Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Keyla Sanjaya..


__ADS_3

Mama Chintya sekarang tinggal bersama Karin sesuai dengan permintaan anaknya yang ingin selalu ditemani oleh Mamanya. Sekarang kandungannya sudah berjalan 9 bulan lebih 8 hari. Perutnya sudah mulai turun jadi sewaktu-waktu bisa melahirkan. Karin sudah mulai sering merasakan kontraksi dan sakit pada bagian pinggangnya. Pagi ini Karin merasakan kembali kontraksi.


"Ma... Mama....." Karin berteriak memanggil nama Mamanya. Perutnya kembali merasakan mulas.


Mama Chintya tergopoh-gopoh mendekati anaknya.


"Sayang, kamu merasakan kontraksi lagi?"


"Ma, perutku rasanya sakit banget. Mama tolong panggilkan Mas Yudha," ucapnya sambil memegang perutnya.


Biasanya jika Karin seperti ini Yudha yang bisa meringankan rasa sakitnya. Yudha sedang mandi di kamarnya. Sedangkan Karin sekarang sedang duduk di ruang keluarga.


"Sayang, kamu mau melahirkan nak." Mama Chintya melihat ke arah kaki Karin.


"Sepertinya begitu Mama. Arghhh Ma, perutku rasanya sakit sekali..."


"Sebentar ya sayang, Mama panggilkan suamimu."


Karin mengangguk pelan dan Mama Chintya berjalan menuju ke lantai atas.


"Nak, sebentar lagi kita akan bertemu sayang. Mama sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kamu nak," ucap Karin mencoba berbicara dengan anak yang masih dalam kandungannya sambil mengelus perutnya pelan.


Mama Chintya segera naik ke lantai 2 untuk menemui menantunya. Mama Chintya mengetuk pintu kamar Yudha. Untung saja Yudha sudah berpakaian tinggal menggunakan kaosnya luarnya saja.


"Masuk saja Mama. Pintunya tidak di kunci."


Mama Chintya langsung masuk ke kamar.


"Nak, Karin mau melahirkan..."


"Apa? Aku akan segera menemuinya Mama..." Yudha nampak cemas saat ini.


Dengan segera Yudha memakai kaos luarnya karena tadi hanya memakai kaos dalamnya.


"Ayo cepat nak. Karin sudah merasakan kesakitan dari tadi."


"Iya Mama ayo kita turun."


Yudha berjalan duluan dan lalu diikuti oleh Mama Chintya dibelakangnya.


"Auwww sakit sekali....." Karin meringis dan mencoba untuk menahan rasa sakitnya.


Yudha melihat istrinya sedang merasakan kesakitan.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit sekarang."


Yudha menggendong Karin dan menuju ke mobilnya. Sang sopir yang menyetir mobilnya saat ini. Mama Chintya membawa mobil Karin dan semua cucunya ikut masuk ke mobilnya. Papa Keynan sudah diberi tahu tadi jadi mereka akan bertemu di rumah sakit.Tak lupa Mama Chintya juga menghubungi besannya.


"Mas, aku sudah tidak kuat."


"Sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Bertahanlah sayang."


Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Sekarang Karin sudah masuk ke ruang bersalin. Yudha menemani disampingnya. Di luar semua orang sudah datang. Mama Sabrina, Papa Yudhistira dan Papa Keynan.


Di ruang bersalin keringat dingin sudah bercucuran. Yudha mengelap keringat Karin dengan tisu yang ada di kantong sakunya. Karin sekarang sedang berusaha untuk melahirkan putrinya. Yudha selalu memberikan semangat kepada istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.

__ADS_1


"Semangat sayang," Yudha mengecup kening istrinya dan membacakan doa agar persalinannya lancar.


Setelah berusaha beberapa kali akhirnya bayi mungil yang cantik itu berhasil Karin lahirkan.


"Oek...... Oek......... Oek..........." Karin tersenyum saat melihat sekilas putrinya yang baru saja dia lahirkan.


"Alhamdulillah, putri kita sudah lahir. Dia cantik sepertimu. Makasih sayang." Yudha mengecup kembali kening istrinya.


Karin lega bisa melahirkan putrinya secara normal. Beberapa jam kemudian Karin sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Yudha tadi sudah mengadzani putrinya. Sekarang putrinya tertidur, Yudha mengamati putri kecilnya yang masih dalam box bayi tersebut.


"Nak, cucu Mama cantik ya. Seperti Karin nak cantiknya," ucap Mama Sabrina yang ikut melihat cucunya yang baru lahir.


"Iya Mama. Cara tidurnya saja seperti Karin," ucapnya terkekeh.


Papa Keynan dan Papa Yudhistira saling melempar senyuman. Tadi mereka sudah melihat cucunya.


"Kita punya cucu 4 Pak Keynan, 2 laki-laki dan 2 perempuan."


"Iya sudah lengkap ya Pak Yudhistira. Kalau saja si kembar masih hidup kita jadi punya 7 cucu."


Mereka lalu tertawa bersama. Mengingat cucu mereka sudah banyak. Keifano, Keisha dan Key juga melihat adik mereka.


"Nak, ini adik yang kamu minta sudah Mama dan Papa berikan."


Key mengangguk dan lalu tersenyum.


"Cantik ya Papa adiknya." Sambil melihat ke arah adiknya yang masih tertidur.


"Iya nak, seperti Mamamu."


Tak lama kemudian Karin sudah sadar dari pengaruh obat biusnya.


Mama Chintya memberikan segelas air putih. Karin meneguknya hampir habis. Yudha mendekati istrinya yang baru sadar.


"Sayang, akhirnya kamu sudah sadar." Mengusap kepala Karin.


"Iya Mas. Mana anak kita Mas?"


"Sebentar ya sayang aku bawa Keyla kemari."


Yudha menggendong Baby Keyla pelan-pelan agar tidak menggangu tidurnya. Namun Baby Keyla menangis saat ini dengan segera Karin memberikan asi untuk anaknya. Ternyata anaknya terganggu dari tidurnya dan saatnya untuk minum asi.


"Namanya Keyla Mas?"


"Iya sayang, Keyla Sanjaya. Nama yang bagus bukan untuk anak kita?"


"Hmm iya. Tapi kok semua nama anak kita berawalan huruf K Mas?"


"Karena kamu adalah ibunya sayang, jadi semua anak kita berawalan huruf K. Aku menghargai jerik payahmu melahirkan putra dan putri kita."


Karin tersenyum ternyata alasan suaminya menamakan anaknya seperti itu.


"Makasih ya Mas."


"Tidak perlu berterima kasih sayang. Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Karena kamu sudah memberikan aku anak yang lucu-lucu." Yudha mengecup kening Karin.

__ADS_1


Karin melihat wajah anaknya yang imut dan cantik itu. Baby Keyla lebih imut saat bayi daripada Keisha waktu bayi. Karin telah selesai memberikan asi untuk anaknya.


"Mas, coba kamu lihat wajah anak kita menggemaskan sekali ya?"


"Iya sayang, dia imut sekali ya." Yudha mengecup pipi anaknya.


"Mas, dia tersenyum setelah kamu kecup pipinya." Karin bahagia melihat pertama kali anaknya tersenyum.


"Dia tahu, kalau Papanya sangat sayang padanya sayang."


"Hehe iya Mas. Aku jadi teringat saat dia sering menendang wajahmu saat masih dalam kandunganku," ucapnya terkekeh.


"Kamu masih ingat saja sih sayang," ucap Yudha lalu mengecup pipi Karin.


Karin masih teringat saat Yudha sering memeluk perutnya sebelum tidur. Yudha juga sering mengajak anaknya bicara saat masih dalam kandungan. Mereka juga rajin membaca Al-Qur'an. Semua anaknya tak luput dari doa Karin dan Yudha. Mereka menyempatkan waktu sehabis sholat Maghrib untuk mengaji sambil menunggu adzan isya. Mama Sabrina dan Mama Chintya tersenyum melihat rumah tangga Karin dan Yudha yang begitu harmonis.


"Aku bahagia melihat mereka begitu bahagia dengan anak-anaknya. Aku menyesal dulu telah memisahkan mereka. Namun akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali. Mereka memang ditakdirkan untuk selalu bersama." Batin Mama Sabrina.


Tak lama kemudian Rey dan Risa datang. Baby Keyla sekarang sudah tidak menangis lagi karena sudah diberi asi oleh Karin. Yudha melihat wajah bayi mungil itu yang terlihat imut dan menggemaskan.


"Wah, cantiknya keponakan aku." Risa menggendong Baby Keyla.


"Iya dia anteng ya sayang tidak menangis," ucap Rey.


"Tadi menangis karena haus saja Kak," ucap Karin.


"Sudah biasa bayi menangis karena haus nak," ucap Mama Chintya.


"Iya Mama." Jawab Karin.


Sekarang Baby Keyla menguap dan kemudian tersenyum.


"Lucu sekali ya sayang Keyla." Rey membelai pipi Baby Keyla dengan lembut.


"Iya sangat lucu sekali sayang. Imut sekali sih wajahnya. Masih bayi saja sudah terlihat cantik begini, apalagi kalau sudah besar nanti." Puji Risa terhadap Keyla.


"Iya, pasti banyak cowok yang antri mau menjadi pacarnya."


Yudha dan Karin tertawa mendengar perkataan Rey dan Risa. Memang benar juga yang dikatakan mereka karena Baby Keyla yang seperti boneka wajahnya.


"Anakku tidak boleh pacaran nanti. Biar dia nanti seperti aku dan Karin langsung menikah saja tanpa pacar-pacaran," ucap Yudha.


"Anak sekarang mana mau menikah tanpa pacaran Kak Yudha?" ucap Risa.


"Iya, pasti mereka akan memilih pasangannya sendiri nanti."


"Biar aku nanti mendidiknya dengan baik. Semua anakku harus menjadi orang yang baik."


"Iya benar Kak Yudha. Aku juga mau Reno dan Revano menjadi Hafidz Qur'an seperti diriku," ucap Rey dengan senyuman.


"Iya sayang, anak kita nanti kita masukkan ke pondok pesantren. Biar seperti Daddy Rey menjadi seorang Hafidz Qur'an," ucap Risa.


"Aku juga ingin anak-anakku nanti aku masukkan ke pondok pesantren," ucap Yudha.


"Iya Mas, aku juga setuju. Semoga saja mereka mau. Tapi kalau mereka tidak mau kita jangan paksa mereka ya Mas. Nanti anak-anak takutnya merasa tertekan."

__ADS_1


"Iya sayang. Tapi aku yakin anak-anak kita akan ada yang mau kita masukkan ke pondok pesantren."


Karin tersenyum dan berharap mudah-mudahan saja anak-anaknya mau masuk ke pondok pesantren. Karin juga ingin semua anak-anaknya menjadi orang yang lebih mendalami agama.


__ADS_2