Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 59 - Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Pagi hari Bibi sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Kakek, Nenek, Papa Keynan dan Mama Chintya sudah berkumpul dan duduk di kursinya masing-masing.


"Tinggal Non Karin sama Den Yudha ya belum kelihatan ya? Bibi permisi dulu ya Tuan dan Nyonya, mau panggil Non Karin dan Den Yudha."


Saat Bibi akan melangkahkan kakinya ke kamar Karin. Papa Keynan mencegah Bibi untuk memanggil Yudha dan Karin.


"Bibi, biarkan saja. Tidak usah dipanggil, mereka mungkin pasti masih kecapekan. Kayak Bibi gak pernah muda saja," ucapnya sambil tersenyum.


Bibi hanya terbengong mendengar ucapan Tuannya. Seketika Bibi ingat belum beres-beres dapur dan harus mencuci baju juga dibelakang.


"Baik Tuan. Bibi permisi ke belakang dulu kalau begitu." Sang Bibi lalu ke dapur untuk membereskan sisa-sisa sayuran yang tadi habis di masaknya.


"Papa, kok ngomongnya gitu sih sama Bibi?"


"Ya kan memang begitu kan Mama. Lihat ini sudah jam berapa dan mereka dari tadi belum keluar dari kamar juga. Ya mungkin saja mereka masih kelelahan Mama. Kayak waktu kita masih muda dulu. Mama masih ingatkan?" ucap Papa Keynan terkekeh sambil menggoda istrinya.


Mama Chintya membolakan matanya, Mama Chintya tidak habis pikir suaminya berbicara seperti itu didepan orang tuanya sendiri.


"Papa! Jangan bahas masa lalu di ruang makan." Mama Chintya malu saat suaminya berbicara seperti itu didepan mertuanya.


"Sudahlah nak, kita makan saja gak usah nungguin Karin dan Yudha," ucap sang Kakek.


"Iya biar nanti mereka menyusul sarapannya atau kalau tidak biar Bibi nanti antarkan sarapan mereka ke kamarnya," ucap sang Nenek.


Mereka lalu makan bersama tanpa menunggu Karin dan Yudha keluar dari kamarnya.


Di kamar Yudha mengerjapkan matanya saat ini. Dirinya melihat wajah cantik istrinya. Yudha melihat ke arah jam menunjukkan pukul 09:26 wib.


"Sayang bangun sudah hampir siang," ucap Yudha sambil mengelus rambut Karin pelan.


Karin yang belum sadar jika yang membangunkannya adalah suaminya. Karin masih mengira yang membangunkannya adalah Papa Keynan. Karena Papanya itu seringkali membangunkan Karin saat minggu jika Karin telat bangun.


"Papa... Karin masih capek dan ngantuk. Lagian ini hari minggu," ucap Karin sambil menaikkan selimutnya sampai ke lehernya.


Yudha hanya terkekeh melihat tingkah laku istrinya. Yudha langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Karena tadi habis subuh mereka sudah mandi. Sehabis Yudha dari kamar mandi, saat melihat Karin masih bergulung dengan selimutnya. Yudha lalu mendekati istrinya kembali. Seketika Yudha ada ide brilian, perlahan Yudha mendekati gorden dan membukanya. Jadi terlihat sinar matahari masuk ke dalam kamar Karin.

__ADS_1


"Papa silau," ucap Karin sambil menaikkan selimutnya lagi sampai atas kepalanya.


Yudha menggelengkan kepalanya. Istrinya ternyata susah untuk bangun pagi saat hari minggu. Yudha lalu mendekati istrinya dan membuka selimutnya dan sekarang wajah Yudha sudah berada di telinga Karin


"Sayang ayo bangun, kalau tidak bangun nanti ku cium kamu," ucap Yudha berbisik di telinga Karin agar Karin segera bangun dari tidurnya.


Karin yang mendengar ucapan Yudha pun langsung membuka matanya. Karin terkejut saat wajah Yudha jaraknya tidak sampai 10 cm dengan wajahnya.


"Eh mas?"


Seketika Karin teringat bahwa dirinya kini baru bangun tidur. Dengan cepat Yudha memberikan kecupan di pipinya.


"Morning kiss..."


"Aaaaaaaaaaaa.................." Karin berteriak saat Yudha kini melihat muka bantalnya.


Karin lalu menutup wajahnya dengan bantal. Yudha mengernyitkan keningnya, dirinya bingung seketika istrinya tiba-tiba berteriak.


"Sayang kamu kenapa berteriak?"


"Mas mengagetkanku. Aku malu mas, aku baru bangun tidur dan masih muka bantal."


"Kalau tidak apa?" Tanya Karin yang masih menutupi mukanya dengan bantal.


"Kalau tidak nanti dikira kita sedang melakukan seperti yang semalam sayang. Kamu masih ingat kan sayang?" Yudha hanya menggoda Karin agar segera bangun dari tempat tidurnya.


"Tidak... Tidak ingat. Aku mau ke kamar mandi dulu," ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Yudha terkekeh geli akhirnya cara untuk membangunkan istrinya berhasil.


"Punya istri masih muda seperti ini ternyata. Susah dibangunin, jadi ingat saat aku masih SMA," ucapnya sambil mengingat dirinya sendiri waktu masih SMA juga setiap hari minggu ingin tidur lebih lama karena kalau sudah hari senin kembali ke sekolah.


Karin sekarang wajahnya sudah jauh lebih segar saat keluar dari kamar mandi.


"Nah, kalau begini kan cantik sayang."

__ADS_1


"Ah iya aku lupa," ucapnya sambil menepuk jidatnya.


"Lupa apa sayang?" Yudha bingung dengan arah pembicaraan istrinya.


"Mas, aku lupa belum membuatkan kamu teh hangat. Belum sarapan juga kita."


"Sudah sayang tidak perlu. Kita sarapan saja, aku udah lapar."


"Ya sudah ayo sayang kita ke ruang makan."


Karin dan Yudha lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Papa Keynan yang lagi meminum kopi sambil baca majalah di sofa sebelah ruang makan pun mendengar langkah kaki anaknya dan menantunya berjalan mendekat.


"Eh kalian sudah bangun?" ucap Papa Keynan.


"Iya Papa," ucap Karin dan Yudha bersamaan.


"Maaf Papa, kami tidak ikut sarapan pagi bersama," ucap Yudha.


"Sudahlah nak. Papa juga pernah muda kok, kalian jangan sungkan dan tenang saja."


Yudha tersenyum tadi dirinya takut kalau Papa Keynan akan memarahinya karena dirinya yang menyebabkan Karin kelelahan sehingga jadi bangun agak kesiangan mengingat jam sudah menunjukkan pukul 09:48 wib.


Yudha lalu membukakan kursi agar Karin duduk. Mereka lalu sarapan bersama. Karena jarak sofa yang sedang diduduki Papa Keynan dengan ruang makan jaraknya tidak jauh jadi Papa Keynan ingin berbicara mengenai bulan madu.


"Kalian apa sudah ada rencana mau bulan madu dan ingin kemana?" ucap Papa Keynan sambil membaca majalahnya.


Yudha seketika tersedak mendengar ucapan Papa Keynan. Karin lalu memberikannya minum. Karin dan Yudha lalu saling menatap. Karin mengkode agar Yudha saja yang bicara dengan Papanya.


"Eh itu Pa. Kita belum membicarakan mau bulan madu kemana," ucap Yudha dengan jujur karena memang belum membicarakan tentang hal ini dengan Karin.


"Kalian berbulan madulah sebelum Karin masuk kuliahnya." Papa Keynan mengingatkan bahwa sebentar lagi anaknya akan masuk kuliah.


"Iya Papa, saya memang ada rencana ingin mengajak Karin untuk berbulan madu ke Paris, Perancis. Saya ingin mengajak Karin ke Menara Eiffel."


"Papa setuju nak. Segeralah berangkat ke sana. Sebelum Karin mulai dengan kuliahnya dan jangan lupa oleh-olehnya. Kamu mengerti maksud Papa kan nak?" ucap Papa Keynan menatap wajah menantunya.

__ADS_1


"Mengerti dan siap Papa," ucapnya dengan senyuman.


Sekarang Karin yang tersedak saat Yudha ingin mengajaknya bulan madu ke Paris. Memang Karin ingin ke Paris sejak dulu. Namun Papanya tidak mengizinkannya karena Kakek dan Nenek sering sakit-sakitan jadi tidak bisa diajak keluar negeri jauh-jauh. Kalau keliling Korea saja boleh, karena masih satu negara saat itu dengan rumahnya yang ada di Korea Selatan. Karin memang tidak pernah kemana-mana kecuali ke Indonesia dan ke Korea.


__ADS_2