
Anisa sekarang sedang berusaha untuk membujuk suaminya agar mempunyai dua anak saja yang akan meramaikan keluarga kecilnya.
"Keifano, dua anak kita saja saat ini belum lahir loh Keifano dan kamu sudah berbicara tentang rencana memberikan mereka adik," ucap Anisa menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju.
"Jalani saja nanti ya sayang. Intinya kita harus bulan madu setelah si kembar lahir."
Anisa tidak menjawab perkataan suaminya, justru fokus menatap perutnya yang sudah membesar dan sesekali mengusap-usap perutnya. Keifano lalu mendekati istrinya dan membisikkan sesuatu.
"Sayang, aku sedang ingin," perkataan Keifano menggantung dan Anisa tahu apa yang dimaksud oleh suaminya.
Anisa sedikit terkejut dan matanya membola saat suaminya meminta dirinya saat ini juga.
"Ini masih siang Keifano! Tuh kamu lihat saja dari jendela kamar, masih terlihat matahari memancarkan sinarnya."
"Sebentar saja ya sayangku. Lagian jarang kan saat siang hari," bujuk Keifano terhadap Anisa.
"Tapi," jawab Anisa ragu.
"Sayang sebentar saja," bujuk Keifano lagi.
Akhirnya Anisa mengiyakan ajakan suaminya. Mereka lupa untuk mengaktifkan mode kedap suara kamarnya. Keyla yang akan berjalan ke kamarnya pun melewati kamar Kakaknya. Keyla mengernyitkan dahinya saat mendengar suara aneh dari dalam kamar Kakaknya. Dia enggan untuk mengetuk pintu dan justru menguping dengan menempelkan telinganya karena penasaran ingin mendengar atas apa yang sedang terjadi. Keyla bingung dengan suara Kakak iparnya yang menurutnya aneh.
"Kak Anisa kenapa ya? Aku harus beritahu Kak Key nih," ucap Keyla lirih.
Keyla lebih dekat dengan Key daripada sang Kakaknya Keisha. Dengan segera Keyla berlari menuju ke kamar Kakaknya dan menutup pintunya.
"Kak Key..........." Suara melengking terdengar memenuhi kamar Key.
Keyla berteriak memanggil Key di kamarnya. Key terkejut bukan main dan sambil memegang dadanya. Key merutuki dirinya sendiri saat tidak mengunci pintu kamarnya dan sang adik seenaknya sendiri main nyelonong masuk ke kamarnya.
"Astagfirullah Keyla! Kamu bisa tidak gak bikin Kakak jantungan. Kakak belum menikah dan kamu sudah bikin Kakak jantungan," ucap Key dengan menatap tajam adiknya.
"Sabar Kak Key. Jangan marah-marah mulu, entar cepat tua loh!" ucap Keyla terkekeh melihat ekspresi wajah Kakaknya.
"Kamu, berani sekali berbicara seperti itu di depanku!!"
__ADS_1
Keyla lalu berusaha agar tidak dimarahin Key.
"Kakak kita jangan berdebat dulu. Ada hal yang lebih penting dari ini."
Key mengernyitkan dahinya karena biasanya Keyla jika ke kamarnya hanya meledeknya saja karena sampai saat ini masih saja sendiri. Dengar-dengar Keisha saat ini dekat dengan seseorang dan maka dari itu Keyla menguber Kakaknya untuk segera menyatakan perasaannya pada Andin agar tidak kalah sama Keisha.
"Hal penting apa sih? Bicaranya jangan muter-muter deh kan kamu jadi bikin Kakak bingung."
"Kak gawat Kak, gawat banget!" ucapnya kembali sambil memegang kedua bahu Key.
"Gawat apanya sih?" tanyanya yang semakin bingung dan menepis tangan adiknya.
"Ayo ikut aku. Nanti Kakak akan tahu sendiri saat mendengarnya," ucap Keyla yang lalu menarik paksa tangan Key.
Key terpaksa mengikuti adiknya dan Key terkejut saat Keyla membawanya ke depan kamar Kakaknya. Key dan Keyla saat ini lalu menempelkan telinga mereka pada pintu kamar. Key membolakan matanya dan tahu apa yang sedang terjadi di kamar Kakaknya saat ini.
"Kak Anisa disiksa sama Kak Keifano. Ini tidak bisa dibiarkan, Kak Keifano telah melakukan KDRT sama Kak Anisa. Sebagai sesama perempuan aku akan membela Kak Anisa," ucap Keyla lirih.
Key kesal dengan Keifano, saat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu Keifano menggendong Anisa di depannya langsung. Padahal Keifano tidak ingin pamer kemesraan di depan adiknya karena saat itu Anisa baru saja mengalami pendarahan jadi ia menggendong istrinya keluar masuk kamar mandi, tapi Key merasakan kalau Kakaknya itu memang dengan sengaja pamer kemesraan dengan istrinya. Apalagi saat ini, Key mengira bahwa Kakaknya itu memang sengaja tidak mengaktifkan mode kedap suara di kamarnya.
"Kak, ayo kita selamatkan Kak Anisa. Bantu aku mendobrak pintunya dan jangan sampai ketahuan Papa dan Mama," ucap Keyla yang seketika membuat Key membuyarkan lamunannya.
Key lalu menarik adiknya untuk segera masuk ke kamarnya.
"Kakak kenapa kamu membawaku ke kamarmu? Kita seharusnya mendobrak pintu kamar Kak Keifano. Aku takut terjadi apa-apa dengan Kak Anisa apalagi dia saat ini sedang hamil."
"Kak Anisa tidak apa-apa Keyla dan kamu jangan mencampuri urusan mereka."
"Tapi Kak, tadi sepertinya Kak Anisa merasa kesakitan."
Key mendengus kesal, adiknya yang masih SMA tidak tahu apa-apa. Key berusaha mencari alasan yang tepat untuk gadis remaja di depannya saat ini agar tidak nekad untuk mendobrak pintu kamar Kakaknya.
"Hellow, Kak Key kok jadi melamun sih?" ucap Keyla melambaikan tangannya depan wajah Key agar Kakaknya tidak melamun.
"Kakak tidak melamun."
__ADS_1
"Ayo kita ke kamar Kak Keifano, Kak Anisa butuh bantuan kita. Kakak kebangetan sekali telah melakukan KDRT sama istri yang yang sedang mengandung kedua anaknya," ucap Keyla dengan amarah.
Key sebenarnya ingin tertawa melihat kepolosan adik bungsunya. Adik kesayangannya ya meskipun Keyla menyebalkan tapi Key tetap sayang dengan adiknya itu.
"Kamu nanti akan tahu apa yang terjadi ketika kamu sudah menikah."
"Kenapa aku harus tahu saat aku sudah menikah Kak? Sekarang kan aku sudah dewasa karena aku sudah SMA."
"Justru karena kamu masih SMA jadi kamu masih terlalu kecil untuk tahu tentang hal itu adikku," ucap Key menarik hidung Keyla.
Key lalu menemukan ide brilian untuk beralasan yang tepat agar Keyla tidak curiga.
"Mungkin Kak Keifano lagi memijat pinggangnya. Kan ibu hamil sering sakit pinggang karena sudah hamil tua. Dan apalagi kandungan Kak Anisa sudah jalan 8 bulan lebih kan?" ucap Key beralasan.
Key tidak ingin adiknya mengganggu Kakaknya yang sedang bermesraan. Apalagi Keyla mengajaknya untuk mendobrak pintu kamar Keifano. Keyla lalu mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada dagunya dan menimbang-nimbang perkataan Key.
"Ah iya mungkin yang Kakak katakan benar, ya sudah kalau begitu Keyla ke kamar dulu ya Kak."
"Hmm iya. Lain kali jangan kepo sama urusan orang lain ya adikku yang cantik dan menggemaskan," ucap Key memuji adiknya sambil mengusap kepala Keyla, jika tidak dipuji Keyla orangnya bisa saja nekad mendobrak pintu kamar Keifano sendirian.
"Hehe iya Kakakku yang bawel."
Keyla lalu pergi dari kamarnya. Key lalu meraih hpnya dan mengirimkan pesan WhatsApp kepada Kakaknya, masih ceklis satu dan artinya Kakaknya tidak mengaktifkan hpnya. Telinganya sudah tercemar oleh suara mereka.
"Kakak pasti akan malu setelah ini. Huh, jadi ingin menikah deh!" ucap Key yang lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Eh tadi apa yang aku bicarakan? Ingin menikah?" seketika Key terkejut sendiri akan perkataannya tadi.
Key lalu terbayang-bayang oleh paras gadis cantik yang selalu memenuhi pikirannya.
"Huh jadi kangen sama Andin, aku jadi ingin sekali memeluknya saat ini."
Key langsung menutup mulutnya saat sadar akan ucapannya.
"Astagfirullah, aku jadi membayangkan hal yang tidak-tidak. Ini semua karena gara-gara Kak Keifano dan Kak Anisa yang sudah menodai telingaku," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Key menggerutu sendiri di kamarnya dan jadi ingin cepat-cepat menikahi Andin, perempuan yang selalu saja ada dalam pikirannya akhir-akhir ini. Keyla sangat mendukung Key dengan Andin. Sebenarnya Key sudah jatuh cinta dengan Andin sejak lama tapi ia enggan untuk menyatakan perasaannya selama ini, karena setahu Key bahwa Andin selalu menolak jika ada laki-laki yang mengajaknya untuk berkomitmen entah mengajaknya berpacaran, bertunangan langsung dan bahkan mengajaknya menikah. Andin menolak mereka semua karena sudah dijodohkan dengan anak dari kedua orangtuanya. Dia berpikir bahwa pilihan kedua orangtuanya pasti yang terbaik untuknya.