katanya perut kamu kram, jadi benar kan dia tidak nyaman di dalam."
__ADS_1
Akhirnya Risa dan Rey malah ribut sendiri masalah Baby R. Memang benar setelah dielus-elus perutnya oleh Rey rasa kramnya sudah mulai hilang.