
Seketika suasana menjadi hening. Karin menatap Dion dengan tatapan tak suka. Karin merasakan adanya perbedaan saat bersama dengan Dokter Yudha merasakan jantungnya berdegup dengan kencang berbeda dengan saat bertemu dengan Dion perasaannya biasa saja, berbeda dengan bertemu dengan Dokter Yudha.
"Aku jadi yakin bahwa pilihanku tidak salah. Aku akan berkomitmen dengannya." batin Karin.
"Beri aku alasan yang jelas, kenapa kamu bisa berubah pikiran dan akan menerima perjodohan ini," ucap Karin dengan tatapan yang serius.
"Seseorang yang aku suka akan menikah 1 bulan lagi. Aku mohon denganmu, kita bisa memulai perjodohan kita lagi dari awal."
"Huh. Dasar lelaki plin-plan! Enak saja setelah wanita yang ia suka akan menikah 1 bulan lagi lalu ingin kembali lagi padaku? Jangan harap! Apalagi saat kak Rey bilang Dion menolak perjodohan ini karena sudah menyukai wanita lain. Aku juga tidak suka dengan sikapnya saat pertama kali bertemu denganku terkesan kaku dan dingin." batin Karin.
"Maaf Dion aku telah memberikanmu kesempatan waktu pertama kali kita bertemu, aku sudah bilang bukan bahwa kita berteman dan jalani apa adanya terlebih dahulu. Namun apa setelah itu? Besoknya Kak Rey bilang kepadaku bahwa kamu menyukai wanita lain dan menolak perjodohan kita. Saat itu juga sudah aku putuskan untuk membatalkan perjodohan ini," ucap Karin dengan tegas.
FLASHBACK ON
📥 Dion : "Assalamualaikum Rey, aku tidak mau dijodohkan dengan sepupu iparmu. Sifatnya jauh berbeda dengan istrimu. Dia bicaranya ketus dan orangnya nyebelin. Aku tidak suka."
📤 Rey : "Wa'alaikum Salam, dicoba dulu bro berteman dengannya. Mungkin kamu akan tahu sifat aslinya kalau sudah berteman dengannya."
📥 Dion : "Sepertinya aku tidak sanggup menerima perjodohan ini. Aku menyukai gadis lain saat aku bertemu dengannya pertama kali di pesta pernikahanmu. Maaf kalau dengan terpaksa aku harus menolak perjodohan ini."
📤 Rey : "Ya sudah kalau begitu, kita bicarakan nanti lagi. Sekarang sudah malam, selamat tidur Dion Wassalamu'alaikum."
📥 Dion : "Wa'alaikum Salam Rey. Selamat malam."
FLASHBACK OFF
Dion merutuki dirinya sendiri saat berbicara seperti itu dengan sahabatnya.
"Bukankah kakek dan nenekmu ingin sekali menjadikanku sebagai cucu menantunya?"
"Aku rasa kakek dan nenekku akan paham dengan alasanku yang membatalkan perjodohan ini," ucap Karin yang siap-siap akan berdiri mengambil kunci mobilnya di meja.
__ADS_1
"Tunggu Karin. Apa kamu tidak bisa memberikanku kesempatan kedua?"
"Tidak, ada hati yang harusku jaga. Permisi." sambil berdiri dan akan keluar dari Cafe tersebut.
"Karin... Apakah kamu sudah memiliki seorang kekasih?"
Karin membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Dion kembali.
"Aku tidak mempunyai kekasih. Tapi aku sudah mempunyai calon suami dan pastinya sifatnya jauh lebih baik darimu!" ucapnya ketus.
"Aku tidak percaya denganmu. Itu hanya karangan kamu saja kan, agar kamu memiliki alasan tidak mau kembali menerima perjodohan ini denganku," ucapnya dengan tatapan yang serius.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi yang jelas aku sudah memiliki calon suami. Apa kamu ingin bertemu dengannya sekarang? Kalau kamu mau, aku bisa memperkenalkannya denganmu sekarang juga."
Tak ada jawaban dari Dion lalu Karin berjalan pergi meninggalkan Dion yang masih mematung tak percaya bahwa secepat itu Karin sudah memiliki pengganti dirinya.
"Seperti apa calon suaminya? Sehingga dia bilang lebih baik dariku? Aku jadi penasaran dengan calon suaminya. Karin sebelum janur kuning melengkung, aku akan tetap berusaha untuk mengejarmu." batin Dion geram.
Yudha sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya. Yudha penasaran dengan apa yang dibicarakan Karin dengan Dion. Yudha jadi ragu dengan Karin. Ia cemas kalau Karin lebih memilih Dion.
"Apakah hubunganku dengan Karin akan berakhir sampai disini?" gumamnya.
Sepuluh menit kemudian Dokter Yudha menerima pesan WhatsApp dari orang suruhannya. Yudha takut membuka video yang diberikan orang suruhannya kalau misalnya Karin ingin kembali menjalankan perjodohannya dengan Dion. Ada rasa minder ketika tahu Dion seorang Hafidz Qur'an dan lulusan pondok pesantren, terlebih lagi usia Dion berbeda 6 tahun lebih muda darinya. Dion masih berusia 19 tahun. Dengan rasa cemas Yudha akhirnya mulai menekan tombol play di layar hpnya.
Yudha mengernyitkan dahinya saat Dion mengajak Karin untuk tetap melanjutkan perjodohannya, apalagi saat Dion memohon kapada Karin untuk memberikannya kesempatan kedua. Seketika senyum mengambang dibibir Yudha saat mendengar ucapan Karin untuk tetap berkomitmen dengannya. Apalagi saat bilang dengan Dion kalau Karin sudah mempunyai calon suami dan sifatnya jauh lebih baik dari pada Dion. Yudha memutar video itu beberapa kali. Yudha masih tidak percaya bahwa Karin lebih memilihnya dari pada Dion. Yudha senang Karin memuji dirinya didepan Dion. Yudha bernafas dengan lega, ia bersyukur akhirnya Karin memilihnya. Perbedaan usia tidak jadi pembatas untuk mereka menjalankan hubungan dengan serius.
"Akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan," ucap sambil tersenyum.
Karin sekarang sudah sampai rumahnya. Dia langsung menuju ke kamarnya.
"Lelah sekali hari ini. Marah-marah juga membutuhkan tenaga, aku jadi haus," ucapnya sambil mengambil gelas yang berisi air putih di mejanya dan lalu meminumnya.
__ADS_1
"Aku harus telepon Dokter Yudha. Ia pasti khawatir denganku," ucapnya sambil mengambil hpnya.
Dering nada hp Yudha. Seketika ia tersenyum dengan nama yang tertera di layar hpnya 'Bidadari hatiku'. Ia langsung mengangkat teleponnya.
📞 Yudha : "Hallo, Assalamualaikum Karin."
📞 Karin :"Wa'alaikum Salam Kak Yudha, Karin mau cerita sama Kakak mengenai tadi pertemuanku dengan Dion di Cafe."
📞 Yudha : "Iya Karin cerita saja, Kakak akan mendengarkan semua ceritamu."
📞 Karin : "Dion mengajakku untuk kembali menerima perjodohan ini Kak."
📞 Yudha : "Apakah kamu menerimanya kembali?"
📞 Karin :"Tidak, karena aku sudah berkomitmen untuk membuka hatiku untuk Kak Yudha."
📞 Yudha : "Terima kasih Karin kamu telah memilihku. Aku pikir kamu ingin kembali padanya secara Dion usianya lebih muda dariku."
📞 Karin : "Iya Kak. Tidak Kak, aku merasa nyaman bila dekat dengan Kak Yudha dibandingkan dengan Dion. Yaudah kalau begitu Karin tutup dulu teleponnya ya Kak Wassalamu'alaikum."
📞 Yudha : "Wa'alaikum Salam Karin."
Karin akhirnya lega setelah telepon dengan Yudha.
"Mungkin Dokter Yudha memang jodohku. Jantungku berdegup dengan kencang saat dekat dengannya dan aku merasakan nyaman dengannya. Kaputusanku untuk memilih Dokter Yudha sudah tepat. Semoga saja kakek dan nenek bisa menghargai keputusanku dan menerima Dokter Yudha sebagai cucu menantunya." batin Karin dengan senyum manis di wajahnya.
"Aku nanti harus membicarakan ini semua dengan Papa Kevin. Agar nanti ia menghubungi kakek dan nenek. Menjelaskan semuanya seperti apa kelakuan Dion yang baru pertama kali bertemu sudah menolak perjodohan ini."
"Aku tidak habis pikir dengan Dion yang plin-plan untuk mengambil keputusan. Untung saja perjodohan ini batal. Huh, apa jadinya nanti seandainya Dion yang menjadi suamiku beneran? Pasti banyak peraturan-peraturan yang tidak aku suka. Untung saja Allah mempertemukanku dengan Dokter Yudha," ucap Karin kembali.
Karin sedang membayangkan bagaimana kalau seandainya dia menjadi istri Dion. Pasti merasa tertekan dengan peraturan-peraturan yang harus dia jalani selama menjalankan kehidupan rumah tangga dengannya.
__ADS_1