Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 55 - Kembar


__ADS_3

Setiap habis sholat subuh Alya sudah masak untuk sarapan. Suara ayam berkokok di luaran sana menemani Alya saat sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Alya lalu kembali ke kamarnya untuk mengajak suaminya sarapan. Saat masuk ke kamarnya aroma parfum Dion tercium tidak seperti biasanya di hidung Alya.


"Bi, pakai parfum apaan sih? Kok baunya begini? Umi gak suka dengan baunya," ucap Alya sambil menutup hidungnya dengan tangannya.


"Abi pakai parfum biasanya sih Mi. Masa sih beda baunya? Perasaan Umi aja kali. Abi merasakan baunya tetap sama tuh," ucap Dion.


Dion mencium aroma parfumnya yang sudah menempel di kemejanya. Setelah itu lalu berjalan mendekati Alya.


"Bi, jangan mendekat," ucap Alya sambil menggoyangkan jari telunjuknya agar Dion tidak mendekatinya.


"Umi kenapa jadi aneh begini?" Dion bingung Alya saat ini semakin aneh tingkahnya.


"Aku harus segera ganti parfumku. Biar Umi saja nanti yang memilihkan parfum untukku." Batin Dion.


"Aku mual menghirup bau parfum yang Abi pakai," ucap Alya yang sudah tidak tahan lagi dengan baunya dan dengan segera Alya berjalan menuju ke wastafel memuntahkan semua isi perutnya.


"Mi... Umi gak apa-apa kan?" Tanya Dion khawatir saat sudah selesai memijit leher belakang Alya.


"Umi gak apa-apa kok Bi. Mungkin hanya masuk angin saja. Semalam kan kita keluar beli martabak manis dan anginnya lumayan kencang semalam."


Dion lalu membantu Alya untuk duduk di ranjangnya. Dion membenarkan bantalnya agar Alya nyaman untuk senderan. Dion mencari minyak angin untuk Alya.


"Ini Mi pakai minyak anginnya dulu," ucap Dion sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Loh Bi mau kemana?"


"Abi mau bikinin Umi jahe hangat. Umi tunggu di sini saja ya, jangan kemana-mana."


"Iya Bi." Jawabnya singkat.


Dengan segera Dion membuat jahe hangat untuk Alya. Tak lupa Dion juga membawa makanan yang sudah Alya masak. Dion kembali ke kamarnya dengan membawa nampan yang sudah ada satu piring beserta 2 gelas yang satu berisi air putih dan yang satunya berisi jahe hangat.


"Mi, ini jahe hangatnya diminum dulu."


Dion kemudian memberikan jahe hangatnya ke Alya dan langsung saja Alya meminumnya.


"Gimana Mi apa sudah enakan?" Tanya Dion sambil memperlihatkan Alya.


"Lumayan Bi, tapi masih sedikit pusing."


"Ya sudah Umi hari ini gak usah ke toko kue dulu ya? Umi istrirahat saja di rumah. Nanti Abi akan izin pulang cepat sama Papa menemani Umi di rumah."


"Iya Bi, Umi juga sudah gak apa-apa kok. Cuma masih agak sedikit pusing."


Dion lalu menyuapi Alya. Sebenarnya Alya tidak mau disuapin tapi Dion tetap menyuapinya dengan alasan Alya masih sakit dan Alya menurut saja tidak membantah suaminya, lagian dirinya masih lemas setelah muntah tadi. Setelah menyuapi Alya tak lupa Dion memberikan air putih. Dion lalu sarapan sendiri di ruang makan. Setelah selesai sarapan Dion kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan akan berangkat ke kantor.


"Mi, Abi berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum Salam, hati-hati Bi."


"Iya Mi," ucap Dion sambil membawa tasnya dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Dion sekarang sudah sampai di halaman dan segera masuk ke mobilnya. Dion lalu melajukan mobilnya ke kantor.


Di kamar Alya merasakan mualnya kembali. Alya segera menuju ke wastafel memuntahkan isi perutnya yang baru saja diisi. Alya keluar dari kamar mandi dan terdiam sejenak dan teringat sesuatu saat sudah tidak merasakan mualnya. Alya langsung mengambil hpnya dan melihat ke menu kalender. Alya membolakan matanya saat melihat sekarang sudah tanggal berapa, sudah terlewat 12 hari dari jadwal tamu bulanannya.


"Aku sudah telat 12 hari. Apa saat ini aku sedang ham..." Belum selesai melanjutkan perkataannya Alya sudah pingsan di lantai dekat dengan ranjangnya.


Dion balik lagi ke rumah karena dompetnya ketinggalan. Untung saja belum jauh dirinya menempuh perjalanan.


"Assalamualaikum Mi. Umi dompet Abi ketinggalan," ucap Dion saat sudah masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut.


Dion tidak mendengar respon Alya lalu langsung saja membuka pintu kamarnya. Dion terkejut saat melihat Alya sudah pingsan. Dion berjalan mendekati Alya dan bibirnya masih basah berarti Alya baru saja ke kamar mandi.


"Astaga, Umi pasti mual lagi." Dion khawatir dengan kondisi istrinya.


Dengan cepat Dion mencari dompetnya dan setelah ketemu lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Dion lalu mengendong Alya keluar dari kamarnya. Untung saja Dion kembali ke rumah, kalau dompetnya tidak ketinggalan tadi Dion tidak akan tahu kalau Alya pingsan.


Dion lalu melajukan mobilnya sambil menelepon Papanya bahwa hari ini tidak izin masuk ke kantor karena Alya sedang sakit. Dion juga menceritakan bahwa Alya saat ini sedang pingsan dan sedang dibawa ke rumah sakit. Papanya yang sudah sampai kantornya pun menghubungi istrinya agar segera menyusul Dion ke rumah sakit.


Dion sudah sampai di rumah sakit. Alya masih saja pingsan dan membuat Dion semakin khawatir. Dengan segera Dion menggendong Alya masuk ke rumah sakit. Dokter sedang memeriksa kondisi Alya.


"Istri saya sakit apa dok? Kenapa dia terlihat pucat sekali? Bahkan sampai sekarang istri saya belum juga sadar dari pingsannya. Sebenarnya istri saya kenapa dok?" Tanya Dion panik saat istrinya tak kunjung sadar.


Dokter tersenyum saat sudah memeriksa kondisi Alya.


"Selamat ya mas, Anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah," ucap sang dokter dengan senyum.


"Ayah? Berarti istri saya sedang hamil dok?" Mata Dion sudah berbinar-binar.


"Alhamdulillah, baik dok."


"Aku akan menjadi seorang ayah? Secepat inikah? Terima kasih Ya Allah engkau telah memberikan kebahagiaan yang tidak terduga." Batin Dion.


Alya mulai mengerjapkan matanya. Alya terkejut saat dirinya sudah berada di rumah sakit. Dion berjalan mendekati istrinya, Dion bahagia Alya saat ini sedang hamil.


"Bi, Umi kok ada di rumah sakit?" ucap Alya bingung tiba-tiba dirinya sudah berada di ruang perawatan.


"Iya, Umi tadi pingsan lalu Abi bawa ke rumah sakit."


Dion lalu menggenggam tangan Alya dan menatap wajah istrinya yang masih terlihat agak pucat.


"Umi terima kasih ya. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua," ucap Dion sambil tersenyum dan mengecup kening Alya.


"Maksudnya? Umi sedang hamil Bi?" Tanyanya dengan serius.


Dion mengangguk pelan dan sambil tersenyum.


"Iya Umi, Abi bahagia mendengar dokter bilang Umi sedang hamil."


"Alhamdulillah Bi, Umi juga bahagia saat ini Umi sedang mengandung buah hati kita," ucap Alya dengan senyuman sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Ayo Mi. Kita harus ke ruang dokter kandungan. Mengecek Umi sudah hamil berapa minggu."

__ADS_1


"Iya Bi."


Alya saat ini sedang menunggu panggilan dirinya untuk masuk ke ruang dokter kandungan. Dion menemani Alya dan duduk disampingnya. Karena masih pagi jadi hanya antri satu orang saja.


Setelah mereka sudah berada di ruang dokter kandungan tersebut Alya dipersilakan untuk berbaring. Dokter tersebut lalu memberikan gel ke perut Alya dan mulai menggerakkan tangannya. Dokter muda tersebut tersenyum saat melihat latar monitornya.


"Selamat ya Bu anaknya kembar," ucap sang dokter tersenyum.


"Kembar?" ucap Dion dengan terkejut.


"Apa dok kembar?" Tanya Alya memastikan.


"Iya bisa dilihat di layar monitor terdapat dua titik yang masih sangat kecil sekali. Saat ini kandungannya sudah memasuki usia kehamilan 3 minggu. Janinnya sehat dan Ibu harus selalu menjaga kesehatan ya. Apalagi sedang hamil anak kembar."


"Baik dok. Oh iya dok saya hari ini sudah mual-mual 2 kali."


"Saya akan meresepkan obat anti mualnya agar tidak sering mual dan juga vitaminnya," ucap dokter saat sudah membersihkan gel di perut Alya.


Dion membantu Alya untuk turun dari brankar rumah sakit. Mereka saat ini sudah duduk.


"Ini hasil pemeriksaannya dan USG. Saya sudah resepkan obat anti mualnya dan vitaminnya. Nanti ditebus didepan ya."


"Baik dok."


Alya dan Dion lalu keluar dari ruangan tersebut dan segera menebus obat dan juga vitaminnya. Dion juga sudah membayar biaya untuk cek kandungan Alya. Saat sedang antri menebus obatnya, Mama Marisa datang menghampiri menantunya yang sedang duduk menunggu Dion antri obat.


"Sayang, kamu sakit apa?" Tanya Marisa kepada menantunya.


"Alya sedang hamil Mama," ucapnya dengan senyuman.


"Apa hamil? Sebentar lagi aku akan punya cucu nak?" ucap Mama Marisa bahagia.


Alya mengangguk pelan. Mama Marisa bahagia mendengar menantunya sedang mengandung cucunya dan langsung memeluk Alya. Dion sudah menebus obat dan vitaminnya lalu berjalan mendekati Mamanya dan juga istrinya.


"Nak, kamu harus jaga istri kamu saat sedang hamil. Kamu harus selalu ada disampingnya."


"Iya Mama, apalagi cucu Mama kembar."


"Ap-Apa kembar?" Mama Marisa terkejut mendengarnya.


"Benarkah sayang?" ucapnya menatap wajah Alya.


"Iya Mama benar. Alya sedang hamil anak kembar."


"Alhamdulillah... Kamu jaga kedua cucu Mama ya sayang. Kamu gak boleh capek-capek pokoknya," ucapnya sambil memegang perut Alya.


Alya mengangguk pelan pertanda mengerti ucapan Mama Marisa. Alya bahagia mempunyai Mama mertua yang sangat perhatian kepadanya.


"Oh iya Mama sampai lupa ngasih kabar bahagia ini ke Mama kamu. Mama telepon Mama Sofie sebentar ya?"


"Iya Mama," ucap Dion dan Alya bersamaan.

__ADS_1


Dion lalu duduk disamping Alya menggenggam tangannya. Alya memperhatikan suaminya yang dari tadi terlihat wajahnya bahagia saat mengetahui dirinya sedang hamil anak kembar. Alya bahagia saat ini, kehamilannya merupakan anugerah yang terindah baginya. Alya tidak menyangka akan menjadi ibu secepat ini. Alya bersyukur bisa memberikan cucu sekaligus dua. Alya tadi juga melihat betapa bahagianya saat mertuanya mendengar kabar kehamilannya. Mama Sofie juga sangat bahagia saat mendapatkan telepon dari besannya saat mengetahui bahwa saat ini anaknya sedang mengandung anak kembar.


__ADS_2